
"Selamat pagi!" sapa Radit, Nissa merenggangkan tubuhnya yang terasa lelah. Radit tersenyum melihat wajah Nissa yang teduh. Rambut panjang Nissa terurai sempurna. Setiap helainya tercium harum shampo. Wangi yang memabukkan bagi Radit.
Nissa terbangun dengan wajah lelahnya. Terbaring tak berdaya tanpa sehelai baju, selimut tebal menutupi tubuhnya. Nissa merasakan tubuhnya remuk, seluruh tulangnya seakan terlepas dari tubuhnya. Nissa menutup wajahnya, tatkala Radit mendekat ke arahnya. Nissa malu mengingat yang terjadi semalam. Sebuah penyatuan yang begitu panjang dan panas. Penantian yang menemukan akhirnya, hasrat Radit yang akhirnya terpenuhi. Setelah berbulan-bulan menahan cinta jauh dalam hatinya.
"Sayang!" ujar Radit, sembari memegang tangan Nissa.
Radit hendak membuka selimut yang menutupi Nissa. Namun tertahan, ketika Nissa memegang erat selimut. Nissa menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Isyarat Nissa tak ingin Radit melakukannya lagi. Radit tersenyum, lalu berbaring tepat di samping Nissa. Baik Radit dan Nissa mengingat kejadian semalam. Sebuah cinta yang menemukan muaranya. Penyatuan yang penuh cinta, tanpa bisa ditahan atau dielak. Di malam yang panjang, di tengah kesunyian malam dan hanya terdengar suara hewan malam. Nissa menyerahkan mahkota terindah dan termahalnya.
FLASH BACK
Setelah pesta semalam, Radit membawa Nissa pergi dari hotel. Radit membawa Nissa menuju villa di puncak. Mobil Radit membelah malam yang dingin, malam yang sunyi hanya terdengar suara deru mobil sport Radit. Tepat pukul 22.30 WIB, Radit membawa Nissa pergi. Radit meninggalkan pesta, walau masih ada beberapa rekan bisnisnya. Radit merasa waktu berputar terlalu lama. Radit hanya ingin bersama Nissa, menghabiskan malam panjang yang penuh cinta.
Tanpa meminta persetujuan Nissa, Radit mengemudikan mobilnya menuju Villa pribadinya. Sebelumnya Radit sudah meminta penjaga Villa menyiapkan segalanya. Pesta kejutan manis yang kedua bagi Nissa. Radit hanya ingin bersama Nissa. Memiliki cinta Nissa sepenuhnya, membuang rasa takut kehilangan Nissa. Radit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Radit menikmati waktu bersama Nissa di dalam mobil. Selama mengemudikan mobilnya, Radit tak sekalipun melepaskan tangan Nissa. Radit menggenggam erat cinta yang kini luluh dalam ketulusannya.
Setiap sentuhan Radit, kehangatan Radit sedikit demi sedikit membuat Nissa terbuai. Nissa mulai larut dalam hangat gairah cinta Radit. Nissa berusaha sekuat tenaga menahan hasratnya. Namun semua sia-sia, hangat dan cinta Radit nyata menyentuh hati terdalamnya. Hati yang kosong tanpa cinta, gelap tanpa pelita kasih sayang. Radit semakin tertantang, saat melihat Nissa mulai luluh dalam buaiannya. Dua mata Nissa yang terpejam, bibir merah Nissa. Semakin membangkitkan jiwa Liar Radit.
Setelah hampir satu jam Radit mengemudikan mobil. Akhirnya mobil Radit berhenti di sebuah halaman Villa. Nampak beberapa obor menyala, menyambut kedatangan Radit dan Nissa. Kehangatan di dalam mobil dan kini pelita obor di halaman Villa. Semakin membakar jiwa Nissa yang dingin. Nissa merasakan dadanya mulai terasa panas, menahan cinta yang tak mampu ditahannya. Radit melihat gelagat Nissa, tanpa banyak bicara. Radit menggendong tubuh Nissa masuk ke dalam Villa. Radit mencium hangat bibir mungil Nissa. Keduanya mulai tak sadarkan diri, lupa akan suasana malam yang sunyi.
"Sayang, aku menginginkanmu!" bisik Radit lirih tepat di samping telinga Nissa.
