
"Rokok!"
"Tidak, terima kasih!" sahut Radit, sembari menolak rokok dari Rayhan. Radit termenung dalam gelap malam.
Radit berdiri di rooftop kantornya. Tatapan Radit kosong, tak ada sinar dalam dua bola mata Radit. Entah apa yang dipikirkan Radit? Rayhan tak mampu memahami arti diam dan kegelisahan Radit. Sejak pagi, Radit lebih banyak diam. Tak ada canda atau sikap kasar. Radit bagai air mengalir yang tenang. Namun dalam tenang Radit, jelas menyimpan kegelisahan tak bertepi. Radit benar-benar berbeda, ada masalah yang tengah dia sembunyikan. Sampai-sampai Radit memilih diam di atas rooftop kantornya. Tempat paling tinggi di kantornya, menatap langit malam yang gelap tanpa cahaya bulan atau bintang.
Rayhan sengaja mengkuti Radit sampai ke rooftop. Jam kerja Rayhan sudah selesai. Kini dia bukan seorang asisten, tapi sahabat yang akan setia menghapus duka Radit. Setidaknya menjadi pendengar yang baik. Seandainya Rayhan tak mampu menghapus duka sahabatnya. Radit terlihat begitu gamang, tatapan sayu yang terlihat menyakinkan Rayhan. Ada masalah yang tengah dihadapi Radit. Namun itu bukan masalah perusahaan, sebab perusahaan radit dalam kondisi baik-baik saja.
"Kamu baik-baik saja!"
"Entahlah!" sahut Radit datar, Rayhan berdiri tepat di samping Radit. Menatap langit yang sama bersama Radit. Mencari ketenangan dalam gelap tanpa batas.
"Nissa atau Alvira!" ujar Rayhan, Radit menghela napas.
"Kenapa kamu diam? Kamu belum bisa memutuskan, siapa yang ada di hatimu!" ujar Rayhan tak percaya, Radit menoleh kearah Rayhan.
"Aku tidak bisa jauh dari Nissa, dia segalanya dalam hidupku. Namun Alvira bukan orang lain. Sekuat aku menolak kehadirannya. Dia akan terus datang dan memaksa masuk ke dalam keluargaku. Alvira tidak mudah dihadapi, dia bom waktu yang siap meledak. Hanya menunggu waktu, Alvira akan membuat semua orang terluka!" ujar Radit lirih, Rayhan menepuk pelan pundak Radit. Tatapan Rayhan sendu, melihat sahabatnya rapuh dan lemah.
Rayhan melihat cinta Radit yang begitu tulus. Cinta yang tak butuh bukti, tapi nyata ada dalam hati terdalam Radit. Ketakutan akan kehilangan Nissa, membuat Radit lemah dan rapuh. Sejenak Rayhan terdiam, tak ada kata yang terucap. Rayhan benar-benar bingung, Radit terlihat berbeda. Tak ada garang yang selama ini terlihat dari sosok Radit.
"Kamu sangat mencintai Nissa, jauh lebih besar dari cintamu pada Alvira. Rasa takut kehilangan Nissa, tak sebesar kekecewaanmu melihat Alvira pergi. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa? Kamu benar-benar hanya memikirkan Nissa. Tanpa peduli lagi pada hidupmu. Entah ini ketulusan atau kebodohan? Satu hal yang pasti, kamu menunjukkan padaku. Jika cinta sejati itu ada!" tutur Rayhan dengan nada kagum. Radit menoleh ke arah Rayhan, lalu menghela napas perlahan.
"Aku hanya takut Nissa terluka dengan masa laluku. Zain pengikat diriku dengan Alvira. Alasan Alvira akan selalu berada di sekitarku. Aku tidak mengharapkan kehadirannya. Namun mengusirnya dari rumahku, bukan sebuah hal yang benar. Mengingat dia wanita yang melahirkan putraku!"
"Kamu benar Radit, sampai kapanpun? Kamu tidak bisa mengusirku. Aku ibu dari putramu, aku masih memiliki hak atas Zain. Tidak ada satu orangpun yang berhak mengusirku, tidak terkecuali kamu!" sahut Alvira lantang, Radit dan Rayhan langsung menoleh. Alvira berjalan anggun menghampiri Radit,
__ADS_1
"Kamu!" ujar Radit tak percaya!"
"Kamu bisa membuangku jauh dari hidupmu, tapi kamu tidak berhak membuangku dari hidup Zain. Selamanya aku ibu kandung Zain dan Nissa hanya ibu sambung. Jangan pernah mencobanya, jika tidak ingin melihat amarahku!" ujar Alvira, Radit tersenyum sinis.
