Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
VI. Miko


__ADS_3

Selesai sarapan, Ferry bergegas berganti pakaian. Sebelumnya dia mengenakan piyama merah berbahan katun. Kini Sebuah kemeja berwarna hijau muda yang terlihat kurang cocok dia kenakan. Anggun memandangi suaminya itu dengan sedikit heran.


"Rapi banget Mas?" Anggun mengernyitkan dahi.


"Lha apa biasanya aku nggak rapi?" Ferry balik bertanya.


"Ya kadang kadang kamu berangkat kerja cukup pakai kaos oblong dan sebuah jaket," jawab Anggun.


"Ha ha ha, iya juga sih," Ferry tertawa.


"Ya hari ini aku pengen terlihat lebih fresh saja sayang. Apa kurang cocok? Atau kamu nggak suka?" lanjut Ferry masih dengan tawanya yang terdengar serak.


"Ya bukannya begitu Mas, yang penting kalau sudah selesai segera pulang ya Mas. Teman teman nanti datang, aku mau kamu di rumah," pinta Anggun sambil menghela nafas pelan.


"Kenapa sih kok kamu pengen banget aku menemui teman temanmu itu?" Ferry bertanya, ekspresinya terlihat kurang suka.


"Aku kurang nyaman dengan pertanyaan teman temanku saat kamu tidak ada. Suami kemana? Bukankah bos besar seharusnya banyak waktu di rumah, dan sebagainya. Aku malas untuk menjawab pertanyaan seperti itu," ucap Anggun menerangkan.


"Aku tahu pasti si Erfan kan yang suka bertanya hal hal seperti itu. Dia yang suka padamu sedari dulu, tapi tidak bisa mendapatkanmu. Hanya bisa mencari cari kelemahanku," Ferry duduk di sudut tempat tidur. Tangannya memukul kasur empuk itu beberapa kali.


"Kenapa kamu masih berteman dengan orang semacam itu? Teman itu saling mendukung, bukan mencari keburukan satu sama lain," lanjut Ferry kesal. Anggun kali ini diam saja tak menjawab. Sorot matanya nampak sedih.


Ferry menatap istrinya yang terdiam. Ferry tahu betul, kondisi tubuh istrinya yang lemah. Perasaannya yang sangat sensitif, rapuh dan mudah jatuh sakit. Ferry beranjak mendekati Anggun yang duduk dengan wajah sedih.


"Maafkan aku sayang. Aku hanya kesal pada teman temanmu itu," Ferry meraih tangan kurus Anggun. Mengecup punggung tangan istrinya yang putih bersih.


"Kamu tahu kan Mas, lingkaran pertemananku sangat sedikit. Dan dari semuanya, hanya mereka berlima yang tetap peduli denganku hingga saat ini," ucap Anggun lirih.


"Apakah aku dan keluargaku tak cukup untuk menjadi temanmu?" Ferry menatap mata bulat Anggun. Mata kecoklatan yang terlihat indah dan jernih.

__ADS_1


"Sudah berkali kali kukatakan padamu Mas, keluargamu tak pernah menyukaiku," jawab Anggun cepat.


"Baiklah sayang, pembicaraan ini sebaiknya kita akhiri saja. Aku tidak mau berdebat denganmu. Oke? Aku mau berangkat dulu," Ferry menghela nafas. Dia mengecup dahi istrinya, tersenyum sekilas dan bergegas keluar kamar. Ferry terasa benar benar ingin menghindari perdebatan.


Anggun berdiri di samping jendela kamar, memperhatikan Ferry yang menyalakan mobil jeep nya. Ferry sempat melambai ke arah Anggun, kemudian menginjak gas mobilnya dalam dalam. Mobil itu meraung memecah kesunyian belantara.


Setelah Ferry berangkat kerja, Anggun membuka laci meja. Dia mengambil satu butir tablet tambah darah. Menelannya bersama dengan segelas air putih.


Kemudian Anggun keluar kamar, menuruni tangga dan menuju teras depan rumah. Anggun sempat melirik jam besar yang terpasang di dinding ruang tamu, jam 9 pagi. Udara terasa begitu dingin. Kabut tipis masih bergerak pelan menyelimuti rumah baru Anggun.


Anggun merapatkan sweater rajutnya. Dia berjalan jalan berkeliling rumah. Pandangan mata Anggun tertuju pada puing puing rumah tepi sungai yang terbakar. Puing puing rumah yang hanya menyisakan bagian lantai dan pondasi dari semen, sementara bagian lainnya berwujud arang dan abu.


