
Suasana tegang menyelimuti ruang tamu. Orang orang duduk melingkar di sofa yang terletak di tengah ruangan. Bahkan Mak Surti dan si kecil Miko pun ikut disana. Hanya Erwin seorang yang tak nampak batang hidungnya.
Tidak ada seorang pun yang membuka mulutnya. Mereka terdiam, membisu, terhanyut dalam pikirannya masing masing. Hanya hembusan nafas yang berat sesekali terdengar. Takut, cemas, dan ngeri, itu yang tergambar dari beberapa wajah yang ada di ruang tamu.
Bayu dan Damar, dua ora petugas kepolisian itu terlihat tenang dan kalem. Tidak ada ketakutan, seolah menyaksikan kematian yang mengerikan sekalipun, sudah biasa. Seakan hati itu terbuat dari baja, dingin dan kokoh.
"Ehemm!" Bayu berdehem kencang. Suaranya menggema di rumah baru Anggun yang luas.
"Tuan dan Nona, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan. Juga beberapa pertanyaan yang harus anda semua jawab sejujur jujurnya," ucap Bayu. Dia mengedarkan pandangan ke semua orang.
"Pertama, sebelum kita membahas kematian Inge ada satu hal yang harus anda semua tahu. Ali Sabet yang kemarin sempat disangka hilang, pagi tadi ditemukan tewas tergantung di kamar Tuan Erwin," ucap Bayu. Wajahnya nampak serius. Beberapa orang yang belum mengetahui kematian Ali nampak terkejut. Terlebih Anggun, dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, tak menyangka teman temannya bernasib se tragis itu.
"Awalnya Ali Sabet kami duga telah melakukan bunuh diri. Namun ada beberapa detail bukti yang membantah dugaan tersebut. Bekas jeratan yang menghilangkan nyawa korban terlihat berbeda dengan posisi tali yang terikat di lehernya saat ditemukan. Bekas jeratan terlihat sedikit ke bagian atas leher, sementara tali yang terikat sedikit di bagian bawah leher. Bukti kedua adalah pijakan kayu yang tergeletak di bawah mayat korban memiliki ukuran yang terlampau pendek. Jarak antara tali gantungan dengan lantai sangat tinggi. Dengan menggunakan pijakan kayu itu pun tali di atas plavon masih belum bisa digapai," jelas Bayu sambil menunjukkan foto sebilah kayu yang ada di HP nya.
"Kemungkinan yang paling logis adalah Ali Sabet digendong oleh seseorang dan digantungkan di kamar Tuan Erwin," lanjut Bayu.
"Maaf menyela, Pak polisi," ucap Anggun tiba tiba. Bayu menoleh, mengangkat alisnya, ekspresinya nampak kesal.
"Untuk pembahasan hal seperti ini, bukankah lebih baik anak kecil tidak diikutkan? Ijinkan Mak Surti dan Miko menjauh, di halaman depan atau ke dapur," pinta Anggun lirih.
"Hmmm, masalahnya setiap orang yang berada di rumah ini bisa saja menjadi tersangka," Bayu mengernyitkan dahi.
"Mak Surti selalu bersama Miko. Meskipun Miko balita, tidak bisa memberi kesaksian, tapi jelas kalau Mak Surti tidak memiliki waktu untuk melakukan kejahatan kejahatan ini. Perbuatan keji yang telah terjadi memang harus dicari pelakunya, namun jangan sampai kita mengorbankan kondisi mental anak kecil yang tak berdosa," bantah Anggun. Ferry spontan mengelus elus lengan istrinya itu.
__ADS_1
"Baiklah. Mak Surti, tolong segera menjauh dari ruangan ini bersama putra anda," Bayu menghela nafas. Dia menyetujui permintaan Anggun.
"Terimakasih Pak, permisi," Mak Surti membungkuk sebentar dan segera menggendong Miko menuju ke dapur.
"Kita lanjutkan," ucap Bayu kemudian.
"Sekarang tentang kematian Inge. Berdasar hasil pemeriksaan dari petugas Damar, Inge memiliki 3 luka di tubuhnya. Luka pertama di bagian perut. Sebuah tusukan yang terkesan ragu ragu, terlihat dari lukanya yang dangkal. Luka kedua terletak di samping luka pertama. Untuk luka kedua ini nampak lebih dalam dan kuat. Tentunya karena banyak pembuluh darah di bagian perut manusia, korban mengeluarkan cukup banyak dar*h akibat luka kedua ini," jelas Bayu sembari membaca catatan dari Damar.
