
Waktu berlalu begitu cepat, tapi terasa lambat bagi Radit. Lima bulan berlalu, semenjak Nissa pergi dari negara ini. Selama lima bulan, Radit hidup dengan separuh jiwa. Tak ada senyum dalam hidupnya. Semangat Radit tersisa hanya, untuk Zain dan penantian akan buah hatinya. Menanti akhir hukuman yang diberikan Nissa padanya. Radit terus bersabar, bersujud dan menghiba pada-NYA. Berharap takdir membawa kembali Nissa dalam hidupnya. Radit mulai mencari arti hidup, ketenangan yang pernah ditunjukkan Nissa. Arti menjadi imam yang sesungguhnya bagi Nissa. Meski kini semua terlambat, Radit berdoa agar Nissa kembali dan mengisi hari-harinya yang kosong. Jiwa yang hampa tanpa tatapan teduh Nissa. Wanita penyuka senja yang terluka, karena menjadi senja pengganti dalam keluarga Radit.
Radit mungkin tak lagi tersenyum, tapi dia selalu tenang dan tegar di depan Zain putra kecilnya. Radit bertahan dalam keterpurukannya. Semua demi Zain putra yang dititipkan Nissa padanya. Zain putra yang lahir dari rahim Alvira. Namun terikat oleh hati dengan Nissa. Zain yang selalu menganggap Nissa, layaknya ibu kandung. Satu-satunya semangat dan kuat Radit. Hanya Zain yang membuatnya pulang ke rumah. Radit menghabiskan separuh hari di kantor dan sisanya bersama Zain. Tak ada hangat Radit sebagai seorang putra dan kakak. Sanjaya dan Saskia merasa asing dengan Radit. Mereka melihat sisi Radit yang lain, dingin tak berhati. Namun akan hangat, kala Radit bersama Zain.
Lima bulan setelah kepergian Nissa, semua berubah dan tak lagi sama. Radit larut dalam pekerjaannya, dia akan pulang menemui Zain. Setelah itu, Radit kembali larut dalam pekerjaannya. Menyibukkan diri, berharap lupa akan sosok Nissa. Radit tak lagi masuk ke dalam kamarnya. Radit tak mampu bernapas, saat dia merasakan bayangan Nissa yang terus hadir dalam kamarnya. Harum tubuh Nissa, tak pernah pergi dari kamarnya. Setiap sudut kamarnya, mengingatkan Radit akan Nissa. Sebuah penjara yang kini disadari oleh Radit. Satu-satunya ruangan yang menerima Nissa diantara banyak ruangan di rumah besarnya. Rasa bersalah dan penyesalan, membuat Radit tak lagi sanggup menginjakkan kakinya di kamarnya bersama Nissa. Keputusan besar yang diambil Radit, setelah kepergian Nissa. Keputusan yang menyayat Sanjaya, saat dia melihat Radit tidur di sofa dalam ruang kerjanya. Tak lagi Radit merasakan nyaman tempat tidurnya. Sekadar melepaskan lelah dan penantnya bekerja.
Selama lima bulan, tak sekalipun Radit melewatkan moment penting dalam hidup Zain. Satu-satunya cara Radit, bahagia dan mengingat senyum Nissa. Zain pengingat Radit akan Nissa, putra yang lahir dari kasih sayang Nissa. Setiap hari, selama lima bulan terakhir. Radit selalu mengantar dan menjemput Zain, kecuali saat Alvira meminta izin bersama Zain. Saat itulah Radit tidak lagi peduli akan Zain. Radit tak ingin dekat lagi dengan Alvira. Bahkan bertemu dengan Alvira, Radit tak lagi betharap akan penyatuannya dengan Alvira. Semua hanya masa lalu dan selamanya masa lalu.
"Radit, kamu baru pulang!" Sapa Sanjaya, Radit menoleh perlahan. Lalu mengangguk pelan, tanpa menyahuti perkataan Sanjaya. Tatapan Radit dingin, tak ada lagi hangat pada ayah kandungnya. Lima bulan yang lalu, terakhir kali Radit duduk di satu meja yang sama dengan Sanjaya dan Saskia.
"Radit, makan malam bersama kami. Alvira sudah datang sejak tadi. Dia menemani Zain, menunggumu pulang!" Ujar Sanjaya, Radit menoleh. Nampak Alvira duduk tepat di samping Zain, berhadapan dengan Saskia. Radit sudah menduga Alvira ada di rumahnya. Alvira sudah menghubunginya, meminta izin pergi bersama Zain.
Akhirnya hari ini, Radit tidak menjemput Zain. Alvira meminta waktu berdua dengan Zain. Radit tidak melarang, dia membiarkan Alvira menjemput Zain di sekolah. Radit memilih sibuk di kantor dan baru pulang saat makan malam. Radit pulang tidak untuk makan malam bersama mereka. Radit pulang, hanya untuk melihat Zain. Setelah Zain tidur, Radit akan berangkat ke luar kota. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan secepat mungkin.
