Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
LIII. Tawa Anggun


__ADS_3

Saat semua kekacauan terjadi, Bu Rofida duduk di atas ranjang empuknya. Dia tak tahu dengan semua kejadian berdarah yang menimpa anak dan keluarganya di lantai bawah. Bu Rofida tengah sibuk merajut sembari menikmati langgam jawa yang mengalun di pemutar musik yang ada dalam kamar.


Sesekali Bu Rofida ikut bergumam menirukan lagu jawa favoritnya. Dia ingin melupakan segala macam kejadian mengerikan yang telah terjadi di rumah yang baru beberapa hari ditempati. Bu Rofida hanyalah perempuan yang ingin menikmati masa senja nya bersama anak dan keluarga.


"Auww!" pekik Bu Rofida. Jarinya tertusuk jarum rajut akibat kebanyakan melamun. Beberapa tetes cairan merah kental jatuh menimbulkan bercak dan noda di syal rajut yang belum sempurna.


"Kok perasaaanku jadi nggak enak," gumam Bu Rofida sambil memegangi dadanya. Hatinya berdesir, tiba tiba ada rasa cemas yang tak jelas penyebabnya.


Bu Rofida meletakkan benang rajutnya. Dia beranjak dari tempat tidur karena rasa cemas yang semakin terasa mengganggu. Awalnya Bu Rofida di dalam kamar bersama Vivi. Tapi kemudian anak perempuannya itu ingin ambil camilan di lantai bawah. Sudah hampir satu jam berlalu, dan Vivi tak kunjung kembali.


Tok tok tok tok


Ketika Bu Rofida berniat untuk menyusul Vivi ke lantai bawah, terdengar pintu diketuk dari luar. Setengah berlari, Bu Rofida segera membuka pintu. Seorang perempuan berwajah cantik, berkulit bagai kapas berdiri mematung di depan pintu kamar.


"Anggun? Ngapain kamu nduk, di depan pintu kayak gini?" tanya Bu Rofida sambil menarik lengan Anggun, mengajaknya masuk ke dalam kamar.


"Tumben, nggak biasanya kamu mau menyambangi kamar ibuk?" tanya Bu Rofida saat Anggun sudah duduk di kursi dalam kamar.


"Ada yang mau aku sampaikan pada ibuk," jawab Anggun dengan mimik muka yang datar.


"Sebentar sebentar. Aku sebenarnya mau nyusul Vivi ke bawah. Adikmu tadi pamit ambil camilan kok belum kembali ya Nduk? Udah satu jam an lhoh," Bu Rofida nampak cemas.


"Vivi di ruang tamu kok Buk. Sama Mas Ferry, juga Erwin," sambung Anggun.


"Erwin? Erwin sudah balik? Apa benar Erwin yang mencelakai temanmu tadi Nduk? Aku ingin bertemu dengannya. Aku ini yang mendidiknya dari kecil lho. Hatiku nggak percaya sedikitpun kalau Erwin bisa berbuat jahat," Bu Rofida terus berbicara tanpa jeda.

__ADS_1


"Tenanglah Buk. Yang penting sekarang njenengan dengarkan dulu ceritaku Buk," sela Anggun. Bu Rofida langsung terdiam dibuatnya.


"Kamu pngen cerita apa sih? Penting banget ya, sampai kamu datang kesini," Bu Rofida mengernyitkan dahi.


"Ya penting nggak penting sih. Sebelumnya aku ingin tanya dulu pada njenengan," Anggun menghela nafas.


"Apakah njenengan membenciku karena menikah dengan Mas Ferry?" tanya Anggun dengan tatapan mata yang tajam.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Nduk? Apapun pilihan Ferry aku selalu mendukung sepenuh hati. Termasuk saat dia memilihmu untuk menjadi pendamping hidupnya," Bu Rofida membetulkan posisi duduknya. Nampaknya pertanyaan Anggun mengusik hati Bu Rofida, membuat telinga dan hatinya tersulut bara api yang panas membara.


"Meskipun aku sakit sakitan dan dianggap tak mampu memberimu cucu?" tanya Anggun lagi.


"Setiap hal di dunia ini ada jodohnya Nduk. Tuhan menciptakan sakit pasti pula menciptakan obatnya. Tentang anak juga nggak perlu tergesa gesa. Toh kalian juga masih muda. Mak Surti nikah lama banget, juga baru tuh keluar si Miko," jawab Bu Rofida sewot.


"Kenapa kamu tanya begini? Apa aku terlihat tidak menyukaimu? Apa aku terasa menekanmu agar cepat memberikan aku cucu?" Bu Rofida balik bertanya.


