
Sedikit tergesa gesa, Iva memasukkan barang barang miliknya ke dalam tas ransel. Dia sempat memeriksa kunci mobil rentalnya. Ternyata sudah ada di dalam tas.
Iva ingin segera pergi dari rumah tepi sungai ini. Aroma mayat yang mulai membusuk sudah menguar di seluruh penjuru ruangan. Mungkin saja aroma mayat Yodi, Dipta, atau mungkin juga Tia. Bahkan Iva menduga masih ada mayat lainnya yang tersembunyi entah di salah satu ruangan dalam rumah sang Rich Man.
Iva segera menggendong tas ranselnya dan keluar dari kamar dengan terburu buru. Ellie terlihat sudah menunggu di depan tangga.
"Ayo Ellie, kita pulang," ucap Iva.
Ellie masih nampak ragu. Dia merasa bersalah meninggalkan Bayu yang terkunci sendirian dalam kamar. Juga teman teman yang lain. Denis yang entah kemana, Hendra dan Norita yang belum juga kunjung kembali.
"Apakah yang kita lakukan ini sudah benar? Kita meninggalkan yang lainnya demi keselamatan diri sendiri," Tanya Ellie pelan.
"Terus apa maumu Ellie? Kamu mau terus berada di rumah sialan ini? Sampai semua orang termasuk dirimu mati di tangan orang gila yang kita belum tahu siapa," Iva sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Jika aku yang terkunci di dalam kamar sana, berarti kamu pun akan meninggalkanku Iva?" Tanya Ellie. Dia terlihat melotot tajam.
"Ya, siapapun yang ada disana, aku nggak peduli. Tempat ini semakin aneh Ellie. Tanpa kita sadari, satu persatu hilang dan tiba tiba saja berubah menjadi mayat yang mengenaskan. Sebelum memikirkan keselamatan orang lain, yang utama adalah keselamatan diri kita sendiri," Iva berkacak pinggang.
Ellie terdiam. Dia nampak bingung. Ucapan Iva memang benar, Ellie pun mengakuinya dalam hati. Namun moralnya mengatakan untuk tidak membiarkan Bayu sendirian dalam kamarnya yang terkunci.
"Kamu jadi pulang sekarang atau tidak? Mumpung masih siang, kita harus bergegas. Karena saat malam tiba, hutan belantara itu masih sangat asing bagi kita berdua," Iva mulai kehilangan kesabarannya.
Iva tahu, Ellie adalah orang baik. Bahkan di situasi genting pun dia masih sempat memikirkan orang lain. Namun bagi Iva, kebaikan hati saja takkan mampu menyelamatkannya dari mara bahaya. Pengambilan keputusan yang tepat dan cepatlah yang bisa menolongnya. Dan hati Iva mengatakan, keputusan terbaik saat ini adalah segera pulang.
"Baiklah Va. Ayo kita pulang, dan langsung ke POLSEK terdekat untuk melaporkan semua yang terjadi di tempat ini," Ellie menghela nafas.
__ADS_1
Ellie sadar kalau bersikeras bertahan di rumah ini lebih lama lagi, mungkin saja dia akan kehilangan nyawa. Dan jika semua orang tewas, tidak akan ada yang melaporkan kejahatan yang terjadi pada pihak berwenang. Ellie tidak mau penjahat keji itu bebas berkeliaran dan merasa puas karena tujuannya tercapai.
Iva berjalan lebih dulu menuruni tangga, disusul oleh Ellie yang nampak sudah mengusir keraguan di hatinya. Dua perempuan itu sudah meyakinkan dirinya untuk segera pergi dari rumah Sang Rich Man. Mereka tak peduli lagi dengan sisa uang yang telah dijanjikan.
Sampai di lantai satu, terlihat Mak Ijah berjalan tergopoh gopoh menghampiri. Celemek yang dia kenakan berwarna putih dengan motif bunga bunga nampak kotor penuh dengan noda merah darah.
Seperti biasa, ekspresi Mak Ijah datar tanpa senyum. Tangan kanannya menggenggam pisau dapur yang mengkilat. Nampak tajam dan berbahaya. Tak ayal Ellie dan Iva segera menjauhi pelayan tua itu.