Hangat hembusan napas Radit, menyusup di telinga Nissa. Sontak tubuh Nissa bergidik, Nissa merasakan desiran panas menjalar di seluruh tubuhnya. Nissa terpaku, tatkala merasakan sentuhan liar Radit. Tangan Radit mulai nakal, bermain dengan tubuh Nissa. Tak ada penolakan atau mengiyakan, tubuh Nissa bak kobaran api. Terasa panas dan penuh gairah. Nissa merasakan setiap sentuhan Radit. Hanya terdengar suara erangan dari bibir Nissa. Suara merdu yang membangkitkan jiwa Radit.
__ADS_1
Radit membaringkan Nissa di tempat tidur, perlahan Radit melepas hijab Nissa. Menyibak rambut panjang Nissa, lalu mencium tengkuk putih Nissa. Lama Radit menyusup di balik tengkuk Nissa, Radit mencium lembut dan hangat kulit Nissa yang putih. Tangan Nissa memegang sprei dengan sangat erat. Menahan hatinya yang bersiap menjerit, merasakan hangat sentuhan Radit. Nissa tak lagi berdaya, sentuhan Radit melemahkan syarafnya dan tulang-belulangnya.
Waktu terus berlalu, malam semakin larut. Namun berbanding terbalik dengan hasrat Radit yang semakin menggebu. Radit melepas gamis yang dikenakan Nissa. Menatap dengan lapar setiap inci tubuh Nissa. Radit bak singa kelaparan yang siap memangsa buruannya. Semakin lama semakin liar, sampai tak lagi ada sehelai benang yang menutupi tubuh Nissa. Radit tak lagi terkendali, dia larut dalam cinta dan gairah. Kini tak lagi ada yang menghalangi Nissa dan Radit. Sentuhan hangat dan ciuman penuh cinta yang kini ada diantara Radit dan Nissa.
"Sayang, maafkan aku!" ujar Radit lirih, Nissa mengangguk lemah memahami arti kata maaf Radit. Nissa menutup kedua matanya, menahan sakit dengan memegang ujung sprei. Nissa menyerahkan harta berharganya. Mahkota terindah yang selama ini dijaga olehnya.
"Awwwwsss!" ujar Nissa lirih, sembari mencengkram erat tubuh Radit.
"Maafkan aku sayang!" ujar Radit lagi, Nissa mengangguk sembari menahan rasa sakit. Radit menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulainya. Nissa tertegun menerima semuanya.
"Awwwssss, sakit!" teriak Nissa, Radit menghela lega. Radit mencium kening Nissa dengan penuh cinta. Setetes darah segar, bukti ketulusan dan kemurnian cinta Nissa.
"Maafkan aku sayang, maaf!" bisik Radit lirih, Nissa mengangguk sembari menahan rasa sakit.
FLASH BACK OFF
"Minggir, aku belum sholat subuh!" ujar Nissa dingin, Radit mengangguk lalu membiarkan Nissa melewatinya.
"Awwwss!" teriak Nissa, saat Nissa berjalan. Nissa merasakan sakit yang teramat, tatkala dia berjalan. Radit menatap iba, menyadari Nissa sakit dirinya. Nissa berjalan tertatih menuju kamar mandi. Langkah sangat pelan, bahkan kura-kura mungkin lebih cepat dari Nissa.
"Sayang, aku bantu!"
__ADS_1
"Tidak perlu, bantuanmu akan membuatku semakin lama!"
"Percayalah sayang, aku hanya akan membawamu masuk ke kamar mandi.
"Tidak perlu, awwwss!" sahut Nissa, sembari meringis kesakitan. Nissa berjalan membungkuk, kedua kakinya terasa lemas. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Terdengar Nissa menggerutu, menyesal akan kejadian semalam. Jika akhirnya dia merasakan sakit yang teramat.
"Tidak adil, aku kesakitan dia yang bahagia!" batin Nissa kesal. Radit tersenyum melihat kekesalan Nissa. Radit merasakan cintanya semakin besar pada Nissa.
"Kamu akan selesai besok pagi, jika jalanmu pelan seperti ini!" ujar Radit, lalu menggendong Nissa. Radit membawa Nissa menuju kamar mandi.
"Turunkan, aku bisa sendiri!" teriak Nissa menolak bantuan Radit.
"Sayang, aku hanya akan mengantarmu. Aku tidak akan melakukan apa-apa?"
"Bohong, laki-laki tidak akan peduli sakit wanita. Pasti mereka ingin melakukannya lagi dan lagi!" ujar Nissa kesal, di sela rintihannya. Radit tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Kalau sakitmu hilang, aku tidak menolak melakukannya lagi!"
Buuuggghh
"Tidak!" teriak Nissa menolak perkataan Radit, sesaat setelah memukul dada bidang Radit.
__ADS_1
......................