
GLODAAKKK
Tubuh yang tengah terikat pada sebuah kursi kayu terjatuh ke lantai. Sepasang mata mengerjap ngerjap, memperhatikan sekelilingnya. Sebuah ruangan yang asing, dengan cat dinding berwarna emas dan beberapa ornamen yang indah terpasang.
Mella meringkuk, merasakan nyeri di pundak kirinya. Pelipisnya terasa ngilu dan perih karena baru saja menghantam lantai marmer dengan cukup keras. Dia ingin berteriak, namun mulutnya tersumpal kain, dan direkatkan dengan lakban hitam pada bibirnya.
Mella berusaha menggerakkan tangan dan kaki, namun percuma. Sekujur tubuhnya penuh dengan tali tambang yang terikat erat dengan kursi kayu yang kini ikut terkapar di lantai bersama dirinya.
Mella masih sulit mengingat apa yang terjadi padanya. Karena dia baru saja terbangun saat terdengar suara pintu yang digedor gedor dari luar. Dia mencoba mengingat ingat apa yang telah terjadi padanya, dan dimana dia berada sekarang?
Mella menyusun satu persatu ingatan di benaknya. Setelah berjalan jalan bersama Ellie dan Iva dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Ellie dan Iva waktu itu mengatakan ingin berkeliling melihat lihat sungai.
Mella masuk ke rumah Zainul melalui pintu belakang. Dan saat sampai di lorong depan kamar mandi, dia dibekap dari belakang. Mella tidak tahu siapa orang yang merangkul dan membekapnya begitu erat. Kain dengan aroma memabukkan juga di sumpalkan pada hidung dan mulut Mella. Hingga akhirnya dia pingsan, tak sadarkan diri.
Mella tidak tahu, berapa lama dia pingsan dan sedang dimana dia sekarang. Yang jelas, dia saat ini sedang dalam bahaya. Ada yang menculiknya, entah untuk tujuan apa.
Mella tak mau hanya berdiam diri. Bagaimanapun caranya dia harus berupaya agar bisa lepas dari ikatan. Tubuhnya menggeliat. Mella menggerak gerakkan kakinya yang terikat. Namun percuma, tali di tangan, pinggang, lutut dan pergelangan kakinya menggunakan simpul mati yang benar benar kencang.
Nafas Mella terdengar berat. Peluh membasahi tubuhnya. Perutnya pun tiba tiba saja terasa perih. Mella menduga mungkin saja seharian dia pingsan. Karena rasa haus dan lapar begitu terasa.
Jam berapa sekarang? Saat ini pagi, siang atau malam? Mella benar benar tidak tahu waktu. Dan sudah menjadi sifat manusia, ketidaktahuan selalu menimbulkan kecemasan di hati.
__ADS_1
Dalam rasa cemas dan bingung, Mella hanya bisa menangis, meratapi nasibnya. Dia teringat dengan kehidupannya yang jauh dari kata sempurna. Saat teman teman seangkatannya sudah menikah dan berumah tangga, dia masih berteman dengan kesendirian.
Sendiri dan kesepian bukan pilihan. Kalaupun bisa memilih, Mella juga ingin seperti teman temannya yang lain. Namun nyatanya, sekeras apapun dia berusaha dan mencoba nyatanya jodoh tak kunjung datang.
Banyak mulut mulut di luar sana yang mengatakan bahwa Mella terlalu pemilih. Padahal sebenarnya, dia berkali kali telah gagal menjalin hubungan. Setiap orang yang pernah mendekatinya, pada akhirnya selalu berujung pada perpisahan. Mella bukan pemilih, namun sebenarnya dia tidak pernah memiliki pilihan.
Hingga akhirnya Mella bertemu seorang pemuda sederhana. Seorang pedagang sayur keliling yang dikenalnya saat berbelanja di pasar induk kota. Pemuda yang cukup tampan meski belum mapan. Usianya lebih muda dibanding Mella yang sudah mencapai kepala tiga. Hingga akhirnya Mella dan pemuda itu memutuskan untuk memulai hubungan yang serius.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Mella datang memenuhi undangan Zainul, demi uang yang dijanjikan. Dengan uang itu, dia berencana untuk mempersiapkan lamaran hingga pernikahan. Karena menunggu pasangannya siap secara materi, nyatanya cukup sulit.
