
Wignyo dan Fadlan masih terdiam di tempatnya berdiri. Fadlan menggenggam erat ujung baju Wignyo. Dia merasa sangat takut, dan tak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
Sosok 'Tuan Zainul' yang mereka kagumi, sosok yang membantu pembangunan desa tertinggal tempat tinggal Fadlan dan Wignyo. Sosok itu, kini berdiri di hadapan mereka. Seulas senyum tersungging, di antara cipratan darah yang menempel di wajah tampannya.
"Kenapa kalian diam saja disitu? Kemarilah, ikut denganku ke rumah," ajak 'Tuan Zainul'.
"Gimana ini Nyooo?" Fadlan berbisik di telinga Wignyo. Suaranya bergetar, badannya gemetar ketakutan.
Wignyo memukul paha Fadlan dengan cukup keras. Dia berusaha memberi peringatan pada Fadlan agar tetap tenang.
"Maaf Tuan, kami tergesa gesa. Berhubung kita sudah berjumpa disini, tanpa mengurangi rasa hormat, kami mohon ijin untuk kembali ke desa," ucap Wignyo berusaha setenang mungkin.
"Kalian sibuk apa? Kenapa kalian begitu tidak sopan menolak ajakanku untuk ke rumah? Padahal Mak Ijah sudah menyiapkan makan siang yang enak untuk kalian," Si 'Tuan Zainul' itu menunjukkan raut muka kecewa. Terdengar dia menghela nafas.
"Maaf Tuan, lain kali kami pasti mengunjungi anda Tuan," Wignyo sedikit membungkuk. Keringat mulai mengalir di dahinya yang luas.
"Yahh, aku kecewa sih. Tapi apa boleh buat, silahkan pergi," sosok Tuan Zainul itu terlihat menepi, memberi jalan pada Wignyo dan Fadlan.
"Ayok, silahkan lewat," imbuh sosok Rich Man itu.
Wignyo ragu ragu melangkahkan kakinya. Fadlan masih mengekor, menggenggam erat ujung baju Wignyo. Perlahan mereka mendekati sang majikan yang tampak tersenyum sumringah. Sebuah senyuman yang terasa mengerikan.
Setelah jarak dengan 'Tuan Zainul' tinggal satu jengkal, Wignyo meletakkan karung uang dengan perlahan. Dia membungkuk memberi hormat pada majikannya itu.
"Sebentar," ucap Sang Rich Man tiba tiba. Wignyo menghentikan langkahnya. Sedangkan Fadlan gemetar hebat.
"Kalian yakin cepet cepet pulang karena ada urusan yang tidak bisa ditunda?" Tanya Tuan Zainul penuh selidik.
"Iya Tuan," jawab Wignyo singkat.
"Bukan untuk melapor ke warga desa tentang apa yang kalian lihat disini, kan?" Tuan Zainul terlihat menyeringai menakutkan.
"Tidak Tuan. Kami bersumpah tidak pernah melihat apapun. Kami hanya bertemu Tuanku yang bersahaja. Pahlawan desa kami," jawab Wignyo, sembari mengatur nafas. Saking takutnya suara Wignyo terdengar serak dan lirih.
"Bagaimana jika aku tidak mempercayai kalian? Aku mau minta jaminan," sosok Tuan Zainul melotot. Tangan kanannya nampak merogoh saku belakang celananya.
"Jaminan apa Tuan? Kami sudah mengabdi pada Anda cukup lama. Kami tidak akan membuat Anda terkena masalah, percayalah," Wignyo dan Fadlan membungkuk sekali lagi mencoba menunjukkan rasa hormatnya.
__ADS_1
"Ya setidaknya salah satu dari kalian harus ikut bersamaku pulang ke rumah. Jaminan yang mudah bukan?"
Wignyo dan Fadlan saling bertukar pandang. Mereka seakan saling berdebat dalam diam. Masing masing terlihat memelototi satu sama lain.
"Ah anu Tuan, sekali lagi kami mohon maaf. Kami harus segera pulang ke desa," Wignyo akhirnya yang menjawab.
Tuan Zainul terlihat manggut manggut mendekati Wignyo. Tangan kirinya menepuk nepuk pundak Wignyo. Sedangkan tangan kanannya, tiba tiba saja terayun ke arah dada Wignyo.
Wignyo jatuh tersungkur, bersimbah cairan merah kental dan pekat yang mengalir dari dada kirinya. Sosok Tuan Zainul menyeringai puas. Fadlan melotot dan beberapa saat lamanya terdiam mematung tak mampu menggerakkan kakinya.
Wignyo mengejang sesaat. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pemuda desa itu memejamkan matanya. Fadlan mundur beberapa langkah, celananya telah basah dengan aroma pesing yang menguar di udara.
"Tu Tuaann, ampuni saya Tuan," Fadlan menangis.