"Namun demikian, korban tidak meninggal akibat dua luka tersebut. Kedua luka ini jelas akibat serangan dari seorang yang amatir, atau seorang yang tak merencanakan penyerangan. Kenapa demikian? Karena penyerangan yang terencana pasti akan mengincar bagian yang vital, dada misalnya. Dan dua tusukan di perut itu pun terkesan ragu ragu dilihat dari bekas lukanya yang kecil dan rapat. Tidak ada niatan untuk membuat luka robek yang lebih luas," Bayu mengedarkan pandangannya, memperhatikan ekspresi satu persatu orang yang ada di hadapannya.
"Penyebab kematian korban adalah, sebuah sayatan yang ada di leher. Sayatan yang rapi dengan sekali gores," lanjut Bayu meletakkan jarinya di dagu yang tumbuh bulu bulu tipis itu. Semua orang terdiam menyimak.
"Dari kematian Ali dan Inge, ada satu orang yang bisa dicurigai sebagai tersangka. Orang itu adalah Tuan Erwin. Alasannya, karena kamar yang dipakai untuk menggantung Ali adalah kamar Erwin. Kemudian juga, saat ini Erwin malah tak hadir di ruangan ini, bahkan dia sama sekali tak terlihat saat mayat Inge ditemukan," Bayu mengusap usap janggutnya.
"Sebentar. Mohon Tuan Ferry jangan gegabah," sanggah Bayu dengan tatapannya yang tajam.
"Apalagi yang Anda tunggu Pak polisi. Aku tidak akan berdiam diri saja menunggu orang lain terluka. Atau bisa saja Erwin ingin mencelakai anggota keluargaku setelah ini!" Bentak Ferry. Wajahnya memerah.
"Bukankah Erwin juga merupakan anggota keluar anda Tuan Ferry Lawanto?" Bayu tersenyum sinis.
"Dia hanyalah benalu!" sahut Ferry cepat.
"Apalagi yang kita tunggu? Ayo kita cari bocah sial*n itu!" Ferry terus membentak bentak. Anggun meraih tangan suaminya itu, memintanya untuk duduk kembali.
__ADS_1
"Sudah kukatakan untuk tidak gegabah. Kalau pun Tuan Erwin adalah sang penjahat, bisa saja saat ini dia menghilang bukan karena takut, tapi karena sengaja. Hal ini merupakan strateginya untuk mengincar kita, dan menjebak kita. Jadi saya harap anda semua tenang dulu," Bayu memperbaiki posisi duduk, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Lagipula bisa saja Tuan Erwin memiliki komplotan disini. Untuk itu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada anda semua," ucap Bayu datar.
"Hah? Anda sudah punya seorang tersangka yang entah sedang berada dimana sekarang. Bisa saja dia kabur kan? Dan anda malah duduk disini? Bertanya ngalor ngidul ndak jelas!" Ferry terus menyela.
"Anda semua pada dasarnya juga merupakan tersangka bagi saya. Termasuk anda Tuan Ferry Lawanto," balas Bayu kalem.
"Aku nggak sudi berdiam diri bermain detektif detektif an disini, sementara tersangka sedang berkeliaran disana," Ferry terus mendesak dan membentak.
"Sabar Mas," rangkul Anggun. Ferry langsung terlihat sedikit melunak.
"Kukira, Erwin bukan pelakunya," ucap Vita tiba tiba.
"Darimana kesimpulan itu datang?" tanya Bayu tertarik.
"Karena Erwin tengah menjalin kedekatan dengan Inge," jawab Vita.
"Apakah ketika mereka dekat, ada jaminan bahwa mereka tidak akan saling menyakiti? Kemungkinan Erwin sebagai pelaku kejahatan sangat besar Nona," sanggah Bayu.
Vita terdiam. Otaknya yang seringkali berpikir kritis entah kenapa saat ini terasa tumpul. Kehilangan semua teman secara mengenaskan terasa mulai mengganggu mentalnya.
Bersambung ___
__ADS_1