Senja Pengganti

Senja Pengganti
Penolakan


__ADS_3

"Aira, dimana Hana?" Ujar Nissa, Aira menoleh ke arah Nissa. Terlihat pundak Aira terangkat, isyarat Aira tidak mengetahui keberadaan Hana.


Dua putri cantik Nissa yang tumbuh dengan kasih sayang penuh. Meski mereka tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Aira dan Hana tumbuh menjadi gadis-gadis tangguh. Mereka tak pernah mengeluh, selalu berjuang demi impian yang ingin mereka raih. Nissa memberikan kebebasan penuh pada kedua putrinya. Namun dengan pertanggungjawaban penuh. Sebaliknya, kedua putri Nissa, tak pernah berpikir untuk mengkhianati kepercayaan Nissa.


"Mama!" Teriak Hana, dari lantai dua rumah Amira. Nissa dan Aira langsung mendongak, terlihat Hana turun dari lantai dua. Keriangan Hana berbandik terbalik dengan diam dan tenang Aira.


Melihat watak keduanya, tidak akan ada yang menyangka. Kalau mereka dua saudara kembar. Apalagi Aira memakai cadar, sebab itu tidak akan ada yang menyadari wajah mereka sama. Namun menatap mata indah keduanya. Sekilas akan menduga mereka saudara, sebab Aira dan Hana memiliki mata indah Nissa. Bidadari tak bersayap di hati Aira dan Hana.


"Duduk!" Ujar Nissa dingin, saat Hana memeluknya manja. Hana menunduk, Aira mengerti arti dingin kata Nissa. Aira dan Hana duduk berdampingan. Menanti persidangan Nissa, atas sikap mereka pada Radit.


"Nissa, jangan terlalu keras. Mereka pasti punya alasan!" Ujar Amira, sembari membawa napan berisi dua gelas susu dan makanan ringan.


Aira dan Hana semakin menunduk. Kala mereka melihat tatapan tajam Nissa. Mereka berdua menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan. Sikap tak pantas yang telah menyakiti ayah kandung mereka sendiri. Alasan kemarahan Nissa, saat mendengar berita dari Zain. Nissa memilih duduk tepat di depan Aira dan Hana. Pertanggungjawaban yang dinanti Nissa dari dua putri kembarnya.


"Ada yang ingin kalian katakan, sebelum mama bertanya!" Ujar Nissa, Aira dan Hana saling menoleh. Mereka menyadari kesalahan yang telah dilakukan. Namun mengaku, artinya memancing amarah Nissa. Sebab tak pernah Nissa mendidik Aira dan Hana bersikap tidak sopan pada Radit.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan apapun. Pihak kampus memang memberikan rekomendasi padaku. Sesampainya di sana, bukannya menerima keramahan sebagai mahasiswi magang. Dia malah meremehkanku, berpikir aku tak pantas bekerja di perusahaannya. Dia mengatakan, selamanya aku tidak akan bisa sukses. Keangkuhan yang nyata dia tunjukkan pada gadis yang ingin belajar. Demi menggapai impian menjadi orang besar. Sejak awal, aku datang sebagai mahasiswi bukan putrinya. Dia yang membuatku menilai salah, dia tak lebih dari tubuh dengan jiwa dan hati yang angkuh!" Tutur Aira tegas, Hana seketika menggelengkan kepalanya. Perkataan Aira akan berbuntut panjang. Mengingat cara Aira bicara, cara memanggil Radit. Dua alasan yang cukup membuat Nissa marah.


"Dia, itu cara kamu memanggil ayah kandungmu!" Ujar Nissa dingin dan lantang, Hana diam membisu. Sedangkan Aira mengangguk tanpa ragu.


Pribadi Aira tegas dan teguh, dia akan bicara sesuai dengan kenyataan. Tanpa takut akan resiko yang diterimanya. Bahkan amarah dan rasa kecewa Nissa yang selalu ditakutinya. Tidak akan merubah cara pandang Aira. Apalagi tentang ayah yang tak bisa menghargai orang lain. Aira tidak ingin berbohong, kejujuran kunci hidup yang dipegang teguh Aira sejak dulu.


"Haruskah aku memanggil papa, jika nyatanya dia tidak pernah mengenaliku. Bukankah nama yang dia berikan. Agar dia bisa mengenaliku, buktinya dia tidak bisa mengenali darah dagingnya!" Sahut Aira lantang, Hana menyikut lengan Aira. Kala Hana melihat Nissa menunduk. Hana melihat Nissa yang tengah bersedih. Aira langsung menunduk, jelas kata-katanya membuat Nissa terluka. Sejenak semuanya terasa sepi, tak ada suara yang terdengar. Bahkan Amira yang sejak tadi ada di samping Nissa. Tiba-tiba berdiri dan menjauh dari Nissa dan putri-putrinya.


"Aira, bukan salah papamu. Semua salah mama, keegoisan mama yang membuat kalian terpisah!"


"Hana, dia papamu!" Sahut Nissa, Hana diam tak menyahuti. Jelas Aira dan Hana ada di satu kata. Jika Radit bukan ayah yang baik bagi mereka.


"Dia ayah bioligisku, bukan ayah yang membesarkan kami!" Ujar Hana lantang, Nissa menggeleng lemah. Keteguhan Aira dan Hana tidak mudah diubah.


"Mama akan mengantar kalian menemui papa kalian!"

__ADS_1


"Tidak!" Sahut Aira dan Hana serempak.


"Kenapa?" Ujar Nissa tak percaya.


"Mama sudah berjanji, kami bisa memutuskan untuk tinggal dengan siapa? Tidak ada paksaan, kami bebas memilih antara mama dan dia!" Sahut Aira lantang mewakili Hana.


"Lihatlah Nissa, mereka menolakku dengan lantang. Semua karena salahmu!"


"Jaga bicara anda!" Ujar Hana, seraya mengangkat tangannya ke arah Radit.


"Hana diamlah!" Ujar Nissa.


...****************...


__ADS_1


Semoga berkenan membaca


__ADS_2