
Kukuruyuuukkk
Ayam jago milik Pak Nyoto berkokok cukup kencang pagi ini. Mungkin unggas itu merasa nyaman tinggal di wilayah dengan udara yang bersih. Atau mungkin malah sebaliknya, binatang yang terbiasa dalam kandang merasa ketakutan hidup di tengah belantara.
Mak Surti bergegas ke rumah utama. Miko dan Pak Nyoto masih terlelap menikmati dinginnya udara pagi pegunungan. Miko yang biasanya tidak mengompol, kali ini terlihat tidur dalam keadaan basah di sekitar pinggangnya. Balita umur 5 tahun itu sepertinya belum terbiasa dengan suhu yang mencapai 16 derajat celcius di pagi buta.
Mak Surti berjalan di halaman belakang rumah. Rumput yang dia injak terasa dingin dengan beberapa butir embun pagi di permukaan daunnya yang hijau. Bangunan rumah diselimuti oleh kabut tepal nan putih, bagaikan kapas yang beterbangan.
Mak Surti sampai di pintu belakang rumah utama. Kunci pintu belakang rumah memang telah dipasrahkan pada Mak Surti. Supaya Mak Surti bisa masuk rumah tanpa mengganggu tidur majikannya.
Mak Surti hendak membuka pintu saat terdengar suara aneh di sekitarnya. Sebuah suara seperti langkah kaki yang menginjak ranting dan dedaunan kering. Mak Surti segera mengedarkan pandangannya. Menatap sekeliling, namun tak terlihat apapun. Kabut terlalu tebal untuk ditembus oleh indera penglihatannya.
Mak Surti heran sekaligus penasaran. Rasanya tidak mungkin ada anggota keluarga majikannya yang sudah bangun dari tidurnya. Apalagi udara sangat dingin, juga suasana masih cukup gelap. Siapa gerangan di pagi buta tengah berjalan jalan menembus kabut?
Mak Surti tiba tiba saja merasakan tengkuknya meremang. Tubuhnya seperti memberi isyarat, bahwa ada sesuatu yang tengah memperhatikannya di dalam kegelapan. Buru buru Mak Surti membuka pintu, hendak masuk ke dalam rumah. Namun tiba tiba saja, pundaknya ditepuk dari belakang.
"Duh Gusti. Hoong wilaheng petruk semar gareng. Setan ra doyan demit ra ndulit," Mak Surti memejamkan matanya ketakutan, sementara mulutnya meracau tak jelas.
"Mak? Ngapain?" Sebuah suara terdengar menyapa. Suara yang Mak Surti kenal.
Mak Surti membuka mata dan menoleh perlahan. Ternyata Erwin yang berdiri di belakang Mak Surti. Pemuda tampan itu memakai hoodie berwarna hijau gelap. Juga celana training dengan warna serupa.
"Duhhh Nak Erwiin. Aku kaget lho sumpah!" Mak Surti menepuk nepuk dadanya. Masih terasa detak jantungnya yang memompa darah dengan kecepatan tinggi.
"Hahh? Kaget sampek segitunya Mak," Erwin geleng geleng kepala.
__ADS_1
"Lha Nak Erwin ngapain pagi buta sudah disini," Mak Surti masih menggerutu kesal.
"Aku dari jam setengah 5 pagi tadi lari lari Mak, berkeliling. Ngrasa haus terus balik ke rumah nggak ada air. Untung lihat Mak Surti disini. Aku mau ambil minum nih," ucap Erwin sambil nyengir. Lalu, dia masuk ke dalam rumah.
Mak Surti masih berdiri di ambang pintu. Dan sekali lagi terdengar suara seperti daun kering yang terinjak. Kali ini Mak Surti tak mau lagi kepo ataupun penasaran. Dia segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Kemudian menyusul Erwin ke dapur.
Setelahnya Mak Surti mulai disibukkan dengan kegiatan memasak. Ada sebuah kertas kecil yang tertempel di pintu lemari es. Sebuah pesan permintaan menu makanan dari majikannya.
"Pagi ini masak apa Mak?" Tanya Erwin setelah menenggak satu gelas besar air mineral. Kini pemuda berambut gondrong itu duduk di kursi depan meja makan.
"Ini, Tuan minta dibuatin sayur sop sama perkedel kentang," ucap Mak Surti menunjukkan kertas di tangannya.
