Senja Pengganti

Senja Pengganti
Pelampiasan


__ADS_3

"Sayang, aku datang!"


"Siapa yang mengatakan padamu aku di sini?" ujar Radit heran, Tasya tersenyum sembari melirik ke arah Saskia. Nampak Saskia tepat di sebelah kiri Tasya.


"Ada apa? Kenapa datang kemari?" ujar Radit dingin, Tasya mandekat ke arah Radit. Dengan manja, Tasya bersandar di tubuh gagah Radit. Namun hal sebaliknya ditunjukkan Radit, gestur tubuh Radit terlihat risih berada di dekat Tasya.


"Aku ingin menemuimu, siapa lagi?"


"Aku sedang sibuk, lain kali saja kita bertemu!" ujar Radit dingin, Saskia memilih menjauh. Dia tidak ingin dipersalahkan atau mengganggu Tasya dan Radit. Kedatangannya sebatas mengantar Tasya, tidak lebih.


"Keluar atau aku yang keluar!"


"Radit, ada apa denganmu? Kenapa sikapmu kasar? Semua karena dia, wanita yang menjual dirinya demi melunasi hutang keluarganya!" ujar Tasya kesal dan sinis, Radit mendorong tubuh Tasya. Radit marah mendengar hinaan Tasya pada Nissa. Meski semua itu benar, tapi Tasya tak berhak menghina Nissa.


"Tutup mulutmu, sebelum aku sendiri yang menutupnya!" ujar Radit kasar, lalu berlalu menjauh dari Tasya.


Radit berjalan menuju pagar pembatas balkon. Kedua tangannya memegang besi pembatas dengan sangat erat. Radit meluapkan amarah yang ada di dalam dadanya. Kekesalan Radit semakin besar, ketika dia melihat Tasya berada di rumahnya. Radit bisa saja mengusir Tasya, tapi ada satu hal yang membuat semua itu sulit. Keluarga Tasya masih kerabat dengan keluarga ibu kandung Radit. Sebab itu, tidak mudah Radit mengusir Tasya. Ada hubungan yang tak bisa dipecah hanya demi amarah sesaat.


"Radit, kamu berubah!"


"Aku berubah, waktu dan keadaan juga berubah. Kita sudah mengakhiri hubungan diantara kita. Kenapa sekarang kamu datang lagi? Dalam hidupku hanya ada Zain, tidak ada tempat untuk hal lain!"


"Bohong, wanita itu sudah mengusik hatimu!" ujar Tasya lantang, Radit menunduk. Perkataan Tasya membuat Radit tertunduk lesu. Sikap Nissa yang terus menjauh, tanpa sadar telah mengusik ketenangan Radit. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Radit. Entah penyesalan atau rasa kecewa? Radit bingung dengan perasaannya saat ini.


"Diamlah Tasya!" ujar Radit kesal, Tasya mendengus kesal.


"Aku akan menemanimu, jadikan tempat pelampiasanmu. Seandainya wanita itu tidak bisa memuaskanmu. Aku mampu membuatmu bahagia lahir dan batin!" ujar Tasya lirih, seraya memeluk tubuh Radit dari belakang. Tasya menyandarkan kepalanya di punggung Radit. Memeluk mesra tubuh gagah Radit. Meluapkan rindu yang membuncah di dalam dadanya. Melupakan sejenak rasa malu akan statusnya sebagai seorang wanita.


Radit diam mematung, menolak pelukan Tasya hanya akan sia-sia. Tasya akan terus memaksa, sampai dia merasa puas. Radit enggan berdebat, kekalutan dalam benaknya bak benang kusut. Radit tak ingin menambah beban pikirannya. Sengaja Radit membiarkan Tasya memeluknya. Setelah tasya puas, Radit akan meninggalkan tasya tanpa banyak bicara.


"Tunggu, kemana dia pergi? Sekarang sudah malam, dia juga tidak izin padaku!" batin Radit, saat melihat Nissa berjalan ke arah gerbang.


