
Jam 2 malam, Denis terbangun karena suara alarm HP nya yang berdering nyaring. Dia menguap dan mengusap usap matanya yang masih terasa berat. Kantuk membuatnya enggan beranjak dari kasur empuknya. Namun dia memaksakan diri untuk duduk.
Secarik kertas dengan tulisan tangan yang indah di genggamnya. Norita mengajaknya bertemu. Jelas, perempuan cantik itu akan mengajak Denis mengulangi permainan mengasyikkan yang telah mereka lakukan kemarin.
"Tapi kenapa nggak ngajak di kamar saja sih Nori? Hadeh," Denis bergumam sendiri sambil geleng geleng kepala.
Ya, awalnya Denis merasa sedikit aneh. Padahal dia yakin di jam segini nggak akan ada orang yang tahu kalau dirinya menyelinap ke kamar Norita. Atau sebaliknya Norita yang berkunjung ke kamar Denis. Kemudian Denis menyimpulkan sendiri, kalau Norita bisa saja ketagihan melakukannya di kamar mandi.
Denis keluar kamar, meninggalkan HP di atas tempat tidur. Udara dingin langsung terasa menusuk kulit. Denis mengusap kedua lengannya. Samar samar tercium aroma tidak sedap dari kamar sebelah. Denis teringat bahwa kamar sebelah terdapat mayat Dipta yang belum diurus, dibiarkan begitu saja. Denis merasakan bulu kuduknya berdiri.
Denis mengalihkan pandangan. Kali ini menatap kamar Norita yang tertutup rapat. Sambil tersenyum Denis berjalan mendekat.
Tok tok tok
Denis mengetuk pintu kamar dengan perlahan. Mencoba memberi Norita kode untuk segera bangun. Setelahnya, Denis berjalan pergi menuruni tangga menuju lantai satu.
Denis berjalan ke kamar mandi, melewati dapur yang tampak gelap. Tidak ada seorang pun saat ini, suasana benar benar sepi. Denis kemudian masuk ke salah satu bilik kamar mandi. Dia menggosok gigi, mencuci muka, dan memastikan dirinya dalam keadaan bersih dan wangi.
Terbayang wajah cantik, dan kulit mulus nan bersih Norita, Denis tanpa sadar bersiul di dalam kamar mandi. Dia semakin tak sabar untuk bertemu perempuan berbadan sintal itu.
Dug dug dug
Terdengar seperti langkah kaki, berjalan di depan kamar mandi. Denis menduga itu pasti Norita. Dengan segera dia membuka pintu kamar mandi dan melihat keluar. Ternyata tak ada siapapun. Suasana sepi dan lengang, tak ada tanda tanda orang lain di sekitar kamar mandi.
"No- Nori?" Denis memanggil lirih. Namun, tak ada jawaban. Hanya hembusan angin bertiup dari pintu besi belakang rumah yang terbuka.
Denis berjalan mengendap endap menuju ke pintu belakang. Denis waspada, bersiap dengan kuda kudanya, dia khawatir sosok pembunuh tengah berkeliaran di jam malam seperti saat ini.
Denis sudah begitu dekat dengan pintu belakang yang terbuat dari besi. Tanpa sengaja pintu tersenggol kaki Denis yang kurang berhati hati.
__ADS_1
Kriieeeeenggg
Suara derit engsel pintu dari besi yang berbunyi khas, memecah kesunyian. Beberapa butir keringat sebesar biji jagung menetes di pelipis Denis. Jantung berpacu, se siap apapun Denis, nyatanya rasa takut dan grogi menguasai hatinya.
Padahal tadi malam Denis begitu yakin penjahatnya adalah Mella. Dan dia begitu percaya diri untuk menghadapi dan meringkus perempuan itu. Namun, ternyata di tengah kesendirian dan kesunyian malam yang beranjak subuh, nyalinya mulai menciut.
Timbul keraguan di hati Denis. Bagaimana jika penjahat itu bukan Mella? Bagaimana jika ada orang lain yang tengah bersembunyi di hutan? Seorang penjahat haus darah yang hanya menginginkan pembunuhan tanpa alasan? Membayangkannya saja Denis sudah gemetar ketakutan.
Kepalang tanggung, Denis tetap melihat keluar. Halaman belakang begitu gelap dan sepi. Tidak ada siapapun, tidak ada apapun. Hanya angin sepoi sepoi yang berhembus membawa rasa dingin yang membuat Denis bergidik.
