
"Nissa!" sapa Radit, Nissa mengedipkan kedua matanya. Mengiyakan panggilan Radit, suami yang tanpa sadar telah menyakitinya.
Nissa mencoba untuk duduk, tapi Radit melarangnya. Radit menahan tubuh Nissa, dia langsung duduk tepat di samping Nissa. Sesaat setelah Radit menaikkan tempat tidur Nissa. Radit tertunduk beberapa saat, dia merasa bersalah dan tak mampu menatap wajah Nissa. Amarah sesaatnya, membuat Nisss terluka dan tersakiti. Sampai Radit tak menyadari, apa yang sebenarnya terjadi pada Nissa?
"Kenapa malah diam? Katakan, aku siap mendengarkanmu!" ujar Nissa lirih, Radit menatap nanar Nissa. Kini bukan hanya rasa bersalah yang ada dihatinya. Namun ada rasa yang jauh lebih sulit untuku diungkapkannya.
"Kenapa selama ini kamu diam? Aku berhak mengetahui tentang kehamilanmu. Kamu menyimpan kabar sebesar ini dariku. Bahkan aku alasan dirimu terbaring lemah!" ujar Radit, Nissa menghela napas.
Nissa menatap lekat Radit, entah seharusnya dia marah atau merasa bersalah pada Radit? Nissa merasa bingung dengan perasaannya saat ini. Seorang istri tidak berhak menyalahkan suaminya. Sebaliknya, tak sepantasnya suami bicara kasar atau menyalahkan istrinya. Tanpa bertanya atau memahami isi hati istrinya terlebih dahulu. Nissa merasa bimbang, dia kini tak mampu mengatakan isi hatinya. Bertahan atau pergi, dua pilihan yang sulit diputuskan.
"Maaf, jika diamku mekukai harga dirimu. Maaf, jika aku menutupi fakta tentang kehamilanku. Maaf, sebagai seorang istri aku telah melupakan baktiku padamu. Maaf, jika aku hanya wanita biasa berhati picik. Aku bukan wanita sempurna yang mampu menahan rasa marah. Aku bukan wanita hebat yang bisa menahan rasa sakit. Aku bukan wanita berhati mulia yang sanggup menahan rasa cemburu. Nissa tetap wanita biasa yang memilik lemah, cemburu dan marah. Diamku, caraku membalas semua sikap kasarmu. Sikap acuhmu yang lebih peduli pada Alvira. Mengabaikan sakit dan lukaku dan kini tumbangku, menjadi alasan terbesarku pergi darimu!" tutur Nissa tenang dan tegas, sontak Radit mengangkat wajahnya. Menatap tak percaya, Nissa mampu mengatakan semua itu.
"Pergi!" ujar Radit mengulang perkataan Nissa. Kedipan mata Nissa, sebuah jawaban yang tak pernah dibayangkan Radit sebelumnya. Radit tak menyangka, Nissa akan menjauh darinya. Pergi membawa buah cinta mereka. Menjauh dari cinta yang baru saja bersemi.
"Kenapa?"
"Karena hubungan diantara kita tidak sehat!" ujar Nissa, Radit menggeleng lemah. Nissa memegang tangan Radit, seutas senyum terlihat di wajah cantik Nissa.
__ADS_1
"Nissa, jangan lakukan itu!" ujar Radit, sembari menggelengkan kepalanya pelan. Radit tak pernah ingin menjauh dari Nissa. Namun sekarang, setelah Nissa tersadar bukan memperbaiki hubungan. Nissa ingin pergi dari hidup Radit.
"Adakah pilihan lain untukku!" sahut Nissa.
"Maksudmu?"
"Adakah jalan terbaik untuk hubungan kita. Aku menikah denganmu, demi pembayaran hutang ayahku. Selama aku menjadi istrimu, tak sekalipun aku memiliki harga diriku. Papa mertua yang aku hormati. Hanya menganggapku sebagai istrimu, bukan putri menantu yang seharusnya merasakan hangat kasih sayangnya. Adik tersayangmu, hanya menganggapku wanita murahan tidak lebih. Padahal aku istri sah dari kakaknya. Mantan istrimu, menganggapku sebagai saingan. Meski dia sadar, aku wanita yang kamu cintai saat ini. Putra kecilmu, menyayangiku dengan tulus. Namun kasih sayangnya yang membuatnya jauh darimu. Beberapa hari yang lalu, ketika seorang ayah ingin menebus harga diri putrinya. Bukan pengertian yang kamu tunjukkan, malah amarah yang membuat buah hati kita hampir tiada. Sekarang katakan, adakah jalan lain untukku. Bertahan denganmu atau aku harus keluar demi hidup sehat putraku!"
"Nissa, maafkan aku!"
