Senja Pengganti

Senja Pengganti
Hati yang mengalah


__ADS_3

Hari sudah sore, tepat pukul 16.00 WIB yang terlihat di jam tangan Nissa. Terdengar helaan napas dari hidung Nissa. Menampakkan jelas beban kerjanya selama seharian. Pertama kalinya Nissa pulang sangat terlambat. Nissa sudah menghubungi Radit, meminta izin pulang terlambat. Ujian akhir sekolah semakin dekat. Alasan yang membuat Nissa sibuk seharian di sekolah. Akhirnya setelah seharian sibuk dengan laptop, Nissa bisa pulang ke rumah. Entah kenapa dia sangat merindukan Radit? Perasaan yang tak biasa, ketika hati kecil Nissa mulai mencari bayangan Radit.


Nissa segera membereskan semua barangnya. Jika tidak segera pergi, Nissa akan kehilangan senja dan kemungkinan jalanan sepi. Maklum, sekolah tempat Nissa mengajar ada di desa terpencil. Jalan yang berkelok dan menanjak, menjadi ciri khas jalan menuju desa. Berkali-kali Radit meminta Nissa berhenti bekerja. Setidaknya sampai Nissa melahirkan. Namun permintaan Radit berakhir dengan diam. Ketika melihat Nissa mengiyakan permintaan Radit. Namun dengan wajah sedih dan berat. Alhasil, Radit mengalah dengan membiarkan Nissa terus bekerja. Selama Nissa bahagia, Radit akan berusaha memenuhinya.


"Senja!" batin Nissa, kala sinar jingga menerpa wajahnya. Tatapannya silau, sinar jingga matahari terlihat begitu terang.


Nissa mengendarai sepeda motor maticnya perlahan. Langit mulai terlihat jingga, pertanda senja mulai menampakkan wajahnya. Sebentar lagi senja akan hilang, bersamaan dengan datangnya sang petang. Nissa mengendarai sepeda motornya perlahan. Jarak sekolah menuju rumah Radit cukup jauh. Sekitar tiga puluh menit, baru Nissa sampai di rumah.


"Dia sudah datang!" batin Nissa senang, ketika melihat mobil Radit sudah terparkir manis.


Nissa melangkah dengan bahagia, akhirnya dia bisa bertemu dengan Radit dan Zain. Namun kebahagiannya hanya sesaat. Semua berakhir, saat Nissa mendengar suara tawa yang tak asing ditelinganya. Suara tawa yang menggantikannya dalam keluarga besar Kusuma. Suara tawa yang mulai terdengar kembali di rumah Radit. Tawa yang seolah ingin mengatakan, jika semua miliknya dan akan selalu menjadi miliknya.


"Assalammualaikum!" sapa Nissa ramah, Zain menoleh ke arah Nissa. Radit yang semula sibuk dengan pekerjaannya. Langsung berdiri menyambut Nissa. Rayhan ada diantara Alvira dan Radit. Bahkan Sanjaya juga duduk bersama dengan putra dan cucunya. Formasi lengkap dan hangat keluarga Radit.


"Mama!" teriak Zain, sembari berlari memeluk Nissa. Alvira tertegun mendengar panggilan penuh cinta Zain pada Nissa. Pelukan hangat yang terasa asing untuk Alvira ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


Nissa mencium punggung tangan Radit, sembari menerima pelukan hangat Zain. Nissa tersenyum menutupi rasa cemburunya. Melihat sambutan hangat suami dan anak sambungnya. Nissa tidak tega merusak semuanya dengan rasa cemburu yang tidak jelas. Nissa berjongkok, memeluk Zain hangat dan penuh cinta. Pelukan yang diiringi tatapan sendu Alvira.


"Sayang, mama masih kotor. Zain bermain dengan mama Alvira!" pinta Nissa hangat, Zain menggelengkan kepalanya pelan. Nissa tersenyum, lalu mendongak ke arah Radit. Kedipam mata Radit, isyarat dia mengerti keinginan Nissa.


"Zain, mama belum mandi. Setelah mama mandi, mama akan bermain dengan Zain!" ujar Radit, Zain mengerucutkan bibirnya. Zain marah, dia tidak bisa bermain dengan Nissa.


Alvira hanya bisa diam, menatap nanar hubungan Nissa dan Radit. Keluarga yang ditinggalkannya demi kesuksesan. Kini tengah bahagia tanpa dirinya. Tawa bahagia yang seharusnya ada bersamanya. Tak lagi bisa dia miliki seutuhnya. Alvira hancur tak bersisa, bukan hanya cintanya yang pergi. Buah cinta yang selalu diidamkan setiap pasangan. Kini tak lagi menganggapnya ada, sekadar mengingat namanya saja tidak.


