
Petang datang, membawa hawa dingin yang berselimut kabut. Suara burung juga serangga serangga malam mulai bersahut sahutan, menandakan siang akan segera berganti malam. Banyak sekali jenis hewan nokturnal di area hutan daerah tempat tinggal Sang Rich Man.
Di tengah keriuhan suasana petang, sosok laki laki berjalan gontai menuju rumah tepi sungai. Langkah kakinya sedikit terseok seok. Sekujur tubuhnya penuh tanah dan cipratan darah yang telah mengering.
Hendra Asmara menatap rumah yang dibangunnya beberapa tahun lalu. Rumah yang kemarin malam sengaja dia matikan aliran listriknya, kini terlihat menyala dengan terangnya.
"Siapa yang menyalakan lampu? Mak Ijah?" Tanya Hendra dalam hati.
Hendra berhenti di depan pagar besi yang nampak kokoh. Dia teringat kembali dengan masa lalu. Semua yang dilakukannya kini adalah untuk penebusan dosa. Dosa yang menghantui Hendra sepanjang hidupnya.
Hendra adalah seorang pengajar para lansia dan orang orang yang buta aksara. Dia mengabdikan dirinya dengan membentuk sebuah lembaga sosial untuk membantu orang orang yang tengah kesulitan, kaum kaum yang mengalami gangguan mental, juga masalah psikis lainnya.
Semua itu dilakukan Hendra sebagai upaya untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Hingga suatu pagi, datanglah sosok laki laki memakai jaket hoodie berwarna hitam. Laki laki itu, di antara rintik hujan berjalan sambil tertunduk.
Dalam kondisi basah kuyup laki laki itu menyalami Hendra dengan tangannya yang dingin dan penuh kerutan bekas luka bakar. Wajahnya terbungkus oleh masker. Tapi Hendra tahu, laki laki itulah yang membuat seumur hidupnya berada dalam penyesalan.
"Kuserahkan semua padamu."
Satu kalimat yang terucap oleh laki laki itu dari balik maskernya. Sebuah buku yang terbungkus plastik dia sodorkan pada Hendra. Hendra hanya diam terpaku hingga sosok misterius itu hilang bersama derasnya air langit yang turun tak beraturan.
Hendra mengusap air matanya. Mengingat kejadian itu, hatinya terasa sakit. Penyesalan selalu datang terlambat. Namun, kini Hendra punya kesempatan untuk melakukan penebusan.
Hendra mendongak menatap langit. Warna jingga dan oren bersatu di angkasa. Hanya ada beberapa awan putih yang bergerak perlahan bersama tiupan angin yang teramat dingin.
Kaki Hendra kembali melangkah. Mengitari halaman depan hingga akhirnya berhenti di samping rumah. Hendra mengangkat satu pot pohon beracun manchineel. Kemudian, dengan susah payah dia membawanya ke dalam rumah.
Kondisi rumah terasa sangat lengang dan sepi. Rumah besar itu semakin mengerikan ketika aroma mayat busuk menyeruak di seluruh penjuru ruangan.
__ADS_1
Hendra tersenyum puas. Meskipun ada beberapa kesalahan, setidaknya kini rencananya berjalan pada jalur yang semestinya. Hendra menapaki tangga menuju lantai atas. Sedikit kesulitan karena membawa pot yang cukup berat.
Peluh membasahi tubuhnya yang kotor. Hendra meletakkan pot besar itu di depan pintu kamar sang Tuan rumah. Dia kemudian beranjak menuju ke kamar Bayu.
Bayu, petugas kepolisian itu tidak ada di kamarnya. Bahkan kamar itu nampak kosong. Tas dan semua barang bawaannya sudah lenyap tak bersisa. Hendra menduga, mungkin Mak Ijah sudah melepaskan petugas kepolisian itu. Hendra tidak mau ambil pusing, ada yang lebih penting yang harus dia selesaikan.
Hendra kembali beranjak ke depan pintu kamar Sang Rich Man. Dia merogoh kunci di saku celananya. Kemudian membuka kamar paling megah di rumah itu.
Kamar terbuka, dan Hendra dapat melihat di sudut ruangan terdapat mayat Denis masih terlentang penuh dengan luka sudutan rokok. Sedangkan Mella masih terikat di kursi, namun mulutnya sudah terlepas dari kain yang menyumpalnya.
"Hendra?" Pekik Mella kaget.
Hendra diam saja. Dia masih merasa heran, bagaimana caranya Mella bisa melepaskan lakban yang membekap mulutnya. Ada yang salah, dia khawatir rencananya berantakan.
"Siapa yang melepaskan sumpalan di mulutmu?" Tanya Hendra dengan mata melotot.
