Senja Pengganti

Senja Pengganti
Amarah Daniel


__ADS_3

"Dimana Nissa? Dia belum pulang!" ujar Daniel dingin, sesaat setelah melihat Radit keluar dari dapur. Amira langsung mendongak, sejak tadi Amira sudah mencari Nissa. Namun Nissa tak kunjung keluar menemuinya. Meski Nissa mengetahui kedatangan Amira.


Amira masih sahabatnya, tapi dia bukan Amira yang dulu. Amira kini telah menjadi wanita sukses. Dia pemimpin salah satu anak cabang perusahaan Kusuma. Bukan insecure, Nissa lebih menjaga jarak. Agar Amira tidak mengalami masalah karena dirinya. Mengingat Irfan Kusuma masih sangat membenci Nissa. Meski sekarang Daniel ada menjadi pelindung Nissa. Namun hubungan darah diantara mereka, menjadi alasan Nissa takut terjadi perselisihan. Nissa memilih mengalah, setidaknya demi ketenangan Amira dan Daniel.


"Kenapa kamu diam?" ujar Daniel lantang, nadanya terlihat kesal. Irfan langsung menoleh ke arah Daniel. Tatapan tidak suka Irfan, isyarat Irfan marah pada Daniel. Namun Daniel tak menganggap amarah Irfan. Sampai detik ini, Irfan dan Daniel berada di level yang sama. Perbedaannya hanya satu, Daniel terlihat lebih keras dan kasar.


"Dimana Nissa? Sejak tadi aku menunggunya!" ujar Amira menimpali, Radit menoleh ke arah dapur. Sebuah isyarat akan keberadaan Nissa. Amira mengangguk pelan, lalu berjalan melewati Radit dan langsung menuju ke dapur. Daniel hendak mengikuti langkah Amira. Namun terhenti, saat tangan Irfan menahan langkahnya.


"Dia bukan ratu yang harus dipuja, dia wanita biasa tanpa keistimewaan. Dia wanita tidak berguna yang haus akan harta. Mampu melakukan segalanya, demi hidup nyaman. Ingat Daniel, kita datang ke rumah ini. Bukan untuk bertemu dengannya, tapi menjenguk Zain cucuku!" tutur Irfan sinis, sembari menahan tangan Daniel. Seketika Daniel melepaskan tangan Irfan. Menatap penuh amarah Irfan, saat mendengar hinaan yang keluar dari bibir Irfan.


"Sejak awal aku datang, bukan untuk keluarga palsumu. Aku datang demi bertemu putriku. Dia memang wanita biasa, tapi dia bukan wanita murah yang haus akan harta. Putriku lebih bangga bekerja dengan gaji murah. Daripada mengemis pada keluarga tak punya hati seperti kalian. Setiap sen yang didapat putriku, itu bukti kerja kerasnya. Tidak seperti putri kebanggaanmu, yang angkuh dengan harta orang lain!" sahut Daniel dingin dan menusuk ke hati.


"Daniel!" teriak Irfan mulai kesal, Aryan langsung menahan Daniel. Menghentikan perdebatan yang akan berujung pada pertengkaran.


"Tidak perlu berteriak, faktanya memang seperti itu!" ujar Daniel lagi dengan amarah yang menguasai dirinya.


"Kak, aku mohon tenangkan dirimu!" ujar Aryan mencoba menenangkan Daniel.


"Minggir kamu, ingat Aryan kamu adikku!"


"Tapi dia ayahku!" sahut Aryan datar.


"Dia memang ayahmu, tidak ada yang meragukan itu. Wajah kalian sama, sifat kalian sama, bahkan watak kalian sama. Dingin dan tak berhati pada Nissa!"

__ADS_1


"Daniel, kamu sudah melewati batas. Kebencianmu pada papa. Aryan dan Alvira tidak pantas menerima amarahmu. Mereka adikmu, jangan membenci mereka. Sebaliknya rangkul dan jaga mereka!"


"Jangan pernah bermimpi, selama ini mereka bisa hidup tanpaku. Aryan sukses di bawah bimbinganmu. Putri pungutmu berhasil dengan didikanmu. Mereka tidak butuh siapapun?"


"Daniel, mereka adikmu!" ujar Irfan lirih, Daniel menggelengkan kepalanya.


"Nissa, dia satu-satunya alasanku kembali. Dia yang akan aku lindungi dengan segala kemampuanku. Tidak terkecuali darinya, suami yang tidak berpendirian!" ujar Daniel pada Radit, telunjuk Daniel jelas mengarah ke arah Radit.


"Om Daniel!" panggil Nissa, Daniel langsung menoleh. Seutas senyum terlihat di wajah Daniel. Nissa seketika merubah suasana hati Daniel. Nampak jelas kebahagian diwajah Daniel. Mendengar suara putri kecilnya.


"Cantik, kenapa baru keluar? Om sudah lama menunggu, darah om mendidih menahan marah!"


