Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
55. Peran Bayu


__ADS_3

"Kamu tahu apa peranku?" Bayu bertanya, masih dengan sepucuk pistol yang diarahkan pada kepala Hendra.


"Kamu hanyalah pion pelengkap Bay. Karena tanpamu, panggung drama ini tidak akan mendebarkan. Bagaimana caranya agar tindakanku bisa mengelabuhimu yang seorang petugas kepolisian, bukankah begitu?" Hendra tersenyum.


"Ya, mungkin itu salah satunya," Bayu terkekeh. 


"Aku memiliki tiga tugas dalam cerita ini. Pertama aku adalah penonton. Kedua aku adalah tokoh utama protagonis. Dan yang ketiga aku adalah juri atau penilai," lanjut Bayu.


Hendra mengernyitkan dahi. Raut wajahnya menunjukkan rasa bingung dan tak mengerti. 


"Kupikir aku akan menjelaskannya. Aku tak tega melihat ekspresi bodohmu saat ini. Hendra Asmara, kamu hanyalah boneka yang mengikuti arahan sutradara dan skenario dari sang maestro Zainul Rikhman," Bayu memutar bola matanya. 


"Apa maksudmu bangs**!!" Hendra berteriak. Dia merasa tak terima ditertawakan dan diejek oleh Bayu.


"Apa kamu pikir, aku tidak tahu semua trik dari upaya pembunuhanmu?" Bayu mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


"Hah? Kamu jangan membual Bayu. Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu membiarkan tindakanku?" Hendra bertanya. Hatinya merasa dongkol dan jengkel.


"Itu semua karena peranku yang pertama. Aku sebagai penonton dan penikmat dari sebuah karya seni. Seorang penonton tidak diperbolehkan berkomentar ataupun mengubah jalan cerita. Dan jujur aku menikmatinya," Bayu manggut manggut.


"Untuk sekarang ini aku berada pada peran yang kedua. Aku adalah tokoh utama protagonis. Sebagai petugas kepolisian yang akan membongkar setiap kejahatan yang telah kamu lakukan," Bayu menarik nafas dalam dalam.


"Cihh, aku tak paham maksudmu!" Hendra meludah geram.


"Ssttt! Biarkan aku yang bicara!" Bayu meletakkan telunjuk di bibirnya. Meminta Hendra untuk diam.


"Saat tamu undanganmu datang, secara kebetulan Yodi dalam keadaan terluka. Mungkin itu di luar dugaan, tapi juga bisa kamu manfaatkan. Awalnya kamu akan datang bersama dengan semua orang dan menyaksikan pertunjukan Zainul dengan perban di sekujur tubuhnya di lantai dua. Hal itu untuk menunjukkan bahwa Zainul benar benar ada di rumah ini. Namun, melihat kesempatan untuk menghabisi Yodi datang lebih cepat, kamu sedikit merubah rencana. Saat semua orang dihebohkan dengan kemunculan Zainul, melalui jendela kamar tamu, kamu memanggil Yodi untuk mendekat. Yodi yang tidak menaruh curiga, mendekatimu dan saat itulah kamu membekapnya dan menghabisinya. Tentunya mudah untuk melumpuhkan Yodi yang waktu itu dalam keadaan lemah dan lengah. Kemudian kamu mengunci pintu kamar tamu, menyimpan kuncinya dan kemudian berpura pura datang terlambat," Bayu sekilas tersenyum.


"Kemudian pada kematian Dipta. Sebenarnya Dipta tidak tewas pada pagi itu. Melainkan kamu habisi pada malam hari. Caranya? Kamu datang ke kamarnya, mengajak Dipta menikmati rokok juga minuman keras yang telah kamu siapkan. Dan tanpa Dipta ketahui kamu menyelipkan sepotong kecil dahan manchinell kering ke dalam sebatang rokok yang kamu sodorkan padanya. Asap dari pembakaran manchinell akan langsung meracuni dan membunuh Dipta dalam sekejap. Malam itu Denis menjadi saksi, dia mendengar seseorang memukul mukul tembok kamar. Dan itu pasti Dipta sedang kesakitan menemui ajalnya. Kemudian kematian Tia karena serangan anjing liar. Pastinya itu bukan anjing liar, tapi anjing peliharaanmu. Setelahnya kamu mencoba bermain peran, menjebakku dengan memasukkan kunci kamar tamu di kamarku. Dan sepertinya saat ini kamu telah berhasil membunuh satu persatu anggota club drama. Sayangnya, kamu adalah seorang amatir yang melakukan semuanya dengan tergesa gesa dan sangat ceroboh," Bayu melotot penuh amarah.