"Hah? Jadi kamu, yang melakukan semua ini?" Mendengar pertanyaan Hendra, Mella akhirnya sadar bahwa Hendra lah yang telah melumpuhkan dan menyekap dirinya.
Hendra masih tidak menjawab. Dia bergegas memeriksa ruangan. Memeriksa lorong, juga lubang yang terhubung dengan plavon kamar Mak Ijah. Semua nampak tertutup sempurna.
Hendra belum puas, dia keluar dari kamar. Kemudian setengah berlari menuruni tangga menuju lantai satu. Dia segera ke kamar Mak Ijah. Namun ternyata di kamar pelayan tua itu hanya ada mayat Pak Mardoyo. Tidak ada siapapun, sunyi dan sepi.
"Mak Ijah? Maakkk?" Hendra berteriak memanggil bawahannya itu.
Tidak ada jawaban. Benar benar lengang, seolah Hendra hanya sendirian di rumah besar di tepi sungai itu. Hendra kembali ke lantai atas, dan berdiri di hadapan Mella.
"Hendra, jawab aku! Apa tujuanmu melakukan semua ini?" Bentak Mella. Suaranya terdengar serak karena sedari tadi menangis dan berteriak terus menerus.
__ADS_1
Mella merasakan letih dan sakit di pergelangan tangannya. Tenaganya pun semakin lemah, akibat dehidrasi dan perut yang tak terisi sedari kemarin. Suaranya serak, seakan dinding di rongga mulutnya menghimpit tenggorokan.
"Aku hanya melakukan penebusan Mella," jawab Hendra dengan nafas yang terengah engah. Rupanya pria itu juga merasakan lelah dan letih.
"Penebusan?" Tanya Mella.
"Ya, penebusan dan pembalasan dari Zainul yang telah kalian sakiti, kalian injak dan renggut masa depannya," Hendra menyeringai.
"Hah? Apa maksudmu Hendra? Aku tidak melakukan apapun pada Zainul," kilah Mella.
"Jangan berbohong wanita brengs*k!" Hendra mencengkeram kerah baju Mella. Amarahnya benar benar di luar kendali kali ini.
"Mungkin bagi anggota club drama, hanya kamulah yang tidak pernah menyakiti Zainul. Tapi ternyata, kamu adalah orang yang mengirim Zainul ke neraka keputus asaan!" wajah Hendra nampak merah padam. Mella terdiam membisu.
"Kamu yang membuat Zainul akhirnya keluar dari sekolah. Kecemburuan kalian pada Zainul adalah awal mula, perasaan suka Zainul pada Ellie adalah katalis, dan kamu lah algojo terakhirnya Mella!" Hendra mendorong tubuh Mella.
Braakkk
Mellah jatuh terguling bersama kursi kayu yang terikat erat pada tubuhnya. Mella meringis kesakitan. Pipi kanannya menghantam lantai marmer dengan cukup keras. Ada sensasi anyir yang Mella rasakan di sudut bibirnya.
"Pelaku perundungan mudah lupa dengan perbuatannya. Mereka begitu cepat melupakan kejahatan yang dilakukan dengan menganggap bahwa perbuatannya hanyalah keisengan semata di masa puber. Masa yang mereka sebut sebagai masa labil, masa untuk mencari jati diri. Namun, bagaimana dengan korban perundungan? Rasa sakit dan trauma di hatinya akan terus membekas sampai di kehidupannya yang mendatang. Zainul bukan hanya merasakan luka secara psikis tapi dia juga mengalami luka fisik permanen. Dan itu semua gara gara kamu Mella! Gara gara kalian anggota club drama, juga Bu Ami!" Hendra menangis. Dadanya terasa sesak. Perasaan bersalah yang selama ini dia pendam, seakan meledak dan membuat hati dan mentalnya kacau.
"Mungkin Dipta sebelum kematiannya bertanya tanya, aku hanya menjejalkan kue tart pada Zainul. Begitupun Iva, aku hanya menempelkan permen karet bekas pada bangku Zainul. Atau mungkin Ellie aku hanya menolak cinta Zainul. Kalian bisa bilang itu hanya, dan menurut kalian sepele, tapi bagi Zainul itu adalah siksaan. Dia merasa tak diinginkan, terhina, terinjak, dan merasa paling buruk! Kalian tidak mengerti!" Hendra menendang tubuh Mella dengan sekuat tenaga.
"Uhukkk," Mella terbatuk, kesakitan.
"Apa kamu mau membunuhku Hendra?" Tanya Mella.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu merasakan apa yang dirasakan oleh Zainul," Hendra menyeringai. Air liur nampak menetes di bibirnya yang merah. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa ngeri dan mengerti, bahwa Hendra sudah kehilangan akalnya.
Bersambung ___