
Tiga hari berlalu, kondisi Nissa belum membaik sepenuhnya. Nissa masih dirawat insentif oleh Zahra, di bawah pengawasan dokter spesialis penyakit dalam. Zahra mengawasi kondisi kehamilan Nissa, sedangkan dokter Maulana mengawasi kondisi tekanan darah Nissa. Kedua dokter yang saling membantu, menyembuhkan Nissa.
Amira tak pernah meninggalkan Nissa. Amira memilih cuti bekerja. Amira tak pernah pulang, dia hidup di rumah sakit. Amira tidak percaya pada Radit. Dia ingin menjaga Nissa, menjauhkan Nissa dari rasa sakit yang ditinggalkan Radit. Bahkan Amira melarang Radit berada di ruangan Nissa. Amira tidak ingin, saat Nissa tersadar. Nissa melihat wajah Radit yang menyebalkan. Amira ingin dirinya yang pertama kali dilihat oleh Nissa. Kedua orang tua Amira tidak bisa melarangnya. Amira bukan pribadi yang mudah ditahan. Dia akan melakukan segalanya sesuai keinginannya.
Radit tak pernah meninggalkan Nissa, meski dia harus menunggu di luar ruangan. Kemarahan Amira, ancaman Amira dan ketegasan Amira bukan omong kosong. Radit tidak ingin memancing amarah Amira. Jika akhirnya Radit harus kehilangan Nissa selamanya. Mengingat, bukan hanya Amira yang akan menghalanginya bersama Nissa. Daniel satu-satunya orang yang paling ingin membawa Nissa pergi.
"Amira, bagaimana kondisi Nissa? Apa dia sadar, sebelum waktu yang aku perkirakan?" ujar Zahra, Amira menggelengkan kepalanya pelan. Tatapan lesu Amira, menampakkan jelas kekhawatirannya. Amira tak sanggup lagi, dia tidak bisa melihat Nissa terbaring tak berdaya. Senyum menawan Nissa tak terlihat, bak cahaya dalam persaudaraan mereka berdua padam.
"Baiklah Amira, aku akan memeriksanya. Kamu bisa istirahat, aku sudah membelikanmu sarapan!"
"Aku tidak lapar!" sahut Amira, Zahra tersenyum. Lalu, menepuk pelan tangan Amira pelan dan lembut. Tangan yang selalu menggenggam tangan dingin Nissa. Tangan yang seolah kuat menopang lemah tubuh Nissa. Zahra menarik tangan Amira, menuntun Amira menuju meja.
"Makanlah, sebelum semua ini dingin. Aku ada disini, Nissa akan baik-baik saja. Lihatlah tubuh Nissa terbaring lemah, jangan biarkan tubuhmu lemah juga. Siapa yang kelak menjaga Nissa? Siapa yang sanggup merawat putra Nissa nanti? Tetaplah kuat, setidaknya demi Nissa dan bayinya. Aku berjanji, akan tetap disini sampai kamu selesai sarapan. Aku tidak akan membiarkan Nissa sendirian!" tutur Zahra hangat penuh cinta. Perhatian Zahra, bak seorang kakak yang tak pernah ingin melihat adik-adiknya tumbang.
"Dokter Zahra benar, istirahatlah lebih dulu. Kami akan menjaga Nissa!" sahut dokter Alan menimpali, dokter spesialis penyakit dalam.
"Kamu!" ujar Amira tak percaya, Alan mengangguk pelan.
"Dokter Zahra, kenapa dia yang merawat Nissa?" ujar Amira tak percaya, Alan tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Muhammad Maulana Farhan, dokter tampan yang lebih dikenal dengan panggilan Alan. Dokter yang kini menjadi dokter penyakit dalam. Amira tak percaya, ketika dia melihat Alan ada di depannya. Bahkan di samping Nissa, yang tengah terbaring lemah tak berdaya. Zahra memahami amarah Amira, rasa tidak suka Amira pada Alan itu nyata. Namun mengingat kondisi Nissa, amarah Amira tak sepantasnya ada.
"Amira, kamu percaya padaku. Jika memang percaya padaku, biarkan dokter Alan memeriksa Nissa!"
__ADS_1
"Tapi!"
"Amira, lupakan kesalahpahaman di masa lalu. Sekarang semuanya berubah, Nissa sudah berkeluarga dan segera menjadi seorang ibu. Kamu mulai dewasa, meski terkadang sikap manjamu masih terlihat. Sedangkan dokter Alan kini telah menjadi dokter spesialis yang hebat. Impian yang terwujud. berkat dukungan dari seseorang. Meski akhirnya mereka tak bersama menikmatinya!" tutur Zahra lirih, Amira masih terlihat kesal. Zahra mengangguk pada Alan, meminta Alan segera memeriksa Nissa. Sedangkan dirinya akan membujuk Amira.
"Kenapa kakak membelanya?" ujar Amira lirih, dengan raut wajah yang masih kesal. Zahra tersenyum, sembari menyiapkan sarapan untuk Amira. Zahra memberikan suapan pertama pada Amira. Bukannya menolak, Amira malah membuka mulutnya lebar-lebar. Amira bak anak kecil di depan Zahra. Kasih sayang tulus Zahra, membuat Nissa dan Amira nyaman sejak dulu.
