
Dua ekor anjing menyalak garang. Mata buasnya menatap Galang yang bersimbah darah seakan sedang menatap sebongkah daging yang siap disantap. Air liur menetes deras di antara deretan gigi yang nampak kotor menguning nan tajam.
"Tuhan, se berdosa itu kah aku hingga ajalku tiba dengan cara seperti ini?" Gumam Galang memelas.
Galang masih menggenggam sebatang kayu dengan ujungnya yang menyala terbakar. Seperti obor, dia mengayun ayunkan kayu tersebut untuk menakut nakuti dua ekor anjing di hadapannya.
GRRRRRRR
Anjing menggeram menakutkan. Galang berjalan mundur ke belakang. Dia berusaha menjaga jarak. Galang berusaha untuk tidak membuat gerakan tiba tiba. Meskipun dia merasa tidak akan bisa selamat kali ini, namun sudut hatinya tetap memintanya agar tidak menyerah.
Api yang membakar ujung kayu di tangan Galang mulai meredup. Galang tahu betul, jika api padam maka dua anjing buas itu akan langsung menerkam dan mencabiknya.
Tangan kiri Galang meraih batu seukuran genggaman dengan ujung yang cukup lancip tergeletak di bawah pijakan kakinya. Dia menarik nafas perlahan kemudian menghembuskannya.
Dalam hidup, seringkali manusia mengeluh dengan jalan nasibnya. Namun di hadapan kematian, ternyata banyak hal yang sepantasnya disyukuri. Bahkan seburuk buruknya hidup yang telah dijalani, Galang masih tetap ingin bisa kembali kesana daripada harus tewas di tengah hutan belantara seperti saat ini.
Wuusshhh
Angin malam bertiup perlahan, hawa dinginnya mampu memadamkan api yang nyalanya temaram. Asap putih tipis mengepul di udara, dan kegelapan langsung menyergap. Dua anjing buas di hadapan Galang langsung menancapkan kuku kukunya pada tanah berpasir di tepian sungai.
Galang menggenggam erat sebatang kayu di tangan kanannya. Sementara tangan kiri telah siap dengan sebongkah batu. Dia mengumpulkan seluruh keberanian dan tenaganya untuk bertarung.
Tanpa aba aba, dua ekor anjing buas itu secara bersamaan berlari menerjang ke arah Galang. Beberapa kali gonggongan serak terdengar di antara kegelapan memecah keheningan.
Galang memusatkan perhatian pada salah satu anjing yang terlihat lebih kecil dan kurus. Dia berpikir untuk mengatasi satu persatu lawannya itu. Galang membiarkan kakinya digigit oleh anjing yang lebih besar. Dia mengabaikan rasa sakit dan ngilu, sementara tangan kanannya mengayunkan kayu pada anjing yang lebih kecil.
Buuuggg
__ADS_1
Hantaman telak mengenai kepala hewan buas itu. Galang melanjutkan serangannya, menghantam anjing yang terjatuh dengan sebongkah batu di tangan kirinya. Galang berhasil membuat salah satu hewan bertaring itu ambruk tak berdaya.
Namun, anjing yang lebih besar semakin kencang menancapkan taringnya pada kaki Galang. Dengan tenaga liarnya, anjing itu menyeret kaki Galang. Hingga akhirnya Galang pun tumbang dalam posisi tengkurap.
"Arghh," Galang menjerit mengaduh. Kayu dan batu di genggamannya terlepas.
Tanpa ampun anjing itu langsung melompat ke tubuh Galang dan menggingit pundak sebelah kiri. Galang semakin terdesak, hanya bisa mengerang dan mengaduh. Anjing anjing itu sepertinya memang sudah terlatih untuk menyerang dan bertarung.
Cakaran demi cakaran diterima oleh Galang tanpa perlawanan. Rasa sakit, perih bercampur aduk dan membuat Galang semakin lemah. Kesadarannya mulai menipis, dan dia merasakan nafasnya juga semakin habis.
Tapi sekali lagi, entah mendapat energi darimana Galang meraba raba bebatuan dengan tangan kanannya. Dia menggenggam erat sebuah batu dan langsung menghantamkannya pada bagian mata sang anjing.
Cairan semburat merah menyembur membasahi punggung Galang. Anjing melompat kesakitan. Menggeleng geleng dan mengibaskan bulu lebat di kepalanya. Sepasang mata yang sedari tadi terlihat buas dan mengerikan, kini hanya tinggal sebelah saja. Dan tatapan liar itu kini berubah. Seolah meminta pengampunan.