"Ifa, tolong siapkan makan malam untukku. Antarkan ke ruang kerjaku setengah jam lagi!" Ujar Radit, Ifa mengangguk mengiyakan. Alvira diam merasakan dingin sikap Radit. Sanjaya dan Saskia tak sanggup menatap wajah Radit. Mereka merasa bersalah, bahkan setelah lima bulan berlalu.
"Radit, sekali saja makan bersama kami. Setidaknya, kamu menghargai Alvira. Dia bukan hanya tamu, dia ibu kandung putramu!"
__ADS_1
"Dia memang ibu kandung putraku, tapi dia salah satu penyebab aku kehilangan istri dan anakku. Aku tidak ingin, kebersamaan kami menjadi alasan Nissa tidak kembali!" Ujar Radit, Alvira tertunduk malu. Dengan isyarat mata, Alvira meminta Ifa membawa Zain masuk ke dalam kamarnya. Alvira tidak ingin, Zain melihat dirinya terhina dengan penolakan Radit.
Dingin sikap Radit, membuat semua orang terdiam. Saskia, orang yang paling bersalah. Dia yang membuat Nissa memilih menyerah dalam pernikahannya. Nissa memilih pergi, jauh dari hidup Radit. Keputusan besar yang kini membuat Radit terpuruk. Pelita dalam hidup Radit yang padam, sampai Nissa kembali mengisi harinya. Entah kapan Nissa kembali membawa pelita dalam hidupnya lagi?
"Kak, sekarang dia tidak ada diantara kita. Dia tidak akan mengetahui, jika kakak makan satu meja dengan kak Alvira!" Ujar Saskia santai, Radit menoleh dengan amarah yang siap meledak.
"Saskia, diamlah!" Ujar Sanjaya, Radit tersenyum sinis. Dia melihat pengertian yang sangat terlambat. Sebuah perhatian yang seharusnya ada, saat Nissa ada di rumah.
"Seandainya, ketegasan papa ada sejak dulu. Mungkin aku tidak akan kehilangan Nissa!" Ujar Radit dingin, Sanjaya seketika menunduk. Perkataan Radit, serasa menusuk jantung Sanjaya.
Plok Plok Plok
"Amira!" Ujar Radit terkejut, saat mendengar suara tepuk tangan. Radit langsung menoleh ke arah Amira. Alvira langsung berdiri, menghampiri Amira yang kini berdiri tepat di depan Radit. Sanjaya dan Saskia mengekor di belakang Alvira. Mereka bertiga merasa heran, melihat kedatangan Amira yang tiba-tiba tanpa suara.
"Kenapa terkejut? Pintu rumahmu terbuka lebar. Aku masuk setelah mengucapkan salam. Ternyata sang tuan rumah sedang sibuk berdebat!"
"Amira, jaga bicaramu. Kamu tamu di rumah ini!" Ujar Alvira, Amira langsung tertawa. Mendengar perkataan Alvira yang menggelikan.
__ADS_1
"Aku memang tamu, sama sepertimu. Namun perbedaannya, aku tidak pernah ingin menjadi nyonya rumah. Seperti niat di hatimu!"
"Amira, jaga bicaramu!" Teriak Alvira dengan nada tinggi. Amira tersenyum, mendengar ancaman Alvira. Amira tidak akan pernah takut, bagi Amira perkataan Alvira hanya omong kosong.
"Diamlah Alvira, aku malas berurusan dengan wanita rendah sepertimu. Aku datang hanya ingin bertemu dengan tuan Radit yang terhormat!" Ujar Amira tegas, Alvira mendengus kesal mendengar perkataan Amira. Alvira ingin membalas Amira, tapi dihentikan oleh Radit.
"Ada apa Amira? Apa yang ingin kamu katakan padaku?"
"Aku hanya ingin memberikan ini!"
"Nissa, dia!" Ujar Radit terbata, tangan Radit bergetar memegang sebuah foto yang diberikan Amira padanya. Radit bahagia sekaligus hancur, menyadari dirinya tak lagi berarti dalam hidup Nissa.
"Satu jam yang lalu, Nissa melahirkan dua putri cantik. Nissa memberikan foto ini padamu. Nissa memintamu, memberikan nama pada putri kalian. Namun jika kamu menolak, Nissa sendiri yang akan memberikan nama!"
"Amira, dimana istri dan anakku?"
"Tidak ada hakmu mengetahui, dimana mereka berada? Berikan nama untuk putrimu, agar kamu bisa mengenali mereka kelak. Kala mereka berada di sekitarmu!" Sahut Amira dingin.
__ADS_1
Bruuukkk
"Nissa, maafkan aku. Izinkan aku memeluk mereka!" Ujar Radit lirih, sesaat setelah Radit jatuh terduduk. Radit memeluk foto putri cantiknya.