
Pagi menyapa dengan harapan baru. Sang fajar menyapa dengan hangat cahayanya. Kabut berlalu meninggalkan embun pagi yang dingin. Suara burung camar menyapa di atas dahan tinggi. Harmoni alam yang indah penuh ketenangan. Lukisan alam yang tergambar dengan begitu cantik tak tertandingi. Pagi cerah menjadi awal indah bagi semua orang. Namun indah pagi, tak seindah hati Amira. Suasana bahagia, berubah menjadi amarah. Tatkala semua orang berniat mencari masalah dengannya.
Sejak semalam, Aryan sudah meminta Amira ikut dengannya pergi ke rumah utama. Rumah besar yang kini ditempati Irfan Kusuma dan Alvira Kusuma. Rumah berdinding beton yang dingin tak berhati. Sejak Alvira masuk menjadi bagian keluarga Kusuma. Sejak saat itu, Amira enggan masuk ke dalam rumah itu. Sikap tegas Amira yang selama ini dipegang teguh olehnya. Namun tidak pagi ini, Amira harus bersedia menemui Irfan. Aryan sudah meminta Amira baik-baik, mengingat sejak semalam kondisi Irfan yang sakit. Sebab itu Aryan mengajak Amira sarapan bersama di rumah utama.
Amira mengemudikan mobilnya sendiri. Setelah keluar dari perusahaan, Amira akhirnya bekerja di perusahaan Kusuma. Amira menjadi penerus bisnis keluarga Kusuma. Setidaknya sampai Nissa ada di dalam keluarga Kusuma lagi. Amira tidak pernah ingin mengambil hak Nissa. Bagi Amira tidak ada persaingan antara dirinya dengan Nissa. Namun berbeda dengan hubungan dirinya dengan Alvira. Amira tidak akan pernah menerimanya, sampai kakeknya menerima Nissa.
"Selamat datang om Aryan, kakek sudah menunggu di meja makan!" ujar Alvira, sembari membuka pintu untuk Aryan dan Amira. Mereka datang berdua, sebab mama Amira sudah ada di rumah utama sejak pagi. Akan ada sarapan bersama, sebab itu mama Amira datang membantu.
"Assalammualaikum!" ujar Amira lirih, Aryan dan Alvira menoleh seraya terdiam. Salam yang terucap dari bibir Nissa, terdengar bak duri tajam yang menusuk nadi mereka. Salam yang hampir tak pernah terdengar di rumah megah ini.
Amira mengucapkan salam, tanpa berharap ada yang menyahuti. Ucapan salam Amira terlalu tulus, sampai Aryan atau Alvira sulit mengertinya. Langkah pertama Amira, terlihat begitu anggun dan bijaksana. Setidaknya diantara keluarga Kusuma, masih ada yang berbudi pekerti baik. Amira melewati Aryan dan alvira yang terdiam dengan rasa malu. Aryan seorang ayah yang bahkan tak mampu mengajari putrinya dan kini tanpa sadar ditegur secara halus oleh putrinya.
"Assalammualaikum kakek!" sapa Amira, sembari mencium punggung tangan Irfan. Lagi dan lagi hanya diam dengan wajah penuh rasa malu. Tatkala bibir Irfan tetap membisu, kata salam seolah berat terucap dari bibirnya. Amira langsung duduk, begitu menyadari Irfan takkan menjawab salamnya.
"Waalalaikumsalam!" sahut Sania, Amira berdiri langsung mencium punggung tangan Ibu yang melahirkannya. Amira memeluk erat tubuh Sania, wanita tangguh yang kuat bertahan dalam keluarga Kusuma yang angkuh.
"Amira sayang mama!" bisik Amira, sembari memeluk erat tubuh Sania. Kedipan mata Sania, isyarat rasa sayang yang sama. Amira alasan Sania bertahan dalam keluarga Kusuma. Cinta seorang anak yang menghapus air mata dan duka seorang ibu.
"Duduklah sayang, mama akan menyajikan makanannya!" ujar Sania lirih, Amira mengangguk pelan. Amira duduk tepat di sisi kiri Irfan, berhadapan langsung dengan ayahnya. Sedangkan Alvira duduk tepat di samping Amira.
Sekitar sepuluh menit, akhirnya semua makanan tersaji di meja makan. Tak nampak lagi piring kosong, semua sudah mengambil makanannya. Amira mengambil sedikit makanan, tak ada napsunya sarapan. Apalagi dia duduk berdampingan dengan Alvira. Sepupu yang tak pernah ingin dikenalnya.
"Alvira, hari ini sidang pertama gugatanmu. Kakek percaya, kamu bisa memenangkannya!" ujar Irfan memulai pembicaraan, Alvira mengangguk sembari tersenyum bahagia.
__ADS_1
Amira diam membisu, tak ada inginnya ikut campur urusan keluarga Kusuma. Terlebih urusan itu berhubungan dengan Alvira. Namun akan berbeda ceritanya, jika Alvira mengusik Nissa. Itu akan menjadi bumerang bagi Alvira. Amira akan tegas, bahkan siap menghancurkan hidup Alvira. Sebuah janji dan ancaman yang pernah Amira katakan pada Alvira.