"Kamu kenapa Fadlan? Apa salahmu hingga harus meminta pengampunan dariku?" Sosok Tuan Zainul menunjukkan ekspresi kebingungan. Seolah dia benar benar tidak tahu maksud perkataan Fadlan.
"Jangan bunuh saya Tuan," Fadlan mengiba.
"Hei hei hei STOP! Diam kamu! Aku nggak pernah ingin mencelakai atau melukai siapapun!" Sosok Tuan Zainul membentak. Dia terlihat sangat marah secara tiba tiba.
"Itu karena dia, juga Wignyo tidak mau menuruti kata kataku," sosok Tuan Zainul melotot. Bola matanya terlihat menonjol keluar.
"Manusia hidup hanya sekali. Jika dalam hidupmu kamu pernah melakukan kesalahan seharusnya kamu mengakuinya. Kemudian berusaha meminta maaf dan yang terakhir melakukan penebusan dosa."
Fadlan menatap sosok majikannya yang terlihat asing. Sosok yang biasanya terlihat kalem, baik dan bersahaja itu kini telah sirna. Berubah dengan mimik wajah bengis, serta senyum yang menakutkan.
Fadlan hafal betul dengan sang Rich Man. Setiap satu bulan sekali bahkan terkadang dua kali dalam satu bulan, dia pasti bertemu dengan Tuan Zainul di rumah besarnya. Setiap kali bertemu, yang dia tahu majikannya itu selalu baik, murah senyum dan begitu dermawan. Siapa sangka dibalik topeng keramahan itu tersimpan sebuah niat dan hati hitam kelam bak iblis.
Sosok Tuan Zainul menarik pisau lipatnya dari mayat Wignyo. Dia kini berjalan cepat mendekati Fadlan yang terlihat lemas.
"Tuan, tolong jangan bunuh saya. Saya punya informasi yang mungkin berguna untuk Tuan," Fadlan mengiba, bersimpuh sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Informasi apa?" Tuan Zainul mengernyitkan dahi.
"Saya akan cerita, asal Tuan menjamin keselamatan dan nyawa saya," Fadlan bersujud mencium tanah di hadapan Sang Rich Man.
Fadlan sempat melihat, majikannya itu jalannya sedikit pincang. Kaki kirinya mungkin tengah terluka.
__ADS_1
"Baiklah. Aku tidak akan menyakitimu. Ceritakan padaku, informasi apa yang kamu maksud!" Tuan Zainul memberi perintah.
"Anu Tuan, saya dan Wignyo tadi menemukan seseorang yang tengah terluka di sungai pinggir hutan sana. Kelihatannya orang itu adalah salah satu tamu Anda, Tuan," ucap Fadlan sambil mencoba tersenyum. Air matanya masih terlihat menetes.
"Siapa namanya? Seorang laki laki? Apakah dia selamat?" Tanya sosok Tuan Zainul lebih lanjut.
"Laki laki Tuan. Tubuhnya agak gemuk. Badannya penuh luka seperti cakaran hewan buas. Tapi tadi sudah dibawa warga desa ke POLINDES," jawab Fadlan dengan suara yang bergetar.
"Ada lagi?"
"Tadi orang itu mengatakan sesuatu Tuan," imbuh Fadlan.
"Apa?"
"Selamatkan orang orang di rumah besar. Bayu penjahatnya. . .kalau tidak salah seperti itu Tuan," jawab Fadlan.
"Bayu?" Sosok Tuan Zainul bertanya. Dia terlihat sedikit terkejut mendengar jawaban Fadlan.
"Iya Tuan. Saya ingat betul, laki laki itu menyebut nama Bayu."
"Masih ada lagi?" Sosok Tuan Zainul bertanya sekali lagi.
"Cukup Tuan. Hanya itu," Fadlan menatap sang Rich Man yang berdiri di hadapannya.
"Maaf Tuan, sekarang bolehkah saya pulang Tuan? Saya berjanji dan bersumpah tidak akan membicarakan semua kejadian disini kepada siapapun," Fadlan mengiba.
"Ya informasimu sangat berguna," Tuan Zainul manggut manggut.
"Terimakasih Tuan," Fadlan merasa lega, dia segera berdiri.
Fadlan segera melangkahkan kakinya hendak pergi. Saat tiba tiba dari belakang, sebuah serangan telak mengenai punggungnya. Fadlan terjatuh dalam posisi tengkurap di tanah. Punggungnya terasa basah dan hangat.
"Informasimu memang berguna. Tapi dirimu tak lagi berguna untukku," ucap sosok Tuan Zainul dengan senyumnya yang menakutkan.
Terlalu banyak kematian hari ini. Bahkan hati sang penjahat benar benar sudah dikuasai oleh iblis. Banyak nyawa tak bersalah dan tak ada hubungannya dengan tujuan sang penjahat, jatuh sia sia. Namun, tak ada lagi kesempatan untuk mundur. Semua orang yang telah menabur luka, maka wajib menuai rasa sakitnya.
Bersambung___
__ADS_1