
Aku hanya ingin memberikan ini!"
"Nissa, dia!" Ujar Radit terbata, tangan Radit bergetar memegang sebuah foto yang diberikan Amira padanya. Radit bahagia sekaligus hancur, menyadari dirinya tak lagi berarti dalam hidup Nissa.
"Satu jam yang lalu, Nissa melahirkan dua putri cantik. Nissa memberikan foto ini padamu. Nissa memintamu, memberikan nama pada putri kalian. Namun jika kamu menolak, Nissa sendiri yang akan memberikan nama!"
"Amira, dimana istri dan anakku?"
"Tidak ada hakmu mengetahui, dimana mereka berada? Berikan nama untuk putrimu, agar kamu bisa mengenali mereka kelak. Kala mereka berada di sekitarmu!" Sahut Amira dingin.
Bruuukkk
"Nissa, maafkan aku. Izinkan aku memeluk mereka!" Ujar Radit lirih, sesaat setelah Radit jatuh terduduk. Radit memeluk foto putri cantiknya.
Radit mendekap erat selembar foto yang diberikan Amira. Radit mendekap erat, seakan Radit tengah mendekap erat dua putri kembarnya. Bayi merah yang baru terlahir, terlihat begitu cantik dan suci. Radit merasakan dunianya hancur, ketika dia menyadari Nissa melahirkan tanpa dia. Radit tak lagi mampu berdiri, saat dia melihat putrinya lahir tanpa mendengar suara azannya. Radit terpukul, rasa sakitnya tak mampu diutarakan. Tetes demi tetes air mata Radit jatuh, menampakkan kehancuran hidupnya.
Sanjaya terpaku, tangis Radit terdengar menyayat hatinya. Tubuh lemahnya tak mampu berdiri, Sanjaya hampir terjatuh. Seandainya Alvira tidak menopang tubuhnya. Sanjaya tak berdaya, melihat Radit putra kebanggannya hancur. Hatinya teriris, terasa ngilu menatap sang putra menangis sembari mendekap foto kedua putri kecilnya. Dua bidadari dalam hidup Radit, tapi kini menjadi luka yang begitu dalam. Kala Radit takkan pernah bisa melihat mereka secara langsung. Sanjaya tak lagi mampu berdiri, Alvira menuntun Sanjaya duduk. Saskia menggeleng tak percaya, melihat kakaknya yang tangguh. Kini lemah dan hancur. Semua karena Nissa yang pergi membawa pelita dalam hidup Radit. Kini tinggalah gelap dan hampa dalam hidup Radit.
__ADS_1
"Radit, kamu ingin memberi nama putrimu atau tidak. Aku harus mengatakan keputusanmu pada Nissa!" Ujar Amira dingin, Radit diam tak bersuara. Alvira dan Saskia menatap, nampak jelas amarah tersirat dari tatapan mereka. Amarah yang tak pernah dipedulikan oleh Amira.
Saskia marah melihat sikap dingin Amira pada Radit. Sikap yang tak menghargai kepedihan Radit. Amira tak sedikitpun merasa bersalah atau menyesal telah bersikap kasar pada Radit. Saskia marah, melihat Amira yang seolah menyalahkan Radit akan kepergian Nissa. Amira tak memikirkan rasa sakit Radit. Ketulusan yang terpancar dari air mata Radit. Rasa sakit tersisih dari hidup dua buah hatinya. Saskia mengepalkan tangannya, menahan amarah yang mulai menguasai benak dan pikirannya. Kasih sayangnya pada Radit, memberikan kekuatan yang begitu besar. Sampai Saskia berpikir sanggup melawan Amira.
"Baiklah, aku akan menghubungi Nissa!" Ujar Amira memutuskan, Radit langsung mendongak. Radit berdiri dengan tubuh yang lemah. Kedua tangannya tertangkup, memohon pada Amira. Berharap rasa iba, agar Radit bisa memberikan nama pada putrinya.
"Kak Radit, cukup kamu bersikap seperti ini. Kamu tidak selemah ini, jangan kamu kalah oleh Nissa dan Amira. Kamu tidak perlu menghiba pada Nissa. Kamu masih memiliki Zain, aku, papa dan kak Alvira!" Ujar Saskia, Radit menggeleng lemah. Dia meletakkan telunjuknya tepat di tengah bibirnya. Radit berharap, Saskia diam dan tak bicara. Radit tidak ingin, sikap Saskia membuat keadaan semakin keruh.