"Pagi ini sidang mediasi, jika aku dan Radit bisa menemukan titik temu. Kami tidak perlu melanjutkan lagi persidangan ini!"
"Pengacara keluarga kita sangat hebat, aku yakin dia bisa membantumu. Hak asuh Zain akan kamu dapatkan!" sahut Irfan, Alvira mengangguk. Sania melirik ke arah Amira. Nampak Amira menunduk, tanpa sedikitpun peduli dengan pembicaraan kakek dan cucunya. Naluri alamiah seorang ibu yang takkan sanggup melihat anaknya terluka dan tersisih.
"Aryan, kamu dampingi Alvira. Pastikan dia mendapatkan hak asuh Zain. Dengan cara apapun, gunakan semua kekuasaan kita. Buktikan pada Radit, dia salah memilih lawan!" ujar Irfan tegas dan lantang, Aryan menatap kosong Irfan. Ada rasa tak percaya, jika dia harus ada di tengah-tengah Nissa dan Alvira. Pilihan yang tak mudah bagi Aryan. Bagaimanapun Nissa amanah sang kakak? Meski Aryan tak pernah membela Nissa secara terang-terangan. Namun, Nissa tetap keponakan yang butuh perlindungannya.
"Kenapa kamu diam? Kamu tidak sanggup melawan Radit. Aryan, Alvira keponakanmu dan Zain cucumu. Jangan biarkan orang lain merebutnya. Keluarga kita tidak akan pernah menerima kekalahan!"
"Tapi pa!" sahut Aryan ragu, perkataannya terhenti. Ketika tatapan tajam Irfan seakan menusuknya. Tatapan tidak suka akan keraguan Aryan. Amira memilih diam, menutup rapat hatinya. Amira mencoba tetap tenang. Setidaknya sampai Amira mendapatkan cela menghentikan keangkuhan kakeknya dan Alvira.
"Tapi kenapa? Kamu takut menyakiti wanita itu. Ingat Aryan, dia bukan siapa-siapa? Jangan pernah bimbang memilih antara wanita itu dan Alvira. Sebab jelas siapa keluarga kita? Alvira dan Zain keluarga kita!" ujar Irfan tegas penuh emosi. Sania menggenggam tangan Aryan, mencoba menenangkan Aryan. Kedipan mata Sania yang selama ini mendukung Aryan.
Kreeeeekk
Suara geseran kursi Amira, seketika mengejutkan semua orang. Mereka tersadar sedang berada di meja makan. Irfan tertegun, menyadari Amira berdiri dan ingin pergi. Seakan berada di sampingnya terlalu lama itu sangat sulit. Sania menggeleng lemah, dia jelas melihat duka sang putri. Aryan membisu, putrinya kini semakin jauh dan bertambah dewasa. Sampai-sampai Irfan tak lagi mendengar rengekan Amira lagi.
"Maaf, saya permisi lebih dulu!"
"Amira, duduklah sebentar lagi. Setidaknya temani kakek makan!" pinta Irfan, Amira menggeleng lemah. Sekilas Amira menoleh ke arah Alvira, lalu terlihat senyum sinis di wajah Amira untuk Alvira.
"Akan butuh waktu seharian menemani kakek makan. Sebab kalian lebih fokus pada kebahagiannya!"
__ADS_1
"Dia sepupumu, jika bukan kita yang membantunya. Lalu, pada siapa dia bergantung?"
"Tentunya bukan padaku, ada kakek dan papa yang bisa membantunya. Aku datang ke rumah ini, untuk sarapan bersama kakek. Bukan mendengar drama percintaannya!" sahut Amira pada Irfan, Aryan hendak menghentikan Amira. Namun Sania menghentikannya.
"Amira, jaga bicaramu!"
"Kakek membentakku demi dia, mungkinkah kakek ingin mengusirku demi juga?"
"Amira, hentikan!" ujar irfan dengan emosi, Amira tersenyum menatap Irfan. Emosi yang menyiratkan rasa sayang padanya. Namun amarah yang terlihat, demi membela Alvira.
"Kamu, wanita anggun berpendidikan. Aku pernah memintamu bercermin, tapi sepertinya rumah megah ini tak memiliki cermin!"
"Amira, papa mohon!"
"Sekali ini papa, aku mohon jangan hentikan aku!" ujar Amira sembari menangkupkan tangan di depan dadanya.
"Alvira, seharusnya kamu malu dengan tindakanmu. Kamu meminta hak asuh Zain, saat putramu telah menemukan ibu sambung yang menyayanginya dengan tulus. Jika memang kamu seorang ibu, kenapa kamu meninggalkan Zain? Demi mengejar kesuksesanmu. Seorang ibu lebih memilih terluka, daripada melukai putranya. Sebaliknya, kamu bangga bisa menyakiti putramu. Kamu berpikir ini kasih sayang, tapi ini keegoisan wanita yang telah kehilangan cintanya!" tutur Amira lantang, lalu pergi melangkah keluar.
"Zain putraku, aku ibunya" teriak Alvira lantang, Amira menoleh.
"Ibu yang tak pernah menginginkan putranya, karena kekurangan putranya!" sindir Amira dingin, Alvira terduduk lesu.
"Dia putraku!" batin Alvira dengan hati penuh penyesalan.
__ADS_1