Senja Pengganti

Senja Pengganti
Sepiring berdua


__ADS_3

Malam beranjak menyapa, langit penuh dengan bintang. Sinar kecilnya menghiasi malam panjang. Terlihat begitu cantik dan menenangkan. Malam yang begitu indah, sangat sayang bila dilewatkan begitu saja. Kecantikan yang menyimpan keteduhan tanpa batas. Ketenangan yang dinanti hati penuh luka dan gelisah.


Nissa baru pulang ke rumah, setelah sholat isya. Beberapa hari terakhir, kegiatan Nissa sangat padat. Nissa mulai memikirkan, untuk berhenti mengajar dan mencari pekerjaan yang lain. Kehamilannya terlalu beresiko, jika terus melewati jalan terjal dan berliku. Apalagi kontur tanah yang naik dan menurun. Akan berakibat fatal pada kehamilan Nissa kelak. Setelah berpikir lama, Nissa akhirnya memilih berhenti bekerja. Dia akan bekerja di daerah perkotaan.


Nissa pulang tepat pukul 19.30 WIB, terlihat banyak mobil terparkir di halaman rumah Radit. Salah satunya mobil milik Amira sahabatnya. Nissa berpikir sedang ada acara keluarga. Sebab itu, Nissa memilih masuk melalui pintu dapur. Biasanya saat ini, keluarga Radit sedang makan malam. Sebab itu, Nissa memilih menghindar. Bukan karena takut, tapi lebih menghargai mereka. Nissa sendiri sudah makan malam. Kemandirian dan keras kepala Nissa, membentuk pribadinya yang dingin. Luka yang tertoreh di hatinya, meninggalkan goresan yang dalam dan pedih.


"Ibu, kenapa lewat pintu dapur?" sapa Ifa ramah, Nissa langsung meletakkan telunjuknya tepat di tengah bibirnya. Nissa meminta Ifa, untuk tetap diam. Agar Radit tidak menyadari kedatangannyan


"Sedang ada acara?" ujar Nissa singkat, Ifa menggeleng lemah.


"Lalu!" ujar Nissa lagi, Ifa menatap Nissa bingung. Nissa menepuk pelan pundak Ifa, isyarat Nissa baik-baik saja.


"Keluarga nyonya Alvira datang menjenguk Zain!"


"Berapa banyak?" sahut Nissa dengan rasa penasaran, Ifa menggeleng lemah. Ifa tidak pernah mengenal keluarga Alvira. Sebab itu Ifa hanya menggeleng.


"Baiklah, lupakan pertanyaanku. Sekarang katakan, ada yang bisa aku bantu!"


"Jangan!" ujar Ifa mencegah, beberapa ART yang lain juga melarang Nissa membantu.


Nissa tersenyum, lalu mengambil apron dan memakainya. Nissa mulai membantu menyiapkan hidangan penutup. Hidangan utama sudah disajikan dan kini tinggal buah sebagai makanan penutup. Nissa membuatkan beberapa kue cepat saji, sebagai hidangan penutup. Ifa tertegun, melihat kemampuan Nissa dalam hal memasak. Tak nampak wajah lelah Nissa, meski dia baru saja pulang dari bekerja.


Setelah hampir lima belas menit, semua hidangan sudah siap. Nissa meminta Ifa, membawa makanan ke dalam. Sedangkan dirinya, duduk sembari meminum teh hangat. Nissa tidak akan beranjak dari dapur, kecuali para tamu pergi dari meja makan atau pulang. Sebab jalan menuju kamarnya, melewati meja makan. Nissa tidak ingin mengganggu acara keluarga yang bahagia.


Nissa duduk dengan bahagia, diantara para ART. Tak ada rasa canggung atau membedakan status. Nissa terlihat sangat tenang, senyum Nissa sangat tulus. Para ART menghormati Nissa, mereka sangat nyaman dengan sikap ramah Nissa. Tak segan-segan, Nissa dan para ART saling bercanda dan tertawa bersama. Mereka bahkan makan di atas satu meja yang sama. Nissa menemukan tempat paling tenang di rumah megah Radit.

