
Waktu berdetak begitu cepat, tak terasa malam menyapa. Aira dan Hana menghabiskan beberapa jam di rumah Radit. Kedua putri yang dirindukan Radit selama bertahun-tahun. Aira akan tinggal beberapa hari, sebelum Aira kembali pulang ke negara tempat dia dilahirkan. Sedangkan Hana akan pulang ke rumah Nissa. Setelah makan malam bersama Radit dan keluarganya. Aira dan Hana menghabiskan banyak waktu di kamar Nissa. Mereka merasakan aroma Nissa yang tertinggal di kamar Nissa. Ada beberapa barang Nissa yang tertinggal, salah satunya gamis yang ada di dalam lemari. Barang-barang yang masih rapi tersimpan.
"Hana!"
"Dia memang mencintai dan setia pada mama. Namun dia tak pernah serius mencari kita. Jujur kak, aku tak pernah mengharapkan dia kembali dalam hidup mama. Aku yang akan menemani mama dan membahagiakan mama!" Ujar Hana lantang, Aira diam tak bersuara. Aira sangat mengenal Hana, tak mudah membalikkan keputusan Hana.
"Mama akan ada di hati kita, tapi tidak akan selamanya bersama kita. Kecuali, kita tidak akan menikah. Jika memang kamu tidak ingin mama kembali bersamanya. Kamu bisa mencarikan mama pasangan hidup. Mungkin hari ini, mama tidak membutuhkan pasangan. Namun kelak, mama akan membutuhkannya!" Ujar Aira, Hana diam tak bersuara. Keduanya larut dalam pikiran tanpa batas. Mencari jawaban paling tepat dalam hubungan Nissa dan Radit.
Tok Tok Tok
"Makan malam sudah siap!" Ujar Zain, sesaat setelah mengetuk pintu. Hana tersenyum lebar, isyarat makan malam waktu yang paling dinantinya.
"Kamu sangat ingin pergi!" Ujar Aira, Hana mengangguk tanpa ragu. Aira langsung keluar dari kamarnya. Hana mengekor di belakang Aira, raut wajahnya bahagia. Hana ingin segera keluar dari rumah Radit. Tak ada inginnya tinggal di rumah sang ayah. Meski hangat terus diberikan padanya. Namun Hana menolak dan tetap teguh pada pendiriannya.
"Kak, besok pagi aku akan menjemputmu. Aku akan mengantarmu ke kantor!"
"Tidak perlu, aku akan berangkat bersamanya!" Ujar Zain menimpali, Aira menggeleng lemah. Sedangkan Hana memanyunkan bibirnya. Kesal mendengar perkataan Zain yang ingin merebut posisinya.
"Terima kasih, besok pagi aku berangkat sendiri. Mama akan mengirimkan mobil untukku!" Ujar Aira lirih, Hana langsung menoleh. Tatapan Hana tak percaya, bahkan Hana langsung menangkup kedua bahu kakaknya. Seakan tak percaya dengan pendengarannya.
"Serius, kakak akan membawa mobil!"
__ADS_1
"Sudah cukup lama aku menyusahkanmu. Sudah saatnya aku mandiri. Trauma tidak akan sembuh, jika aku tak pernah melawannya!" Sahut Aira, Hana langsung memeluk Aira. Kasih sayang yang jelas terlihat antara Aira dan Hana. Sejenak Zain merasa iri, kala dia tak ada ikut dalam hangat kasih sayang Aira dan Hana.
Ketiganya berjalan beriringan menuju meja makan. Radit sudah menunggu mereka, Alvira sudah menyiapkan makan malam spesial. Makan malam spesial dalam hidup Radit, setelah kepergian Nissa. Malam ini, Saskia adik perempuannya akan datang. Setelah dua puluh tahun, Radit memutus hubungan dengannya. Malam ini, Saskia diizinkan mengenal Radit kembali. Radit mengizinkan Saskia menemuinya, jika Nissa kembali membawa putrinya.
"Duduklah!" Pinta Alvira, Aira mengangguk. Sedangkan Hana mengacuhkan Alvira. Aira hanya diam, tak lagi bisa mengendalikan sikap Hana yang keras dan kasar.
"Kalian putri kembar kak Radit!" Ujar Saskia dingin, Hana langsung menoleh. Radit menatap tajam ke arah Saskia. Tatapan yang mampu membuat hidup Saskia berakhir.