Radit melangkah pergi, meninggalkan Alvira di bawah gelap malam. Rayhan mengikuti langkah Radit, meninggalkan Alvira dalam sepi malam. Namun Alvira datang bukan untuk diacuhkan. Alvira sengaja menemui Radit, saat dia mengetahui Radit masih berada di kantor. Sikap kasar Amira, membuat Alvira geram dan ingin mengatakan segalanya dengan sangat jelas. Alvira ingin Radit menyadari posisinya, sadar jika Nissa bukan siapa-siapa dalam hidup Zain putranya?
"Tunggu, aku belum selesai bicara!" ujar Alvira, sembari menahan tangan Radit. Rayhan tertegun, Alvira menghentikan langkah Radit. Seakan Alvira ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
"Lepaskan!" teriak Radit, sembari menepis pelan tangan Alvira. Namun usaha Radit sia-sia, Alvira menggenggam tangan Radit dengan kuat. Radit bisa saja menghempaskan tangan Alvira kasar, tapi Alvira seorang wanita. Sangat tidak pantas bila Radit bersikap kasar. Apalagi Alvira bukan orang lain. Alvira mantan istrinya, sekaligus ibu dari Zain putranya.
"Kita harus bicara!" ujar Alvira, Radit menggelengkan kepalanya lemah. Radit menepis tangan Alvira, menolak dengan tegas hubungan yang ditawarkan Alvira.
"Radit, cukup kamu mengacuhkanku!"
"Diam kamu, tidak ada hakmu bicara!" teriak Alvira pada Rayhan, Radit menarik tangan Alvira. Ketika melihat Alvira hendak menampar Rayhan. Rasa teracuhkan, nyata membuat Alvira kalap. Amarah dan rasa cemburu, membuat Alvira buta.
"Kamu kehilangan akal, dia itu Rayhan sahabat kita. Apa yang membuatmu seperti ini? Alvira yang aku kenal tidak seperti ini. Dia wanita berkelas, anggun dan percaya diri. Dia tidak akan menghiba hanya demi cinta. Sukses menjadi tujuan hidupnya. Alvira tidak putus asa, dia kuat dan mandiri. Namun sepertinya Alvira telah berubah, kini yang terlihat hanya Alvira yang lemah. Alvira yang tidak peduli lagi pada harga dirinya!" ujar Radit, sembari menangkup kedua tangan Alvira. Rayhan terkejut, ketika menyadari Alvira bersiap ingin menamparnya.
"Lebih baik kita pulang, Alvira tidak baik-baik saja!" ujar Rayhan, Radit mengangguk setuju. Rayhan berjalan lebih dulu, sedangkan Radit menuntun Alvira kembali ke bawah. Namun sikap baik Radit menjadi awal kelancangan Alvira.
Sikap baik yang Radit tunjukkan, justru menjadi bumerang bagi Radit. Alvira seolah mengambil kesempatan dalam luluh hati Radit. Alvira berhambur memeluk Radit. Pelukan hangat yang pernah mengisi hidup Radit. Rayhan terkejut, melihat Alvira dan Radit berpelukan. Rayhan melihat tubuh Radit yang mulai lemah. Tatkala Alvira memeluk Radit dengan hangat dan penuh cinta.
"Radit, aku merindukanmu. Maafkan aku pernah mengecewakannmu!" ujar Alvira lirih, tepat di telinga Radit.
"Alvira lepaskan!" pinta Radit, sembari mendorong tubuh Alvira. Gelengan kepala Alvira, menjadi jawaban tegas dari penolakan Radit.
__ADS_1
"Sebentar saja, biarkan aku memelukmu. Nissa tidak akan mengetahuinya!" ujar Alvira, Radit terus mendorong tubuh Alvira.
"Radit, apa yang kamu lakukan salah?" ujar Rayhan lantang, Radit langsung mendorong tubuh Alvira dengan sangat keras. Alvira jatuh tersungkur, Rayhan diam membisu. Alvira sudah melebihi batasannya sebagai wanita terhormat.
"Awwwwsss!" teriak Alvira kesakitan, Radit tak peduli. Dia langsung pergi, meninggalkan Alvira.
"Tunggu Radit!" teriak Alvira, Radit dan Rayhan menoleh. Nampak Alvira sudah berdiri, menatap tajam ke arah mereka.
"Apa yang kamu lakukan padaku? Kamu akan membayarnya dengan sangat mahal!"
"Apa maksudmu?" sahut Radit, Alvira tersenyum sinis.
"Dua hari lagi, kita akan bertemu di persidangan. Aku akan merebut hak asuh atas Zain darimu!"
"Kamu kehilangan akal!"
"Aku akan mengambil Zain darimu, kecuali kamu bersedia meninggalkan Nissa selamanya!" ujar Alvira sinis.
"Tidak akan pernah!" sahut Radit dingin dan datar.
"Terserah padamu!" ujar Alvira, lalu berjalan melewati Radit begiitu saja.
"Radit tidak akan kehilangan Zain. Sebab Nissa yang akan pergi darinya!"
"Jangan ambil Nissa dariku, jangan jauhkan Nissa dariku. Aku mohon!"
__ADS_1