Senja Pengganti

Senja Pengganti
Cinta


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" teriak Nissa penuh kekesalan, sembari membanting kasar pintu mobilnya.


"Aku ingin menemuimu!"


"Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu!" sahut Nissa, seraya berjalan ke arah sang penguntit. Nissa berdiri tepat di depannya.


Dua bola mata Nissa terbelalak, kekesalan Nissa memuncak. Tatkala dua matanya bisa melihat jelas, sosok yang ada di balik silau cahaya lampu. Nissa langsung memutar tubuhnya, Nissa marah melihat sikap bodoh sang penguntit. Nissa memilih pergi, ketika menyadari dirinya telah dibodohi.


"Sayang!"


"Lepaskan!" ujar Nissa, sembari menepis kasar tangan Radit. Sosok yang sengaja menunggu Nissa keluar dari rumah. Radit menahan tangan Nissa.


"Sayang, maaf!" bisik Radit mesra, seraya memeluk Nissa dari belakang. Radit menarik Nissa dalam pelukannya.


"Terima kasih, telah merindukanku!" bisik Radit mesra.


"Aku tidak merindukanmu, lepaskan aku!"


"Ayolah sayang, tengah malam kamu keluar. Jika bukan mencariku, lalu untuk apa?" bisik Radit, seraya memeluk tubuh Nissa mesra dan erat.


Radit menyandarkan kepalanya di pundak Nissa. Menyusup manja, mencium aroma rambut Nissa yang menyerebak keluar dari hijabnya. Radit merayu Nissa dengan kehangatan dan pesonanya. Tanpa peduli lagi, akan waktu dan tempat. Radit terus memeluk Nissa, semakin erat dan hangat. Penolakan Nissa, bak gigitan semut yang tak terasa oleh Radit. Tenaga Nissa tak sekuat dulu, cinta telah membuatnya kalah dan lemah. Nissa luluh dalam hangat cinta Radit, meski egonya tetap teguh menolak hangat Radit.

__ADS_1


"Lepaskan, aku ingin pulang!"


"Kita pulang bersama!" sahut Radit, sesaat setelah menggelengkan kepala. Nissa menepis tangan Radit, lalu mengangkat kunci yang ada di tangannya.


"Kita pergi dengan mobilmu, akan kutinggalkan mobilku!"


"Aku percaya, kamu kaya. Namun meninggalkan mobil, bukan hal yang benar!" ujar Nissa dingin, Radit tersenyum simpul. Lalu, mendongak ke depan. Tepat di belakang mobil Nissa, berhenti sebuah sepeda motor. Dua penjaga rumah Radit datang, setelah menerima panggilan dari Radit.


"Mereka sekutumu!" ujar Nissa dingin, Radit mengangguk.


"Mereka hanya ingin melihat kita bahagia!"


"Terserah!" sahut Nissa, Radit memutar tubuh Nissa. Menarik pinggul Nissa ke depan, alhasil tubuh mereka saling berdempetan.


Haaaaciiimmm


Suara bersin Nissa, bersamaan dengan hembusan angin malam. Radit mengusap mesra ingus Nissa, menangkup lembut wajah cantiknya. Lalu mengecup hangat kening Nissa. Menyalurkan gairah cinta yang selama ini membara, tertunda dalam sebuah penantian. Radit menarik pelan tubuh Nissa, menempelkan wajah Nissa tepat di dadanya. Radit mencurahkan seluruh hangat cintanya. Melawan dingin malam yang seolah ingin menyakiti Nissa.


"Kita makan sekarang!"


"Aku sudah makan!" ujar Nissa, Radit menyentuh perut rata Nissa. Mengusap perlahan dan penuh kasih sayang. Getaran cinta penuh ketulusan, sekejap membuat tubuh Nissa terpaku. Tubuh Nissa terbakar, kala sentuhan Radit menyentuh titik terlemahnya. Radit mengusap lembut rahim tempat buah hati mereka tumbuh.

