Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XXXIII. Bidan Desa


__ADS_3

Gapura batas desa, berdiri di antara rimbunnya kayu akasia. Mobil Tarji bergerak semakin pelan menghindari beberapa gundukan tanah yang menggunung di bagian tengah jalan. Udara pedesaan tetap terasa dingin, meski sinar matahari terlihat sangat terik.


Adi menyimpan kopyahnya ke dalam tas. Dia baru selesai mengikuti sholat jumat di masjid sekitar pasar 'tumpah' tempat Tarji membeli bunga untuk keperluan nyekar. Beberapa kali Adi menguap, merasakan kantuk yang menggelayuti kelopak matanya.


"Makam desa bukannya nggak jauh ya dari gapura ini?" Tarji bertanya sambil mengingat ingat.


"Iya, kanan jalan kalau nggak salah. Sudah lama ya kita nggak kemari," jawab Adi ragu ragu.


Belum genap satu menit dibicarakan, nampak sebuah gerbang besi ber cat hitam di kanan jalan. Pohon cempaka dan kamboja besar yang terlihat pucat berayun ayun diterpa angin. Kumpulan batu nisan berwarna putih berjejer di tanah liat yang kemerahan.


Beberapa orang terlihat keluar dari area makam. Seperti yang dikatakan Tarji, hari jumat pahing memang waktu yang lumrah dimanfaatkan orang orang untuk nyekar. Dengan perlahan Tarji menepikan mobilnya.


"Duh, aku agak lupa sih letak makamnya Fadlan sama Wignyo," Tarji garuk garuk kepala.


"Makam mereka bersebelahan. Agak di bagian tengah seingatku," sambung Adi sembari membuka pintu mobil. Adi hendak melangkahkan kakinya ke seberang jalan, namun Tarji tiba tiba saja menepuk pundak Adi sedikit kasar.


"Ada apa sih Tarji Bin Sumarji?" Adi menoleh dengan mimik wajah yang jengkel.


"Sepatu lepas dulu. Ingat adab kalau ke makam Diii," ujar Tarji mengingatkan.


"Ah iya. Kamu benar," sahut Adi buru buru melepas sepatunya. Adi tersenyum, dalam hati dia memuji Tarji yang selalu mengutamakan adab, adat, dan kebiasaan baik yang ada sejak dulu. Adi memang lebih pintar dan cerdas dibandingkan Tarji, namun Tarji juga memiliki kepribadian yang luhur, sesuai ajaran simbahnya yang merupakan seorang tetua kampung. Dua orang itu merupakan dwi tunggal yang cocok dan saling melengkapi.


Adi dan Tarji memasuki gerbang makam ber cat hitam dengan beberapa bagian yang terkelupas karena sudah berumur. Sepertinya cukup banyak orang yang datang ke makam untuk nyekar. Aroma bunga yang wangi semerbak tercium dari semua penjuru.


Di bagian tengah, nampak dua orang bapak bapak tengah duduk sembari menaburkan beberapa jenis bunga di atas sebuah pusara. Raut wajah kesedihan tergambar jelas di kerutan wajahnya yang mulai terlihat renta. Rambut uban memutih, bibir yang semburat kehitaman, dengan tatapan mata sayu memandangi tanah merah di hadapannya.


"Bapaknya Fadlan dan Wignyo," bisik Adi pada Tarji. Dia mengenali dua orang laki laki yang tengah kusyuk berdoa di atas batu nisan anaknya itu.

__ADS_1


Adi dan Tarji berdiri menunggu, hingga bapak bapak yang kompak memakai baju batik itu selesai berdoa. Beberapa saat lamanya menunggu, akhirnya orangtua dari Fadlan dan Wignyo tersebut berdiri dan menoleh pada Adi dan Tarji. Mereka nampak mengingat ingat saat bertemu pandang dengan dua petugas kepolisian yang memang sudah lama tidak bertemu.


"Pak bagaimana kabar?" Adi mengulurkan tangannya menyalami orangtua Fadlan dan Wignyo.


"Kabar baik Pak polisi," jawab orangtua Fadlan.


"Kalau saya, ya seperti ini pak polisi masih sering mimpi ditemui Wignyo," jawab orangtua Wignyo sambil menghela nafas pelan.


