Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
LIV. Ibuk mertua ku sayang Ibuk mertua ku malang


__ADS_3

Pipi yang nampak bengkak membiru akibat tamparan dari sang mertua. Namun seulas senyum tak hilang dari bibir yang berwarna merah dengan tetesan darah di bagian sudutnya.


"Sifat anak merupakan turunan dari orangtua. Kiranya hal itu benar adanya," ucap Anggun masih tengkurap di lantai kamar.


"Diam!" pekik Bu Rofida geram.


"Buk, apakah tak pernah terbersit di hatimu sebuah pertanyaan kenapa aku yang terkenal cantik dan banyak orang yang mengidolakan ini memilih anakmu yang berwajah pas pasan?" Anggun berbalik badan. Kini dia terlentang di lantai dengan tetap tersenyum menyebalkan ke arah mertuanya.


"Bukankah sudah jelas karena kamu membutuhkan kekayaan anakku?" ucap Bu Rofida dengan wajah merah padam.


"Asal ibuk tahu saja ya. Selain Mas Ferry ada belasan pengusaha kaya raya yang datang padaku. Di antara mereka ada yang lebih mapan dan tampan dibandingkan anakmu yang sama sekali tak sedap dipandang," Anggun terkekeh.


"Aku memilih Mas Ferry karena dia memiliki masa lalu yang kelam. Sama sepertiku. Orang yang berjalan di atas derita dan rasa sakit. Aku memilihnya karena kupikir, Mas Ferry akan bisa mengertiku," lanjut Anggun.


"Darimana kamu tahu soal masa lalu keluarga kami?" Bu Rofida mengernyitkan dahi.


"Aku menyelidiki setiap orang yang berusaha mendekatiku. Aku membeli dan membaca artikel artikel setiap pengusaha kaya yang hadir di hidupku. Namun, aku tak pernah menduga jika Mas Ferry disiksa dengan tidak manusiawi hingga organ tubuhnya mengalami kerusakan. Aku penasaran kenapa dia tidak pernah menyentuhku. Aku pernah berpikir bahwa dia tidak benar benar mencintaiku. Hingga akhirnya aku tahu hidup Mas Ferry benar benar hancur," lanjut Anggun.


"Hentikan omong kosongmu itu! Kamu dipungut dari got dijadikan ratu di keluarga ini. Jangan ngelunjak dan berkata dusta bahkan memfitnah anakku!" Bu Rofida hilang kesabaran. Dia menendang perut Anggun sekuat tenaga. Anggun muntah seketika. Namun bukannya merasa kesakitan, perempuan itu malah tertawa terbahak bahak.


"Aku diadopsi oleh keluarga yang menginginkan kehadiran seorang anak. Awalnya hidupku sangat bahagia. Aku diperhatikan dan di nomor satukan. Namun semua berubah seratus delapan puluh derajat saat sang anak kandung terlahir ke dunia. Aku tak lagi diurus, tak lagi dianggap. Kasih sayang yang melimpah itu lenyap," Anggun meracau sambil memegangi perutnya yang memar.

__ADS_1


"Aku memiliki satu saudara, satu satunya keluarga yang tersisa. Zainul Rikhman Sang Rich Man. Kupikir dia hidup bahagia, hingga lupa padaku. Tapi ternyata, hidupnya juga tak lebih beruntung dariku. Bahkan dia mengakhiri hidupnya di tengah belantara ini, tanpa ada seorang pun yang tahu. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada darah keturunan keluarga kami. Kenapa aku dan Zainul mengalami derita tanpa akhir? Aku membaca buku Zainul, dan aku mengerti apa yang hendak disampaikannya. Banyak orang yang dibesarkan dalam kehidupan yang kacau. Mereka tidak boleh merasa sendirian, maka buku sang Rich Man lah yang akan menjadi penghubung. Buku sang Rich Man akan menjadi penguat bagi orang orang seperti kami untuk menuntut keadilan," Anggun kembali tertawa.


"Kamu sudah nggak waras!" Bu Rofida melotot geram.


"Anakmu juga sama sepertiku Buk. Ketidak warasan lah yang menyatukan kita. Dengan dalih melindungi keluarganya, Mas Ferry mengeksekusi setiap orang yang mendekatiku ataupun juga mengganggu keluarganya. Sikap posesif dan over protektifnya sudah berada di level gila," Anggun melotot.


"Jangan asal bicara kamu!" Bu Rofida menunjuk nunjuk wajah Anggun.