__ADS_1


"Anak papa yang manis, maaf karena papa kamu kelaparan. Papa tidak ingin melukaimu, papa hanya ingin merasakan kerinduan mama. Secara cinta mama mahal tak terbeli, sedangkan rindunya berat tak tertanggung. Percayalah sayang, kamu lapar tidak sendirian. Papa juga belum makan sejak pagi. Maklum sayang, papa mulai terbiasa dengan masakan mama. Kini papa mulai jadi pemilih, tapi kamu jangan pernah memilih makanan seperti papa. Sekarang, kita makan sayang. Pasti mama juga lapar!" gumam Radit, sembari menempelkan bibirnya tepat di perut ramping Nissa. Bahkan Radit berjongkok, agar bisa menendengar suara detak bayinya. Nissa tersenyum, melihat sikap Radit yang konyol tapi romantis.


Radit mencium mesra perut Nissa, ciuman hangat yang tanpa sadar membangkitkan gairah cinta Nissa. Titik paling sensitif ibu hamil, kala rindu sudah tak mampu tertahan. Tanpa sadar Nissa meremas ujung gamisnya. Sikap yang terlihat oleh mata elang Radit. Dengan senyum liciknya, Radit merasa menang dan telah merobohkan dinding beton yang dibangun Nissa. Tanpa banyak bicara Radit membawa Nissa menuju sebuah rumah sederhana.


Rumah berlantai dua, dengan taman yang tidak terlalu luas. Namun penuh dengan pohon yang mulai berbuah. Rumah yang baru dibeli Radit beberapa bulan yang lalu. Rumah sederhana yang terlihat nyaman dan tenang. Sebab rumah berada di area perkampungan. Bukan kompleks perumahan mewah yang individu.


"Ini rumah siapa?" ujar Nissa dengan tatapan takjubnya. Nissa merasa tak percaya, melihat rumah yang terasa nyaman. Bahkan sebelum tinggal di dalamnya. Nissa tertegun, rumah impiannya kini ada di depan matanya.


"Sayang, ini rumah kita. Hanya ada kenangan kita di rumah ini. Tidak akan ada kenangan lain, hanya kita dan buah hati kita. Aku ingin mengenalmu dengan cara mengenal pemikiranmu!"


"Maksudmu!"


" Iya sayang, ini rumah yang kubeli khusus untuk kita. Aku tidak ingin melihatmu tertekan akan kenanganku bersama Alvira. Percayalah, hanya ada namamu dihati ini. Jangan pernah tinggalkan aku seperti tadi. Bahkan dalam benakmu sekalipun!"


"Tadi!" sahut Nissa tak mengerti, Radit mengangguk mengiyakan.


" Tadi, saat di rumah makan. Kamu pergi tanpa memesan apapun. Ketika kamu melihatku bersama Alvira. Di tempat lain, aku tidak bisa mengubah kenangan atau kebersamaanku bersama Alvira. Namun di rumah ini, hanya ada kenangan kita. Tidak akan ada orang lain!" bisik Radit mesra, lalu mencium lembut telinga Nissa. Tubuh Nissa bergetar, tatapannya tertunduk. Meski telinganya tertutup hijab, Nissa bisa merasakan hangat hembusan napas Radit. Hangat penuh cinta dan ketulusan.


Radit menuntun Nissa, membuka pintu rumah sederhana mereka. Rumah penuh cinta dan hanya ada cinta antara mereka berdua. Tepat setelah mengunci pintu, Radit menggendong tubuh Nissa naik ke lantai dua. Radit membawa Nissa menuju kamar utama. Sesekali Radit mencium mesra bibir ranum Nissa. Radit menium lembut kening Nissa. Menggetarkan gairah cinta yang kini membuncah. Nissa tertunduk malu, tak ada penolakan. Nissa hanya diam mengikuti alunan cinta Radit.


Perlahan Radit membaringkan tubuh Nissa di tempat tidur. Melepas perlahan hijab Nissa, lalu menyusup di belakang telinga Nissa. Mencium mesra tengkuk Nissa, mencium penuh cinta aroma rambut Nissa yang memabukkan. Radit menyibak rambut hitam legam Nissa. Mencium lembut kening Nissa, sembari membuka satu per satu kancing baju Nissa. Tangan Radit mulai nakal, tak sejengkal tubuh Nissa yang luput dari hembusan hangat Radit. Nissa merasakan getaran yang hebat. Nissa kalah dan akhirnya menyerah.

__ADS_1


"Miliki aku, sentuh aku. Aku milikmu dan aku merindukanmu!" bisik Nissa mesra dan hangat.


__ADS_2