
"Berhenti sebentar, aku ingin membeli sesuatu!" pinta Nissa, Radit menghentikan mobilnya tepat di depan apotik 24 jam.
Nissa membuka pintu, tapi tertahan saat Radit memegang tangan Nissa. Sontak Nissa menoleh, raut wajah Nissa heran. Sebaliknya raut wajah Radit tegangg. Seakan ada beban yang sedang dipikirkannya. Lama keduanya saling diam, isyarat mata menggambarkan rasa cemas dan kekhawatiran. Jelas Radit takut Nissa pergi ke apotik untuk sesuatu yang tak diinginkannya.
"Sudah menatapku, aku harus masuk!"
"Kamu masih membeli obat itu!" ujar Radit, Nissa diam membisu. Radit menghela napas, diam Nissa seakan jawaban yang sudah dibayangkannya.
"Pergilah, aku sadar kamu masih belum percaya padaku!" ujar Radit dingin, lalu melepaskan tangan Nissa.
Nissa melangkah masuk ke dalam apotik. Sekilas dia menoleh ke arah Radit. Namun rasa cemburu yang dirasakannya. Tatkala dia melihat Radit sibuk berbicara dengan seseorang. Nissa memilih masuk ke dalam apotik. Hampir sepuluh menit Nissa berada di apotik. Setelah itu Nissa kembali dengan beberapa obat. Namun tak obat yang kemarin dibuang Radit. Hanya vitamin dan penambah darah yang tengah dibeli Nissa.
Semenjak malam itu, Nissa menghentikan pemakaian obat penunda kehamilan. Terlambat seminggu, sama artinya dia telah lalai. Sebab itu, Nissa memutuskan menghentikan total pemakaian obat penunda kehamilan. Nissa memilih pasrah akan ketetapan-NYA. Nissa tidak ingin menunda atau menolak diberi momongan. Seandainyapun Nissa terlanjur tidak bisa hamil, dia sudah pasrah dan menerima semuanya dengan ikhlas.
Kreeeekkk
__ADS_1
Terdengar derit pintu kaca yang tengah didorong Nissa. Perlahan Nissa melangkah keluar, tapi langkahnya terhenti tepat di anak tangga pertama. Tubuh Nissa beku, bibir Nissa kelu dan tatapan Nissa kabur. Dadanya terasa panas, napasnya terasa sesak dan hatinya merasakan ngilu yanh teramat. Bahkan dua bola matanya memerah, lalu setetes air mata bening jatuh membasahi pipinya. Air mata yang jatuh, mengiringi rasa cemburu yang memenuhi hatinya. Tatkala nampak sosok wanita anggun tengah berbicara dengan Radit.
Nissa terdiam sejenak, memilih berdiri di samping. Menatap tajam ke arah Radit dan sang wanita. Nissa melihat tatapan tak biasa Radit. Senyum mempesona yang tercipta dari wajah yang hampir sempurna. Membuat Nissa merasa rendah dan kecil. Sekilas terdengar hangat pembicaraan Radit dengan wanita itu. Kehangatan yang menyiksa batinya, melengking ditelinganya dan menyakitkan kedua matanya. Nissa menepuk perlahan dadanya yang semakin sesak. Rasa ngilu yang teramat, bak belati yang menancap tepat uluh hatinya.
"Dia siapa? Kenapa Radit begitu hangat dan nyaman? Mungkinkah dia!" batin Nissa terhenti, tatkala hatinya tak mampu menduga siapa wanita itu. Nissa terlalu takut, mengakui kehangatan Radit dan wanita itu.
"Sebentar, aku akan menghubungi Nissa. Dia sudah lama berada di dalam. Setelah dia kembali, kita bisa pergi bersama!" ujar Radit lantang, Nissa menekan dadanya pelan. Rasa sakit yang semakin menjadi, membuat Nissa merasa lemah dan bodoh.
Nissa memilih mematikan ponselnya, lalu bersembunyi dari pandangan Radit. Rasa cemburu yang begitu besar. Rendah diri yang membuatnya takut menatap sang wanita senpurna. Nissa terus bersembunyi, bahkan saat Radit memilih menyusul ke dalam apotik. Kecemasan Radit, tak sedikitpun menyakinkan Nissa. Jika pemikirannya salah dan seandainya benar ada kehangatan diantara Radit dan wanita itu. Radit tetap bersama Nissa, tapi rasa cemburu membuat Nissa lemah dan pengecut. Memilih bersembunyi di balik tiang, agar Radit pergi tanpa melihatnya.
"Dimana dia?"
"Kenapa?"
"Nissa selalu seperti itu, dia takut mengganggu pekerjaanku. Sebab itu dia pergi tanpa pamit!" sahut Radit lagi, sang wanita mengangguk perlahan.
