Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
45. Saran Bayu


__ADS_3

Ellie dan Iva kembali ke rumah lewat pintu belakang. Pintu besi yang terlihat kurang cocok dibandingkan dengan bagian depan rumah yang terlihat megah dan mewah. 


"Melihat rumah ini seakan menguliti sifat manusia," ucap Ellie tiba tiba.


"Hah? Gimana gimana?" Iva tidak mengerti maksud ucapan Ellie.


"Ya coba perhatikan bagaimana bagian depan rumah yang terlihat sempurna, tak ada keburukan, semuanya indah dan pas. Mulai dari pagar, rumput, tanaman, semuanya. Tapi lihatlah bagian belakang. Tempat kayu yang berserakan tak terurus, kamar mandi sempit dan kurang terawat. Seperti halnya manusia yang terlihat baik di depan orang lain, namun bisa bersikap busuk di belakangnya," Ellie tersenyum masam.


Iva terdiam. Dia enggan berkomentar, karena bagi Iva rumah besar ini tempat yang mengerikan. Awalnya dia kagum dengan keindahan dan kemewahannya. Namun kini dibalik kemewahan itu, tersimpan 3 mayat teman temannya yang tewas secara tidak wajar.


Ellie dan Iva berjalan menyusuri lorong depan kamar mandi. Suasana sunyi dan sepi. Seakan rumah benar benar kosong tanpa penghuni.


"Hei, aku tidak melihat Pak Mardoyo dimanapun. Kemana perginya penjaga rumah itu?" Ellie bertanya penasaran.


"Iya juga ya. Padahal tadi kita membuat keributan di depan kamar Tuannya. Tapi laki laki seram itu tak menunjukkan batang hidungnya," Iva menimpali.


"Semua penghuni rumah ini nggak ada yang beres. Bayangkan saja, ada 3 orang mati dengan cara yang tak wajar, namun semua orang terlihat biasa biasa saja. Apalagi Mak Ijah, perempuan itu membuatku takut," ucap Ellie sambil meraba bibirnya yang tadi terkena tamparan Mak Ijah dengan telak.


"Ssstttt!" Iva tiba tiba saja melotot, memberi isyarat pada Ellie untuk diam.


Ternyata Mak Ijah tengah berjalan dari lorong lain di ujung dapur. Mereka sempat beradu pandang, namun seperti biasa ekspresi pelayan wanita itu datar dan dingin. Ellie merasakan tengkuknya merinding secara tiba tiba.


"Hei, lorong itu menuju kemana sih?" Bisik Ellie menanyakan lorong yang baru saja dilewati oleh Mak Ijah.


"Nggak tahu sih. Aku takut kesana, kesannya gelap," jawab Iva setengah berbisik.


Ellie dan Iva kini sampai di bagian dapur. Terlihat ada satu panci besar dengan air yang mendidih di dalamnya. Mak Ijah terlihat sibuk meracik bumbu. Tangannya yang keriput begitu cekatan memotong dan menghaluskan beberapa siung bawang.


Di hadapan Mak Ijah, ada beberapa baskom yang berisi daging segar. Warna dagingnya begitu merah merona. Ellie sempat memperhatikan. Dia belum pernah melihat jenis daging yang seperti itu. Seratnya terlihat begitu halus.


Ellie dan Iva melewati bagian dapur tanpa berucap sepatah kata pun. Mak Ijah juga bersikap acuh tak acuh. Seakan mereka semua adalah orang asing yang belum pernah bertemu ataupun berkenalan.


"Zainul dapat pelayan rumah kayak gitu darimana sih? Nggak ada ramah ramahnya sama sekali," Iva menggerutu.


"Tapi wanita itu terlihat begitu patuh pada Tuannya. Dia menjadi yang terdepan jika ada yang mengusik majikannya. Lihatlah bibirku ini, gara gara aku menggedor gedor pintu kamar Zainul ini akibatnya," Ellie menunjuk sudut bibirnya yang masih terasa sakit.

__ADS_1


"Iya juga ya," Iva manggut manggut.


Akhirnya, Ellie dan Iva sampai di ruangan atas. Mereka berdiri di depan pintu kamar Bayu yang tertutup rapat. 


Tuk tuk tuk


Ellie mengetuk pintu kamar Bayu perlahan. Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu di dalam kamar.


"Siapa?" suara Bayu bertanya dari dalam kamar.


"Aku Ellie dan Iva Bay," jawab Ellie.


"Ada apa? Apa kalian mau menginterogasi seorang petugas kepolisian? Kalian masih mencurigaiku?" Bayu bertanya setengah tertawa.


"Aku tidak pernah mencurigaimu Bay. Justru aku ingin kamu bisa segera keluar dari kamar ini. Kita harus secepatnya pergi dari rumah sialan ini!" Ellie memukul pintu dengan cukup kencang.


