
Peluh menetes, mengalir di pelipisnya yang mengkilat. Dahinya yang lebar juga tak luput dari butiran butiran keringat sebesar biji jagung. Wignyo nampak kelelahan berjalan sambil memanggul satu karung lembaran uang.
"Sek sebentar. Istirahat dulu lah. Nggak kuat aku," pinta Wignyo dengan nafas yang ngos ngos an.
"Masak baru berjalan dua kilo sudah ambrug Nyoo. Kita itu pemuda harus semangat, dengan tekad dan kemauan kita bisa saja menguasai dunia. Jangan letoy lah," ejek Fadlan sambil nyengir. Fadlan pun terlihat mengatur nafas, kecapek an.
"Buapakmu salto! Kamu sih enak, jalan tok. Lha aku bawa se karung kayak gini lho," Wignyo membanting karung yang ada di pundaknya dengan cukup keras.
"Itu duit lho Nyoo. Jangan asal main banting. Kita kerja seumur hidup juga belum tentu terkumpul sebanyak itu," Fadlan mengelus elus karung yang tergeletak di atas rerumputan.
"Makanya gantian dong, capek tahu. Mana ini muka aku makin terasa berdenyut ngilu. Duh aduh," Wignyo meraba benjolan biru memar di pipi kirinya.
"Kamu tahu kan Nyo aku itu tenaganya lemah. Nggak kuat kalau harus memikul karung seberat ini," Fadlan mengiba.
"Katanya pemuda hebat, mau menguasai semesta. Ah, sialan!" Wignyo mencibir, Fadlan hanya terkekeh.
"Talking talking, ngomong ngomong . . .orang yang sekarat tadi lho, maksud ucapannya apa ya? Menyelamatkan orang orang di rumah besar? Terus Bayu penjahat? Siapa itu Bayu?" Fadlan menduduki karung yang berisi uang, seolah itu adalah sofa baginya.
"Omongannya orang sekarat jangan terlalu dipikirkan," jawab Wignyo enteng.
"Terus, kira kira darimana orang itu? Mana pakaiannya bagus, ber merk pula. Aku yakin, tadi itu orang kaya," Fadlan menebak nebak.
"Hmm, aneh memang. Badannya penuh luka kayak cakaran hewan. Terus ngapain juga dia ada di sungai ya?" Wignyo mengelus janggutnya yang berbulu tipis.
"Jangan jangan dia dari rumahnya Tuan Zainul. Tuan Zainul kayaknya pernah memelihara anjing gedhe gedhe deh. Impor kalau nggak salah, iya kan?" Fadlan mengingat ingat.
"Jangan ngomong sembarangan kamu. Tuan Rich Man yang baik hati itu nggak mungkin berbuat jahat, menyiksa orang sampai sekarat gitu," Wignyo memelototi Fadlan.
"Bukan gitu maksudku Nyoo, siapa tahu kan orang yang tadi itu berniat jahat. Terus diserang deh sama anjing penjaga rumahnya Tuan Zainul," Fadlan beralasan.
__ADS_1
"Tapi denger denger, dua hari lalu memang ada rombongan yang datang ke rumah Tuan Zainul. Kendaraan mereka di parkir tuh di tanah lapang batas timur desa. Apa mungkin tadi itu salah satu rombongan ya?" lanjut Fadlan.
"Au ah pusing aku. Coba deh nanti kalau ketemu Tuan Zainul kita laporan," sambung Wignyo.
"Heh, cepetan bangun kamu. Kalau otot lagi capek setelah berjalan jauh, jangan langsung duduk jongkok gitu. Bisa varises," Wignyo sedikit membentak.
"Itu mitos Nyooo, hoax," Fadlan menggerutu sambil bangun dari duduknya.
Wignyo kembali mengangkat karung yang berisi uang dan memanggulnya. Dua orang pemuda desa itu kembali melanjutkan perjalanan.
Jalur yang Wignyo dan Fadlan lewati, berbeda dengan jalur yang dilewati Bayu dan teman temannya dua hari yang lalu. Wignyo dan Fadlan memang asli warga sekitar, jadi sudah hafal betul jalur tercepat ke rumah Sang Rich Man.
Melewati perkebunan langsep dan duku, Wignyo beberapa kali mengedarkan pandangannya. Berharap ada pohon yang sedang berbuah, bisa dimanfaatkan untuk mengatasi dahaga.
Selang beberapa lama berjalan, Wignyo menemukan bercak bercak cairan merah yang tercecer di atas rerumputan dan tanaman perdu. Dia memperhatikan sambil terus melangkahkan kakinya. Akhirnya Wignyo yakin, cairan merah itu adalah tetesan darah.