"Asal ibu tahu saja, meskipun aku sakit sakitan dan lemah begini menurut dokter, kandunganku sangat baik. Aku bisa memiliki keturunan. Sekarang pertanyaannya adalah mengapa aku tidak lekas memiliki keturunan?" Anggun memainkan kedua alisnya naik turun.


"Kenapa?" tanya Bu Rofida penasaran.


"Njenengan benar benar nggak tahu?" tanya Anggun terkekeh. Bu Rofida menggeleng cepat.


"Itu karena Mas Ferry nggak bisa Buk. Anak kesayangan njenengan itu menderita, dan njenengan sama sekali tak tahu," ucap Anggun sambil tertawa lepas.


"Apa maksudmu nduk?" Bu Rofida melotot.

__ADS_1


"Mas Ferry dulu pernah disiksa ayahnya di bagian perut dan pinggang hingga akhirnya dia mengalami sakit di organ tubuhnya. Dia tak bisa menjadi laki laki sempurna Buk," balas Anggun menatap santai pada Bu Rofida.


"Hah? Kamu jangan ngomong sembarangan!" Bu Rofida berdiri dari duduknya.


"Awalnya aku pun tak tahu Buk. Sampai akhirnya aku menemukan catatan terapi kesehatan yang sudah Mas Ferry jalani. Asal Ibuk tahu saja ya, selama bertahun tahun kami menikah Mas Ferry belum menyentuhku seujung kuku pun. Aku masih tetaplah seorang gadis meskipun sudah bersuami," Anggun tersenyum masam.


"Hentikan omong kosongmu Anggun! Kamu boleh memiliki pikiran buruk tentang mertuamu ini. Tapi jangan sekalipun memfitnah anak anakku!" Bu Rofida berkaca kaca. Seluruh wajahnya nampak merah padam.


"Mas Ferry disiksa oleh ayahnya waktu kecil. Takdir membuatnya menjadi laki laki sukses dan kaya raya. Sayang, trauma terlanjur berdiam di hatinya. Dia selalu ingin menjadi seorang laki laki yang melindungi keluarganya. Dia tidak bisa menerima laki laki lain masuk dalam keluarganya. Oleh sebab itu, Mas Ferry tak pernah menyukai kehadiran Erwin. Bahkan dia membenci teman laki laki yang mendekatiku," lanjut Anggun.


"Hingga suatu pagi saat seorang polisi datang ke rumah, menyodorkan sertifikat tanah yang luasnya berhektar hektar ini beserta sebuah buku bersampul merah maroon. Semua benda berharga peninggalan dari satu satunya keluargaku yang tersisa di dunia," ucap Anggun kemudian. Ada gurat gurat kesedihan di wajahnya yang tirus.


"Polisi itu mengatakan buku tersebut adalah peninggalan paling berharga dari Zainul. Aku harus menjaga, membaca, bahkan mewujudkannya. Buku yang penuh aura negatif, penuh dengan keinginan balas dendam, sungguh mengerikan," Anggun geleng geleng kepala.


"Apa yang kamu bicarakan? Aku sama sekali tak mengerti. Jangan ngelantur!" bentak Bu Rofida setelah beberapa saat lamanya diam mendengarkan.


"Mas Ferry ternyata pengagum seri buku buku itu. Dia sudah membaca semua buku Sang Rich Man. Dia meminta buku terakhir limited edition yang diberikan polisi Bayu kepadaku. Dan yang terjadi selanjutnya adalah semua kekacauan ini," Anggun tersenyum sekilas.


"Jadi menurutmu Ferry yang sudah mencelakai teman temanmu?" Bu Rofida berjalan mendekati Anggun dan langsung menarik kerah baju Anggun. Meskipun tenaga Bu Rofida sudah tak sekuat dulu, usia sudah menggerogoti energinya namun dia masih cukup mudah mengangkat tubuh Anggun yang ringan.


"Mas Ferry adalah seorang pembunuh Buk! Anak kebanggaan ibuk adalah orang yang tak waras!" Anggun menyeringai lebar.


"J*l*ng!" teriak Bu Rofida. Tangan kanannya terayun, memberikan tamparan keras ke pipi kiri Anggun. Menantunya itu jatuh tersungkur mencium lantai granit yang terasa beku.


"Ha ha ha, mungkin bakat kekerasan itu faktor keturunan dari njenengan ya Ibu mertua. Anak adalah cermin bagi orangtuanya bukan?" Anggun tergelak, tawanya pecah. Tawa aneh yang berbeda dari biasanya. Anggun yang biasanya se Anggun namanya, kini memancarkan sorot mata bagai orang asing yang terlihat menakutkan.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2