
Rasa kecewa menyelimuti hati Anggun. Dia duduk di sudut tempat tidurnya, menatap cermin yang terpasang di atas meja rias. Bayangan wajahnya terpantul, memperlihatkan cekungan mata yang menghitam.
Tidak ada kecantikan yang sempurna. Baik dan buruk, lebih dan kurang, merupakan dua sisi yang akan selalu ada di kehidupan. Bersyukur adalah bentuk paling mulia dari proses menerima keadaan. Namun, kecewa pada keadaan juga merupakan hal yang lumrah terjadi pada manusia.
Begitupun Anggun. Perempuan berkulit putih itu memiliki salah satu hal yang paling diinginkan oleh semua perempuan. Selalu terlihat cantik dan mempesona di setiap kesempatan. Hampir setiap orang yang belum mengenalnya menganggap Anggun memiliki hidup yang sempurna. Apalagi, saat orang orang tahu Anggun dipersunting pengusaha kaya raya.
Tanpa semua orang tahu dan sadari, hidup Anggun penuh dengan kemalangan. Rasa sedih dan kekecewaan sudah menemaninya bahkan sejak usia dini.
Berawal saat orangtuanya meninggal kecelakaan. Usia Anggun kala itu masih jauh dari dewasa. Tak cukup banyak kenangan bahagia yang orangtua Anggun tinggalkan untuknya. Bahkan dalam ingatan, kenangan itu terlihat samar. Wajah orangtuanya tak teringat dengan jelas.
Setelah kematian orangtuanya, Anggun diadopsi oleh sebuah keluarga yang mapan. Anggun diajak pindah ke ibukota provinsi, karena pekerjaan orangtua angkatnya disana.
Awalnya semua terasa lancar dan baik baik saja. Orangtua angkat menyayangi Anggun, merawat dan menyekolahkannya dengan layak. Kebahagiaan akhirnya menyelimuti hari hari Anggun kecil.
Semua berubah, saat orangtua angkat Anggun sukses memiliki anak dari program bayi tabung. Program yang mereka jalani bertahun tahun lamanya, akhirnya membuahkan hasil. Sejak saat itu perlakuan mereka pada Anggun berubah. Tak ada lagi perhatian, berkurangnya kasih sayang, bahkan untuk makan pun kadang kadang mereka melupakan Anggun.
Orangtua angkat Anggun memang sudah lama menginginkan kehadiran seorang anak. Pernikahan yang sudah berjalan 8 tahun terasa kurang tanpa adanya buah hati. Berbagai program mereka jalani, namun tak kunjung berhasil.
Pada akhirnya, beberapa saudara memberi saran agar mengadopsi anak. Menurut orang orang, dengan mengangkat seorang anak bisa menjadi 'pancingan' agar segera memiliki momongan. Sebuah mitos yang sebenarnya mulia jika dilakukan dengan sepenuh hati.
Orangtua angkat Anggun nyatanya bukan orang yang memegang teguh tanggungjawabnya. Kehadiran anak yang mereka tunggu tunggu, membuat Anggun diasingkan. Tak ada lagi yang menganggap Anggun sebagai bagian dari keluarga.
Pola makan yang tidak teratur, asupan gizi yang tidak terlalu baik, juga kesehatan mental yang terganggu membuat Anggun tumbuh remaja dan menjadi dewasa dengan kondisi fisik yang lemah. Dokter mengatakan Anggun mengalami kondisi yang disebut asthenia.
__ADS_1
Meskipun berada di kubangan lumpur, permata akan tetap bersinar indah dan menggiurkan. Itulah Anggun. Kecantikannya tak terbantahkan. Banyak laki laki yang menjanjikan kebahagiaan datang padanya.
Anggun menjatuhkan pilihan pada seorang Ferry Lawanto. Laki laki berparas biasa biasa saja, namun mapan secara materi. Mungkin banyak yang lebih mapan dan tampan dari Ferry, tapi Anggun merasa mereka semua hanya bisa menerima kelebihan Anggun saja. Mereka hanya melihat keindahan fisik, belum tentu mau menerima kenyataan kalau dibalik kecantikan itu, ada tubuh lemah yang sangat rapuh.
