Senja Pengganti

Senja Pengganti
Dua Bayi Kembar...


__ADS_3

"Nissa!" teriak Amira, seraya berlari menuju ruang IGD.


Amira panik mendengar kabar tentang Nissa. Zahra langsung menghubungi Amira, begitu dia selesai memeriksa Nissa. Langkah lebar Amira, memecah kesunyian rumah sakit. Ketukan high heels Amira, menggema di lorong rumah sakit. Amira kalut, mendengar Nissa yang tiba-tiba sakit. Padahal beberapa hari yang lalu, kondisi Nissa masih baik-baik saja. Amira tak lagi peduli akan ketenangan rumah sakit. Amira tak mampu lagi ditahan, kecemasan mengalahkan akal sehatnya.


"Nissa, dimana dia? Apa yang terjadi padanya?" teriak Amira pada Radit, Amira sangat marah. Rasa cemas Amira, membuatnya begitu berani. Sampai Amira tidak peduli lagi akan status Radit.


Dua bola mata Amira memerah, air matanya tertahan. Amira kalut, mendengar kondisi Nissa yang tidak baik-baik saja. Bahkan Amira mengemudi dengan kecepatan tinggi, tanpa peduli keselamatannya. Tiba di rumah sakit, alasan Amira melakukan semua itu. Amarah Amira memuncak, tatkala melihat Radit berdiri tertunduk di depan ruang IGD. Jelas ada sesuatu yang terjadi, raut wajah bersalah Radit menjelaskan semuanya.


"Kenapa kamu diam? Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan, jangan hanya diam!" teriak Amira semakin lantang dan penuh emosi. Bahkan Amira mencengkram leher Radit. Tak ada rasa takut atau canggung. Amira hanya ingin mengetahui alasan Nissa terbaring tak berdaya di rumah sakit.


"Amira, lepaskan!" teriak Rayhan, berlari menghampiri Radit dan Amira. Rayhan menahan tangan Amira, meminta Amira melepaskan cengkramannya.


Amira tidak bergeming, dia terus mencengkram kemeja Radit. Amira bak elang yang siap memburu mangsanya tanpa ampun. Sejenak Rayhan tertegun, Rayhan merasa sikap Radit aneh. Tak biasanya Radit diam, melihat sikap tak pantas orang lain padanya. Diam dan kepala tertunduk, seakan mengisyaratkan Radit melakukan kesalahan yang sangat fatal. Raut wajah penuh penyesalan, tergambar jelas di wajah kusutnya. Radit bak tubuh tanpa nyawa, diam membeku tanpa kata.


"Amira, aku mohon lepaskan Radit. Dia sama sepertimu, khawatir melihat kondisi Nissa. Kamu jangan lupa, Nissa istrinya dan bayi di rahim Nissa itu putranya. Radit tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan Nissa. Lepaskan Radit, dia tidak bersalah!" ujar Rayhan membela Radit, Amira menatap tajam Radit. Tatapan yang seolah membunuh Radit. Perlahan Amira melepaskan tangannya, ketika Amira melihat Zahra berjalan ke arahnya.


"Kak!" sapa Amira lirih penuh kepedihan. Zahra mengedipkan kedua matanya. Rayhan terkejut, mendengar Amira memanggil Zahra dengan sebutan kakak. Radit terdiam, hati dan benaknya dipenuhi ketakutan akan kehilangan Nissa.


Zahra memeluk Amira, mengusap lembut punggung Amira. Sontak Amira menangis dalam dekapan Zahra. Air mata Amira membasahi jas putih Zahra. Amira tak mampu menahan air matanya. Dadanya terasa sakit, memikirkan kondisi Nissa. Amira takut terjadi sesuatu, sama seperti lima tahun yang lalu. Bayangan itu bermain dalam pikirannya. Amira tak mampu membayangkan yang akan terjadi pada Nissa. Zahra menepuk pelan punggung Amira. Berusaha menenangkan kondisi Nissa baik-baik saja.

__ADS_1


"Nissa!" ujar Amira, Zahra mengangguk pelan.


"Dia akan baik-baik saja. Nissa tidak lemah, dia mampu melewati semua ini. Jika dulu Nissa bisa berjuang, kenapa sekarang tidak?" ujar Zahra, Radit dan Rayhan menoleh bersamaan.


Radit berjalan gontai ke arah Zahra, Rayhan menahan tubuh Radit yang hampir saja jatuh. Radit tak mengerti arah perkataan Zahra. Dulu, artinya Nissa pernah dalam kondisi yang serupa. Namun perbedaannya, sekarang Nissa tengah mengandung buah cintanya bersama Radit.


