Senja Pengganti

Senja Pengganti
Di sela hangat fajar


__ADS_3

Sejak tengah malam tubuh Nissa demam. Cuaca yang tak bersahabat, akhirnya mampu menumbangkan kuat tubuh Nissa. Hampir tiga hari berturut-turut, Nissa pulang dengan tubuh yang basah. Hujan turun saat siang, ditambah angin yang berhembus dengan kencang. Alhasil tubuh Nissa kedinginan setiap kali tiba di rumah. Radit sudah. Tiga hari sudah cukup membuat Nissa jatuh sakit. Akhirnya Radit melarang Nissa bekerja. Kecemasan Radit semalam, sudah cukup dan tak ingin terjadi kembali. Menatap tubuh Nissa yang menggigil kedinginan. Seakan menghentikan aliran darah Radit.


"Sayang, kita pergi ke dokter!" ujar Radit, tepat di samping tubuh Nissa yang tengah meringkuk di balik selimut. Radit mengusap lembut kepala Nissa. Kening terasa sangat panas, Radit diam tak bersuara. Rasa khawatirnya jelas terlihat di wajahnya. Radit mencium lembut kening Nissa, berharap panas tubuh Nissa bisa berpindah padanya. Nissa hanya diam, saat Radit mencurahkan kasih sayangnya.


"Sayang, kita pergi sekarang!" ujar Radit lirih, Nissa tetap diam. Radit menghela napas, lalu mengambil ponsel pintarnya.


Radit menghubungi Rayhan, meminta izin untuk tidak pergi ke kantor. Radit tidak ingin meninggalkan Nissa sendirian dalam kondisi sakit. Sebab itu, Radit memilih libur bekerja. Namun keinginannya pupus, saat Rayhan mengatakan ada rapat yang tidak bisa dibatalkan. Sebagai CEO, kehadiran Radit sangat diutamakan. Radit mengusap wajahnya kasar, dia bingung harus memilih siapa? Nissa atau pekerjaannya. Radit tidak mungkin meninggalkan Nissa di rumah. Namun membatalkan rapat dengan para investor. Akan mengancam perusahaannya.


"Pergilah, aku bisa sendiri!" ujar Nissa, tiba-tiba bangun dan langsung bersandar pada tubuh Radit.


Nissa memaksa duduk, sembari bersandar pada tubuh Radit. Wajah Nissa terlihat pucat, rambut Nissa tergerai indah menutupi sebagian wajahnya. Bibir Nissa membiru, tanda tubuh Nissa kedinginan. Nissa menggenggam erat tangan Radit, seolah tidak ingin jauh dari Radit. Hangat tubuh Nissa, tak sehangat hasrat di hati Radit dan Nissa. Genggaman tangan Nissa, bak obat perangsang yang membangkitkan gairah cinta Radit. Hembusan napas Nissa, terasa begitu hangat menyentuh pundak Radit.


Sekilas terlihat Radit menyibak rambut hitam legam Nissa. Nampak jelas kondisi Nissa tidak baik-baik saja. Nissa terlihat kacau, tapi tetap cantik dan mempesona di mata Radit. Nissa langsung mendongak, ketika tangan Radit tanpa sengaja menyentuh pipinya. Nissa menatap dengan hangat Radit. Tatapan penuh cinta dan kerinduan yang jarang dilihat oleh Radit. Nissa terus menatap wajah Radit, tiba-tiba tangan Nissa terangkat. Nissa mengusap lembut bibir Radit. Tangan Nissa terasa panas, membakar tubuh Radit.


"Tampan!" ujar Nissa, sembari mengusap lembut bibir Radit dengan tangannya.

__ADS_1


Radit yang sejak awal merindukan hangat tubuh Nissa. Akhirnya kalah dan mulai larut dalam belaian penuh cinta Nissa. Radit menggenggam tangan Nissa yang tengah bermain manja di wajahnya. Radit mencium lembut telapak tangan Nissa. Lalu, Radit mengusap wajah Nissa yang pucat. Nissa luluh dalam hangat yang dia mulai sendiri. Tanpa ada yang memulai atau meminta, Nissa masuk ke dalam dekapan Radit. Tidur berbantalkan tangan Radit, sontak Radit terpaku.


Wajah Nissa memang pucat, tapi wajahnya tetaplah cantik dan mempesona. Rambut Nissa yang berantakan, menampakkan leher jenjangnya. Radit menyibak rambut Nissa, menatap penuh cinta leher putih Nissa. Napas Nissa memburu, entah karena panas tubuhnya atau hasrat yang mulai menguasainya? Naik turun dada Nissa, semakin membangkitkan gairah Radit. Sekuat apapun Radit menolak? Dengan alasan tubuh Nissa yang tengah sakit dan lemah. Radit kalah oleh cintanya, Radit mulai bermain dengan tubuh Nissa.