"Kuncinya kan ada di kalian," ucap Bayu singkat.


"Itu masalahnya. Kunci dibawa Denis. Dan selebgram itu tiba tiba menghilang pagi ini. Kami sudah berkeliling mencarinya, tapi dia tidak ada dimanapun," jelas Ellie.


"Hendra? Dia bersama Norita masih mencari Denis. Entahlah, kami terpisah tadi," jawab Ellie.


Bayu terdiam. Suasana mendadak berubah hening.


"Bay? Tak bisakah kamu keluar dengan mendobrak pintu? Atau mungkin kamu membawa senjata? Kamu kan seorang petugas kepolisian, keluar dari ruangan dengan menembak kunci pintu seperti di film, tak bisakah kamu melakukannya?" Ellie bertanya setelah beberapa saat lamanya.


"Ha ha ha, itu hanya ada di film Ellie. Lagipula aku sedang tidak membawa senjata apapun saat datang kemari. Untuk apa mengunjungi seorang teman lama berbekal pistol? Dan aku tak bisa mendobrak pintu dengan posisi kaki kiriku yang terluka," jelas Bayu.


"Aku dan Iva ingin segera pergi dari rumah ini Bay. Dan aku mau semua orang ikut dengan kami. Termasuk kamu. Tak ada yang boleh tertinggal di rumah pembawa sial ini!" Ellie menggebrak pintu kamar dengan sangat kuat.


"Yah, kukira keputusan yang tepat jika kalian segera pergi dari sini. Tak perlu kalian khawatirkan aku, segeralah pergi. Oke?" Bayu memberi saran.


"Seperti yang aku katakan tadi Bay. Aku mau kita semua pulang bareng bareng. Tidak boleh ada lagi yang terbunuh disini," Ellie kekeuh dengan kemauannya.


"Ell?" Iva tiba tiba bersuara. 

__ADS_1


"Ada apa Va? Kamu ada ide?" Ellie menoleh, berharap Iva memiliki ide untuk mengeluarkan Bayu dari dalam kamarnya yang terkunci.


"Kukira memang kita tidak mungkin bisa mengeluarkan Bayu tanpa kunci Ell. Lihatlah pintu ini nampak begitu kokoh," Iva menggeleng pelan.


"Sebaiknya kita bersiap untuk pergi dari sini Ell. Kita packing barang barang kita sambil menunggu Hendra dan Nori," Iva memberi saran.


"Bagaimana dengan Denis? Kenapa kamu tak memasukkan Denis sebagai salah satu orang yang kita tunggu?" Protes Ellie.


"Entahlah. Firasatku mengatakan Denis takkan kembali kemari," jawab Iva ragu.


"Boleh aku memberi saran?" sela Bayu tiba tiba.


"Apa?" Tanya Ellie dan Iva serempak.


"Sebaiknya kalian segera pergi dari rumah ini, tak perlu menunggu Hendra dan Nori," jawab Bayu pelan.


"Kenapa?" sergah Ellie.


"Menurut kalian, siapa yang paling mungkin menjadi penjahat di antara semua orang yang diundang Zainul kesini?" Tanya Bayu kemudian.


"Tak usah bermain tebak tebakan disaat seperti ini Bayu," Ellie kesal.


"Dari awal aku mencurigai Hendra sebagai pelaku kejahatan. Namun, kejahatan kali ini benar benar rapi, hampir tanpa celah dan sepertinya sudah direncanakan dengan matang. Jadi, ini hanya praduga tanpa bukti," ucap Bayu.


"Tapi percayalah, semakin cepat kalian pergi dari rumah ini peluang kalian untuk selamat semakin tinggi," imbuh Bayu kemudian.


"Bagaimana denganmu Bay?" Tanya Ellie dengan suara bergetar.


"Begitu kalian keluar dari hutan, segera cari sinyal dan panggil polisi kemari. Sampai saat itu tiba aku pasti tidak apa apa," jawab Bayu meyakinkan.


"Ayo Ell," Iva merangkul pundak Ellie, menarik tubuh Ellie menjauhi pintu kamar Bayu.


Akhirnya Ellie pasrah dan menuruti saran dari Bayu. Ellie dan Iva kembali ke kamar masing masing untuk mengambil benda berharga milik mereka.


Sepeninggal Ellie dan Iva, Bayu kembali melanjutkan membaca buku bersampul merah tua. Sebelumnya, Bayu sempat meraba ikat pinggang yang dia kenakan. Sepucuk pistol kecil tersemat disana. Bayu telah berbohong. Dan sebuah senyuman yang aneh tersungging di bibirnya.

__ADS_1


Bersambung ___


__ADS_2