Senja Pengganti

Senja Pengganti
Tiga Keturunan Kusuma


__ADS_3

"Amira, duduk!" ujar Aryan lantang, Amira terus berjalan tanpa peduli perkataan Aryan.


Pagi ini rumah besar Amira terlihat ramai, tak seperti biasanya. Rumah yang selalu sepi, kini ramai dengan beberapa anggota keluarga yang datang. Tidak ada acara spesial, hanya sarapan bersama sebagai cara menyambung hubungan keluarga. Arya Tri Putra Kusuma, putra ketiga keluarga Kusuma. Salah satu pewaris kerajaan bisnis keluarga Kusuma. Laki-laki hebat yang membawa perusahaan Kusuma mengepakkan sayapnya setinggi dan seluas mungkin. Adik kandung dari Elmaira Eka Kusuma dan Daniel Dwi Kusuma, putri sulung dan putra kedua keluarga Kusuma. Putra kebanggan tuan besar Kusuma yang tak lain ayah kandung Amira.


Acara sarapan bersama yang digagas oleh Irfan sebagai ujung tombak keluarga Kusuma. Tak banyak yang diundang, hanya beberapa rekan bisnis dan keluarga terdekat. Tak terkecuali Radit dan Sanjaya, bukan hanya kerena mereka rekan bisnis Radit. Namun hubungan antara Alvira dan Radit, membuat tali persaudaraan mereka begitu kuat. Undangan yang hanya mengundang keluarga inti, tanpa Nissa. Alasan kekesalan yang diperlihatkan Amira. Kekecewaan yang teramat besar dan membuatnya tak mampu tinggal di rumahnya lagi.


"Amira!" teriak Aryan, sontak para tamu menoleh. Suara bentakan Aryan, menghentikan langkah Amira. Namun bukan untuk menurut, Amira menghentikan langkahnya. Sebab dia ingin melihat, seberapa besar amarah Aryan padanya.


"Amira sayang, duduklah bersama kakek. Sudah lama kita tidak bertemu. Setidaknya pagi ini, batalkan semua janjimu dan sarapan bersama kami!" ujar Irfan ramah, Amira berdiri tanpa bergeming.


Arya semakin marah dengan sikap Amira. Dengan menahan amarahnya, Aryan berjalan menghampiri Amira. Sempat Sania ibu Amira menahan tangan Aryan. Namun dengan tegas, Arya menepis tangannya. Tak ada lagi yang bisa mencegah amarah Aryan. Amira tidak hanya membuat Aryan marah, Amira telah membuat Aryan malu dihadapan para tamu. Apalagi mereka bukan tamu biasa.


"Duduk!" ujar Aryan dengan bentakkan, Amira tak bergeming. Aryan menarik tangan Amira, tapi usaha Aryan sia-sia. Amira tak bergerak, dia berdiri tegak di tempatnya semula. Aryan semakin marah, dia mengangkat tangannya. Hampir saja Aryan menampar Amira. Jika Rayhan tidak menahan tangan Aryan.


"Maaf tuan Aryan, bukan saya lancang ikut campur. Alangkah bijaknya, tuan selesaikan semuanya di dalam. Mereka tidak berhak melihat semua ini. Jangan biarkan mereka menjadikan sikap kasar tuan sebagai bahan candaan. Putri tuan wanita yang baik. Tentu ada alasan dia bersikap sekasar ini!" tutur Rayhan, Aryan menatap tajam Rayhan. Aryan merasa Rayhan tak sepatutnya ikut campur. Amira menutup mata, saat dia melihat tangan Aryan terangkat.

__ADS_1


"Dia benar Aryan, Amira tidak akan bersikap seperti ini tanpa alasan. Tanyakan padanya, apa alasannya?" sahut Irfan, Aryan menoleh ke arah Amira.


"Alvira, bantu om Aryan bicara pada Amira. Jika mungkin, ajak Amira kemari!" ujar Irfan, Alvira mengangguk pelan. Alvira menggeser kursinya ke belakang. Amira mendengar suara kursi yang bergerak. Sontak Amira menunjuk ke arah Alvira, menahan langkah Alvira mendekat. Amira menolak mengenal Alvira, entah sebagai saudara atau teman?


"Amira, sudah cukup!" teriak Aryan marah, melihat sikap Amira yang semakin menjadi.


"Kenapa papa berhenti? Jangan ragu, jika ingin menampar Amira. Papa ingin mengetahui alasanku menolak duduk di sana. Papa benar-benar ingin mengetahuinya!" ujar Amira lantang, Aryan menurunkan tangannya. Aryan mengurungkan niatnya menampar Amira. Seandainya Aryan benar-benar menampar Amira. Akan sangat fatal hasilnya.


"Katakan, apa alasanmu? Sampai kamu berani mengacaukan acara pagi ini!"


Plaaakkkk


"Jaga bicaramu!" bentak Aryan, sesaat setelah menampar Amira dengan sangat keras. Para tamu terdiam, Irfan menatap nanar pertengkaran Aryan dan Amira. Sania menggeleng tak percaya, setetes air matanya jatuh tepat di pelupuk matanya. Hati ibu yang teriris melihat putrinya tersakiti.


"Tamparan papa, takkan membuatku merasakan sakit. Bertahun-tahun yang lalu, hati dan fisik putrimu telah mati. Tidak akan ada lagi rasa sakit. Sekuat apapun papa menamparku? Sekeras apapun bentakkan papa? Takkan lagi membuatku takut. Amira putrimu telah mati bertahun-tahun lalu, bersama matinya kehangatan dan nurani keluarga ini!"

__ADS_1


Plaakkkk


"Cukup kegilaan ini, amarahmu tak masuk akal. Papa tidak pernah bersikap kasar padamu. Selama ini, apapun yang kalian butuhkan. Papa selalu menurutinya. Papa bekerja keras demi dirimu, inikah balasanmu pada papa!"


"Papa tidak pernah menyakitiku, tapi demi kakek papa telah membunuh hati nurani papa. Di depan kedua mata papa, kakek mengusir tante Elma dan Nissa sepupuku. Lalu membawa wanita itu dan menjadikannya pengganti Nissa. Papa melupakan tangis tante Elma, papa tega melihat jeritan Nissa sepupuku. Sekarang papa mengadakan pesta, demi memeringati kepergian tante Elma!" teriak Amira dengan suara terisak. Hatinya terasa begitu sakit, dadanya terasa terbakar dan sesak. Alvira tertunduk lesu, kekecewaan Amira padanya nyata. Tak ada yang bisa dia perbuat lagi.


"Amira, hentikan sekarang. Kamu tidak melihat banyak tamu!"


"Papa yang memulainya, kenapa sekarang memintaku berhenti? Sejak awal aku tidak ingin berdiri diantara kalian. Papa yang terus memaksaku, papa yang ingjn menunjukkan siapa sebenarnya keluarga Kusuma?"


"Amira, papa mohon kita akhiri semua ini! Sekarang duduklah bersama papa!" ujar Aryan lembut, menarik perlahan tangan Amira.


"Maaf, Amira lebih menyukai masakan kampung. Sedikitpun, Amira ingin tinggal!" ujar Amira, sembari melepaskan tangan Aryan.


"Amira, papa mohon!" teriak Aryan, tapi usahanya sia-sia.

__ADS_1


"Maafkan papa sayang, papa mengecewakanmu!" batin Aryan, sembari menatap punggung putrinya yang semakin jauh.


__ADS_2