Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
49. Keluar dari hutan


__ADS_3

Saat terdengar suara tembakan dari rumah tepi sungai, Ellie dan Iva sudah mencapai tanjakan di tengah perbukitan. Ellie menghentikan langkahnya, menatap Iva penuh tanya.


"Sudahlah Ell. Jangan menoleh ke belakang," ucap Iva sembari menepuk pundak Ellie.


"Itu suara tembakan Va. Dari rumah Zainul. Apa yang terjadi? Siapa yang melepas tembakan?" Ellie terlihat penasaran sekaligus cemas.


"Entahlah. Bayu tadi mengatakan dia tidak membawa senjata apapun. Mungkinkah dia berbohong? Atau mungkin Mak Ijah yang aneh itu? Pak Mardoyo? Mella? Denis? Terlalu rumit untuk dipikirkan. Yang jelas keputusan kita untuk pulang saat ini sangatlah tepat," ujar Iva.


Iva berjalan mendahului Ellie. Dia berusaha mempercepat langkah. Baginya semakin cepat dia keluar dari hutan, semakin terjamin pula keselamatannya. Iva merasa beruntung tidak terbunuh seperti teman temannya yang lain, apalagi dia pulang dengan saldo rekening yang bertambah sebesar 100 juta.


Ellie menghela nafas. Kemudian berjalan kembali menyusul Iva. Hatinya masih bimbang dan bertanya tanya, sudah benarkah keputusan yang dia ambil?


Sampailah Ellie dan Iva di puncak perbukitan. Area yang terlihat lapang dengan rumput gajah setinggi lutut. Di bagian tengah terdapat sebuah pohon akasia besar menjulang tinggi. Dan bersandar pada pohon itu, seorang laki laki dengan pakaian berlumuran darah. Laki laki itu terduduk disana, tak bergerak.


"Ell, itu Hendra!" Pekik Iva.


Ellie memperhatikannya sesaat. Dan memang benar, laki laki yang berlumuran darah itu adalah Hendra. Iva dan Ellie segera berlari mendekati Hendra.


Hendra nampak terkulai lemas. Nafasnya terdengar kasar. Matanya sayu dan wajahnya pucat. Terlihat jelas, laki laki itu tengah ketakutan.


"Kamu kenapa Hen? Mana Norita?" Tanya Ellie sambil mengguncang bahu Hendra perlahan.


"Aku butuh air," ucap Hendra lirih.


Iva segera menurunkan ransel dari punggungnya. Mengeluarkan satu botol air mineral yang isinya tersisa separuh. Dia menyodorkannya pada Hendra, yang langsung ditenggak habis tak bersisa.


"Apa yang terjadi?" Ellie kembali bertanya.


"Aku melihat Norita dipukuli oleh seseorang," jawab Hendra sembari mengatur nafas.


"Siapa?" Kompak Ellie dan Iva bertanya.


"Aku nggak tahu. Sosok itu memakai jubah hitam, membawa pentungan dan sebuah pisau. Aku berusaha menolong Norita, tapi aku gagal," jawab Hendra dengan tangan yang gemetar.


"Darah di bajumu ini berarti. . .," Ellie memperhatikan noda berwarna merah yang telah mengering di baju Hendra.

__ADS_1


"Ini darah Norita," sela Hendra lirih.


"Astaga, artinya Norita sudah. . .," Iva menutup mulutnya tak percaya.


"Dimana kejadiannya? Dan bagaimana bisa kamu sampai disini?" Ellie mengernyitkan dahi.


"Aku dan Norita mencari Denis di halaman depan rumah. Kami sempat melihat sekelebat bayangan orang di hutan. Kupikir itu Denis, ternyata kami terjebak. Norita dipukuli dan aku akhirnya berlari kesini," jawab Hendra.


"Aku dan Iva tidak menemukan siapapun di bawah Hen. Kamu tidak berbohong kan?" Ellie menatap Hendra dengan tajam.


"Untuk apa aku berbohong? Penjahat itu bisa jadi sedang mengincar kita saat ini. Bisa saja dia bersembunyi di sekitar sini. Tapi syukurlah, kupikir dengan bertiga kita menang jumlah. Aku merasa lebih aman sekarang," Hendra menghela nafas lega.


"Kamu lebih penakut dari yang kuduga Hen. Bukankah kamu cukup ahli boxing?" Ellie nampak heran dengan sikap Hendra.


"Sosok itu bawa senjata Ellie. Sejago jagonya aku, di hadapan seorang pembunuh berdarah dingin, tubuhku gemetar," Hendra kesal mendengar perkataan Ellie.


"Sudahlah. Bukan waktunya untuk berdebat, sebaiknya kita terus berjalan agar segera keluar dari hutan ini," Iva menengahi.


"Aku masih sangat lemah untuk berjalan," keluh Hendra.


"Kalau begitu aku akan meninggalkanmu," Iva menimpali. Dia terlihat tidak peduli.


"Iya. Secepatnya keluar dari hutan ini adalah satu satunya peluang kita untuk selamat Ellie," jawab Iva.