Dan rencana itu, malah menuntunnya pada bahaya. Mella kini terikat dan disumpal mulutnya. Dalam keadaan tak berdaya, dia hanya bisa berdoa, memohon untuk diselamatkan.
Mella mencoba menggeser tubuhnya. Dia berusaha untuk melihat ke arah sumber suara. Namun cukup sulit. Kursi kayu sangat berat menempel pada badannya.
Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya dia berhasil menggeser posisi tubuhnya. Dia menghadap ke arah lain. Dan sudut matanya melihat sebuah pemandangan mengerikan.
Sosok laki laki, tanpa baju diikat dan tubuhnya dibentangkan di sudut ruangan. Terlihat jelas tubuh bagian atasnya penuh dengan luka bakar. Ada puluhan bahkan ratusan bekas sudutan rokok di dadanya yang penuh keringat.
Mella memperhatikan dengan seksama. Laki laki yang disiksa itu adalah Denis. Mulutnya juga dalam keadaan tersumpal oleh plester hitam. Lengannya nampak penuh luka sayatan. Cairan merah kental menetes dari urat yang terluka.
Denis, sang selebgram lokal sekaligus musisi handal itu terlihat tak berdaya. Tatapan matanya sayu. Cahaya kehidupan sudah memudar. Tak ada lagi harapan dari raut wajahnya. Mella tahu, Denis telah menyerah dengan rasa sakit yang dirasakannya.
__ADS_1
Suara nafas yang di dengar Mella tadi, adalah suara terakhir dari sosok Denis. Perlahan dadanya membusung dan bergetar. Detik berikutnya kepalanya tertunduk, tak ada lagi gerakan. Diafragma dan perutnya terlihat tak bergerak lagi untuk memompa oksigen.
Mella menangis sekencang kencangnya. Dia mencoba menjerit, dan berteriak. Namun percuma, suaranya tak bisa keluar. Mulutnya tersumpal erat. Terus memaksa untuk berteriak malah bisa membahayakan dirinya sendiri. Dia bisa tersedak dan kesulitan bernafas.
Diwaktu yang sama, Bayu duduk di sudut tempat tidur. Dia menjadi tahanan kawan kawannya. Kamar yang terkunci dari luar, juga rasa curiga dari beberapa orang, membuat Bayu memilih untuk diam dan tak bergerak.
Meskipun seolah dia pasrah, sebenarnya Bayu tidak menyerah. Saat ini dia menuliskan pada buku catatan, strategi apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia sudah mulai bisa menerka siapa sosok penjahat, yang telah membunuh satu persatu tamu undangan sang Rich Man.
Ada bukti, namun masih terasa lemah. Bayu juga sudah menyelesaikan analisanya, bagaimana cara Yodi dan Dipta terbunuh. Dan kalau dia tidak salah dengar, tadi orang orang di luar kamar tengah berdebat soal kematian Tia.
Bayu menghela nafas, menutup buku catatannya. Dia beralih, mengambil buku bersampul merah tua. Buku lusuh yang tergeletak di atas tempat tidur. Bayu meraihnya, dan membuka halaman pertama.
"Tabur tuai. Setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai perbuatannya," Bayu membaca kutipan di halaman awal yang tercetak miring.
Bayu kembali menutup buku yang ada di tangannya itu.
"Semuanya tewas, seperti apa yang telah mereka lakukan pada Zainul. Yodi yang terkurung di dalam lemari. Dipta yang tersedak sepotong roti. Tia yang tergigit oleh anjing liar. Itu artinya kemungkinan besar Denis akan mati dengan sudutan rokok di tubuhnya. Lalu yang lain? Artinya. . .," Bayu bergumam sendiri. Dia tidak melanjutkan kalimatnya.
Bayu terdiam, pikirannya mengawang jauh. Dia adalah orang yang mempercayai hukum sebab akibat. Segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan saat ini, selalu disebabkan oleh tindakan di masa lalu.
Bersambung___
__ADS_1