"Amira!"
"Hmmm!" sahut Amira dengan mulut penuh makanan.
"Amarahmu memang benar, kecewa tidak salah. Namun kerasmu itu tidak pantas. Apalagi pada Radit yang memang berhak akan Nissa. Dia suaminya, bukan orang lain. Apapun yang pernah terjadi diantara mereka. Itu tak lebih dari ombak yang menerpa perahu pernikahan mereka!"
"Tapi!" sahut Amira, Zahra langsung menyuapi Amira dengan makanan. Alhasil, Amira langsung diam.
"Amira, mungkin amarahmu tidak membiarkan hatimu memaafkan Radit. Namun percayalah, Nissa tidak akan menyukai sikapmu pada Radit. Bukan karena dia mengabaikan sikap Radit padanya. Namun status Radit sebagai suaminya, membuat Nissa takkan membiarkan Radit terhina. Kelak, saat kamu sudah menikah. Kamu akan mengerti arti pengabdian seorang istri!" tutur Zahra lembut, Amira mendengus kesal. Zahra terus menyuapi Amira, membujuk Amira dengan kasih sayang. Berharap Amira mengerti, akhirnya mengizinkan Radit menemani Nissa.
"Izinkan Radit berada disisi Nissa, setidaknya bergantian denganmu!"
"Hmmm!" ujar Amira, Zahra menepuk pelan tangan Amira. Tatapan penuh harap, terpancar nyata dari du bola mata Zahra. Akhirny dengan berat hati, Amira mengizinkan Radit menjaaga Nissa.
"Baiklah!"
"Tuan Radit, masuklah!" teriak Zahra, Amira melirik ke arah Zahra. Ketika Radit masuk ke dalam, sesaat setelah Zahra berterik memanggil Radit.
__ADS_1
"Kakak sudah merencanakannya!" ujar Amira kesal, Zahra hanya tersenyum. Seakan pemikiran Amira ada benarnya.
Ketika Amira dan Zahra sibuk berdebat tentang Radit. Dokter Alan tengah memeriksa Nissa dengan sangat teliti. Tak satupun terlewatkan oleh dokter Alan. Zahra mengetahui cara kerja Alan yang selalu profesiaonal. Zahra meminta Radit masuk, salah satunya karena Alan tengah memeriksa Nissa. Bagaimanapun Alan dan Nissa bukan muhrim?
"Kondisi Nissa mulai membaik, kita bisa menghentikan pemberian obat. Nissa sudah mulai stabil, meski kondisi tekanan darah Nissa masih tinggi. Kita hanya perlu menjaga pola makan Nissa!" tutur Alan menerangkan, Radit mengangguk mengerti. Amira berdiri tepat di samping Radit dan Alan, Zahra menarik tangn Amira. meminta Amira tidak melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Terima kasih dokter Alan!" ujar Radit, sembari mengulurkan tangan. Alan mengangguk mengiyakan.
"Amira!" ujar Zahra, sembari menggelengkan kepalanya. Amira menoleh dengan seutas senyum sinis.
"Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin melihat dua laki-laki hebat yang pernah menyakiti Nissa. Dua laki-laki yang membuat Nissa jatuh cinta, tapi mereka laki-laki yang menyakiti Nissa dan hampir membuat Nissa tiada!"
"Amira, aku hanya masa lalunya. Nissa sudah memiliki masa depannya!"
"Kamu benar dokter Alan, kamu hanya masa lalu dan tak pantas diingat oleh Nissa!" ujar Amira penuh amarah.
"Tuan Radit, tidak perlu heran. Dia laki-laki yang dicintai Nissa. Sekarang, dia laki-laki yang menyembuhkan Nissa. Saat anda yang menyakitinya!"
Deg
Detak jantung Radit terhenti, perkataan Amira bak sebilah pisau yang menusuk dadanya. Kesalahan fatal yang dilakukan Radit, terus diungkit oleh Amira. Bahkan kini Amira, membandingkannya dengan laki-laki di masa lalu Nissa. Laki-laki yang tengah menyembuhkan luka yang ditorehkan olehnya.
"Alan!" ujar Nissa lirih, dengan suara lemahnya. Suara yang tertahan alat ventilator yang dipakainya.
__ADS_1
"Nissa!" teriak Amira, langsung berhambur memeluk tubuh Nissa. Tatkala Amira melihat dua mata Nissa terbuka.
"Bukan namaku Nissa, tapi namanya yang kamu sebut pertama kali. Siapa dia Nissa? Siapa dia bagimu? Sejauh apa hubungan kalian? Kenapa aku sakit mendengarmu memanggilnya? Hatiku terasa ngilu, menyadari dia yang teringat kala dirimu tersadar. Jantungku berhenti berdetak, ketakutan akan kehilanganmu. Siapa dia Nissa? Siapa dia?" batin Radit pilu, menatap Nissa yang tengah terbaring lemah.