
nancy perlahan mengerjapkan matanya. pandangannya menelisik ke ruangan yang nampak asing baginya.
ruangan ini begitu sunyi membuat ia menjadi takut.
kepalanya masih nyut-nyutan, dan badanya terasa sangat capek.
wanita itu berusaha bangkit dari tidurnya dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
matanya membulat sempurna setelah selimut itu terbuka. baju yang ia gunakan malam itu telah berganti menjadi baju tidur.
ia reflek memegang dadanya dan menggeleng kuat berusaha menyingkirkan pemikiran bodoh yang ada di otaknya.
ia menegang, wajahnya mulai bercucuran keringat dingin.
" tidak! ini tidak mungkin."
" apa yang terjadi? " ia masih menerka-nerka dimana ia berada sebenarnya. kamar yang asing ini terlihat seperti kamar hotel. dan hal itulah yang membuat otaknya traveling kemana-mana.
" aaaa gak mungkin kan? gak mungkin gue di bawa sama pria asing trus di tiduri. habis itu ntar gue hamil dan gak tau siapa bapaknya." racaunya sambil menghentak-hentakan kaki.
" gue gak mauuu!!! " teriaknya melengking
" itu gak terjadi bodoh! "
nancy terdiam setelah mendengar suara tadi. matanya melihat ke arah kamar mandi yang perlahan terbuka.
jantungnya semakin berdetak tak karuan saat kamar mandi itu hampir terbuka sepenuhnya. namun setelah melihat siapa yang keluar, nancy pun bernafas lega dan langsung melempar bantal ke orang tersebut.
" ngapain lo bawa gue kesini? "
violet cecengesan." ya habisnya waktu lo tertidur, fira dan trysta ada panggilan tugas. jadinya mereka menerobos masuk ke dapur dan menarik tangan gue yang lagi masak. " jelas violet. sejujurnya ia masih marah dengan kelakuan trysta dan fira yang sembrono.
nancy mengangguk, namun ia teringat dengan selfie. kenapa selfie tidak mengantarnya saja? itu yang ada di pikirannya.
dan juga, kenapa ia bisa tertidur? apa ada sesuatu di minumannya? .
nancy menyipitkan matanya ke arah violet yang lagi makan kripik kentang. penampilan violet benar-benar gila. violet hanya memaki tanktop dan celana pendek yang sexy. duduk di sofa dengan rambut panjang yang di biarin terurai.
" lo ngapain pakai baju kek gitu? "
" gak papa kali, kan cuman ada lo." jawabnya masih mengunyah kripiknya.
" kalau ada laki-laki yang masuk gimana? " pertanyaan bodoh, tapi perhatian.
violet seketika menaruh kripiknya ke atas meja dan menatap nancy menggoda." akan gue bawa laki-laki itu ke kasur dan mengajarkanya cara berkembang biak dengan benar."
nancy langsung terhenyak, matanya melotot dan mulutnya ternganga.
sementara violet malah tertawa." bercanda aja kok. lo kayak gak tau aja gue "
nancy mengelus dadanya, ia pikir tadi betulan.
nancy tertunduk, ia terdiam dan terus melihat kedua telapak tangannya. ingatanya masih berkelana pada malam itu. malam saat ia bersama selfie dan tiba-tiba saja tertidur.
" kenapa gue tertidur? "
" dan bagaimana dengan selfie? "
violet yang lagi memperhatikannya dari tadi langsung nyahut." lo masih memikirkan perempuan itu? dia itu yang udah ninggalin lo, nancy "
" dia gak peduli dengan keadaan lo malam lalu. dan lo malah peduli dengannya? " violet tertawa remeh
nancy meliriknya." berapa lama gue tidur? "
" umm hampir 24 jam "
nancy mengangguk dan segera turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
ia membasuh wajah dan menatap lekat pantulan dirinya di cermin. matanya berkaca-kaca, hatinya terasa sakit.
nancy menghela nafas
ia buru-buru menghapus air matanya yang mengalir itu
" Aishh, kenapa akhir-akhir ini perempuan ini cengeng sekali." ia tertawa miris
nancy melepas pakaiannya, masuk ke dalam bathtub dan berendem hingga 30 menit. tangannya bermain dengan busa dan sesekali mengusap ke tubuhnya. aroma lilin terapi benar-benar menenangkan pikirannya.
sementara violet yang masih berada di luar menjadi sangat khwatir lantaran nancy belum juga keluar dari tadi.
ia cepak menunggu, ditambah dengan kripik kentangnya yang udah habis. violet berdiri dan berjalan ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan.
drttt... drrtt....