Nampak Nissa berjalan tergesa-gesa ke depan pintu gerbang. Penjaga gerbang terkejut, melihat Nissa keluar dari rumah. Namun rasa keget mereka terjawab, ketika Nissa mengatakan alasannya. Tepat saat pintu gerbang terbuka, Nissa berjalan keluar gerbang. Nissa berdiri tepat di depan gerbang, seolah tengan menunggu seseorang. Radit terus mengawasi Nissa, rasa penasaran Radit menguasai akal dan pikirannya.

__ADS_1


"Dia!" ujar Radit kesal, ketika melihat Farhat datang menemui Nissa. Radit mengepalkan tangannya, amarah menguasai hatinya. Tawa Nissa bersama Farhat, mengusik ketenangan hatinya. Tasya tersenyum sinis, saat melihat Nissa dan Farhat. Amarah Radit akan menjadi celah, untuknya masuk ke dalam hati Radit. Seperti dulu, saat Radit terpuruk. Tasya datang menjadi penyembuh luka.


"Biarkan dia, tenanglah masih ada aku!" ujar Tasya, sembari bergelayut manja di lengan Radit. Tangan Tasya mulai bermain di wajah Radit. Tasya mencoba memancing hasrat dalam sepi Radit.


Radit menarik tubuh Tasya ke dalam pelukannya. Amarah dan rasa cemburu Radit membuatnya kehilangan akal. Tanpa Radit sadari, dengan penuh kehangatan dia mencium Tasya. Kemesraan yang tercipta dalam kemarahan, nyata membuat Tasya menang. Radit melampiaskan seluruh hasrat pada Tasya. Bahkan Radit lupa akan tempatnya berdiri. Tempat dimana semua orang bisa melihatnya dengan jelas? Tidak terkecuali Nissa yang berjalan tepat di bawah Radit dan Tasya.


"Pasangan yang serasi!" batin Nissa, lalu berlalu pergi.


Radit tersadar, ketika Tasya menghela napasnya. Nampak kondisi keduanya telah berubah. Radit mengusap wajahnya kasar, kesalahan kedua yang dilihat jelas oleh Nissa. Radit mendorong tubuh Tasya, meninggalkan Tasya begitu saja tanpa banyak bicara. Tasya terpaku, melihat sikap Radit yang kembali berubah. Hangat cinta yang baru saja dirasakannya, tak lebih dari kebahagian semu tanpa arti. Radit kembali meninggalkannya tanpa banyak bicara. Radit berlari menuju kamarnya, perasaan campur aduk. Ada ketakutan yang membuatnya gusar. Rasa takut akan sikap Nissa yang mungkin semakin jauh darinya.


"Dia melihatku atau tidak?" batin Radit galau, sembari terus berlari menuju kamarnya.


"Nissa!" sapa Radit, tatkala keduanya berpapasan di pintu kamar. Nissa menoleh ke arah Radit, penampilan Radit tak baik-baik saja.


Nissa melihat noda lipstik di hampir seluruh wajah Radit. Noda yang sontak membuat Nissa bergidik ngeri. Kemeja yang digunakan Radit tak lagi rapi. Nyata menampakkan betapa hebatnya pergulatan Radit dan Tasya. Nissa membisu, tak ada amarah atau rasa kecewa yang keluar dari bibirnya. Nissa tak mampu menatap Radit, satu-satunya sikap yang kini terlihat.


"Nissa!" ujar Radit, seraya menahan tangan Nissa.


"Maaf, aku khilaf!" ujar Radit, Nissa mendongak. Menatap penuh rasa heran ke arah Radit. Kata maaf yang begitu tulus terucap, hanya untuk kesalahan yang akan selalu dilakukan oleh Radit.


"Tidak perlu, anda berhak melakukannya. Saya hanya wanita pelunas hutang. Anda menyentuh atau mencumbu saya, itu hak anda memutuskan. Saya cukup sadar diri, jika saya bukan siapa-siapa bagi anda? Bahkan tak terlalu pantas untuk anda sentuh!"