"Nona nona mau kemana?" Tanya Mak Ijah dengan mimik muka yang tidak berubah. Terasa dingin.
"Kami mau pulang Mak," jawab Ellie memberanikan dirinya. Dia tetap berusaha menjaga jarak aman dengan perempuan tua dan aneh itu.
"Kenapa? Apakah ada yang salah? Bukankah seharusnya Nona menunggu uang dari Tuan Zainul?" Mak Ijah kembali bertanya.
Ellie mengatur nafas. Emosinya benar benar sudah di ubun ubun. Bagaimana mungkin Mak Ijah bertanya apakah ada yang salah? Jelas semua yang terjadi di rumah majikannya ini adalah sebuah kesalahan. Teman temannya harus terbunuh secara mengenaskan. Dan sampai detik ini, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang telah melakukan pembunuhan keji bagai perilaku iblis itu.
"Tapi setidaknya, tolong makan dulu Nona. Saya terlanjur menyiapkan makanan yang cukup banyak. Semur daging dengan kualitas terbaik. Daging yang masih segar," ucap Mak Ijah menawarkan makan.
"Maaf Mak Ijah. Kami tidak lapar," Iva menimpali singkat.
"Nona nona yakin tidak makan?" Mak Ijah bertanya memastikan.
"Tidak Mak," jawab Ellie dan Iva serempak.
"Bagaimana kalau saya memaksa?" Mak Ijah menatap tajam pada Ellie dan Iva.
__ADS_1
Mendengar perkataan Mak Ijah, bulu kuduk Ellie berdiri. Rasa takut bercampur ngeri membuat tengkuknya terasa membesar. Apa yang hendak dilakukan wanita yang ada di hadapannya itu? Jantung Ellie berpacu. Keringat dingin menetes membasahi pelipisnya. Begitupun Iva yang nampak diam mematung.
"Tenang Nona. Saya tidak ingin membuat anda berdua ketakutan. Kalau anda memang benar benar berniat untuk pulang, saya persilahkan. Nanti akan saya sampaikan pada Tuan Zainul. Terimakasih sudah berkenan berkunjung kemari," Mak Ijah membungkuk memberi hormat.
Ellie dan Iva tidak menyiakan nyiakan kesempatan tersebut. Mereka langsung menuju ke pintu depan dengan setengah berlari. Tidak ada kata pamit yang terucap, yang ada di otak dua perempuan itu hanyalah segera pergi dari rumah dan penghuninya yang misterius itu.
Setelah kepergian Ellie dan Iva, Mak Ijah meletakkan kembali pisau dapurnya. Kemudian dia berjalan menapaki anak tangga menuju lantai dua. Langkah kaki Mak Ijah terdengar berirama memecah kesunyian.
Mak Ijah berhenti di depan pintu salah satu kamar. Dia berdiri tegap di depan pintu yang terlihat kokoh dan terkunci rapat. Mak Ijah tengah berada di depan pintu kamar Bayu.
Mak Ijah merogoh celemeknya. Ada sebuah saku kecil di bagian sampingnya. Dia memgambil sebuah kunci, kemudian memasukkannya pada lubang kunci pintu kamar Bayu.
CKLIKK
Pintu kamar Bayu terbuka. Bayu terlihat duduk di sudut kasur dengan buku bersampul merah di tangannya.
"Mak Ijah?" Bayu terlihat sedikit kaget dengan kedatangaan Mak Ijah.
"Satu satunya orang yang tidak ada di dalam daftar adalah anda Tuan," Mak Ijah membungkuk sesaat.
"Kenapa kamu membebaskanku Mak? Apakah semua sudah selesai?" Tanya Bayu kemudian.
"Apakah Anda tahu semuanya Tuan?" Mak Ijah kali ini terlihat waspada.
"Aku tahu siapa majikanmu. Tapi aku tidak tahu detail semuanya. Jadi tolong beritahu aku apa yang kamu ketahui," Bayu tiba tiba menodongkan pistol kecil miliknya ke arah Mak Ijah.
__ADS_1
Bersambung ___