__ADS_1
fokusnya teralihkan setelah mendengar nada dering dari ponsel seseorang. ia kebingungan dan berjalan dengan langkah yang pelan ke meja samping ranjang. mungkin saja itu ponsel nancy pikirnya, karna nada dering hp violet tidak seperti itu.
dan benar saja, ternyata ponsel nancy yang berbunyi. ia menghela nafas berat dan mencoba mengangkat panggilan itu.
" mau apa lo?!"
" ahkk... lo bikin gue kaget aja." ia mengelus dadanya, untung saja ponsel nancy tidak jatuh.
dengan raut datar, nancy berjalan menghampirinya dan merampas ponselnya. ia menatap violet dengan tatapan yang tak bisa di artikan." jangan pernah sentuh ponsel gue lagi!"
" emang kenapa? " violet heran
" gak papa "
nancy tiba-tiba terdiam yang membuat violet semakin kebingungan.
dengan wajah serius, nancy maju selangkah dan menyentuh kedua pundak violet.
" mau dengar cerita fantasi? "
meskipun bingung violet tetap ngangguk." lo mau cerita apa? "
nancy menghela nafas." cerna cerita ini baik-baik, dan pastikan lo gak akan melupakannya.paham! "
seperti terkena sihir, violet pun mengangguk patuh. apalagi saat melihat wajah serius nancy.
" gue akan cerita dalam sudut pandang seorang putri. gue harap lo benar-benar memahaminya." nancy tidak melepaskan tangannya dari pundak violet tetapi justru meramasnya sedikit.
" ini adalah kali pertama aku berkorban untuk pria. aku melepaskan mahkota, gelar kebangsawanan, istana megah dan orang tuaku."
" demi dia. seorang pria yang menjual gerabah di tengah pasar. beberapa orang memandangku gila dan beberapa lagi memuji tentang betapa besar 'kekuatan cinta' "
" di hari lain, saat aku membantunya menata gerabah-gerabah itu, tiba² saja datang beberapa pria dan memanggilnya 'yang mulia' "
"rupanya ayahnya telah meninggal dan dia adalah pewaris tunggal yang menyelinap ke negri tetangga "
" semuanya berakhir bahagia seperti yang aku rencanakan "
...🍂...
" huaaa.... hiksss "
" udah diam dong! " selfie berusaha menenangkan sean yang baru saja terjatuh akibat ulahnya.
lutut sean dan siku tangannya lecet. ia terus menangis dan tidak mau berhenti dari tadi.
selfie panik. jika sarah tau, ia pasti akan di marah habis-habisan.
" lututku sakit hiks." suaranya yang cempreng itu benar-benar menyakiti telinga selfie.
" tahan aja ya, laki-laki gak boleh nangis." selfie perlahan mendekat padanya, tetapi sean malah melemparnya dengan ranting kecil.
selfie hanya mengelus dadanya dan bersabar menghadapi sikap bocah ini.
" MAMAA! " teriak sean melengking
selfie kaget, jadi ia langsung membekap mulut bocah itu sampai lupa kalau adeknya butuh nafas. untung saja ia cepat sadar sebelum adiknya itu pingsan.
selfie tersenyum kaku." anak yang lemah itu adalah yang nangis. dan yang gak nangis adalah yang kuat. sean kan anaknya kuat."
sean menatap selfie dengan wajah yang penuh dengan air mata." kakak waktu kecil pasti juga nangis."
selfie menggeleng." kakak jarang nangis loh."
sean terdiam dan berusaha menghentikan isakan yang mau keluar dari mulutnya. melihat wajah selfie saat mengatakan kata-katanya tadi membuat sean seolah percaya tanpa keraguan.
" sean ada apa?! " pandangan keduanya spontan menoleh ke seorang pria yang berlari mendekat.
pria itu adalah alan. ia berjongkok di depan sean sambil memeluknya." ada apa? "
" kak selfie melemparku." jawabnya
" eh? mana ada kek gitu! " protes selfie meskipun jawaban sean benar.
alan hanya melirik selfie sedikit dan kembali menatap sean. ia meniup luka di lutut dan siku kecil bocah itu. ia benar-benar terlihat menyayangi sean.
tanpa berlama lagi alan menggendong sean dan segera mengobati lukanya. mereka diam-diam mengobati bocah itu di dalam kamar selfie tanpa sepengetahuan sarah.
" kalau mama tanya bilang aja kamu tadi lari trus jatuh deh." kata selfie yang membuat alan menjewer telinganya.
" jangan ajarin anak kecil berbohong."
" berbohong demi kebaikan ya gak papa." selfie tersenyum manis, sebuah senyuman yang mampu membuat alan bungkam. ini adalah cara ampuh untuk meredakan emosi alan.
__ADS_1
" yaudah ayo kita pergi." alan berdiri dan tak lupa mengusap rambut sean.
" kakak pergi dulu ya." pamitnya
sean cuman gangguk.
