Senja Pengganti

Senja Pengganti
Kebenaran


__ADS_3

"Zain, sudah siap!" ujar Radit, Zain mengangguk seraya memegang erat gamis Nissa. Zain tak ingin jauh dari Nissa, dia merasa aman di dekat Nissa.


Hari ini, sidang mengagendakan pertemuan Zain dengan Alvira. Di depan meja hijau, Zain akan mengenal Alvira sebagai ibu kandungnya. Sejak Alvira datang, tak sekalipun Radit mengenalkan Alvira sebagai ibu kandungnya. Zain hanya mengetahui, ibunya telah tiada saat melahirkannya. Sedangkan Nissa, dikenal Zain sebagai ibu terbaik dan paling disayanginya. Zain tidak ingin kehilangan Nissa, dia hanya ingin bersama Nissa. Bahkan semenjak Nissa menjadi bagian keluarga Radit. Zain lebih dekat dengan Nissa, daripada dengan Radit ayah kandungnya.


"Zain, jangan takut. Papa akan menemanimu!" ujar Radit, Zain menggeleng lemah. Radit berjongkok tepat di depan Zain. Menenangkan hati Zain, menyakinkan putra kecilnya. Semua akan baik-baik saja dan tidak perlu takut apapun.


"Zain, sama mama!" ujar Zain terbata, Radit menunduk. Nampak jelas ketakutan putranya, ketakutan yang ada dibenaknya. Radit merasa bersalah, putranya harus merasakan semua ini. Berhadapan dengan dunia yang belum tentu menerima kurangnya.


FLASH BACK


Zain Al Ghifarri, buah cinta Radit dan Alvira. Bukti ketulusan Radit dan kesucian cinta Alvira. Sang pengikat hati Radit dan Alvira. Kabar gembira yang melengkapi kebahagian keluarga kecil Radit. Putra yang sangat diharapkan Radit, tumpuan curahan kasih sayang Radit. Namun kenyataannya tak seindah bayangan. Kelahiran Zain, bak petaka bagi hidup Alvira. Usia yang masih muda dan karier yang sukses. Membuat Alvira enggan memiliki putra.


Berkali-kali, Alvira mencoba menggugurkan kandungannya. Tanpa sepengetahuan Radit, Alvira hampir saja melakukan aborsi. Namun takdir berkata lain, Zain kecil tetap tumbuh di rahim Alvira. Meski segala cara telah dilakukan, putra kebanggan Radit ditakdirkan terlahir. Namun kebodohan Alvira tak serta merta tanpa akibat. Tepat diusia bulan ke delapan, Zain kecil terlahir dengan berat badan di bawah normal.


Zain lahir dengan berat badan kurang dari dua kilogram. Zain harus menjalani perawatan selama hampir satu bulan di ruang NICU rumah sakit. Hari-hari terberat Radit, menanti sang putra dengan hati cemas. Setiap hari Radit pergi ke rumah sakit. Berharap sang putra bisa pulang bersamanya. Kesabaran Radit terus diuji sampai usia Zain hampir dua bulan. Zain kecil pulang ke rumah dengan tubuh mungil dan lemah.


Radit bahagia menyambut sang buah hati. Tak ada rasa malu atau kecewa melihat kondisi sang putra. Radit percaya, selama sang putra baik-baik saja. Radit akan menerima apapun kondisi Zain. Namun tidak dengan Alvira, kekurangan Zain menjadi alasan Alvira pergi. Keputusan besar Alvira, ketika Radit meminta Alvira fokus merawat Zain kecil. Meminta Alvira berhenti dari pekerjaannya sebagai salah satu direktur di perusahaan Kusuma. Permintaan besar Radit, langsung ditolak Alvira. Apalagi Irfan Kusuma, meminta Alvira fokus mengembangkan bisnis keluarga Kusuma. Alhasil, perpisahan Radit dan Alvira terjadi. Hubungan Radit dan Alvira berakhir di meja hijau. Meski cinta mereka masih tersimpan di hati terdalam satu sama lain. Sedangkan Zain kecil tak lagi merasakan hangat dekapan Alvira. Tak lagi mengenal, ibu yang melahirkannya.

__ADS_1


Kini setelah kebahagian menyapa Radit dan Zain, Alvira datang dan ingin menghancurkannya. Sikap egois yang tak pernah berubah dan berpikir itu yang terbaik. Alvira dulu tak pernah mencintai Zain, hari ini juga sama. Alvira tidak pernah peduli pada perasaan Zain. Alvira hanya ingin membuktikan pada Radit. Dia berhak atas Zain, sebagai imbalan dia pernah mengandung dan melahirkan Zain. Salah satu cara Alvira menghancurkan kebahagian Radit dan Nissa.