Ferry Lawanto, hanya pria itu yang mau menerima Anggun seutuhnya. Dia terlihat begitu tulus. Tutur kata, sikap, dan perangainya benar benar lembut. Tak pernah berubah dari awal perkenalan mereka dahulu hingga saat ini.
Ketika semua mulai terasa penuh kebahagiaan, sekali lagi Anggun terjatuh di lubang kesedihan. Dimulai dengan perangai mertua dan adik iparnya yang menyakitkan hati. Hingga keanehan dari kepribadian Ferry yang membuat Anggun tersiksa.
Bagaimana mungkin seorang suami tak pernah menyentuh istrinya? Mungkin memang benar, jika tujuan pernikahan bukanlah hanya sekedar untuk menyalurkan hasrat semata. Pernikahan merupakan fase kehidupan yang sangat kompleks. Namun, bukankah hasrat juga harus diutamakan? Mana mungkin ada seorang individu yang memutuskan untuk menikah tapi tidak ada hasrat pada pasangannya?
Kesedihan dan rasa tak berguna serta terasingkan membuat Anggun tersiksa. Kesehatan mentalnya yang terganggu membuat fisiknya semakin lemah. Dia terus mencoba mendapat kebahagiaan. Mendapatkan sahabat yang terasa mendukungnya.
Sayangnya kini Anggun sadar, wajah manusia banyak topengnya. Lain di depan lain pula di belakang. Mereka yang disebut sahabat, konon katanya memiliki hubungan lebih kental dari hubungan darah nyatanya tak lebih dari orang asing yang siap menertawakan dan menggunjingnya dari belakang.
Klek
Suara pintu kamar mandi terbuka. Ferry terlihat mengusap rambutnya yang sedikit basah. Anggun buru buru menghapus air mata di pipinya.
"Ngapain yang?" tanya Ferry. Seulas senyum melengkung di balik kumis tipisnya.
"Yah kepikiran saja sih Mas. Erfan meninggal dengan tragis, Ali dan Andewi hilang. Baru juga beberapa hari kita pindah ke rumah ini," ucap Anggun sembari menghilangkan jejak air mata di pipinya.
"Bukan salah rumah baru nya sayang. Mungkin takdir memang harus seperti itu," sambung Ferry, dia baru ingat Anggun belum tahu kalau Ali telah tewas tergantung di rumah sebelah.
__ADS_1
"Aku mau ke bawah dulu. Mau lihat Mak Surti, masak apa untuk orang orang. Biar bagaimanapun kita semua butuh asupan makanan," lanjut Ferry. Anggun hanya mengangguk. Dia sedang tidak ada selera untuk makan. Tidak mood untuk berbuat apapun, hanya ingin berdiam diri di dalam kamar saja.
Anggun memandangi wajahnya di cermin, saat Ferry keluar kamar. Dia mengambil sisir, dan menyisir rambutnya yang agak kusut. Bahkan dengan keadaan seperti itupun Anggun masih tetap terlihat cantik. Beberapa helai rambutnya yang hitam rontok, jatuh di meja rias.
"Jika wajah cantik ini hilang, masih adakah yang mau dekat denganku meski itu hanya pura pura?" gumam Anggun sendirian.
Beberapa menit berlalu, Anggun hanya diam termenung di depan cermin. Ferry kembali ke dalam kamar, menatap istrinya dengan prihatin.
"Kamu kenapa sih yang?" tanya Ferry sambil menghela nafas pelan. Anggun menggeleng tak bersemangat.
"Mas kok sudah balik? Mak Surti masak apa?" Anggun balik bertanya.
"Ah, iya. Aku mau cuci tangan dulu," jawab Ferry berjalan ke kamar mandi.
Sekilas Anggun melihat ada bercak kemerahan di tangan suaminya.
"Mas, Mas Ferry kenapa?" tanya Anggun khawatir.
Belum sempat Anggun beranjak dari duduknya untuk menyusul Ferry ke kamar mandi, di luar kamar terdengar suara gaduh.
Ada suara jeritan perempuan, yang sepertinya berasal dari lantai bawah.
"Ada apa lagi?" Anggun panik. Jantungnya berdegup kencang. Pandangan mata Anggun tiba tiba saja buram. Serangan rasa khawatir, kaget dan panik di hatinya membuat tubuh Anggun lemas.
__ADS_1
...Bersambung___...