"Amira, pergilah dari rumah kami. Katakan pada Nissa, kakakku tidak akan pernah memberikan namanya pada bayinya. Aku tidak akan pernah mengakui mereka. Aku hanya memiliki satu keponakan, hanya Zain!" Ujar Saskia, Radit langsung menoleh. Tatapan Radit membunuh, dua matanya memerah. Amarah Radit mendidih, mendengar perkataan kasar Saskia.
Plaakkk
"Tapi kak!" Ujar Saskia, sembari memegang pipinya yang terasa panas. Radit menangkupkan tangan di depan Saskia. Memohon agar Saskia diam dan tak mencampuri urusannya dengan Amira.
"Saskia, jangan ikut campur!" Ujar Sanjaya, sontak Saskia berdiri menjauh dari Amira. Kesal dengan keputusan Radit yang terus memohon pada Amira.
"Radit, aku harus pulang. Aku sudah memberitahumu tentang kelahiran dua keponakan cantikku. Tugasku sudah selesai, kamu memberikan namamu atau tidak? Bagi Nissa atau diriku, akan sama saja. Nama besar keluargamu tidak terlalu penting!"
__ADS_1
"Amira, izinkan aku menghubungi Nissa. Aku ingin melihatnya, sebentar saja Amira. Aku ingin melihat putri-putriku!" Pinta Radit tulus, tangan Radit menangkup tepat di depan dadanya. Tatapan Radit menunduk, berharap bisa melihat sekali saja kedua putrinya. Radit terus menunduk, Amira terdiam tak bersuara. Menatap Ragu Radit yang tengah menghiba di depannya.
"Radit, aku tidak bisa. Nissa belum sadarkan diri. Proses kelahiran Nissa tidak mudah. Nissa melahirkan melalui operasi cesar. Tekanan darah Nissa tinggi, seminggu sebelum HPL. Sebab itu kak Zahra, memutuskan persalinan Nissa melalui operasi cesar!"
Duuuaaaarrr
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku? Nissa berjuang melawan maut tanpaku. Dia berjuang sendiri, tanpa aku disisinya. Kenapa kamu sekejam ini padaku?"
"Mungkin kamu hilang ingatan, kamu lupa alasan yang membuat Nissa sendirian saat ini. Kamu lupa, sekejam apa keluargamu pada Nissa saudaraku? Sampai dia merasa sendiri di rumah sebesar ini. Kamar mewah yang khusus kamu berikan pada Nissa. Tak lebih dari penjara bagi Nissa. Hanya di kamar itu, tempat Nissa hidup selama tinggal bersamamu. Rumah besarmu terasa dingin, tak ada hangat yang menyapa Nissa. Jadi jangan pernah tanyakan, siapa yang lebih kejam? Jelas kamu sudah mengetahui jawabannya. Satu hal lagi, Nissa sudah terbiasa sendiri. Dia tidak butuh kehadiranmu, entah sebagai suami atau ayah dari putri-putrinya?" Sahut Amira kasar dan lantang, Radit menggeleng lemah. Lagi dan lagi, Amira membuat Radit hancur dan terpuruk. Amira membuka tabir kenyataan yang begitu pedih.
"Cukup Amira, Radit tidak pernah bermaksud seperti itu. Semua ini hanya kesalahpahaman, cukup kamu menyudutkan Radit!" Ujar Rayhan, sembari menahan tangan Amira. Menghentikan langkah Amira yang pergi meninggalkan Radit dengan penyesalan. Rayhan datang menjemput Radit, tapi dia terkejut melihat mobil Amira. Semenjak kepergian Nissa, Amira memutus hubungan dengan Rayhan. Memangkas rasa cinta yang mulai bersemi dihati Rayhan dan hatinya.
"Lepaskan, aku tidak ada urusan denganmu!"
"Amira, izinkan Radit melihat putrinya. Kasihanilah dia, seorang ayah yang tak berdaya. Radit berhak melihat mereka, bagaimanapun Radit ayah kandung mereka?"
"Lepaskan!" Ujar Amira meronta, Rayhan terus menahan tangan Amira.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan meminta kak Zahra. Kamu bisa melihat putrimu, tapi tidak saudaraku!"
"Terima kasih Amira, terima kasih!"