
Malam hari, suara dengung nyamuk terdengar semakin keras. Begitupun di kamar sang tuan rumah. Ferry buru buru menghidupkan pengusir nyamuk elektriknya. Tak ingin malam pertama di rumah barunya berakhir dengan sekujur badan bentol bentol.
"Resiko tinggal di tengah tengah hutan. Banyak banget nyamuk, gedhe gedhe pula," keluh Ferry seraya mengibas ngibaskan tangannya.
Anggun diam saja tak menyahut. Dia tengah sibuk mengeluarkan baju baju dari koper dan memindahkannya ke dalam lemari pakaian.
"Hal kayak gini sebenarnya kan bisa suruh Mak Surti yang ngerjain to sayang," Ferry menatap istrinya yang tampak lesu.
"Kasihan Mak Surti Mas, semua orang juga pada capek. Lagipula Mak Surti juga baru beberes kamar adik manjamu itu," Anggun menyahut, namun tak menatap suaminya sama sekali.
"Ya Mak Surti kan memang dibayar untuk bekerja semacam ini," sergah Ferry.
"Ada Miko yang lebih butuh Mak Surti Mas, ini kan sudah malam,"Anggun menghela nafas.
"Sudahlah Mas, aku sendiri yang mau beberes, jadi ya nggak pa pa," lanjut Anggun.
"Kamu terlihat capek. Aku nggak mau kamu jatuh sakit," Ferry duduk bersila di dekat Anggun.
"Aku sudah sakit Mas. Apa Mas lupa bahwa sepanjang hidupku bersama denganmu, tubuhku selalu lemah?" Anggun masih tetap tidak menatap suaminya.
Ferry merangkul Anggun dari belakang. Mendaratkan kecupan di pipi kiri Anggun yang terasa halus namun dingin.
"Kamu hanya perlu rileks, nggak banyak pikiran, santai, bahagia, dan kamu akan sehat kembali," bisik Ferry. Anggun diam saja tidak menyahut.
"Kok diam?" Ferry bertanya, masih mendekap istri cantiknya itu.
"Bagaimana jika aku memang tidak bisa menjadi perempuan yang sempurna Mas?" Anggun bertanya, suaranya terdengar lirih dan sendu.
"Hey hey, tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna sayang. Dan apapun keadaanmu, kamu tetaplah segalanya bagiku," Ferry membelai lembut rambut Anggun.
"Dan, soal teman temanmu yang mau berkunjung kesini, silahkan saja. Dengan syarat, setelah mereka datang, kamu harus lebih bahagia, oke?" Ferry tersenyum.
Anggun menoleh, kali ini dia menatap suaminya itu. Laki laki yang tidak terlalu tampan, biasa biasa saja. Laki laki yang sedikit temperamen pada orang lain, tapi tidak pernah berlaku kasar pada istrinya. Laki laki yang selalu mengatakan bahwa Anggun lah satu satunya perempuan yang diinginkan.
"Terimakasih," ucap Anggun lirih. Dia menunggu agar Ferry mendaratkan kecupan pada bibirnya. Namun, hal itu tidak pernah terjadi.
__ADS_1
"Yasudah, sekarang istirahatlah. Baju bajunya ditata besok saja," Ferry tersenyum dan berdiri dari duduknya.
Ferry mengambil remot TV yang terpasang di tembok kamar. TV LED 32 inch, dengan satu box PS 5 yang belum dibuka. Ferry menyalakan TV, memilih channel dan menonton sebuah program komedi malam hari.
"Ngomong ngomong, besok pagi aku mau ke kota dulu ya," ucap Ferry sambil duduk di sudut ranjang tempat tidur.
"Ngapain Mas?" Tanya Anggun, kali ini dia meninggalkan tumpukan baju yang masih ada di dalam koper. Dia naik ke tempat tidur yang hangat.
"Mau meriksa stok kain di toko pusat. Bulan ini grafik penjualan agak menurun. Aku perlu untuk mengatur strategi agar stok kain lama bisa terjual, tapi tidak diobral juga," Ferry memijat mijat pelipisnya.
"Apa nggak bisa dihandle kepala toko saja? Pak Ihwan kurasa cukup paham Mas, apa yang harus dilakukan," ucap Anggun memberi saran.
"Kadang orang itu suka sembrono. Jadi, lebih baik kuperiksa besok," sanggah Ferry.
"Iya Mas. Terus pulangmu jam berapa? Saat teman temanku datang kamu sudah di rumah kan?" Tanya Anggun.