Satu per satu kancing piyama Nissa terlepas. Radit larut dalam buaian yang tanpa sengaja ditawarkan Nissa. Tubuh Nissa lemah, tapi cintanya pada Radit membuatnya kuat. Panas tubuhnya tak lagi menjadi penghalang Nissa. Pahala surga yang dijanjikan, membuat Nissa sanggup menahan rasa sakit. Nissa merebahkan tubuhnya, saat Radit mulai mencurahkan cinta dan kerinduannya. Hangat fajar yang menyusup dari sela tirai. Semakin menambah kehangatan Radit dan Nissa.


Radit semakin liar dan nakal bermain di atas tubuh Nissa. Radit semakin lupa, jika Nissa tengah sakit. Radit mencurahkan cinta yang begitu besar untuk Nissa. Suara burung camar, bak melodi indah yang mengiringi penyatuan cinta Radit dan Nissa. Radit terus dan terus mencurahkan cintanya. Nissa mengerang, sembari sesekali menghela napas. Radit semakin tertantang, Radit semakin liar. Nissa menyerahkan segalanya dihadapan Radit. Pagi yang sendu dan tegang, berakhir dengan kehangatan yang tak terencana. Penyatuan yang penuh dengan cinta dalam balutan indah dan dingin pagi.


"Awssss!" teriak Nissa kesakitan, Radit langsung menoleh. Nissa dan Radit tidur bersama dan saling berpelukan di balik selimut. Nissa merasa kakinya kram, sebab itu dia menjerit. Radit merasa cemas, sekaligus menyesal telah membuat Nissa sakit dengan tubuh lemahnya.


"Sayang, maaf!" ujar Radit lirih, sembari mengecup lembut kening Nissa.


Kreeeekkk


"Kamu!" ujar Radit dingin, saat melihat Alvira berdiri di depan kamarnya. Alvira menelan ludahnya kasar, ketika dua bola matanya melihat tanda merah di leher Radit.

__ADS_1


Alvira langsung menunduk, antara malu dan rasa kecewa. Menyadari jika Radit bukan lagi miliknya. Alvira merasakan sakit yang teramat, ketika dia membayangkan Radit dan Nissa bersama. Kepalan tangan Alvira, menunjukkan betapa hatinya terluka melihat hangat dan cinta mantan suaminya. Padahal Alvira berharap, Radit menghiba padanya untuk kembali. Setidaknya demi Zain buah hati mereka. Namun kehadiran Nissa, telah menggantikan dirinya dalam hati Radit dan Zain.


Plokkk


"Kenapa malah diam? Apa alasanmu berani mengetuk pintu kamarku?" ujar Radit, sesaat setelah dia bertepuk tangan di depan Alvira. Sontak Alvira terkejut, dia langsung mendongak menatap Radit. Menghapus rasa sakit dalam hatinya.


"Kita berangkat bersama, investor telah menunggu kita di lokasi proyek!"


"Pergilah sendiri, aku tidak pergi!"


"Kenapa?" sahut Alvira cemas dan langsung menyentuh kening Radit.


Namun Radit langsung menepis tangan Alvira. Radit tidak membiarkan Alvira memeriksa tubuhnya. Alvira cemas, mendengar Radit tidak pergi ke kantor. Alvira mengenal Radit, selama mereka menikah. Radit tidak akan meninggalkan pekerjaannya, kecuali Radit sakit. Sebab itu Alvira takut Radit tengah sakit.


"Aku baik-baik saja, Nissa yang sedang sakit. Aku sudah meminta Rayhan menggantikanku. Jika Nissa membaik, aku akan ikut rapat!" ujar Radit, lalu menutup pintu kamarnya. Bahkan sebelum Alvira pamit pulang.

__ADS_1


Braaaakkk


"Kamu mengusirku, demi wanita itu. Kamu tidak bekerja, demi menjaga wanita itu. Kamu melepaskan proyek besar dan mengganti dengaj cinta wanita itu. Kamu sudah kehilangan akal, bahkan mungkin kamu sudah buta. Kamu bukan lagi Radit yang aku kenal. Kamu dingin dan keras padaku, tapi begitu hangat pada wanita itu. Seistimewa apa dia? Sampai kamu begitu mencintainya. Dulu kamu menolak bercumbu denganku di pagi hari. Sekarang, kamu bahkan hanya ingin bersamanya. Tak ada lagi yang terpenting dalam hidupmu, selain dia. Kamu kejam Radit, kamu tuli dan buta akan rasa sakit serta cemburuku!" batin Alvira pilu.


__ADS_2