"Tidak apa apa Ellie. Apa yang dikatakan Iva benar. Kalian berjalanlah lebih dulu. Aku akan berhenti disini sejenak, nanti aku akan menyusul," ucap Hendra mencoba untuk tersenyum.


"Tidak. Aku akan berhenti dulu disini bersamamu Hen. Aku tidak mau lagi meninggalkan siapapun. Dengan bersama sama aku yakin kita lebih aman," Ellie menjatuhkan ranselnya di tanah.


"Maaf Ellie, kali ini kita harus berpisah. Aku tidak mau menunda satu satunya peluangku untuk selamat. Aku akan meninggalkan kalian. Segeralah menyusul nanti," Iva sudah membulatkan tekad. Dia sangat yakin, segera keluar dari hutan akan membuatnya tetap hidup.


Iva mengencangkan ranselnya, kemudian melangkah pergi meninggalkan Ellie bersama Hendra. Ellie menghela nafas sembari melihat punggung Iva yang berjalan semakin jauh.


"Ellie, seharusnya kamu ikut Iva," ucap Hendra sambil tertunduk.


"Tidak apa apa. Kita akan segera menyusulnya setelah memulihkan tenagamu. Dalam ranselku sepertinya ada beberapa biskuit yang bisa menambah energimu," Ellie membuka ranselnya.

__ADS_1


Hendra mendekat, dan tiba tiba saja memeluk Ellie dengan erat.


"Hei hei, kenapa denganmu?" Tanya Ellie tidak mengerti.


"Sudah kukatakan Ellie, seharusnya kamu pergi saja bersama Iva," bisik Hendra.


Ellie hendak melepaskan dekapan Hendra saat lehernya terasa ditusuk sebuah jarum. Suntikan mengenai urat lehernya. Ellie tak sempat mengaduh, tiba tiba saja matanya berkunang kunang. 


"Apa yang kamu lakukan?" Ellie bertanya lirih. Tangan dan kakinya terasa lemas.


"Kamu diamlah disini dulu Ellie," jawab Hendra masih memeluk erat tubuh Ellie.


Ellie merasakan dunia berputar sesaat. Kelopak matanya berat, rasa kantuk datang secara tiba tiba. Ellie hendak bertahan, namun menutup mata jauh lebih nyaman. Di detik terakhir sebelum kesadarannya menghilang, Ellie sempat melihat senyuman Hendra melengkung di bibirnya yang tipis.


Sementara itu, Iva sudah cukup jauh berjalan. Dia sempat melihat jam di layar HP nya. Tengah hari sudah terlewat. Rasa lapar mulai menggerogoti lambungnya.


Di depan Iva, jalanan mulai menurun. Iva menghela nafas. Tenaganya sudah jauh berkurang, letih jelas dia rasa. Dahaga pun menyiksa kerongkongannya. Dia sedikit menyesal persediaan air terakhirnya dia berikan pada Hendra.


Iva menguatkan tekad. Dia harus segera pergi dari hutan. Suami dan keluarganya sedang menunggu kepulangannya. Iva mulai melangkahkan kaki kembali.


Baru beberapa langkah Iva berjalan menuruni bukit, dia melihat sebuah karung tergeletak di tengah jalan. Karung yang awalnya dikira berisi rumput pakan ternak nyatanya berisi sesuatu yang membuat Iva melompat kegirangan.


Ada lembaran lembaran kertas berwarna merah tercecer di sekitar karung. Iva memungutnya dengan rakus. Iva tertawa lebar, saat tumpukan uang memenuhi karung usang tersebut. 


"Mungkinkah ini uang yang dijanjikan Zainul? Kenapa tercecer di tempat seperti ini?" Iva sempat bertanya tanya dalam hati.


Namun, Iva tak peduli. Jelas, uang itu tak bertuan, dan ketika dia periksa, diraba dan diterawang uang itu adalah uang asli. Iva mengambil kunci mobil di ranselnya. Kemudian dia membuang isi ranselnya yang lain ke tanah begitu saja. Iva memindahkan uang di karung ke dalam ranselnya.


Iva begitu girang, hingga tidak sadar ada seseorang di belakangnya. Orang itu dengan cepat membekap dan menjerat leher Iva dari belakang menggunakan sebuah benda elastis berwarna hitam. Sebuah karet ban.


Iva tak berkutik, dia dirangkul dan dikunci. Wajahnya memerah, urat lehernya nampak menonjol dan menghijau. Jantungnya berdetak lebih cepat seakan mau meledak. Iva hanya bisa mencakar dan memukul, namun tenaganya lemah.


Iva menoleh, melihat sosok yang menjerat lehernya. Dia hanya bisa menatap tanpa bersuara. Bola matanya melotot, berwarna kemerahan karena pembuluh darahnya telah pecah.


"Kamu pernah menempelkan permen karet bekas di baju dan bangku Zainul. Kamu pikir itu lucu? Minta maaflah padanya di alam kematian, bangs*t!" Umpat sosok yang menjerat Iva. 

__ADS_1


Iva mengejang sesaat. Hingga akhirnya tubuh sang pementas teater itu terkulai lemas tak bernafas.


Bersambung ___


__ADS_2