
Waktu berlalu tanpa berhenti, detak jam menunjukkan hari yang terus berjalan. Hubungan Radit dan Nissa tetap pada tempatnya. Tidak ada pertengkaran atau pendekatan. Keduanya saling menghargai satu dengan yang lain. Radit yang memilih diam tak lagi menggebu. Nissa yang terus keras dengan hati dinginnya. Semua berjalan tanpa saling menyinggung. Radit mencoba memahami rasa sakit Nissa. Sebaliknya Nissa berusaha menjaga hubungan baik dengan Radit. Walau terkadang nissa merasa lelah dengan hinaan dan penolakan sebagian keluarga Radit.
Layaknya malam ini, acara besar tengah diadakan di rumah megah Radit. Pesta taman yang indah nan meriah, sebagai rasa syukur atas keberhasilan Radit. Acara mewah yang dihadiri beberapa kolega Radit. Kolega dari luar dan dalam negeri. Pesta meriah yang penuh dengan keglamouran orang-orang kaya. Tidak terkecuali Tasya dan Saskia yang terlihat anggun mengenakan gaun dengan belahan sampai lutut. Kaki jenjang keduanya melangkah dengan anggun. Radit sang tuan rumah, terlihat tampan dengan setelan jas hitamnya. Penampilan yang membuat mata kaum hawa terpana.
"Radit, dimana Nissa?"
"Papa, kenapa selalu menanyakan wanita kampung? Dia tidak akan berani turun, dia itu norak dan tak berkelas!" sahut Saskia sinis, Radit menatap Saskia. Ada amarah yang siap menutup mulut Saskia.
"Radit, jangan marah. Ada banyak tamu, jangan permalukan dirimu. Saskia hanya anak bodoh, perkataannya tidak perlu dipikirkan!" ujar Sanjaya, Radit diam membisu. Radit pergi meninggalkan Sanjaya dan Saskia. Langkahnya berhenti tepat di arah jam 9, mendongak ke arah jendela kamarnya.
"Nissa, dimana kamu? Keluarlah sayang, aku membutuhkanmu!" batin Radit, sembari menatap kamarnya di lantai dua. Kamar yang terlihat gelap tanpa cahaya.
"Radit sayang!" sapa Tasya, lalu bergelayut manja di lengan Radit.
"Lepaskan!" ujar Radit menepis tangan Tasya, Radit pergi menjauh. Tasya kesal dengan penolakan Radit. Sikap dingin Radit sangat melukai hatinya.
"Saskia, lihat kakakmu!"
"Tenanglah kak Tasya, kakak tidak berniat melakukannya. Dia sedang kesal, wanita itu memilih diam di dalam kamarnya!" ujar Saskia lirih, Tasya tersenyum bahagia. Merasa dirinya ada kesempatan merayu Radit. Saskia dan Tasya selalu bekerja sama, menjauhkan Nissa dari Radit menjadi tujuan keduanya.
Radit menyambut para tamunya, satu per satu bergantian bersalaman dengan Radit. Pengusaha muda yang sukses dalam dunia bisnis yang kejam. Tak sedikit yang mengenalkan putrinya, dengan harapan bisa berjodoh dengan Radit. Duda tampan kaya raya dengan satu putra. Namun mereka tak pernah mengetahui status Radit tak lagi sendiri. Ada seorang wanita yang telah merebut hati dan kesadaran Radit.
"Papa!"
"Apa kabar Radit? Nissa!" ujar Ardi, Radit langsung menggelengkan kepalanya lemah. Ardi menghela napas, dia bisa menduga apa yang terjadi?
"Maafkan papa Radit, papa alasan semua ini. Papa yang telah menyakiti hati Nissa!" ujar Ardi lirih, Radit membisu. Tak ada jawaban untuk pertanyaan yang tak memiliki kejelasan. Radit menoleh ke arah jendela kamarnya. Suara helaan napas Radit, terdengar begitu berat. Ardi menepuk pelan pundak Radit.
"Kelak Nissa melihat cintamu, papa percaya luka ini akan sembuh seiring waktu!" ujar Ardi bijak, Radit mengangguk pelan.
__ADS_1
Akhirnya kedua berjalan bersama menyapa para tamu. Kolega Radit sangat mengenal Ardi, tapi mereka tak mengenal siapa sebenarnya Ardi? Mereka hanya mengetahui, jika Radit dan Ardi tak lain menantu dan mertua. Malam semakin larut, tamu undangan semakin banyak. Namun keinginan Radit mulai pupus. Menanti Nissa ada di sampingnya, hanya akan ada dalam mimpi indahnya.
Bruuuuggghhhh
"Aaaaawwwsss, hiks hiks hiks!" suara teriakkan dan tangis Zidan, sesaat setelah tubuhnya terjatuh.
Tanpa sengaja Zidan menabrak tubuh Tasya saat berlari. Sontak Zain terjatuh, sedangkan Tasya terhuyung ke belakang. Tubuh Tasya menabrak pelayan yang tengah membawa makanan. Seketika gaun indah Tasya kotor dan basah. Tasya kesal, melihat dirinya kotor. Dua bola matanya memerah, amarah telah menguasainya.
