
Ujung jari telunjuknya mulai bergerak gerak. Kelopak mata yang bulat terbuka secara perlahan. Sementara indera penciuman mengendus aroma anyir yang menusuk. Ada sensasi basah nan dingin yang terasa di bagian kepala belakang.
"Ugghhh," Andewi mulai tersadar. Bibirnya bergetar hendak berbicara, namun terasa berat.
Suara derasnya air terjun begitu santer masuk ke dalam gendang telinga. Andewi dapat menebak, kini dia berada di dalam ceruk di balik air terjun. Dia menggerakkan kepalanya, terasa nyeri dan perih. Perlahan Andewi mengangkat tangannya dan meraba bagian batok kepala belakang.
"Aagghhh," Andewi mengaduh, lirih. Suaranya nyaris tak terdengar.
Tangan Andewi meraba rambutnya yang basah. Ada cairan kental dan sedikit lengket menempel di mahkota kepala yang hitam tergerai. Rupanya darah yang mulai mengering memenuhi kepala belakang hingga lehernya.
Srettt sreett sreettt
Terdengar sebuah suara, sesuatu yang diseret. Andewi ingin melihat dan memastikan suara apa itu, namun pandangannya kabur dan tak fokus. Andewi hanya bisa pasrah. Tak ada yang mampu dia lakukan. Bahkan dia merasa otaknya sudah tak mampu lagi mengirim perintah pada tubuhnya untuk bergerak. Ada saraf yang terputus saat dirinya dihantam dari belakang.
"Waahh, kamu masih hidup? Syukurlah" Sebuah suara terdengar dari jarak dekat. Meskipun serak dan bindeng, namun jelas itu suara perempuan.
"Ugghhh," bibir Andewi bergerak gerak kembali. Batinnya bertanya siapa orang yang ada di dekatnya, namun suara tak bisa keluar. Kelopak mata Andewi berkedip dengan sangat cepat.
"Simpan tenagamu. Jangan banyak bergerak, meskipun aku tak menjamin nyawamu bakal selamat. Soalnya terlalu banyak darah yang keluar dari kepalamu Nona," suara terdengar semakin mendekat.
Mata Andewi perlahan lahan akhirnya bisa melihat dengan sempurna. Dia sangat terkejut. Seandainya saja saat ini dia tidak sedang terluka, pasti tubuhnya akan refleks melompat ketakutan. Namun, kini dia hanya bisa melotot menatap sosok yang duduk bersimpuh di sampingnya.
Sosok mengerikan itu tengah memandangi Andewi dengan bola matanya yang memerah. Wajahnya terlihat sangat menyeramkan. Hampir semua bagian tubuhnya yang sebelah kanan rusak. Dari ubun ubun, dahi, pipi, rahang, dan dagu, serta leher, nampak mengkerut penuh luka bakar.
Rambutnya yang tumbuh jarang jarang, juga daun telinga yang menempel pada kulit kepala menambah kengerian pada sosok yang kini membelai lembut rambut Andewi. Ada beberapa tetes air liur yang jatuh. Sosok itu memandangi Andewi dengan tatapan penuh kebencian.
"Si siapa kamu?" Andewi bertanya, suaranya sangat lirih. Otaknya perlahan mampu mengirim perintah pada pita suara dan bibir agar bergerak.
__ADS_1
"Aku dulu juga sama sepertimu. Berambut hitam seperti ini. Berkulit mulus, meskipun tak secantik kamu, tapi aku punya kehidupan yang cukup bahagia," ucap sosok di hadapan Andewi penuh kesedihan.
"Tuhan menghukumku seperti ini. Tapi Tuhan tetap memberiku solusi. Uang yang kamu curi itu adalah uangku. Aku yang menemukannya lebih dulu di tempat ini. Kalau tenagaku sudah pulih, dan aku bisa berjalan sempurna, aku akan pergi ke kota untuk operasi wajahku menggunakan uang itu Nona. . .hi hi hi hi," perempuan mengerikan itu tertawa meringkik.
"Jadi, sekarang katakan padaku dimana kamu menyembunyikan uang itu Nona cantik?" sebuah pertanyaan dengan suara serak yang terdengar mengintimidasi.