FLASH BACK OFF


Tepat pukul 10.00 WIB, Radit dan Nissa tiba di pengadilan. Jadwal sidang setengah jam lagi. Andrew dan Rayhan sudah datang, mereka menyiapkan segala sesuatunya. Hari ini sidang penentuan, siapa yang akan mendapatkan hak asuh Zain? Hari paling penting dalam hidup Radit dan Nissa. Akhir dari kecemasan Radit dan Nissa selama berhari-hari.


"Sayang, aku ingin bicara dengan Alvira. Tentu saja, dengan izinmu!" ujar Radit, Nissa mengedipkan kedua matanya. Nissa mengizinkan Radit tanpa mengatakan sepatah katapun. Tanpa kata, Nissa dengan tulus mengizinkan Radit bertemu dengan cinta pertamanya.


"Terima kasih, percayalah aku hanya bicara. Tidak ada hal lain!" ujar Radit, lagi dan lagi Nissa mengedipkan kedua matanya. Senyum di wajah Nissa, bukti kepercayaan Nissa pada Radit. Tak ada amarah atau rasa cemburu. Mendengar Radit akan menemui Alvira. Nissa sepenuhnya percaya, Radit menyadari arti kepercayaannya. Radit tidak akan mengkhianati ketulusannya.


"Pergilah, aku akan menunggumu di dalam bersama Zain. Bicaralah pelan-pelan dengan Alvira, tidak perlu terburu-buru. Sudah saatnya, kalian bicara dari hati ke hati. Jangan sampai, Zain menjadi korban keegoisan kalian. Temukan titik tengah, agar tak ada yang terluka!" tutur Nissa penuh cinta, lalu mencium punggung tangan Radit. Sontak Radit memeluk Nissa erat, dukungan Nissa menjadi alasan kuat Radit saat ini.


Radit berlari menemui Alvira, waktu lima menit yang diminta Radit segera berakhir. Radit tidak akan mengkhianati Nissa, dia akan menepati janjinya. Cukup lima menit dia bicara dengan Alvira. Radit tidak ingin bicara terlalu lama dengan Alvira. Radit hanya akan mengatakan satu kebenaran, entah pemikiran berubah atau tidak? Radit sudah berusaha sebaik mungkin.


"Alvira, aku ingin bicara denganmu!" teriak Radit, Alvira menoleh dengan tatapan tak percaya. Dia melihat Radit berlari ke arahnya.


"Ada apa? Kamu ingin memohon, terlambat!"

__ADS_1


"Kita bicara berdua, tidak disini!" ujar Radit, sembari menoleh ke arah Aryan dan pengacara Alvira.


"Baiklah, sepuluh menit!" ujar Alvira dingin, Radit menggelengkan kepalanya.


"Lima menit, aku hanya butuh lima menit!"


"Katakan!" sahut Alvira kesal, menyadari Radit hanya ingin bicara dengannya selama lima menit.


"Alvira, aku hanya akan mengatakannya sekali. Zain Al Ghifarri, nama yang aku berikan pada buah hati kita. Dia bukti cinta diantara kita, saksi indahnya cinta yang pernah ada diantara kita. Hadiah terindah yang kamu tinggalkan untukku. Amanah dari-NYA yang dititipkan pada kita. Meski sebagai orang tua, kita tidak sempurna. Namun dalam kurangnya, Zain menjadi pelengkap hidupku. Aku tidak akan keberatan, seandainya hak asuh Zain jatuh ke tanganmu. Bukan aku mengacuhkan Zain, sebaliknya aku ingin dia mengenal ibu yang melahirkannya. Bayi mungil yang tak pernah merasakan hangatmu. Kini, dia bisa tinggal bersamamu. Merasakan dekapan yang selalu dipertanyakannya. Zain mungkin berbeda dari anak lainnya, tapi dia sama dengan anak yang lain. Menangis dalam tidur, saat dia merindukanmu. Terima kasih Alvira, akhirnya kamu mengakuinya!" tutur Radit, sembari menangkupkan kedua tangannya.


Deg


Jantung Alvira berhenti berdetak, hatinya terasa ngilu. Kebenaran yang dikatakan Radit, bak ribuan duri yang menancap tepat dihatinya. Alvira merasa tertampar dengan perkataan Radit. Kenyataan yang tersimpan, terkuak begitu saja di depan matanya. Dua tangan Radit yang menangkup, bak pukulan telak dalam hidupnya.


"Alvira, jika memang kamu yang mendapatkan hak asuh Zain. Tolong sayangi dia, jangan acuhkan putramu lagi!" ujar Radit, lalu pergi tanpa menoleh ke arah Alvira.


"Radit, kenapa aku merasa sakit mendengar semua ini? Sejahat itukah diriku, sampai aku mengacuhkan darah dagingku!" batin Alvira pilu.

__ADS_1


__ADS_2