" ayo kak alan." imbuh selfie setelah mengambil tas dan ponselnya.
keduanya berpamitan dan meninggalkan sean yang masih mematung melihat mereka.
" kakak selalu mengabaikan ku jika ada dia " gumamnya
alan membawa selfie ke cafe di pinggir pantai. ia sengaja mengajak selfie ke sini untuk menemaninya menemui rekan bisnis.
awalnya selfie menolak dengan alasan kalau dia hanya akan mengganggu. tetapi alan meyakinkannya untuk datang sebagai penyemangat. kata-kata yang romantis tapi aneh bagi selfie.
" mana rekan bisnis kak alan? " tanya selfie sambil mencari-cari di setiap meja .
alan tidak menjawabnya tetapi justru menariknya ke meja yang tengah di duduki oleh seorang pria.
selfie tidak tau siapa dia karna pria itu membelakanginya.
dan di sinilah mereka, berdiri di belakang pria itu. perasaan selfie entah kenapa menjadi tidak enak.
" maaf sudah lama menunggu." lontar alan yang membuat pria itu berbalik pada mereka.
deg!
selfie seketika membeku. ia cukup kaget melihat siapa pria itu. dan sepertinya pria tersebut juga sama terkejutnya seperti dirinya.
melihat alan yang menarik kursi untuknya, mau tak mau selfie segera duduk. perasaannya menjadi sangat tak karuan dan tak nyaman.
" maaf kami telat." alan menggenggam tangan selfie di atas meja seolah mengatakan kepada pria itu kalau wanita ini miliknya.
" iya gak papa santai aja." jawab zayn. ya pria itu adalah zayn.
zayn sesekali menarik nafas dan menghembuskannya. matanya terus melirik ke arah selfie dan berakhir pada jari wanita itu. melihat sebuah cincin kembar yang di gunakan oleh alan dan selfie.
" kamu mau pesan apa? " alan menyodorkan menu kepada selfie.
" coklat. aku mau coklat panas." jawabnya tanpa melihat menu.
alan mengangguk. ia sudah menduga jika selfie akan memesan coklat. jadi ia telah menyiapkan choco di saku celananya, karna biasanya selfie akan menambahkan choco ketika meminum coklat panas.
alan segera memanggil pelayan dan memesan dua cangkir kopi dan satu coklat panas. sementara selfie dan zayn saling melirik Diam-diam sejak tadi.
selagi menunggu pesanan di antar, alan dan zayn memilih untuk membicarakan bisnis mereka.
sedangkan selfie hanya memainkan ponselnya dan tidak tertarik dengan pembicaraan mereka. hingga coklat panasnya datang barulah ia mematikan ponsel.
" nih... " kata alan sambil ngasih bungkusan dark choco. coklat yang belum di campur gula, rasanya lumayan pait.
" kenapa sih suka banget coklat pahit? " tanya alan lagi, kali ini sambil menyelipkan anak rambut selfie kebelakang telinga. umm sangat romantis.
" pahit itu kan emang rasa dasar cocoa." sahut selfie. coklat emang seharusnya tidak manis.
" kopi kalau di kasih banyak gula sampai jadi manis apa juga bisa jadi coklat? " tanya zayn yang tiba-tiba nimbrung.
hmm menarik.
bukan selfie, tapi alan yang jawab." yang namanya kopi tetap aja kopi, tetap aja pahit."
" trus kenapa, setiap dengar coklat gue ngerasa mencium sesuatu yang manis? " batin selfie sambil menatap ke arah zayn.
alan merogoh sakunya ketika ponselnya berdering. rupanya, itu panggilan dari ayahnya atau bos tempat ia bekerja. katanya sih ayahnya sedang berada di restoran samping cafe ini. alan ijin sebentar untuk menemui sang ayah.
jadinya selfie dan zayn cuman berdua di cafe, sama-sama menyeruput minuman dalam diam. dan itu adalah kenangan yang berharga banget.
" tak lama lagi aku akan bertunangan " itu kalimat yang keluar dari mulut zayn.
selfie terkejut tapi sebisa mungkin bersikap biasa, ia menoleh padanya." selamat."
zayn cuman diam, tidak ada raut kebahagiaan di wajahnya layaknya orang yang akan bertunangan.
" coba tanyakan padaku 1 kebenaran dan 1 kebohongan." kata zayn lagi
selfie tidak mengerti jadi ia menggeleng." kenapa aku harus bertanya? "
" tanyakan saja! " desaknya
selfie mengangguk." beritahu aku 1 kebenaran dan 1 kebohongan."
zayn langsung menoleh ke depan." kebenarannya, aku sangat membencimu....dan kebohongannya, sebenarnya ada dua kebohongan "
__ADS_1
mendengar itu selfie pun terpaku, ia terus menatap zayn. menatap mata yang bewarna coklat itu.