Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
35. Putus Asa


__ADS_3

Cairan merah kental mengucur dari bagian perut dan punggung. Langkah gontai menyibak rumput gajah setinggi dada. Sementara langit tak berbintang, sepasang mata belum terbiasa melihat dalam gelap.


Galang masih terus berusaha melangkahkan kakinya, meskipun rasa sakit, perih dan nyeri di sekujur tubuhnya kian menyiksa. Beberapa kali ujung jari kakinya tersandung bebatuan atau mungkin akar tanaman, tak terlihat jelas saking gelapnya. 


"Ughhh," Galang menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon sengon besar.


Galang mengerjap ngerjap, berusaha membiasakan agar matanya bisa melihat dalam gelap. Tidak ada yang bisa membantunya, HP mati, dan tidak ada cahaya apapun yang bersinar di bawah langit bermendung hitam.


"Ha ha ha ha," Galang tertawa pelan. Menertawakan nasibnya yang begitu sial. Seandainya saja dia tidak tergoda dengan iming iming uang dari sang Rich Man dan tidak bersedia datang memenuhi undangannya, saat ini pastilah dia sedang bersantai menikmati senja di teras rumahnya.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Galang saat ini bersimbah darah beratap langit, dan tidak tahu arah mana yang harus dia ambil untuk keluar dari belantara yang mengurungnya. Luka di perut Galang terasa perih. Tenggorokannya pun terasa kering.


Galang mulai pasrah pada hidupnya. Semangatnya digerogoti oleh rasa sakit yang tak terperi. Sementara buku yang dia temukan di pondok tua masih belum lepas dari ketiaknya. 


Galang masih tak percaya, kalau ternyata orang 'itu' adalah sosok penjahat berdarah dingin. Dia sebenarnya sangat penasaran apa yang sebenarnya menjadi motif dari perilaku keji teman lamanya itu. 


"Ah, brengsek! Pandanganku mulai buram. Tuhan, haruskah aku mati dan membusuk di tempat seperti ini?" Galang meracau putus asa.


Saat Galang berpikir untuk menyerah, dalam diam dia mendengar sebuah suara. Suara yang membawa sedikit harapan untuknya. Samar samar terdengar suara gemericik air di kejauhan.


Galang menajamkan pendengarannya. Dan memang benar, dia tidak sedang bermimpi. Bunyi aliran air sungai sayup sayup ditangkap oleh gendang telinganya.


"Ha ha. . .Engkau tidak membolehkanku menyerah rupanya," Galang terkekeh sambil mendongak.


Dengan susah payah Galang mencoba berdiri. Dia berpegangan pada pohon di belakangnya. Hampir saja tubuhnya ambruk kembali saat nyeri di robekan perutnya terasa berdenyut. Namun, dia berhasil melawan rasa sakitnya dan menguatkan dirinya untuk berdiri tegak.

__ADS_1


Galang menghirup nafas dalam dalam, kemudian berjalan mengikuti suara gemericik air. Dia sama sekali tak mengetahui sedang berjalan ke arah mana. Utara, atau selatan tampak sama saja.


Dan ternyata, Galang menuju ke arah yang tepat. Suara deru air sungai semakin terdengar nyaring. Dia semakin dekat dengan sungai. 


Entah jam berapa saat Galang mencapai bibir sungai. Yang jelas suasana benar benar sangat gelap pekat. Udara pun berkali kali lipat terasa lebih dingin. Galang segera membasuh wajah dan menenggak air sungai dengan sangat rakus.


Rasa dahaga sudah terobati. Kini, Galang duduk di atas sebuah batu besar di tepi sungai sembari menekan luka yang ada di perutnya. Galang berpikir untuk menyusuri sungai, berjalan sesuai arah aliran air. Dia yakin, di bawah sana pasti ada perkampungan. Namun seberapa jauh jalan yang harus ditempuh? Galang pun tidak tahu. Dia juga tidak yakin tubuhnya akan kuat jika belasan kilometer harus dia lalui.


"Ughh, tapi lebih baik mati setelah mencoba daripada berdiam diri menunggu ajal tiba," Galang tersenyum masam.


Sambil meringis menahan sakit, Galang berjalan terseok seok menyusuri sungai. Banyak kerikil tajam yang melukai kaki telanj*ng Galang di sepanjang sungai.


