Senja Pengganti

Senja Pengganti
Diam yang Menyiksa...


__ADS_3

Nissa berjalan hampir tiga puluh menit di bawah derasnya hujan. Air mata Nissa menyatu di bawah air hujan. Dingin tak lagi terasa menyergap tulangnya. Semua lebur dalam deras hujan. Tak lagi rasa sakit menyesakkan dadanya, air hujan telah menghapus semua rasa sakitnya. Nissa mulai merasakan tenang, dalam deras dan dingin air hujan. Nissa terus melangkah, tanpa terasa beberapa meter lagi dia sampai di rumah megah Radit.


Nampak tembok tinggi yang mengelilingi rumah megah Radit. Menutupi kemegahan rumah dari ramainya jalan raya. Gerbang tinggi yang kokoh, bak teralis penjara yang tak mudah dibobol. Nissa menghela napas, melepaskan semua bebannya. Meninggalkan segala luka jauh di belakang langkahnya. Menghapus air matanya, bersama dengan jatuhnya air hujan. Nissa melangkah dengan tubuh tegak, berdiri tepat di depan gerbang rumah Radit.


"Nyonya!" sapa penjaga ramah, sembari menarik pintu gerbang yang tinggi.


Ifa yang kebetulan berada di luar, langsung berlari dengan membawa payung. Ifa memayungi Nissa, tapi ditolak dengan halus oleh Nissa. Ketika melihat tubuh Ifa yang basah. Nissa mengedipkan kedua matanya, menandakan dirinya baik-baik saja. Ifa langsung mundur, Nissa bukan hanya majikan bagi Ifa. Sejak awal Nissa masuk ke dalam rumah Radit. Ifa sudah menganggap Nissa selayaknya saudara. Ifa sangat menghargai dan menyayangi Nissa. Begitu sebaliknya Nissa yang memperlakukan Ifa.


"Ibu, tuan cemas memikirkan ibu. Sejak datang, tuan marah tanpa alasan. Beruntung Zain sudah tidur, jika tidak dia pasti menangis!" ujar Ifa, Nissa mengangguk mengerti. Ifa merasa iba, melihat tubuh Nissa yang basah kuyub. Namun senyum Nissa, seolah menunjukkan dia baik-baik saja.


"Kita lewat pintu samping saja!" ajak Nissa, tepat di depan pintu utama.


"Nissa!" teriak Radit lantang, sontak Nissa menoleh. Ifa memilih masuk lewat pintu samping. Dia tidak ingin melihat perdebatan antara Nissa dan Radit.


Nissa menghentikan langkahnya, dia berdiri di depan rumah Radit. Hujan mulai mereda, seakan lelah menangis. Rintik gerimis hujan, disertai angin malam terasa menusuk ke tulang Nissa. Namun dinginnya tak sedingin tatapan penuh amarah Radit. Entah itu kekhawatiran karena cinta? Atau amarah karena keegoisan Nissa? Tak ada satupun yang mengetahuinya, hanya hati Radit yang mengerti segalanya.


"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu melakukannya lagi? Sekali saja Nissa, sekali saja kamu menghargaiku. Sikap kerasmu tak lagi menganggapku. Kamu pergi tanpa pamit padaku!" tutur Radit dengan amarah, Nissa menatap lekat Radit. Tubuh Radit mulai basah oleh rintik hujan. Nissa meminta Radit masuk ke dalam, sedangkan dirinya masuk melalui pintu samping. Namun Radit tak mengizinkan, dengan kesal Radit menarik tubuh Nissa. Radit memeluk Nissa paksa, begitu erat sampai membuat Nissa merasakan sesak napas.


"Kamu menyakitiku!" ujar Nissa lirih, Radit langsung melepaskan pelukannya.


"Kenapa sikapmu selalu seperti ini? Kamu merasa tersakiti, padahal kamu yang menyakitiku. Kamu yang keras, tapi seolah aku yang kasar. Apa yang ada dalam benakmu? Sampai kamu mampu melakukan hal bodoh seperti ini. Kamu membuatku hilang akal dengan keangkuhanmu!" ujar Radit lantang, Nissa diam membisu. Tak ada kata yang terucap, diam seolah lebih baik. Daripada mengakui kecemburuannya.

__ADS_1


"Sampai kapan Nissa? Sampai kapan kamu memperlakukanku seperti ini? Aku suamimu bukan musuhmu. Sekali saja kamu percaya padaku, yakin jika aku takkan sanggup melukaimu. Jujur Nissa, aku laki-laki biasa yang punya hati. Mungkin sekarang aku sanggup menerima kerasmu. Namun aku takkan bisa menjamin, jika kelak aku menerima hangat wanita lain. Demi menghapus sepi yang kamu tinggalkan!"