"Nyooo, getih (darah) apa ini?" Fadlan terlihat ketakutan.
"Gimana Nyoo? Balik saja yuk," Fadlan merengek. Wignyo menghentikan langkahnya.
"Kalau balik, jelas kita bakal kehilangan pekerjaan ini lho. Pasti Tuan Zainul nyari orang lain yang lebih bisa diandalkan dan dipercaya," ucap Wignyo penuh penekanan.
"Iya, tapi ini darah lho Nyoo. Gimana kalau di rumah Tuan Zainul terjadi sesuatu? Perebutan harta apa gitu? Bunuh bunuhan?" Fadlan merinding ngeri membayangkan.
"Ngawur. Kamu kebanyakan nonton sinetron. Makanya nonton itu yang bermanfaat gitu lho ah, biar nggak ngayal yang neko neko. Dan kalaupun terjadi sesuatu di rumah Tuan Zainul, kita harus melindungi beliau dong. Ingat jasanya memakmurkan dan memajukan desa kita," ucap Wignyo sungguh sungguh. Meskipun saat ini dia merasa sedikit takut juga.
Wignyo kembali meneruskan langkahnya. Dia berusaha mengacuhkan cipratan cipratan darah yang semakin terlihat jelas. Fadlan hanya bisa menurut, berjalan mengekor di belakang Wignyo.
Aroma anyir dan amis semakin menusuk indera penciuman. Hal itu menandakan Wignyo dan Fadlan semakin dekat dengan sumber dari darah yang tercecer di rerumputan. Fadlan tidak berani menoleh kanan dan kiri, dia terus berjalan sambil menatap punggung Wignyo yang bidang.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Wignyo berhenti mendadak. Fadlan yang tidak menduga, serta merta menubruk tubuh Wignyo hingga terpental ke belakang.
"Jar*n! Kalau berhenti ngomong dong," protes Fadlan. Namun Wignyo tak menyahut, tetap diam mematung.
Fadlan sadar, ada yang tidak beres. Fadlan menduga, Wignyo pasti melihat sesuatu hingga terdiam membisu di depannya. Dengan rasa takut bercampur penasaran, Fadlan mengintip dari balik pundak Wignyo yang lebar.
Rasa ngeri langsung menyergap hati Fadlan. Degup jantungnya terdengar begitu dahsyat, dibarengi tetesan keringat dingin dari tengkuk juga pelipisnya. Pantas saja Wignyo berdiam mematung, pemandangan di hadapannya sungguh membuat nyali menciut.
Di depan Wignyo dan Fadlan terduduk sesosok wanita, bersandar pada sebatang pohon sengon besar. Wanita itu berkulit putih bersih, berbadan sintal dan seksi. Namun sayang, bagian wajahnya telah remuk. Tak bisa lagi dilihat dan dibayangkan bagaimana rupa cantik wanita yang kini tak bernyawa itu.
"Nyooo, mayat Nyooo," Fadlan hendak menangis. Kakinya gemetar dan lemas. Hampir saja dia ngompol di celana.
"Nyooo, ngomong Nyooo! Kita pulang saja yuk, pulaanggg. Aku kangen simbok Nyoo. Sambel pete masih enak Nyooo, aku nggak mau mati disini Nyoooo!" Fadlan merengek dan meracau. Dia menangis, air matanya mengalir deras di pipinya yang tembem.
"Kita pulang saja," ucap Wignyo pendek.
Wignyo pun sangat ketakutan. Baru kali ini dia melihat perbuatan keji hingga membuatnya kehilangan kata kata. Makhluk apa yang begitu tega menyiksa seorang wanita hingga hancur wajahnya?
Wignyo dan Fadlan berbalik badan, hendak kembali ke desa. Namun ternyata di hadapannya kini, berdiri seseorang yang tengah tersenyum memandangi mereka berdua.
"Ah, Tuan Zainul?" Pekik Fadlan. Ada rasa kaget dan takut di benak Fadlan.
"Mau kemana kalian?" Tanya sosok itu dengan ramah. Suaranya terdengar kalem dan santai.
"Kami mau mengantar uang ini Tuan. Kebetulan bertemu dengan anda disini," ucap Wignyo mengatasi rasa takutnya.
"Tugas kalian mengantar uang itu sampai rumah. Jadi, aku harap kalian menyelesaikan tugas hingga tuntas," sosok di hadapan Wignyo dan Fadlan memberi perintah.
Fadlan dan Wignyo beradu pandang. Mereka ragu harus menjawab apa. Haruskan mereka lari atau menuruti perintah sosok yang mereka panggil Tuan Zainul? Bagaikan buah simalakama, apapun pilihan yang mereka ambil semuanya mengandung resiko dan berbahaya.
__ADS_1
Bersambung___