"Apa yang terjadi pada Nissa? Maksud dokter dulu, apa yang sebenarnya terjadi pada Nissa?" ujar Radit lirih dengan suara terbata. Radit tak mampu lagi bertanya, rasa bersalah menggerogoti tubuhnya.


"Amira, Nissa tak pernah menceritakannya!" ujar Zahra heran, Amira menggelengkan kepalanya pelan. Radit semakin bingung, sikap Amira dan Zahra benar-benar aneh. Ada rahasia besar yang tersimpan dalam diri Nissa. Sesuatu yang tak pernah diketahui oleh Radit.


"Apa yang terjadi pada Nissa?" ujar Radit dengan nada sedikit tinggi, Zahra menoleh ke arah Amira. Isyarat Zahra meminta izin pada Amira. Anggukan kepala Amira, mengiyakan permintaan Zahra.


"Maksud dokter apa? Sejak awal Nissa tak pernah mengatakannya. Nissa tak pernah membagi suka dan dukanya padaku. Lantas, dimana letak kesalahan saya?" sahut Radit membela diri, Amira menoleh dengan tatapan penuh marah. Rayhan menepuk pelan pundak Radit. Meminta Radit tenang, agar semuanya tenang dan tidak saling menyalahkan.


"Maaf, jika anda tersinggung. Bukankah, saat Nissa datang kemari. Anda sudah bertemu dengannya, bahkan saya yakin anda melihat hasil lab dan obat yang daya berikan pada Nissa. Seandainya, ada sedikit rasa khawatir anda pada Nissa. Pasti anda bertanya, tentang kondisinya dan dua bayi kembarmu!" tutur Zahra, Radit menoleh dengan tatapan tak percaya.


"Kembar!" ujar Radit mengulang perkataan Zahra. Mengisyaratkan, Radit tak pernah mengetahui bayi kembar yang tengah dikandung Nissa.


"Kakak mendengarnya, dia tidak peduli pada Nissa. Jangankan kondisi Nissa, kehamilan bayi kembar Nissa. Dia tidak mengetahuinya, dia sibuk dengan masa lalu yang tak pernah ingin menjauh darinya!" sahut Amira sinis, Rayhan menggelengkan kepalanya tak percaya. Amira menampakkan jelas kemarahannya. Amira tak lagi peduli akan amarah Radit.

__ADS_1


"Tuan Radit, usia kandungan Nissa memasuki bulan ketiga. Dia tengah mengandung dua bayi kembar!" ujar Zahra terhenti, saat Zahra mengingat kehamilan Nissa yang beresiko.


"Kak, kenapa kakak diam? Apa yang terjadi pada Nissa?" ujar Amira cemas, kini bukan hanya Radit yang cemas dengan kondisi Nissa. Amira mulai khawatir, nalurinya mengatakan sesuatu terjadi pada Nissa. Terdengar helaan napas Zahra yang panjang dan berat.


"Nissa!"


"Apa yang terjadi padanya?" sahut Radit pada zahra.


"Kak!"


"Nissa hampir saja keguguran, dia sempat mengalami pendarahan. Kondisi tubuh Nissa yang lemah dan stress menjadi pemicunya. Aku sudah meminta Nissa memikirkan kembali kehamilannya. Kondisi Nissa tak baik-baik saja, mengingat penyakit darah tinggi yang dideritanya. Akan sangat beresiko bila mempertahankan kehamilannya!"


Duuuuuuaaarrr


Radit dan Amira langsung terduduk lesu. Bak petir menyambar keduanya. Tulang keduanya melemah, tak mampu menahan tubuhnya lagi. Kondisi Nissa yang tidak baik-baik saja. Membuat Radit dan Amira ketakutan. Apalagi Amira yang tak pernah menyangka, Nissa pernah mengalami pendarahan. Radit mengusap wajahnya kasar, rasa bersalahnya memenuhi hatinya.


"Nissa memiliki riwayat trauma yang cukup parah. Depresi yang hampir membuat Nissa tiada. Sebab itu, Nissa harus stabil dan tidak mengalami tekanan yang hebat. Sekali saja hatinya terluka, Nissa akan larut dalam tangisnya. Aku meminta Nissa selalu tenang, menghindari stres berlebihan. Entah apa yang terjadi? Sampai Nissa tumbang, tentu ini bukan hal biasa. Hanya anda yang mengetahuinya tuan Radit!"


"Kami berdebat dan bodohnya aku menamparnya!" ujar Radit lirih, Amira langsung menoleh.

__ADS_1


"Kamu menamparnya!" sahut Amira lantang.


__ADS_2