"Nissa, kamu salah paham. Aku khilaf, karena aku cemburu melihatnya datang menemuimu!"


"Cemburu, pada siapa? Anda bercanda!" ujar Nissa santai, lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Laki-laki itu, dia yang membuatmu tertawa!"


"Jika saya tidak marah melihatnya datang, bahkan bermesraan dengan anda. Kenapa anda cemburu melihat Farhat datang menemuiku? Lagipula dia datang bersama Amira!" sahut Nissa dingin, Radit menarik tubuh Nissa. Mendekap erat tubuhnya, Radit menutup mulut Nissa dengan satu ciuman. Hangat yang membakar tubuh Nissa.


"Karena aku mencintaimu!" ujar Radit, Nissa tersenyum sinis.


"Tidak ada cinta dalam bisnis, kalaupun ada itu bukan untukku. Wanita pelunas hutang!"

__ADS_1


"Cukup Nissa!" teriak Radit, lalu melempar tubuh Nissa tepat di atas tempat tidur.


Bruuugggghhh


"Cukup kamu menghinaku dengan perkataan yang sama!" ujar Radit tepat di atas tubuh Nissa. Radit menarik hijab nissa, lalu menggenggam erat tangan Nissa.


Radit tak lagi mampu menahan cinta yang bercampur dengan amarah. Radit mencium leher jenjang Nissa, suara helaan Nissa memancing gairah liar Radit. Tanpa banyak bicara, Radit menyusuri tiap inci tubuh Nissa. Hasrat menggebu yang tanpa sadar melukai Nissa. Radit hanya ingin membuktikan cintanya pada Nissa. Hak yang seharusnya dia dapatkan sejak tiga bulan yang lalu. Malam indah penyatuan dua insan yang menjadi surga indah bagi sejoli yang saling mencinta.


"Nissa, kenapa?" ujar Radit lirih, saat mendengar suara isak tangis Nissa. Radit tersadar, dia telah melakukan hal yang salah. Radit menjauh dari tubuh Nissa, tubuh yang tak lagi ditutupi sehelai benangpun.


"Maaf, tak seharusnya aku memaksamu!"


"Lakukanlah, ini hakmu. Pembayaran atas hutang kedua orang tuaku!" ujar Nissa lirih, tanpa menoleh ke arah Radit.


"Nissa, maafkan aku!" ujar Radit, lalu pergi meninggalkan Nissa.


"Kenapa aku harus menerima penghinaan ini? Tidak pantaskah aku bahagia, sampai aku harus menerima luka ini. Dia memang suamiku, tapi dia tak pernah mencintaiku. Dia menyentuhku, setelah dia menyentuh wanita lain di depanku. Dia menganggap ini cinta, padahal semua ini hanya pelampiasan. Aku memang wanita pelunas hutang, tapi aku bukan wanita murah. Aku ingin dihargai, sebagai seorang istri yang memang dicintai!" batin Nissa pilu.


"Mama!" gumam Nissa lirih disela isak tangisnya.


Praaaayyyrrr


"Radit tanganmu berdarah!" ujar Tasya, sesaat setelah melihat Radit meninju kaca meja di ruang tengah.


"Aku bodoh!" teriak Radit lantang penuh amarah.


"Kak Radit, kenapa kakak marah?" ujar Saskia cemas, Radit terus diam. Darah mengucur deras dari tangannya. Namun tak sedikitpun rasa sakit terasa olehnya.


"Saskia, ambil P3K!" ujar Tasya, Radit menepis tangan Tasya dan Saskia.


"Pergi kalian!" ujar Radit lantang, Tasya dan Saskia mundur.


"Nissa!" ujar Radit, seraya mendongak menatap ke arah lantai dua. Nampak Nissa berdiri menatap ke arah Radit. Tatapan kosong tanpa arti yang dipenuhi dengan rasa kecewa.

__ADS_1


__ADS_2