"Temanmu datang jam berapa sih?" Ferry balik bertanya.
"Emm, mungkin jam 2 siang Mas," Anggun terlihat berpikir.
"Tapi Mas pulang kan besok? Jangan nginep di rumah yang di kota lhoh ya," Anggun menatap suaminya yang asyik ketawa ketawa sendiri melihat program komedi di TV.
"Iya sayang," Ferry tersenyum.
Anggun merebahkan badannya di kasur nan empuk. Menatap langit langit kamar yang berwarna biru. Suasana rumah baru yang benar benar nyaman bagi Anggun. Jauh berbeda dengan rumah yang di kota.
Tak ada suara bising knalpot kendaraan bermotor. Udara dingin dan sejuk alami yang tak perlu remot AC. Ketenangan yang membuat hati Anggun terasa tenteram.
"Kurasa aku benar benar harus berterimakasih pada Zainul ya Mas,atas semua pemberiannya ini," ucap Anggun sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ah ya, kupikir juga begitu. Dia orang yang baik dan menginspirasi lewat tulisan tulisannya," sambung Ferry.
"Oh iya, kamu lumayan banyak mengoleksi novel karya Zainul kan Mas?" Anggun bertanya sambil memejamkan matanya, menikmati tenangnya suasana malam.
"Yaahh, ada beberapa buku yang kusimpan," jawab Ferry. Anggun diam saja kali ini.
__ADS_1
Ferry menoleh, memperhatikan istrinya. Ternyata bidadari cantik berkulit putih itu sudah terlelap. Terdengar suara dengkuran kecil dari bibir mungil istrinya itu.
Ferry tersenyum sekilas, kemudian beranjak ke meja kayu yang terletak di sebelah tempat tidur. Di atas meja terdapat sebuah tas kerja berwarna hitam. Ferry mengambil tas tersebut dan membukanya perlahan. Dia mengambil sebuah buku dengan sampul berwarna merah maroon. Ferry kembali memandangi istrinya yang sudah terlelap. Dan sekali lagi dia tersenyum. Namun kali ini senyum itu nampak lebar dan menakutkan.
* * *
Sementara itu di dalam kamarnya, Pak Nyoto tengah masuk angin. Dia meminta tolong Mak Surti untuk mengerok punggungnya.
"Aku nggak kuat Buk, hawa daerah sini bener bener dingin. Bisa masuk angin terus nih tiap malam," gerutu Pak Nyoto sambil menikmati setiap olesan balsem di punggungnya yang lebar.
"Yah namanya adaptasi Pak. Kita sudah terbiasa dengan hawa kota yang cenderung ungkep, nah sekarang tubuh kita menyesuaikan diri dengan hawa dingin pegunungan. Tapi untung si Miko kelihatannya nyaman nyaman saja," Mak Surti menoleh dan memperhatikan putra semata wayangnya yang tidur dengan lelap.
"Buk?" Panggil Pak Nyoto.
"Apa?" Sambung Mak Surti.
"Nanti, habis kerokan kita nganu ya. Mumpung si Miko sudah tidur," bisik Pak Nyoto cengengesan.
"Dasar gemblung!" Mak Surti nampak menahan senyum.
"Nak Erwin kan belum tidur Pak. Masih di ruang tamu itu nonton TV," lanjut Mak Surti.
"Kamar kita kan di belakang. Nggak pa pa lah. Lagian nungguin si Erwin tidur bisa sampai jam 2 besok pagi bukk," sanggah Pak Nyoto.
"Ngomong ngomong itu pemuda rada rada aneh deh Buk," lanjut Pak Nyoto.
"Aneh? Aneh piye Pak?" Tanya Mak Surti penasaran.
"Tadi aku lihat dia ngomong sendiri di bawah pohon beringin di belakang. Ah, jadi merinding aku Buk," Pak Nyoto mengusap usap tengkuknya yang meremang.
"Dan aku juga sering lihat, Erwin itu biasanya kalau tidur di depan TV sambil meluk sebuah buku Buk. Bukunya warna merah," imbuh Pak Nyoto.
"Ya mungkin itu benda yang berharga untuknya Pak. Pemberian orang yang penting atau mungkin pacarnya gitu," Mak Surti menanggapi dengan santai.
"Adu duh duh . . . jangan kenceng kenceng Buk," Pak Nyoto meringis menahan perih di punggungnya. Mak Surti sepertinya terlalu bersemangat menancapkan koin di punggung suaminya itu.
__ADS_1
Bersambung___