"Aku baru bicara dengan Mas Ferry, dan dia mengatakan semuanya padaku. Menantumu ini bukan perempuan pembual Buk!" Anggun mendesis geram.


"Sejujurnya aku pun suka dengan apa yang sudah dilakukan Mas Ferry untukku. Dia meracuni Erfan yang berusaha menggodaku. Aku benar benar tersanjung dan merasa berharga serta diinginkan. Perasaan yang sudah lama aku tunggu. Cinta yang aku dambakan," Anggun mengusap lendir di mulutnya. Dengan susah payah dia bangun dan duduk di lantai bersandar pada kaki kursi.


"Aku tak butuh teman dengan topeng kepalsuan. Di depan tampak mendukung, menyanjung namun di belakang menggunjing, dan mengolok olok kelemahanku. Orang orang seperti itu lebih hina dari sampah!" ucap Anggun penuh penekanan.


"Lagipula mereka semua tidak se frekuensi denganku. Mereka tak tahu apa apa sama sekali. Dari kecil hidup mereka sudah terlampau mudah. Bergelimang kasih sayang dan harta. Tak mungkin bisa berteman dan mengerti aku yang hidup dalam jurang keputusasaan," lanjut Anggun.


"Kamu sakit Nggun!" Bu Rofida kehilangan kata kata mendengar semua perkataan Anggun.


"Aku tidak sakit ibu mertua. Aku hanya rusak," bantah Anggun.


"Kamu harus tahu Nggun, hidup itu tidak bisa selalu tentang diri kita sendiri. Dunia ini berputar bukan untuk mengelilingimu. Setiap manusia berjalan dengan menanggung lukanya masing masing. Jangan kamu pikir orang orang kaya, orang orang yang nampak tersenyum bahagia setiap hari itu tanpa luka di hatinya. Kamu takkan mengerti karena kamu tak menjalaninya. Jangan merasa kamu adalah orang paling menderita di dunia ini!" Bu Rofida geleng geleng kepala.

__ADS_1


"Aku tahu Buk, aku tahu. Aku juga mengerti Ibuk pun menanggung luka. Harus membesarkan anak anak ibuk sendirian, karena suami pergi entah kemana," Anggun terkekeh.


"Bagiku membesarkan anak anak sendirian bukanlah luka. Itu adalah kebahagiaan untukku!" sanggah Bu Rofida.


"Ooohhh, luar biasa sekali ibu mertuaku ini," Anggun bertepuk tangan.


"Ada alasan kenapa aku memberitahukan semua ini pada Ibuk. Aku ingin Ibuk berjalan bersamaku, di jalan yang sama denganku. Karena setelah ini Ibuk akan benar benar mendapat luka. Luka yang teramat sangat perih," Anggun tersenyum penuh arti.


"Apa maksudmu?" Bu Rofida melotot.


"Aku tadi melihat, 2 anak kandung dan 1 anak angkat Ibuk saling bunuh di ruang tamu. Mas Ferry, si brengsek Vivi, dan Erwin tewas di lantai bawah Buk," ucap Anggun. Sudut netranya menitikkan air mata, namun bibirnya tetap tersenyum lebar. Entah, apakah perempuan itu tengah bersedih atau sedang berbahagia.


"Hah? Apa katamu? Jangan membual!" Bu Rofida gusar.


"Aku tak lagi peduli dengan mereka Buk. Kalau ibuk berkata jangan merasa paling menderita, aku nggak bisa Buk. Bahkan tubuh ini lemah. Penyakit yang aku derita membuat umurku tak lama lagi. Lihatlah ke ruang tamu Buk. Aku tidak berbohong. Dan nikmati rasanya sakit karena kehilangan hal paling berharga dalam hidupmu," Anggun menghela nafas.


Bu Rofida menangis, dia bergegas keluar kamar. Perempuan tua itu berlari menuruni anak tangga. Jantungnya berdegup kencang dan terasa berdebar debar, dalam hati penuh tanya benarkah perkataan menantunya yang sudah hilang akal itu? Karena terburu buru dan kurang berhati hati, kaki renta nya selip dan tergelincir. Bu Rofida jatuh menggelinding di tangga hingga tersungkur di lantai satu.


"Ha ha ha, hati hati ibu mertua. Aku tadi tak sengaja menumpahkan cairan pembersih lantai di anak tangga," gumam Anggun sendirian dalam kamar. Dia tertawa dengan air mata yang berderai.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2