"Yaahh, padahal aku pengen nasi goreng buatan Mak Surti lhoh. Hmm rasanya mantul," sambung Erwin nampak kecewa.
"Ya sudah, nanti kalau Mak sudah selesai masak permintaannya Tuan Ferry, Nak Erwin tak buatin nasi goreng. Sekalian buat suamiku juga deh," Mak Surti tersenyum. Dibalas acungan jempol dari Erwin.
"Terserah Nak Erwin saja. Lagipula Nak Erwin kan keponakan majikannya Mak Surti. Jadi, permintaan Nak Erwin sama saja dengan permintaan Tuan," jawab Mak Surti.
"Halah Mak jangan gitu lah. Aku hanya numpang disini. Ngrepotin Mas Ferry doang," Erwin sekilas terlihat sedih.
"Kata Ibuk . . .Bu Rofida maksud saya, Nak Erwin itu sudah dianggap sebagai anak sendiri lhoh," Mak Surti berusaha menyemangati Erwin.
"Iya, tapi Mas Ferry nggak pernah menganggap aku adik. Apalagi Vivi, duh galak bener ke aku," Erwin menghela nafas, kali ini Mak Surti diam tak menyahut. Perempuan itu kelihatannya bingung juga harus ngomong apa.
Erwin merogoh saku hoodie nya yang lebar. Dia mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul merah. Dia meletakkan buku itu di atas meja dan membukanya.
__ADS_1
"Baca apa sih?" Tanya Mak Surti penasaran.
"Buku cerita Mak," jawab Erwin singkat. Dia sibuk membolak balik halaman buku.
"Asyik bener, Mak Surti kapan kapan boleh pinjam?" Tanya Mak Surti iseng.
"Hah? Yakin Mak? Baca buku ini gak bisa kalau cuma sekali. Harus dibaca berkali kali, pokoknya bikin candu. Padahal ini buku fiksi tapi penggambaran ceritanya kayak real banget gitu," ucap Erwin menjelaskan.
"Fisik? Fiksi? Apa itu?" Mak Surti bertanya, nampak benar benar tidak mengerti.
"Ah Mak Surti," Erwin geleng geleng kepala.
"Aku kasih tahu ya Mak, ini rahasia," Erwin setengah berbisik.
"Apa nih? Bukunya dari pacar Nak Erwin gitu?" Tanya Mak Surti. Dahinya berkerut saking penasarannya.
"Bukanlah," sergah Erwin.
"Buku buku yang aku baca ini, semua hasil karya Zainul Rikhman. Mak Surti tahu siapa itu Zainul Rikhman?" Erwin menatap Mak Surti dengan sebuah senyuman aneh di bibirnya. Mak Surti menggeleng cepat.
"Zainul Rikhman atau Zainul Rich Man adalah orang yang mewariskan tanah di tengah hutan ini pada Mbak Anggun. Dia adalah penulis sukses, kaya raya. Semua bukunya best seller, terjual jutaan eksemplar. Aku mengoleksi hampir semua bukunya. Ada satu buku yang ingin sekali aku miliki tapi belum kesampaian. Buku limited edition yang konon kabarnya hanya dicetak sebanyak 100 buah," Erwin bercerita dengan mata yang berbinar binar. Sedangkan Mak Surti terlihat tak mengerti.
"Penulis Zainul Rich Man saat ini semakin terkenal di kalangan mahasiswa seni dan sastra. Hal itu karena dia menghilang bagai asap. Tak jelas, apakah dia masih hidup atau sedang bersembunyi dimana. Sebuah karya akan semakin dikenal saat kehidupan sang creator diselimuti oleh misteri. Aku pun juga sangat penasaran. Makanya Mak aku begitu excited ikut tinggal disini. Siapa tahu kan sang penulis masih hidup dan bersembunyi di puing puing rumahnya yang terbakar," Erwin menyeringai.
"Hih, Nak Erwin nakut nakutin Mak Surti saja!" Mak Surti mengusap usap tengkuknya yang kembali merinding.
__ADS_1
Erwin tergelak, tawanya terdengar nyaring memecah kesunyian pagi yang berkabut. Sementara itu di halaman belakang rumah, sepasang kaki tengah mengendap endap di balik pepohonan, memperhatikan dan mengawasi rumah baru keluarga Ferry Lawanto.
Bersambung___