Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XXXVI. I Will Always Love You


__ADS_3

Perubahan sikap dan gelagat Erwin membuat Inge khawatir. Erwin terlihat gelisah. Laki laki itu lebih banyak diam termenung setelah membahas buku koleksinya yang hilang.


"Win, sepenting itukah buku yang hilang? Kamu terlihat berbeda," Inge menepuk bahu Erwin perlahan.


"Yaahh, ada beberapa hal yang menggangguku," jawab Erwin dengan sebuah senyum yang dipaksakan.


"Mau cerita?" tanya Inge kemudian.


"Emm, tidak sekarang," jawab Erwin singkat.


Vita tak menghiraukan sepasang kekasih yang duduk bersimpuh di depan tempat tidurnya itu. Dia masih asyik membaca buku merah maroon, salah satu koleksi milik Erwin.


"Sial! Buku ini, cerita ini, layak disebut masterpiece. Bagaimana latar tempat yang bisa digambarkan dengan jelas. Bahkan saat membacanya, aku seperti masuk di tempat dalam cerita. Gila!" gumam Vita dengan kedua bola matanya yang berbinar.


"Kamu kemana saja Vit? Kok baru tahu sekarang. Itu buku memang keren. Bahkan semua seri karya Zainul Rich Man selalu best seller. Ada komunitasnya juga yang khusus nge bahas soal buku buku itu," sahut Inge.


"Hei, aku mau keluar dulu cari angin," ucap Erwin lesu. Tanpa menoleh pada Inge dia langsung keluar dari kamar.


"Kalian berantem?" Vita bertanya, menyadari gelagat Erwin yang tiba tiba jadi aneh.


"Nggak lah. Baru juga aku kasih jatah," Inge nampak kesal.


"Iisshhh. Sampai kapan sih Nge, kamu bakal belajar kalau awet tidaknya sebuah hubungan bukan hanya tentang begituan," Vita mencoba untuk menasehati.


"Tapi tanpa 'itu' hubunganmu akan terasa hambar Vit!" bantah Inge.


"Au ah! Lha terus kenapa itu berondong manismu kok jadi kayak tertekan gitu?" Vita meletakkan buku yang tengah dia baca.


"Entahlah. Mungkin gara gara koleksi bukunya yang hilang," jawab Inge. Dia mendengus kesal.


"Buku karya Zainul Rich Man ini memang bagus. Tapi, apa sepenting itu? Atau memang kekasihmu itu masih belum bisa bersikap dewasa?" Vita bersedekap, menatap tajam pada Inge. Inge hanya mengangkat kedua bahunya, malas menjawab.


"Se usia kita bukan waktunya bermain main deh Nge. Kalau mau cari pasangan, cari yang dewasa, yang siap berkomitmen," lanjut Vita.

__ADS_1


"Terus aku harus menjalani pernikahan membosankan seperti Anggun? Terlihat bagaikan ratu, tapi menderita batin. Aku sih ogah Vit. Hidup cuma sekali, aku ingin menikmatinya. Lagipula kamu jangan sok bijak menasehatiku, kamu sendiri sampai sekarang masih menjomblo. Kita harus sadar, sulit untuk mendapatkan laki laki baik yang mapan di jaman sekarang," bantah Inge jengkel.


"Hush, jaga mulutmu! Kecilkan suaramu! Kalau Anggun sampai dengar nggak enak tau!" Vita melotot hingga bola matanya terlihat menonjol keluar.


Dug dug dug


Terdengar suara langkah kaki menjauhi kamar tamu. Vita dan Inge kompak melompat dan melongok keluar kamar. Terlihat sosok Anggun berlari kecil di ruang keluarga dan menghilang di lorong ke arah ruang makan.


"Duh, Anggun dengar omonganku tadi ya?" ucap Inge sambil menggigiti kuku tangannya.


"Kaaann, kalau ngomong dipikir dulu," Vita geleng geleng kepala.


"Gimana dongg?" Inge terlihat panik.


"Ya sudah, nanti kamu harus minta maaf pada Anggun," jawab Vita sembari mengusap usap bahu Inge. Inge hanya diam saja tak menyahut.


Vita kembali berbaring di kasur dan membuka buku merah maroon yang membuatnya penasaran. Membaca buku itu seakan menghipnotis Vita, mata dan pikirannya tidak bisa beralih dari kalimat demi kalimat karya Zainul Rich Man.