"Nggeh sampun, monggo kami duluan. Nanti kalau berkenan silahkan pinarak Pak polisi," sahut orangtua Fadlan cepat. Dia sepertinya menghindari obrolan agar tidak teringat lagi dengan kematian putranya yang tragis.


"Iya Pak," jawab Adi singkat. Dia bingung hendak menjawab apa. Sungguh pertemuan yang terasa kaku dan canggung. Sedangkan Tarji hanya diam menunduk.


"Aku nggak kuat menatap orangtua Fadlan dan Wignyo," ucap Tarji setelah orangtua Fadlan dan Wignyo pergi.


"Dalam lubuk hatiku masih merasa kita yang gagal Di," lanjut Tarji menatap dua batu nisan di hadapannya.


Selesai berdoa dan menabur bunga, Adi dan Tarji kembali melanjutkan perjalanan. Dua orang petugas kepolisian itu nampak lebih murung dan hanya diam saja selepas dari makam. Mereka tidak berniat memulai obrolan dan hanya menikmati terjalnya jalan desa yang tersusun atas bebatuan.


Mobil Tarji akhirnya sampai di depan balai desa. Tempat luas dengan kentongan besar itu nampak lengang dan sepi. Di sebelah bangunan balai desa, berdiri Polindes yang terlihat lebih berwarna. Cat tembok yang masih baru, juga pot pot bunga yang tersusun rapi berjajar di halamannya.


Tarji memarkirkan mobilnya tepat di depan Polindes. Adi segera turun, seakan tak sabar untuk menanyakan banyak hal pada bidan desa yang dulu memberinya buku merah maroon itu.


"Selamat siang, kulonuwun," Adi mengucap salam, berdiri di ambang pintu Polindes. Tarji mengekor di belakangnya.


"Iya, selamat siang," jawab seorang perempuan yang berjalan tergopoh gopoh dari dalam ruangan Polindes.


"Ada perlu apa Mas Mas nya?" tanya ibu ibu yang memakai baju batik warna kuning. Batik seragam khusus para bidan.

__ADS_1


"Ah iya Buk, kami ingin bertemu dengan bidan desa," Adi tersenyum ramah.


"Saya bidan desanya Mas. Saya Bu Anggi," jawab ibu ibu yang bernama Anggi tersebut.


Adi dan Tarji bertukar pandang. Dari raut wajahnya, Adi terlihat kebingungan. Belum genap satu tahun mereka tak berkunjung ke desa tersebut, rupanya sang bidan yang bertugas di polindes sudah berganti orang.


"Maaf, bidan desa yang bernama Mbak Nurma kemana ya Bu?" tanya Adi penasaran.


"Mbak Nurma ya, oh njenengan berdua kenalannya Mbak Nurma?" Bu Anggi manggut manggut.


"Ah iya. Kami dari kepolisian yang dulu sempat menangani sebuah kasus di hutan wilayah desa ini. Kami sempat bertemu dan berkenalan dengan Mbak Nurma," jawab Adi menjelaskan.


"Kasus rumah tepi sungai itu ya? Rumahnya Sang Rich Man, yang bikin heboh berita nasional kan?" Bu Anggi terlihat antusias.


"Iya Bu," Adi mengangguk meng iya kan.


Bu bidan Anggi diam, mengamati Adi dan Tarji dari ujung kepala hingga ujung kaki. Entah apa yang dipikirkan perempuan yang sudah berusia kepala empat itu.


"Apa ibu tidak percaya kami polisi kenalannya Bidan Nurma?" tanya Tarji sedikit jengkel.


"Ah, bukan begitu Mas. Saya agak gimana ya, bingung. Kalau Mas Mas nya benar temannya bidan Nurma, masak nggak tahu sih?" Bu Anggi memandang Tarji sekilas, kemudian kembali mengamati Adi.


Tarji sudah tak sabar mendengar perkataan bidan Anggi yang terus berbelit belit. Dia merogoh dompet di sakunya, dan mengambil kartu identitas anggota kepolisian. Tarji menyodorkannya pada Bu Anggi.


"Ah, begini saja ya, Mas Mas polisi silahkan masuk dulu. Tak panggilkan orangtuanya Mbak Nurma ya, biar lebih enak nanti njelasinnya," Bu Anggi terlihat sedikit salah tingkah, kemudian segera berjalan pergi meninggalkan Tarji yang masih memegangi kartu anggota kepolisiannya.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2