"Dasar anak bodoh, karenamu gaunku basah!" ujar Tasya lantang, Ifa langsung menggendong Zain. Bentakan Tasya membuat Zain menangis. Radit mendengar tangis Zain yang begitu keras. Ifa merasa bingung, Zain tidak akan mudah ditenangkan. Namun sekuat tenaga Zain meronta dan menolak Ifa.
"Maaf nona Tasya, saya akan membersihkannya!" ujar Ifa lirih, sembari memberikan tissu ke arah Tasya.
"Pergi kamu, jangan pernah menyentuhku. Kamu hanya pelayan, jangan kurang ajar!" ujar Tasya lantang dan semakin menjadi.
Zain ketakutan, tubuhnya mulai bergetar. Tangannya mengepal erat, Ifa cemas melihat kondisi Zain. Kondisi Zain tak seperti anak lainnya. Suara hati dan ketakutannya akan membuat Zain cemas, bahkan kesakitan. Suara tangis semakin kencang, sesekali terlihat Zain mulai memukul tubuhnya. Sikap tantrum Zain akan muncul, saat hatinya marah atau kesal. Ifa mencoba menenangkan Zain, tapi usahanya sia-sia. Zain semakin keras memukul kepalanya. Tasya mulai panik, dia tak menyangka Zain akan bersikap tantrum.
"Ifa, ada apa dengan Zain?" bentak Radit, Ifa ketakutan melihat amarah Radit. Tasya mundur beberapa langkah, ada rasa takut menyadari dirinya yang telah menyebabkan Zain tantrum.
"Radit, kita bawa Zain ke dalam rumah. Papa akan minta Rayhan menjamu para tamu!" ujar Sanjaya, Radit mengangguk pelan. Radit mencoba menggendong Zain. Namun kekuatan anak yang sedang tantrum sangatlah besar. Amarah Zain tak bisa terbedung, teriakkan demi teriakkan terdengar begitu lantang. Suasana pesta menjadi panik, para tamu terdiam. Menatap penuh rasa kasihan, tak percaya dalam kesempurnaan Radit ada sedikit cacat.
"Ifa, apa yang terjadi?" ujar Radit dengan amarah yang tak biasa. Radit sakit melihat kondisi Zain, putra yang begitu lemah dan membutuhkan kasih sayangnya.
"Nona Tasya!" ujar Ifa terbata-bata, Radit menoleh ke arah Tasya.
"Aku tidak melakukan apa-apa?" ujar Tasya mengelak.
Tap Tap Tap
"Nissa!" ujar Radit lirih, menatap lurus ke arah Nissa. Radit mendengar suara langkah kaki Nissa, langkah yang terdengar menyejukkan sekaligus menyakitinya. Sebab Radit menyadari, langkah Nissa takkan pernah berjalan bersamanya.
__ADS_1
"Zain, anak mama!" ujar Nissa lembut, tangannya mengelus rambut hitam legam Zain. Perlahan Zain menyadari keberadaan Nissa.
"Zain pintar, tidak boleh menangis!"
"Zain, sini peluk mama!"
"Zain, sayang mama tidak?" ujar Nissa hangat, berkali-kali mencoba menenangkan hati Zain yang terluka. Radit terpaku, melihat hangat Nissa pada Zain. Kasih sayang Nissa begitu tulus.
"Zain, anak mama. Kemari sayang, peluk mama!" ujar Nissa, sembari merentangkan tangannya. Perlahan Zain mulai membuka kedua matanya. Zain melirik ke arah Nissa, uluran tangan Nissa begitu dirindukan Zain.
"Mama, Zain takut!" ujar Zain lirih, lalu berhambur memeluk Nissa. Dengan sekuat tenaga Nissa berdiri sembari menggendong Zain.
"Mama, Zain takut!" bisk Zain disela tangisnya!"
"Tutup mata Zain, supaya tidak takut!" bisi Nissa, Zain mengangguk sembari memeluk tubuh Nissa. Kedatangan Nissa membuat Zain tenang.
"Sayang!"
"Lebih baik anda katakan pada Tasya, agar dia biasa menjaga perkataan dan sikapnya. Sekali lagi dia merendahkan putraku. Aku pastikan dia melihat sisi lainku. Zain putraku, takkan kubiarkan siapapun merendahkannya. Tidak terkecuali anda dan wanita anda!" ujar Nissa menyela pembicaraan Radit.
"Sayang, dia putra kita!" ujar Radit, pengakuan yang membuat semua tamu terkejut.
"Mama, Zain mengantuk!"
"Kita istirahat di kamar mama!" ujar Nissa, Zain mengangguk perlahan.
"Papa ikut!" teriak Radit, Nissa terus berjalan menuju rumahnya. Nissa mengacuhkan rasa heran dan tak percaya padanya.
"Sayang, terima kasih telah menyayangi Zain putraku!" batin Radit bahagia, meninggalkan semua tamu yang tengah menunggunya.
__ADS_1