"Brengsek!" Denis mengumpat, menyesal telah ketakutan tanpa alasan yang jelas.
Denis berjalan kembali ke kamar mandi. Saat dia mencapai pintu kamar mandi tiba tiba saja lampu padam. Seluruh ruangan mendadak gelap gulita. Rumah besar yang menjadi satu satunya tempat paling terang di tengah hutan belantara itu, mengalami pemadaman listrik. Otomatis kegelapan langsung mengurung.
"Sialan!" Denis kembali mengumpat dalam gelap.
Dug dug dug
Lagi, terdengar sebuah suara langkah kaki. Denis berhenti melangkah. Mencoba mengedarkan pandangannya, namun tetap saja hanya ada kegelapan di hadapannya. Dan sekali lagi, ketakutan menyelimuti hatinya.
"Si- Siapa disana?" Denis berteriak tertahan.
Tak ada jawaban. Sepi dan sunyi menjadi pelengkap dari kegelapan. Hingga tiba tiba sebuah cahaya terang bersinar tepat mengenai wajah dan mata Denis. Mata yang baru saja berada dalam kegelapan tiba tiba terkena sorot cahaya yang begitu silau, refleks Denis memejamkan matanya.
Saat Denis lengah, lehernya merasakan tertusuk sesuatu. Benda lancip, semacam jarum menusuk tepat ke alirah darah di bagian leher Denis.
"Brengsek!" Denis mengayunkan tinjunya sembarangan.
Bugghh Glodaakk
__ADS_1
Salah satu tinju Denis, berhasil mengenai sesuatu dan membuatnya terjatuh. Cahaya berputar putar di lantai koridor kamar mandi. Rupanya sebuah senter besar terjatuh dan bergelinding di depan kamar mandi.
Denis kali ini bisa melihat seseorang jatuh tersungkur di hadapannya. Denis melihatnya, penjahat itu mengaduh memegangi perutnya akibat terkena tinju Denis.
"Ternyata kamu!" Ucap Denis.
Namun sayangnya, mata Denis mulai berkunang kunang. Pandangannya terasa kabur, dan kepalanya pun terasa berat. Denis berusaha bertahan dengan kuda kudanya, namun sayang pijakan kakinya melemah dan pada akhirnya selebgram lokal itu ambruk di lantai.
Sementara itu saat listrik padam, Ellie tengah tertidur sambil duduk bersandar pada dinding. Ellie tetap berada di kamar Tia, menungguinya dan beberapa kali mengganti kompres yang terpasang di dahi Tia yang panas.
Ellie terbangun, namun menutup dan membuka mata kini sama saja. Tak terlihat apapun, hanya ada kegelapan. Sedangkan Tia sesekali terdengar merintih.
"Ell Ellie?" Tia memanggil lirih.
"Iya Ti, tenanglah kegelapan ini hanya sementara. Sebentar lagi sepertinya pagi datang," ucap Ellie menenangkan.
Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ellie yakin tadi sebelum tidur telah mengunci pintu kamar Tia. Jadi, meski dalam kegelapan dia yakin jauh dari bahaya.
"Ellie, jika besok uang 200 juta yang dijanjikan telah datang, kutitipkan padamu ya. Tolong simpan dan kirimkan pada suamiku," ucap Tia lirih.
"Tia, kamu akan sembuh dan kita pulang dari rumah tepi sungai sialan ini besok pagi," jawab Ellie, meraba raba tempat tidur Tia. Ellie berhasil menemukan dan menggenggam telapak tangan Tia yang terasa dingin.
"Satu lagi Ellie, tolong sampaikan pesan pada suamiku bahwa aku tetap mencintainya. Meskipun aku beberapa kali menyesali jalan hidupku, tapi aku tak pernah menyesal pernah bertemu dan mengenalnya," ucap Tia lirih.
"Tidak Tia. Kamu tak boleh menyerah. Sampaikan sendiri pesanmu itu pada suamimu," Ellie semakin erat menggenggam tangan Tia. Namun sebaliknya, tangan Tia semakin lemah dan dingin.
Dalam gelap, terdengar suara nafas Tia yang berat. Ellie meraba tubuh Tia yang semakin dingin dan detik berikutnya Tia sudah lagi tak bersuara. Terdiam untuk selama lamanya.
Bersambung ___
__ADS_1