Galang berhenti di sebuah belokan, karena aliran air sungai bercabang di tempat tersebut. Dia bingung hendak memilih cabang di sebelah kanan atau kirinya. Sementara hawa dingin semakin menusuk menembus kaos tipisnya yang robek di beberapa bagian.


Langit malam yang sedari tadi nampak kelam, tiba tiba berubah sedikit membiru. Awan yang menggumpal dan berkumpul mulai berpencar pergi, meski tetes hujan belum mereka jatuhkan. Galang mendongak mengucap syukur dalam hati. Jika saja hujan turun, pastilah akan menambah siksaan pada tubuh dan batinnya.


Galang memutuskan untuk berhenti di tempat itu. Mengambil beberapa ranting dan dedaunan kering di tepian sungai. Menumpuk dan membakarnya menggunakan korek api yang sedikit basah, yang dia kantongi di saku celana.


Galang duduk di depan perapian. Terasa cukup hangat. Dan kini dia bisa melihat dengan jelas sayatan di perutnya masih basah dan berwarna merah. Sedikit merasa heran, darimana dia mendapat kekuatan untuk bertahan melihat kondisi saat ini dia terluka parah.


Galang mengambil buku yang dia jepit di ketiaknya sedari tadi siang. Aroma keringat yang cukup menyengat tercium. Namun dia berusaha mengacuhkannya.


Kembali, Galang membuka bagian tengah halaman buku. Melihat foto lama yang terlihat berjamur di beberapa bagiannya. Kemudian, beralih ke halaman berikutnya. Sedikit sulit membaca tulisan tinta biru yang sudah luntur dan nge blur.


'Menjatuhkan mental sesorang yang terlihat lemah, tidak akan membuat kalian menjadi lebih kuat'

__ADS_1


Sebuah kalimat yang terbaca jelas. Galang melanjutkan membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di buku usang tersebut. Beberapa kali disebutkan keinginan penulis buku itu untuk mengakhiri hidupnya. Galang menghela nafas, rasa sesal begitu sesak di dadanya.


Krsskk Krrsskkk


Terdengar suara yang mengagetkan Galang, membuyarkan lamunannya. Suara seperti dedaunan kering yang terinjak di balik semak belukar di seberang sungai.


Galang memperhatikan sumber suara. Rumput dan tanaman perdu nampak bergerak perlahan. Dua pasang mata mengkilat menyibak rerumputan. Galang tertegun, bulu kuduknya berdiri.


Guk guk guk


Anjing liar itu menyalak, memperhatikan Galang dengan liurnya yang menetes berlebihan. Galang mencoba untuk tidak bergerak secara tiba tiba agar tidak mengagetkan hewan buas itu.


Secara perlahan sepasang anjing dengan bulu cokelat tua berjalan mendekati Galang. Terlihat banyak luka di sekujur tubuh anjing itu, seperti bekas cambukan yang cukup dalam. Di lehernya juga nampak bekas tali pengekang. Galang kini sadar, hewan hewan tersebut bukanlah hewan liar. Namun hewan yang sengaja dipelihara.


Galang dengan hati hati dan perlahan mengambil sepotong kayu yang terbakar. Saat anjing buas itu semakin mendekat, Galang berdiri dan mengacungkan kayu di tangannya. Nyala api membuat para anjing berhenti mendekat. Hanya terdengar geraman dan tatapan liar bersama kuku kuku tajam yang menancap pada tanah berpasir di tepian sungai.


* * *


Sementara itu, saat Galang mencoba berjuang dan bertahan atas nyawanya, Denis sedang duduk melamun di sudut ranjang di kamarnya. Dia sedang sibuk menulis sebuah lagu. Beberapa kali dia mencoret dan mengganti kata kata yang dirasa kurang puitis.


Saat itulah, pintu kamar Denis diketuk perlahan dari luar. Sebuah kertas terselip di bawah pintu. Denis mengambil kertas tersebut dan mendapati sebuah pesan singkat.


'Sepertiga malam nanti pasti dingin, kutunggu kamu di koridor kamar mandi. Mari saling menghangatkan. :)'


'Nori'

__ADS_1


Denis tersenyum membacanya. Dia langsung terbayang dengan bibir tipis kemerahan yang merekah, juga bulu bulu halus di leher jenjang milik perempuan cantik itu. 


Bersambung ___


__ADS_2