"Saskia, duduklah makan bersama. Jangan mengatakan sesuatu yang akan mematik keributan!" Ujar Alvira, Saskia diam tak menyahuti. Dia duduk tepat di samping Alvira. Akhirnya makan malam dimulai, semua mengambil makanan yang sudah tersedia.
"Kenapa kalian hanya diam? Kalian tidak suka masakannya!" Ujar Alvira hangat dan ramah, ketika melihat piring Aira dan Hana kosong.
"Mungkin mereka tidak terbiasa makan makanan mahal!" Sahut Saskia sinis, Hana langsung berdiri. Aira menoleh dengan tatapan terkejut, Aira menggenggam tangan Hana. Meminta Hana duduk kembali, tapi Hana menolak. Hana menggeser kursi meja makan dengan keras. Sampai kursi terjatuh dan terbalik.
"Hana!"
"Tidak kak, tidak lagi aku diam. Aku mencoba tinggal demi kakak, tapi tidak sekarang. Dia wanita yang kehilangan akal. Dia menghina kita, padahal dia yang menumpang hidup pada kakaknya. Dia hanya akan hidup di jalanan, jika bukan karena kakaknya yang memberikan nafkah padanya. Sedangkan kita, seperserpun kita tidak hidup dari keringat ayah kita. Bahkan saat aku ingin merasakan asin keringat papa. Aku harus menelan ludah, mendengar betapa angkuhnya keluarga ini. Kita tidak semiskin itu, sampai dia bisa serendah itu pada kita. Jika dia memang ingin menjual harga dirinya. Detik ini, aku akan membelinya dengan sangat mahal!" Ujar Hana lantang, Aira langsung menangkup wajah Hana.
"Dik, kakak mohon tenangkan dirimu!" Ujar Aira lirih, lalu memeluk Hana. Radit dan Zain langsung mendekat, Alvira terpaku mendengar kasar perkataan Hana.
"Maaf, sepertinya saya harus pulang. Terima kasih makan malamnya, tapi maaf sebelumnya. Kami tidak bisa mengkonsumsi seefood!"
__ADS_1
"Tunggu Aira, aku akan mengantarmu!" Ujar Zain, Aira langsung menahan langkah Zain.
"Terima kasih, sejak dulu aku dan Hana selalu bersama. Kami tidak membutuhkan uluran tangan orang lain. Tidak juga ayah yang membuat kami terlahir. Ayah yang tak pernah bisa menemukan kami. Meski kami sangat dekat dengannya. Seorang ayah yang tak pernah bisa memberikan rasa nyaman pada kami. Bahkan jauh sebelum kami terlahir dan hari ini setelah kami dewasa!" Tutur Aira dingin, Radit lemas tak bertenaga. Saskia diam membisu, Alvira mencoba menenangkan Hana. Namun tangannya ditepis, saat Alvira mencoba menyentuh Hana.
"Papa, maaf kami harus pulang. Aku tidak bisa menginap disini. Jika nyatanya Hana tertekan dan membutuhkanku. Mungkin papa penasaran, kenapa Hana bisa semarah ini? Hana mudah emosi dan kasar. Namun akan sangat kasar, saat mendengar harga diri mama atau harga dirinya diragukan dan terhina!" Ujar Aira sopan, lalu menuntun Hana duduk di sofa ruang tengah.
"Kakak akan mengambil kunci mobil. Tenangkan dirimu, kita pulang sekarang!" Ujar Aira, Hana mengangguk pelan.
"Aira papa mohon tinggallah!"
"Maafkan Aira, Hana akan semakin tak terkendali. Dia akan mewujudkan perkataannya. Dia bisa menghancurkan hidup keluarga papa!"
"Dengan apa?" Sahut Saskia.
Diam!" Ujar Radit, sembari menunjuk ke arah Saskia.
"Hana bisa membeli harga diri anda cash sekarang juga. Usia mudanya, tak lantas membuatnya tak berdaya. Hana sudah memiliki segalanya sejak muda!"
"Tidak mungkin, Nissa wanita miskin!" Ujar Alvira liri.
"Mama!" Panggil Zain kasar.
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin? Hana cucu kebanggaanku. Dengan satu tanda tangannya, dia bisa membeli segalanya. Termasuk harga diri keluarga ini!" Ujar Daniel lantang.
"Kakek!" Teriak Hana, lalu berlari ke arah Daniel. Memeluk tubuh Daniel, berlindung dalam hangat pelukan Daniel.