"Maaf, Nissa baru saja pulang!" ujar Nissa, lalu mencium punggung tangan Daniel. Anggukan kepala Daniel, isyarat dia mengiyakan permintaan maaf Nissa.


"Kalian berdua alasanku kembali!" ujar Daniel tegas, tanpa ragu. Nissa dan Amira tersenyum bersamaan.


"Om, silahkan duduk. Aku harus membersihkan diri!" ujar Nissa, Daniel mengangguk pelan.


"Kamu bukan tuan rumah, Radit pemilik rumah ini. Tidak perlu izinmu, untuk kami duduk!" sahut Irfan sinis, Daniel menatap tajam Irfan. Nissa langsung menarik tangan Daniel. Isyarat Nissa meminta Daniel diam dan tak lagi berdebat dengan Irfan.


"Saya permisi!" pamit Nissa, Radit menahan tangan Nissa yang langsung dibalas Nissa dengan gelengan kepala.


"Jangan, aku mohon!" ujar Nissa lirih, hampir tak terdengar. Lelah, mungkin itu yang dirasakan Nissa. Lelah menjadi alasan pertengkaran keluarga.

__ADS_1


"Sayang, ini rumah kita. Kamu berhak mengizinkan, siapa yang boleh datang ke rumah ini?"


"Kamu yakin dengan perkataanmu, termasuk pada Alvira!" sahut Amira dingin, Radit langsung diam membisu. Nissa menghela napas, kepalanya terasa pusing. Masalah yang tak kunjung selesai dan selalu ada masalah yang datang.


"Tidak ada yang bisa melarangku datang, apalagi Nissa. Dia hanya wanita murah, pelunas hutang!" sahut Alvira kasar, Daniel langsung menghampiri Alvira. Tangan kekarnya mencengkram bahu Alvira dengan sangat erat. Terdengar rintihan kesakitan Alvira, semua orang terkejut melihat sikap kasar Daniel.


"Daniel, lepaskan adikmu!" teriak Irfan, Daniel tersenyum sinis. Daniel semakin erat mencengkram lengan Alvira. Aryan hendak menolong Alvira yang merintih kesakitan. Namun langkahnya terhenti, ketika Daniel menatap tajam ke arahnya.


"Daniel, papa mohon. Adikmu kesakitan!" teriak Irfan, Daniel tertawa sangat keras. Kata adik yang terucap dari bibir Irfan terdengar menggelikan di telinga Daniel. Amarah Daniel takkan semudah itu hilang. Dia tidak akan dengan mudah melupakan sikap kasar Alvira pada Nissa. Amira terlihat senang, melihat Alvira kesakitan.


"Lepaskan!" ujar Nissa dingin, sembari menahan tangan Daniel.


Daniel melepaskan cengkramannya, sentuhan tangan Nissa meluluhkan hatinya. Tatapan mata yang indah, suara penuh kelembutan dan hangat tangan Nissa yang merasuk ke seluruh nadinya. Daniel tak berdaya, dia termenung menatap wajah Nissa. Sentuhan, suara dan wajah yang sama dengan Elmaira. Alasan Daniel tak mampu menolak permintaan Nissa.


"Kak Elmaira!" ujar Daniel lirih, suara yang penuh kerinduan terdengar begitu menyentuh hati. Daniel menarik tubuh Nissa dalam dekapannya. Pelukan yang membuat hati Radit sakit. Rasa takut kehilangan yang mulai mengusik ketenangannya. Meski Daniel nyata adik kandung ibunya, tapi Daniel tetaplah seorang laki-laki.


"Om Daniel, jangan membenci mereka karena diriku. Mereka orang-orang yang menyayangimu. Percayalah, Nissa kecilmu tidak lemah. Tidak akan pernah aku diam menerima penghinaan. Mereka hanya melihat Nissa yang lemah, kelak mereka akan melihat keras dan kasarku. Sekarang, biarkan mereka menghinaku. Namun yakinlah, kelak mereka yang akan datang memohon padaku. Aku takkan membuat ibuku mengeluh. Dia wanita terhebat dalam hidupku. Seperti dia aku akan hidup. Putraku takkan pernah merasakan sepi, meskit tanpa keluarganya. Aku tak selemah itu, percayalah aku kuat dan tangguh!" tutur Nissa, sesaat setelah Daniel melepaskan pelukannya.


"Om percaya dan akan mendukungmu!" sahut Daniel lantang, Irfan dan Aryan menunduk.


"Papa, dulu aku tak mampu membela kak Elmaira. Sekarang, jangannkan papa. Aku akan melawan dunia, demi membela Nissa putriku. Cukup aku kehilangan kakak dan ibu karena egomu. Takkan aku biarkan papa menyentuh Nissa putriku. Apalagi demi membela dia!" ujar Daniel seraya menunjuk ke arah Alvira.


"Om Daniel, keren!" teriak Amira bahagia.

__ADS_1


__ADS_2