Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XV. Praduga Ali


__ADS_3

Sudah jam 9 malam, namun petugas kepolisian yang di telpon oleh Anggun tidak kunjung datang. Langit malam yang gelap sesekali berubah terang karena kilat yang menyambar tiba tiba.


Semua orang terdiam di tempat duduknya. Nuansa tegang tergambar jelas di raut wajah masing masing. Mayat Erfan dibiarkan semakin kaku tertelungkup di meja makan begitu saja. Tak ada yang berani mendekat dan menyentuhnya.


"Sial! Kita harus menunggu sampai kapan?" Tanya Ali Sabet tidak sabar.


Ali Sabet laki laki yang biasanya paling bocor, suka melucu dan jarang terlihat serius itu kini tidak bisa mengendalikan emosinya. Rasa takut, khawatir dan lelah membuat perasaannya tidak tenang.


"Apa iya kita harus menunggu disini sampai pagi? Bersama mayat di meja makan pula. Bisa gila aku," sambung Andewi.


"Biar aku coba hubungi polisi yang tadi," Anggun mencoba menenangkan.


Dia kembali merogoh HP yang ada di saku bajunya.


Drttt drttt drttt


Belum sempat Anggun menghidupkan HP nya, sebuah panggilan telepon whatsapp masuk. Dari sebuah kontak bernama Polisi Bayu. Anggun segera mengangkatnya.


_


"Teman teman," ucap Anggun setelah selesai menerima telpon.


"Hujan deras membuat bagian jalan di tepi hutan ada sedikit longsor. Mobil nggak bisa lewat, jadi petugas kepolisian terpaksa berjalan kaki menuju kemari," ucap Anggun.


"Terus gimana? Kita harus disini terus begitu?" Tanya Ali Sabet.


"Mungkin kita lebih baik istirahat saja. Yang penting jangan menyentuh mayat ataupun merubah TKP. Dan yang pasti tidak ada satupun yang boleh pergi dari rumah ini," jawab Anggun.


"Ada satu kamar tamu di depan yang bisa digunakan oleh Vita, Inge dan Andewi. Sedangkan Ali bisa menggunakan sofa atau kasur lantai di depan TV ruang keluarga," sahut Ferry.

__ADS_1


"Erwin?" Ferry kemudian menoleh pada Erwin.


"Iya Mas?" Erwin sedikit terkejut.


"Kamu beritahu Ibuk dan Vivi agar segera istirahat, kembali ke kamar. Mak Surti, Pak Nyoto dan Miko biar tidur di kamar belakang. Kamu ikut di kamar Ibuk saja. Jagain Ibuk dan Vivi!" Perintah Ferry sinis.


"Baik Mas," Erwin menurut. Dia mengangguk cepat dan bergegas menuju ke dapur. Inge menghela nafas kecewa. Ada sedikit harapan dia bisa berduaan dengan Erwin malam ini. Tapi kelihatannya hal itu sulit terlaksana.


Vita, Andewi dan Inge tidak mau membuang waktu. Mereka segera pergi ke kamar tamu yang ditunjukkan oleh Ferry. Berjam jam memandangi mayat Erfan di meja makan tentunya membuat pikiran mereka sedikit kacau. Mereka ingin segera terlepas dari pemandangan mengerikan itu.


Ferry dan Anggun juga bergegas ke lantai atas. Begitupun Ali Sabet, dia tidak sudi ditinggal sendirian bersama mayat Erfan.


Ali Sabet memilih tiduran di ruang keluarga. Sebelumnya dia menyalakan TV, namun bukan untuk ditonton. Melainkan hanya sekedar digunakan sebagai teman agar tidak terlalu sepi. Ali jelas merasa takut dan ngeri. Tanpa terduga dia harus terjebak di rumah antah berantah, dan salah satu temannya sudah menjadi bangkai.


Sempat terbersit di otak Ali untuk menyusul teman teman perempuannya di kamar tamu. Namun dia urungkan niatnya itu. Pada akhirnya Ali memutuskan berdiam diri di depan layar TV.


Ali menatap langit langit di atas kepalanya. Warna putih bersih, cat yang masih benar benar baru. Tak ada noda, terlihat mengkilap sempurna. Suara TV dengan volume yang hampir maksimal terdengar menggelegar.


"Sial!" Ali mengumpat.