Di sekitar bekas rumah yang terbakar, ada beberapa pot pot tanaman yang masih utuh. Ada beberapa jenis anggrek yang indah. Namun, beberapa tanaman lain Anggun tidak mengenalinya. Mungkin tanaman impor atau tanaman asli dari hutan sekitar.


Anggun melangkahkan kakinya kembali. Dia berjalan menuju rumah tempat tinggal Pak Nyoto. Di halaman depan terlihat Miko berlarian sambil mendorong mainan miniatur truck. Sedangkan Pak Nyoto tengah sibuk memotong rumput, dan sesekali memperhatikan polah tingkah anak laki lakinya.


Senyuman kecil tersungging di bibir Anggun. Memperhatikan keluarga Pak Nyoto, membuat Anggun tersadar. Bagaimana hadirnya seorang anak membuat kehidupan keluarga asisten rumah tangganya itu lebih berwarna.


Anggun berjongkok di hadapan si kecil Miko. Dia memperhatikan polah tingkah balita itu. Ada rasa getir di hatinya. Sebagai seorang wanita, Anggun ingin juga segera memiliki seorang buah hati. Namun apa daya, kondisi fisiknya yang lemah memaksanya untuk menunda. Apalagi kian hari suaminya semakin terlihat malas untuk menyentuhnya.


"Kamu nggak kedinginan Miko?" Tanya Anggun pada Miko yang hanya memakai setelan kaos oblong.


"Ndak," jawab anak kecil itu sambil asyik mendorong mainan miniatur truck nya.


"Selamat pagi Nyonya," sapa Pak Nyoto sambil membungkuk.


"Pagi Pak Nyoto. Gimana rasanya tinggal di tempat ini?" Anggun tersenyum ramah.


"Dingin Nyonya. Tapi terasa seger. Yah adem ayem lah pokoknya," Pak Nyoto tersenyum, kumisnya yang semburat memutih sedikit terangkat.

__ADS_1


"Miko bagaimana? Betah kan disini?" Tanya Anggun lagi.


"Betah Nyonya. Malah kelihatan seneng gitu," jawab Pak Nyoto cepat.


"Miko ngompol tadi," sambung Miko dengan wajah polosnya.


"Oh ya? Waahh, dingin ya disini sampai Miko ngompol?" Anggun tersenyum gemas.


"Iya dingin. Kayak di kulkas," Miko menjawab, terlihat deretan giginya yang kecil dan jarang jarang.


Anggun tertawa, kemudian mengusap usap rambut ikal Miko. Ada sebuah kebahagiaan yang dia rasakan dari keluarga sederhana Pak Nyoto. Tidak seperti keluarganya yang penuh kepalsuan. Mertua dan adik ipar yang hanya baik di kulitnya saja. Padahal dalamnya telah membusuk.


"Tante Anjun," panggil Miko, membuyarkan lamunan Anggun.


"Apa Miko?" Anggun masih membelai lembut rambut Miko.


"Tadi pagi, Miko bangun tidul kan ngompol. Bapak masih tidul. Miko ke kamal mandi yang di belakang sendili. Di halaman belakang Miko lihat ada nenek nenek tua jalan jalan," ucap Miko.


Anggun mengernyitkan dahi mendengar cerita Miko. Dia mengalihkan pandangannya pada Pak Nyoto.


"Ah, Miko masih ngantuk itu Nyonya," sergah Pak Nyoto.


Anggun berdiri, memandangi sekitarnya yang berkabut tipis. Bulu bulu halus di tangannya meremang, ada sedikit ketakutan di benaknya.


"Miko, kamu lanjutin main ya. Tante Anjun mau masuk rumah dulu," ucap Anggun pada Miko, kemudian beranjak pergi.


Pak Nyoto menghela nafas, memandangi punggung majikannya yang kian hari terlihat makin kurus. Wajah cantik yang semakin memucat. Pak Nyoto beralih memandangi Miko. Anak semata wayangnya yang sedari tadi bercerita melihat seorang perempuan berambut putih di halaman belakang. Pak Nyoto segera menepis rasa takut di hatinya. Dia kembali menyibukkan diri dengan memotong rumput liar di halaman rumah.


Bersambung___

__ADS_1


Mohon maaf ya Gaes, up agak sulit untuk setiap hari.


Semoga masih betah di kisah Rumah Tepi Sungai ini.


__ADS_2