"Apa? Dimana letak kecerobohanku?" Hendra tak terima dengan perkataan Bayu.

__ADS_1


"Pada pembunuhan Yodi, kamu tidak membersihkan bekas cipratan darah pada tirai jendela. Aku dan Galang menemukannya. Pada pembunuhan Dipta tanpa di duga pagi hari sebelum sarapan, Denis hendak memanggil Dipta di kamarnya. Kamu yang panik karena belum mempersiapkan dan membersihkan kondisi kamar Dipta terpaksa mengatakan kalau Dipta mengirim pesan WA padamu. Siangnya melalui plavon kamar Mak Ijah kamu ke lantai atas, sehingga tidak dilihat Norita yang ada di depan TV. Kamu menjejalkan kue pandan ke mulut mayat Dipta, juga membersihkan puntung rokok yang mengandung racun Manchinell. Tapi satu hal yang terlewat, kamu tidak mengamankan HP Dipta. Sehingga saat aku memeriksa mayat Dipta, aku mengambil HP nya dan memeriksa pesan terakhirnya. Ternyata tidak ada pesan WA darimu. Kamu yang mulai sadar aku menyadari kebohonganmu kemudian berpikir untuk menjebakku. Bukankah begitu?" Bayu bertanya pada Hendra. Namun Hendra diam saja tak menyahut.


"Aku lanjutkan ya. Emm, sekarang pertanyaannya siapa yang berperan sebagai Zainul dengan perban di sekujur tubuhnya? Jawabannya adalah Pak Mardoyo. Pak Mardoyo dan Mak Ijah adalah pionmu. Aku tahu dari artikel kalau Pak Mardoyo dulunya adalah seorang yang mengalami gangguan jiwa. Dan aku pun sudah ngobrol dengan Mak Ijah, perempuan tua itu juga memiliki riwayat kesehatan yang serupa dengan Pak Mardoyo. Mereka berdua adalah orang orang yang kamu sembuhkan di lembaga sosial milikmu. Tapi sayangnya Pak Mardoyo mulai memerasmu, sehingga terpaksa kamu habisi. Mak Ijah yang tahu kalau aku tidak masuk dalam daftar orang yang harus kamu bunuh, secara spontan melepaskanku. Mungkin dia berpikir kalau aku teman Tuan zainul nya. Dan setelah itu aku menemukan mayat Pak Mardoyo, mayat Denis, juga Mella yang kamu sandera di kamarmu. Apakah ada yang salah dari dugaanku Tuan Zainul KW?" Bayu tersenyum dengan mimik wajah yang sangat menyebalkan.


"Berarti kamu yang melepas penyumpal mulut Mella. Lalu kenapa kamu tidak menolongnya Bay? Berarti kamu mendukungku?" Tanya Hendra heran.


"Ha ha ha jangan salah faham. Aku tidak mendukung siapapun. Sudah kukatakan, aku berperan sebagai penonton saja," Bayu tertawa nyaring, di antara suara plafon yang runtuh karena terbakar.


"Sayangnya karena kecerobohan dan kebodohanmu, akupun terpaksa ikut andil dalam skenario yang telah disusun rapi oleh Zainul Rikhman. Kamu merusak mahakarya yang indah dari Zainul!" Bayu berteriak. Ada amarah yang menyala di sorot matanya yang tajam.


"Apa maksudmu? Sial*n!" Hendra ikut berteriak, dia tidak gentar meskipun di hadapan senjata api. Dia sudah melihat banyak kematian selama tiga hari ini. Mental dan kewarasannya sudah di ambang batas.


"Kamu tidak segera menghabisi Galang sesuai urutan. Dan sialnya lagi, Galang menemukan pondok tua tempat Zainul dulu mencari inspirasi untuk menulis. Dia juga menemukan makam dari Zainul Rikhman. Jika saja waktu itu Galang kembali ke rumah ini, sudah pasti skenario yang sudah susah payah disusun akan hancur berantakan. Itu semua karena kedunguanmu!" Suara Bayu bergetar, dia bersiap menarik pelatuknya.


DOOORRRR

__ADS_1


Bersambung ___


__ADS_2