"U uang? Uang apa? Aku tak mengerti," jawab Andewi mencoba berbohong dan mengelabuhi.
"Hi hi hi. . .kura kura dalam perahu. Pura pura tidak tahu. Nona, hanya kamu yang berkeliaran di tengah malam, saat uangku hilang dari tempat ini. Berbohong itu dosa Nona," tangan perempuan mengerikan itu meraba raba jari Andewi. Telunjuk kanan Andewi dipegangnya erat erat. Dan dengan satu gerakan mendadak . . .
Klaakk
Perempuan berwajah penuh luka bakar itu menarik dan menekuk telunjuk Andewi hingga patah.
"Eeeggghhhh aagghhhh," sontak Andewi menjerit tertahan. Kesadaran Andewi yang belum pulih sepenuhnya harus dipaksa untuk merasakan lara di ruas jari telunjuk yang patah.
"Kamu gila," ucap Andewi lirih.
Klaakkkk
Lagi, satu ruas jari terdengar patah. Suara yang nyaring di antara gemericik aliran air terjun. Kali ini kelingking Andewi yang nampak halus harus tertekuk ke atas dengan tidak wajar.
"Heenggghhh," Andewi mengejang kesakitan.
"Ayoklah Nona, katakan saja padaku. Aku hanya butuh uang itu. Aku tak ada urusan denganmu. Bahkan aku juga tak ada niat untuk melukaimu," perempuan itu mendesak.
"Kalau begitu, aku akan memberitahumu, tapi lepaskan aku. Biarkan aku pergi dari sini," ucap Andewi memohon. Kali ini butir butir air mata jatuh membasahi pipinya. Rasa sakit benar benar membawanya pada jurang keputus asaan.
__ADS_1
"Lihatlah, aku tak mengikatmu Nona. Kamu bebas mau pergi kemanapun," jawab perempuan itu, sembari memutar bola matanya.
"Tapi . . .tapi badanku tak bisa digerakkan. Bagaimana caranya aku bisa memberitahukannya padamu jika aku tak bisa bergerak?" Andewi menangis. Isak tangisnya nyaris tak terdengar. Kalah oleh suara derasnya air terjun.
"Tak usah berbelit belit. Katakan saja padaku!" Bentak perempuan itu mulai kehilangan kontrol kesabarannya.
"Aku meletakkannya di bawah pohon pucung di hutan sekitar sungai," Andewi menjawab dengan jujur. Dia tak mau disiksa dengan lebih kejam lagi.
"Pucung yang mana? Disini banyak sekali pohon pucung!" Perempuan mengerikan itu terlihat tidak puas dengan jawaban Andewi.
"Jika saja aku bisa bergerak aku akan memberitahukannya padamu," ucap Andewi lirih.
"Hi hi hi, tak perlu. Aku tak membutuhkanmu. Biar saja, akan kucari uang itu sampai ke sudut sudut hutan ini. Dan kamu tetaplah disini, nikmati datangnya ajalmu sebentar lagi," perempuan berwajah nengerikan terus saja tertawa.
Perempuan itu berdiri. Kaki kanannya terlihat bekas luka yang parah. Dia berjalan sedikit pincang dengan telapak kaki kanannya yang diseret.
"Kamu nggak akan tahu tempatnya," sambung Andewi dengan suara yang lirih.
"Hutan ini adalah tempatku bermain Nona. Aku sudah hafal setiap jengkal dari wilayah sini," perempuan itu tersenyum sekilas, kemudian berjalan keluar dari goa di balik air terjun.
Andewi menghela nafas perlahan. Setelah kepergian perempuan mengerikan itu, Andewi hanya berdiam menatap langit langit goa yang nampak biru kehijauan.
Dalam kesendiriannya Andewi menangis. Dia meratapi nasibnya yang begitu malang. Harus meregang nyawa di tempat antah berantah. Andewi menyesalkan keputusannya mengajak semua teman ke rumah baru Anggun.
Seandainya saja Andewi tidak gelap mata dengan nominal yang tercantum di halaman terakhir buku Zainul Rich Man, mungkin semua ini takkan pernah terjadi. Erfan mungkin saja masih hidup, begitupun juga dirinya, tak perlu bernasib tragis dengan kepala bersimbah darah.
Bersambung___
__ADS_1