"Radit, aku mencintaimu. Namun cintaku tak cukup kuat sebagai dasar dari pernikahan kita. Menjauh, menjadi cara kita untuk saling memahami!"
Kreeekkk
"Maaf, mengganggu pembicaraan kalian!" ujar Zahra ramah, Nissa mengangguk. Isyarat Nissa mengizinkan Zahra masuk ke dalam ruang rawatnya. Zahra menatap Radit yang tertunduk lesu. Zahra sudah mendengar tentang keinginan Nissa. Sebab itu, Zahra datang menemui Nissa saat ini. Bukan sebagai seorang dokter, tapi dia datang sebagai seorang kakak.
"Nissa aku mengenal dirimu dengan sangat baik. Kamu bukan pribadi yang lemah, tapi bukan pula pribadi yang keras. Kamu bijak dalam memutuskan sesuatu. Alasan kamu mampu bertahan menghadapi badai dalam hidupmu. Terlepas ada atau tidaknya masalah itu kamu pasti selalu mendominasi dan mandiri. Namun kamu mulai lupa, dirimu tidak lagi sendiri. Radit sepenuhnya bertanggungjawab atas dirimu dan buah hati kalian. Kamu bukan hanya seorang istri, tapi makmum dunia akhirat Radit. Makmum yang harus mengikuti arahan imam, selama itu masih dijalan yang benar. Bersikap lemah di depan Radit tidaklah salah!"
__ADS_1
"Tapi!"
"Nissa, aku tak pernah mengetahui seberapa besar rasa sakitmu. Sedalam apa, kepedihan yang kamu rasakan. Sehina apa keluarga Radit memandangmu? Satu hal yang aku ketahui, kamu sangat mencintai Radit. Sebaliknya, Radit terlihat begitu menyayangimu. Aku tidak akan melarangmu pergi dari Radit. Jika memang hatimu menyerah untuk memaafkam Radit. Seandainya bisa, pertimbangkan lagi demi buah hati kalian!"
"Radit, dia tidak sepenuhnya membutuhaknku!"
"Kamu yang terbaik menurut Radit, sebab itu dia memilihmu. Bagaimanapun Radit sangat menyayangimu? Namun, sisi kuatmu yang seolah tak membutuhkan kehadirannya. Jangan hanya mengalah demi kebahagian orang lain. Belajarlah kalah dan lemah demi bahagiamu. Agar Radit menjadi penopang dan sandaranmu!"
"Kak, cinta ini menyakitkan!" ujar Nissa lirih, Zahra mengangguk memahami kepedihan Nissa.
"Tapi statusmu tak mengizinkan semua itu. Ingatlah Nissa, niat awal kamu menikah dengan Radit. Bukan semata demi cinta, tapi jalan menuju jannah-NYA!" tutur Zahra, Nissa diam membisu. Radit semakin tertunduk, luka Nissa nyata dan dalam. Keteguhan Nissa tidak akan mudah diubah. Bayangan kepergian Nissa, terpampang nyata di depannya. Jauh dari Nissa, bukan hal yang mudah. Radit kalut mendengar keinginan Nissa yang begitu kuat.
"Nissa, seorang wanita diberikan kelebihan disetiap perannya. Ketika seorang wanita menjadi anak maka ia harus berbakti kepada orang tuanya. Ketika status anak berubah menjadi istri,hilanglah tanggujawab sebagai seorang anak berganti berbakti kepada suaminya. Ketika seorang istri menjadi seorang ibu, bertambahlah kewajibannya untuk mengasuh anak-anaknya. Jika bukan demi dirimu, setidaknya lakukan semua ini demi buah hatimu!"
"Aku pergi demi mereka!"
"Tuan Radit, aku sudah berusaha memberikan penjelasan pada Nissa. Namun perkataan Nissa tidak salah, dia berhak memutuskan hidupnya. Apalagi demi putra yang hampir tiada, karena sikap dan perlakuan keluargamu. Sebagai seorang kakak, aku tidak ingin melihat pernikahan Nissa hancur dan membiarkan Nissa durhaka pada suaminya. Namun, sebagai dokter kandungannya. Aku setuju, seandainya kepergiannya demi ketenangan. Kondisi kehamilan Nissa tidak baik-baik saja. Akan fatal, jika Nissa terus berada dalam tekanan!" tutur Zahra, Radit diam tak bersuara.
__ADS_1
"Maafkan aku, maaf!" ujar Radit lirih dengan rass bersalah dan penyesalan.
"Aku mencintamu Radit, tapi tumbangku membuatku sadar. Aku harus kuat, demi dua buah hatiku. Bersamamu aku bahagia, sekaligus tersakiti. Aku tidak akan sanggup bertahan, jika masa lalumu tetap ada di sekitarmu!" batin Nissa pilu.