Deg Deg Deg


Nissa langsung mendongak, perkataan Radit bak bara api yang membakar tubuhnya. Darah Nissa mendidih, jantung Nissa berdebar hebat dan hatinya terasa ngilu. Perkataan Radit benar-benar membuat Nissa tak terkejut. Nissa berjalan mundur, perkataan Radit nyata membuat Nissa semakin tak karuan. Radit yang terlanjur berucap, tak lagi mungkin menarik perkataannya. Kata terlanjur terucap, niat terlajur terkuak dan hati Nissa terlanjur terkoyak. Waktu takkan mampu kembali, kini hanya penyesalan yang terlihat di wajah Radit.


"Maaf, bisa aku masuk ke dalam. Aku kedinginan!" sahut Nissa datar, dengan hati yang teramat ngilu. Radit berjalan maju, berharap menggandeng tangan Nissa. Namun dengan cepat Nissa menolak. Nissa mundur menjauh, saat Radit melangkah maju.


"Aku lewat pintu samping!" ujar Nissa datar, Radit terdiam terpaku. Dia menyadari perkataannya sudah keterlaluan.


Radit merasa menyesal telah melampiaskan kekhawatirannya pada Nissa. Meski jelas Radit melihat tubuh Nissa yang membeku. Nampak bibir Nissa membiru dengan tubuh yang mulai menggigil. Radit mengusap wajahnya kasar, merasa bodoh telah mengeluarkan suara hatinya. Kini tinggalah tatapan sendu, mengiringi langkah Nissa masuk ke dalam rumahnya.


Tap Tap Tap


Plaakkk


"Saskia!" teriak Radit dan Sanjaya bersamaan. Radit berlari menghampiri Saskia, menarik tangan Saskia menjauh dari Nissa. Sedangkan Nissa memegang pipinya yang terasa panas, kerena tamparan Saskia.


"Kenapa kamu menamparnya?" ujar Radit marah, Saskia melepaskan gengaman tangan Radit.


"Dasar wanita murah, apa hakmu membuat kakakku cemas? Kamu bukan putri bangsawan yang harus disambut kepulangannya. Kamu wanita miskin yang haus akan harta kakakku. Sekarang kamu ingin membunuh kakakku dengan rasa khawatirnya padamu!" ujar Saskia lantang, Nissa hanya diam menatap Saskia. Tak lagi ada perlawanan, tubuh Nissa terlalu lemah. Rasa cemburu mengubur keberaniannya, kini tersisa lemah dan diam.

__ADS_1


"Saskia jaga bicara atau kakak lupa siapa kamu?" ujar Radit kasar, Saskia mendengus kesal.


"Tapi!"


"Masuk ke kamar!" teriak Radit, menghentikan sikap kasar Saskia.


Nissa memutar tubuhnya, kembali melangkah menuju kamarnya. Nissa melupakan sikap kasar Saskia, menganggap sakit tamparan Saskia sebagai angin lalu. Sejenak Radit merasa heran, melihat sikap diam Nissa. Tidak biasanya Nissa diam, terlebih saat Saskia bersikap kasar padanya.


"Kamu baik-baik saja!"


"Aku baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkanku. Maaf, jika aku membuatmu cemas!" ujar Nissa, lalu melepaskan genggaman tangan Radit.


"Apa yang sedang terjadi? Kenapa Nissa diam menerima sikap kasar Saskia? Jujur Nissa, aku mulai terbiasa dengan amarahmu. Daripada melihat diam dan sikap pasrahmu. Seberapa besar lukamu, sampai kamu terlihat lemah. Apa yang kamu pikirkan? Sekali saja Nissa, katakan padaku alasan kerasmu. Aku tak sanggup melihat duka dalam diammu!" batin Radit, sembari menatap punggung Nissa yang semajin menjauh.


"Nissa, maafkan aku!" bisik Radit tepat di telinga Nissa. Radit memeluk tubuh Nissa dengan sangat erat. Melingkarkan tangannya tepat di perut Nissa.


"Lepaskan, aku basah kuyub!"


"Bicaralah Nissa, katakan apa salahku? Jangan menyiksaku dengan diammu!"


"Kesalahanmu hanya satu, menjadikanku senja pengganti. Wanita kedua dalam hidupmu!" ujar Nissa lalu melepaskan tangan Radit. Nissa masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Nissa, salahkah aku yang kini mencintaimu!"


__ADS_2