Nissa berjalan menuju kamarnya, sesaat setelah Zain pergi menemui Alvira. Radit menatap punggung Nissa yang semakin jauh. Ada rasa yang tak mudah dimengerti. Menatap punggung Nissa yang seolah menyimpan rasa sakit. Akhirnya, Radit memutuskan menyusul Nissa. Radit tidak sanggup membayangkan kesepian Nissa. Radit berlari mengejar Nissa, meninggalkan pekerjaannya. Lagi dan lagi Alvira hanya bisa terdiam. Menatap sikap hangat Radit yang dulu mungkin pernah dia rasakan dan kini hanya angan.


"Kenapa terdiam Alvira? Kamu menyesal telah meninggalkan Radit!" ujar Rayhan spontan, Alvira menoleh dengan tatapan terkejut.


"Aku!" sahut Alvira tertahan, suaranya terhenti dan tak lagi mampu mengucapkan kata lain. Alvira malu mengakui kebodohannya. Sikap bodoh yang membuatnya kehilangan segalanya.


"Alvira, aku mengenal kalian berdua. Radit dulu sangat mencintaimu, tapi sekarang Nissa yang ada dalam hidupnya. Jangan pernah berusaha menjadi yang ketiga diantara mereka. Kesempatanmu berakhir, bersamaan dengan tangan Radit yang menggenggam tangan Nissa. Sekali saja kamu berusaha, aku pastikan akan menghapus namamu dalam daftar sahabatku!"

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu melindungi Nissa? Kamu menyukainya?" ujar Alvira, Rayhan tersenyum simpul. Ada rasa geli, sekaligus tak percaya. Saat Alvira tanpa sengaja mengakui niat jahatnya. Rayhan semakin heran, ketika Alvira mampu berpikir ada rasa dihatinya untuk Nissa. Pemikiran bodoh yang tak mungkin terjadi, bahkan dalam mimpi sekalipun.


"Nissa sama seperti Radit dalam hidupku. Sahabat sekaligus saudara angkatku. Aku tidak akan memilih diantara Radit dan Nissa. Aku akan melindungi hubungan mereka. Sebab akan banyak hati yang terluka, bila hubungan Radit dan Nissa berakhir!"


"Terutama hati Amira, saudara yang sangat menyayangi Nissa. Dia mampu melakukan segala hal, seandainya itu bisa membuat Nissa bahagia. Dua tamparan dari laki-laki yang paling disayanginya. Terasa begitu menyakitkan, tapi tak sesakit melihat air mata Nissa yang menetes. Amira, dia alasanku membela Nissa dan akan selalu melindungi Nissa. Sebab hati Amira terlalu rapuh, untuk hancur kesekian kalinya!" batin Rayhan pilu, sembari menunduk.


"Rayhan, siapa yang ingin kamu lindungi? Hati siapa yang hancur? Kenapa kamu bersikap aneh?" cecar Alvira, Rayhan langsung menoleh.


"Siapapun itu bukan urusanmu? Jangan pernah melakukan hal yang kelak merugikanmu!" ujar Rayhan, lalu berdiri meninggalkan Alvira sendirian. Alvira hanya bisa termenung, menyadari tak ada lagi cinta dan pertemanan untuknya.


"Tante Alvira, Zain lelah!" ujar Zain dengan wajah sayu, Alvira tersentak. Dia menatap nanar wajah Zain. Putra yang ditinggakannya begitu saja. Semua demi ambisi dan kesuksesan semunya.


Alvira menangkup wajah Zain, mencium hangat kening putranya. Alvira menangis dalam hati, menyadari putranya tak menganggapnya sebagai seorang ibu. Panggilan tante yang terdengar di telinga Alvira. Bak sebilah pisau mengiris tipis hatinya. Terasa perih dan ngilu, sampai dia tak sanggup bernapas. Alvira seakan ingin mati, mendengar putranya memanggil Nissa dengan sebutan mama. Alvira mendekap erat kepala Zain, dadanya terasa begitu sesak. Alvira benar-benar terluka.


"Tante, kepala Zain sakit!" teriak Zain, kala pelukan Alvira terlalu erat. Zain mendorong tubuh Alvira, menolak pelukan hangat dari sang mama.

__ADS_1


"Sekali saja, sekali saja kamu panggil aku mama. Aku bukan orang lain, aku ibu kandungmu. Aku yang melahirkanmu, bukan Nissa. Aku yang pantas kamu panggil mama, bukan Nissa. Seandainya aku mengetahui sesakit ini hatiku, saat mendengarmu memanggil Nissa mama. Takkan pernah aku pergi meninggalkanmu. Salahkah, jika sekarang aku menginginkan semuanya kembali. Dulu semua ini milikku dan akan selalu menjadi milikku!" batin Alvira, sembari terus mendekap Zain.


__ADS_2