__ADS_1
"Dan aku harap hanya sebatas itu pemikiranmu Nissa. Jangan sampai kamu berpikir, Alvira lebih dari teman denganku. Dia hanya masa lalu untukku, tidak akan lebih. Sedangkan kamu masa depanku. Aku berharap, kepergianmu sebatas rasa cemburu yang penuh rasa percaya padaku. Bukan cemburu yang menyakini ada hubungan diantara aku dan Alvira!" batin Radit, sembari menatap layar ponselnya. Beberapa kali Radit menghubungi ponsel Nissa. Namun yang terdengar hanyalah operaror ponsel.
Radit memutuskan pergi dari apotik, sesaat setelah berpamitan dengan Alvira. Namun langkahnya terhenti, ketika Alvira menggenggam erat tangan Radit. Tiba-tiba Alvira mencium punggung tangan Radit. Sikap hangat yang membuat Radit tertegun dan tak percaya. Saat tersadar, Radit langsung melepaskan tangannya. Namun terlambat, Nissa sudah melihat segalanya dan memilih pergi lewat jalan lain.
"Inikah cemburu? Kenapa rasa sakitnya menghentikan napasku? Aku tak mampu menatap hangat diantara mereka. Aku tak sanggup membayangkan kenangan indah diantara mereka. Dua insan yang sempurna, saling memadu cinta dalam derajat yang sama. Namun terpisah karenaku, wanita lemah dan pengecut. Haruskah aku mundur? Atau aku bertahan dengan bayangan hangat diantara mereka? Mama, maafkan Nissa yang pernah menyalahkan mama. Maafkan Nissa yang pernah menilai mama penyebab rasa sakit wanita lain. Tanpa Nissa pahami, betapa sakit dan hancurnya hidup di atas bayangan kebahagian wanita pertama. Mungkinkah selamanya aku menjadi senja pengganti? Dirindukan kala air mata menetes dan tubuh mendingin. Lalu dilupakan, saat tubuh tak lagi mendingin. Dulu aku begitu percaya diri, mampu bertahan dengan tatapan sinis suamiku. Kini aku tak lagi bisa berdiri, hanya dengan menatap senyumnya bersama wanita lain. Serumit inikah cinta? Serapuh inikah hati yang mencinta? Seandainya mampu kuputar waktu? Aku tidakkan sesombong dulu, terlalu angkuh dan percaya diri. Bahwa aku takkan pernah mencintai satu nama. Ahmad Dzaky Raditya yang telah membeliku dengan hartanya!" batin Nissa galua, lalu menatap langit yang tiba-tiba berwarna merah.
Duaaaarrr Duaaarrr Duaaaarrr
Suara langit bertsabih, kilatan putih menghiasa malam. Suara gemuruh memecah kesunyian malam. Menghapus jejak pekat yang manyapa. Nissa berjalan terhuyung di bawah langit merah. Suara tsabih langit mengagungkan nama sang pencipta. Menyadarkan Nissa arti rasa syukur yang sejenak menghilang dari hati Nissa. Kala hanya keluhan yang terucap dari bibirnya. Nissa terus berjalan, menyusuri padat jalan. Berharap ketenangan dari setiap langkahnya.
"Bahkan langit menangis, merasakan kepedihanku!" batin Nissa, sembari menengadah merasakan tetesan pertama hujan. Air mata langit yang membawa kesyahdugan malam.
Nissa terus melangkah, tanpa peduli lagi akan suara bising kendaraan bermotor. Nissa berjalan menyusuri jalan yang mulai basah oleh air hujan. Perjalanan panjang menuju rumah megah suami yang kini memenuhi hati dan benaknya. Sesekali terdengar isak tangis dari bibir Nissa. Namun dalam sekejap semua menghilang, tertelan deras hujan dan suara petir yang saling menyambar. Nissa melangkah dengan tubuh yang basah. Menyembunyikan air matanya di bawah deras hujan. Menutupi rasa sakitnya dalam dingin balutan malam yang gelap.
"Aku terlalu pengecut, sampai-sampai kusembunyikan air mataku di bawah hujan. Kututupi lukaku dengan dingin malam. Kuredam jerit hatiku bersamaan dengan suara petir. Tak ada lagi Nissa sang pengejar senja yang tangguh. Kini tersisa Nissa yang rapuh dan lemah oleh cinta!" batin Nissa dalam jeritan hatinya.
__ADS_1
"Sakiiitttttttt!" teriak Nissa sekuat tenaga tepat di atas jembatan layang. Nissa menjerit melampiaskan rasa sakitnya. Berharap semua membaik, seiring luka yang terucap.
"Sakit, hatiku sakit!" ujar Nissa lirih, sembari menggenggam erat pembatas jembatan.