Anjing itu segera berbalik dan berlari kencang meninggalkan Galang yang terduduk bersimbah darah. Beberapa kali gonggongan terdengar sebelum akhirnya menghilang di tengah kegelapan hutan malam hari.
Lengkap sudah luka di badan Galang. Kaki dan pundak kirinya terluka akibat gigitan anjing. Perut dan punggung akibat sabetan senjata tajam. Galang merasakannya, luka perih yang meresap hingga ke ulu hati. Menggerogoti kesadarannya, merenggut semangat hidupnya.
Dalam diam, Galang memandang langit. Beberapa bintang berpendar di antara pekatnya angkasa. Kilas balik kehidupannya muncul satu persatu. Kesalahan kesalahan masa lalu yang selalu dia sesali. Masa lalu yang tak pernah bisa diperbaiki.
Galang menangis, rasa sakit terasa di tubuhnya yang penuh luka juga batinnya. Galang memohon dalam hati, agar sekali lagi diberi kekuatan. Dia merasa memiliki tanggungjawab untuk meminta pertolongan pada kampung terdekat. Kalaupun dia digariskan untuk mati, setidaknya buku yang dia bawa, juga kenyataan kejahatan yang dilakukan oleh 'teman lamanya' itu harus terungkap.
"Mana sudi aku mati tak berguna. Aku sudah tahu semuanya, aku harus bangun. Aku mesti bangun. Aku kudu bangun!" Galang berteriak menyemangati dirinya sendiri.
Dengan satu tarikan nafas yang dalam, Galang memaksa tubuhnya untuk bangkit. Dengan bersusah payah dia berhasil bangun. Tulang selangka kirinya terasa hendak copot. Mungkin gigitan anjing tadi benar benar dalam dan mengoyak persendiannya.
Galang menguatkan tekad, kemudian menyeret kakinya agar mau melangkah. Galang berjalan terseok seok, tangan kanan mencoba mencari pegangan agar lebih kokoh pijakan kakinya.
__ADS_1
Pandangan yang semakin buram, juga tenggorokan yang terasa tersumbat benar benar menyiksa. Udara terasa sulit masuk ke paru parunya, beberapa kali Galang batuk tersedak.
Tanpa terasa, cukup jauh Galang berjalan menyusuri sungai yang berkelok. Entah berapa lama dia berjalan. Galang sudah tak peduli waktu, tak tahu arah. Yang tersisa dari dirinya hanyalah semangat untuk terus melangkah.
Dan sepertinya semangat itu, telah mencapai batasnya. Kaki Galang gemetar hebat. Lututnya lemas secara tiba tiba. Dan akhirnya dia ambruk di tepian sungai. Dia masih bernafas, masih pula bisa mendengar. Saat sayup sayup adzan subuh berkumandang, Galang sadar dia telah dekat dengan perkampungan.
* * *
Rumah Tepi Sungai milik sang Rich Man benar benar gelap gulita. Tak ada cahaya apapun yang bersinar disana. Dalam kegelapan, sepasang tangan menyeret tubuh Denis yang sedang pingsan.
Sosok 'penjahat' itu nampak kesulitan membawa tubuh Denis yang gagah tinggi. Apalagi kegelapan begitu pekat. Sosok itu menyeret tubuh Denis ke halaman belakang.
Ada satu sosok lagi yang tengah merokok, menunggu di halaman belakang. Mereka bertemu dan terdengar membicarakan sesuatu.
"Maafkan saya Tuan. Saya tak berhasil menemukan Galang di hutan," ucap sosok yang sedang merokok.
"Bodoh! Balas dendam ini takkan sempurna jika semuanya tidak mati! Sialan!" Sosok yang menyeret tubuh Denis mengumpat penuh amarah.
"Maaf Tuan. Tapi saya harap Tuan tidak lupa dengan uang yang telah dijanjikan," ucap Sosok yang merokok dengan sedikit terkekeh.
"Kamu gagal dan kamu minta uang? Dimana otakmu?"
"Tapi Tuan, kalau Tuan tidak memberikan uangnya, maka besok saya bisa pastikan semua orang akan tahu tentang rahasia ini," sosok yang sedang merokok mendekat dan berbisik.
Namun, tanpa diduga sebuah pisau lipat dengan cepat dan tepat langsung menyabet sosok yang sedang merokok. Tanpa perlawanan sosok itu jatuh tertelungkup di tanah.
Kali ini, suara kepak sayap burung hantu terbang dari satu pohon ke pohon yang lain menutup kejamnya malam.
__ADS_1
Bersambung___