Kamar mandi terletak di antara kamar pembantu dan dapur. Jadi, untuk menuju ke kamar mandi, Ali harus melewati ruang makan dimana mayat Erfan tergeletak. Terang saja batinnya berusaha menolak, tapi organ ekskresi tubuhnya tak mampu dilawan.


Ali terpaksa berjalan menyusuri lorong bawah tangga, kemudian sampai di ruang makan. Dia berjalan sambil menunduk, tak sudi beradu mata dengan mayat Erfan.


Setelah melewati ruang makan Ali sampai di bagian dapur. Rupanya ada seseorang disana. Seorang perempuan dengan rambut terurai tengah jongkok di depan kulkas.


"Untung ada Mak Surti," gumam Ali. Ketakutannya sedikit mereda. Dia segera masuk ke dalam bilik kamar mandi.


Sambil buang air, tak lupa Ali bersiul siul lirih. Sesekali badannya juga bergetar dan bergidik. Ciri khas laki laki yang menikmati proses buang air kecilnya.

__ADS_1


"Fuuuhhh," Ali membuang nafas, lega. Bersamaan dengan suara kulkas yang ditutup.


Ali berpikir di benaknya, Mak Surti aneh juga di jam malam seperti ini masih sibuk dengan urusan dapur. Apalagi baru saja ada yang mati setelah menyantap masakannya.


Ali menjadi sedikit menaruh curiga pada Mak Surti. Jangan jangan pembantu itu yang meracuni Erfan. Ali memutar kran air, kemudian membasuh tangannya menggunakan sabun sambil mengingat ingat bagaimana rupa Mak Surti.


Sedikit tersentak, Ali teringat sosok wanita dengan rambut yang tergerai di depan kulkas tadi. Rambut panjang penuh uban. Bukankah Mak Surti tidak memiliki uban.


Ali menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal. Ada rasa dingin di tengkuknya. Takut kembali merasuki benaknya.


"Brengsek! Masak iya demit! Tapi rumah ini ada di tengah hutan kan ya," Ali menepuk nepuk pipinya menggunakan air, berusaha mengumpulkan keberaniannya yang menipis.


Selesai membasuh muka, Ali memutar kran untuk mematikan air. Dan saat itu dia tiba tiba teringat sesuatu. Wajahnya nampak serius berpikir. Dahinya berkerut, alisnya hampir menyatu.


"Aku tahu sekarang. Jadi, kemungkinan orang itu yang meracuni Erfan," ucap Ali tersenyum masam.


Sedikit berjingkat Ali berjalan keluar kamar mandi. Dapur kini sepi dan gelap, tidak ada siapapun. Di depan kulkas sudah tidak ada lagi wanita yang tadi.


Dengan terburu buru Ali berjalan meninggalkan dapur. Dia sampai di ruang makan yang tak kalah gelap. Mayat Erfan masih tetap di tempatnya. Suara dengung lalat mulai terdengar di udara.


Ali berhenti di sudut ruangan. Dia memperhatikan dengan seksama, memastikan praduganya tidak keliru. Dia mengamati setiap detail ruang makan. Dia manggut manggut yakin. Kini, tanpa harus menunggu polisi datang Ali bisa menyampaikan dugaannya pada semua orang.


Namun sayang, di tengah kegelapan dan jarak pandang yang terbatas Ali lengah. Ada sosok yang mengendap endap di belakang Ali. Seseorang yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak gerik Ali.


Ali hendak membangunkan semua orang, saat tiba tiba dari belakang seseorang menjerat lehernya dengan kuat.


"Acckhhh," Ali kaget dan tersedak. Dia ingin berteriak namun tak bisa. Suaranya tak keluar, jeratan di lehernya benar benar kuat dan mencekik.


Tangan ali meraba raba lehernya mencoba melonggarkan jeratan kawat yang semakin membuatnya tersiksa. Mata Ali melotot, dadanya terasa sesak. Oksigen di dalam darahnya mulai menipis. Detak jantungnya terdengar bagaikan genderang di telinganya sendiri.

__ADS_1


Ali, laki laki humoris itu pada akhirnya terkulai lemas. Lehernya membiru dengan mata yang melotot. Dia tak sempat menoleh dan melihat siapa gerangan yang telah menghilangkan nyawanya.


Bersambung ___


__ADS_2