Beberapa saat bermain dengan aplikasi berlambang huruf F itu, Inge melihat lihat salah satu forum pembahasan buku Zainul Rich Man. Forum bernama Fakta Rich Man itu mendiskusikan semua cerita yang ditulis Zainul. Hanya satu buku yang tidak ada ulasannya disana, yakni buku limited edition yang konon kabarnya hanya tercetak 100 eksemplar.


Inge iseng melihat ulasan buku seri ketiga Rich Man. Seri koleksi Erwin yang hilang. Inge melihat beberapa postingan, hingga pada akhirnya dia membaca sebuah paragraf penggalan dari bab akhir seri berjudul 'Racun Hubungan' itu.


"Ah, ini? Jadi ini yang membuat Erwin gelisah," Inge terperanjat kaget. Dia menutup mulut, menyembunyikan rasa terkejutnya.


Pada saat itu, Erwin berjalan masuk rumah dari teras depan. Dia melihat Inge yang tengah asyik dengan HP nya di ruang tamu. Kemudian, Erwin mengambil duduk di sebelah Inge.


"Win, aku tahu apa yang membuatmu gelisah," ucap Inge berbisik.


"Apa maksudmu?" Erwin mengernyitkan dahi.


Inge menyodorkan HP nya, menunjukkan postingan yang tengah dia baca. Erwin membacanya sekilas, kemudian beralih menatap Inge. Wajahnya berubah pucat. Ekspresinya menyiratkan ketakutan.


"Itu hanya sebuah buku. Sebuah cerita fiksi kamu tahu. So, jangan dimasukkan dalam hati," Erwin meraih tangan Inge, menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


"Jadi, kamu mau menyembunyikan hal ini? Kenapa Win?" Inge menampik genggaman tangan Erwin.


"Tak ada bukti Nge. Jangan asal menyimpulkan. Kumohon kamu diam saja!" Erwin menatap Inge. Bola matanya yang indah itu, nampak bergetar.


"Aku harus menemui Anggun. Biar bagaimanapun dia sahabatku!" Inge berdiri dari duduknya.


"Jangan lakukan!" Erwin membentak tertahan. Erwin tak ingin suaranya terdengar oleh Vita yang berada di dalam kamar.


"Maaf Win, aku tak bisa membiarkan Anggun seperti itu!" Inge membuang muka. Dia memutar tubuhnya dan segera berjalan pergi meninggalkan Erwin yang masih duduk terpaku di sofa ruang tamu.


Sedikit terburu buru, Inge melangkahkan kaki menyusuri lorong menuju tangga lantai dua. Inge berhenti di anak tangga pertama. Ada keraguan di hatinya. Layar HP di genggamannya masih menunjukkan forum 'Fakta Rich Man'.


Sekali lagi Inge menatap layar HP. Mengulangi membaca postingan yang tadi telah membuatnya terkejut. Beberapa saat setelahnya, dia merasa yakin harus menemui Anggun.


Saat kaki hendak melangkah pada anak tangga kedua, sebuah tepukan pelan mendarat di pundak Inge. Inge menoleh, dan menemukan sosok yang dikenalnya berdiri mematung.


"Mau apa?" tanya Inge ragu ragu.


Sosok di hadapan Inge tidak menjawab. Dengan tiba tiba sosok itu mengayunkan tangan kanannya ke arah perut Inge.


Jleebbb


Beberapa tetes cairan merah kental membasahi lantai granit di bawah anak tangga. Inge melotot, tak menduga dengan kejadian yang menimpanya. Pikirannya penuh dengan pertanyaan, mengapa? Apa yang telah terjadi?


Sosok itu menarik tangannya sekejap, kemudian kembali mengayunkan ke arah perut Inge yang sudah terluka. Serangan kedua menghujam dengan lebih bertenaga.


Inge tak sempat mengaduh. Badannya kehilangan tenaga secara tiba tiba. Lututnya lemas, tubuhnya menggigil kedinginan serta pandangannya mulai berkunang kunang. Inge sempat melihat sosok yang telah menyerangnya itu tengah menangis sesenggukan.


Sebelum hilang kesadaran, Inge membisikkan sebuah kalimat di telinga sosok yang telah menyerangnya. Kalimat singkat namun mampu membuat hati yang mendengarnya teriris.


"I will always love you."


Bersambung ___

__ADS_1


__ADS_2