__ADS_1


"Ifa, piring siapa?" ujar Nissa, saat melihat Ifa membawa satu piring dengan makanan yang masih penuh. Ifa meletakkan piring di depan Nissa. Ifa tersenyum, seolah Nissa pasti mengetahui piring siapa itu?


"Kenapa masih penuh? Apa dia sedang sakit?" batin Nissa, sembari menatap piring yang ada di depannya.


"Tuan Radit!" sahut Nissa, Ifa mengangguk tanpa ragu. Nissa langsung mengambil piring, mendekat ke arahnya.


Nissa mengambil sendok yang telah dipakai Radit. Nissa mulai memakan semua makanan yang tersisa di piring. Nissa memakannya tanpa rasa jijik sedikitpun. Nissa terlihat begitu lahap, sisa makanan Radit terasa begitu. Entah memang Nissa lapar atau ini keinginan bayinya? Nissa begitu lahap, sampai Nissa tak menyadari tatapan orang di sekitarnya. Ifa menyodorkan segelas air minum pada Nissa. Ifa yang mengetahui kebiasaan Nissa selama ini.


Mungkin Nissa tak pernah makan satu meja bersama Radit. Namun Nissa selalu makan dengan piring dan sendok yang sama. Sebab itu, Ifa selalu menyimpan piring Radit. Permintaan khusus Nissa yang tak pernah diketahui siapapun? Bahkan Radit tak pernah menyadari, jika Nissa selalu makan menggunakan piring yang sama dengannya.


"Ibu, saya ambilkan lagi!" ujar Ifa, Nissa menggeleng lemah. Nissa sudah menghabiskan semuanya. Ifa mengambil piring dari Nissa, tapi Nissa menolaknya. Nissa berdiri, lalu mencuci gelas dan piring yang digunakannya.


"Ini tugasku!" ujar Nissa lirih, seolah Nissa tengah melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


"Ibu sangat mencintai tuan, tapi kenapa ibu dingin pada tuan?" ujar Ifa spontan, Nissa menoleh seraya tersenyum. Nampak jelas, Nissa bahagia dengan perilakunya. Bahkan Nissa tidak keberatan mendengar pertanyaan Ifa. Meski pertanyaan Ifa melebihi batas sebagai seorang ART.


"Tidak apa-apa? Aku tidak keberatan mendengar pertanyaanmu. Sebab aku tidak pernah memiliki jawabannya!"


"Kenapa?" sahut Radit, Nissa terkejut mendengar suara Radit. Nissa langsung menoleh, sedangkan Ifa dan lainnya langsung keluar dari dapur.


Radit berjalan perlahan menghampiri Nissa. Sejak awal, Radit berdiri di luar dapur. Ifa sengaja diam, tidak memberitahu Nissa. Keberadaan Radit di luar dapur, sudah disadari Ifa. Bahkan raut tak percaya Radit, terlihat oleh Ifa. Radit merasa terharu, ketika menyadari Nissa menggunakan piring yang sama dengannya. Radit benar-benar tak percaya, Nissa begitu menghargainya. Meski sikap dingin yang selalu Nissa perlihatkan padanya.


"Kamu, bukannya di dalam!"


"Maaf!" ujar Radit lirih penuh rasa bersalah. Nissa tersentak, ketika Radit menarik tangannya. Radit hendak mencium punggung tangan Nissa. Namun secepat kilat, Nissa menarik tangannya. Nissa menolak hangat yang diberikan Radit.

__ADS_1


"Nissa, aku memang bersalah. Sekali saja, maafkan aku!" ujar Radit, sesaat setelah Nissa menarik tangannya paksa.


"Lebih baik kamu masuk ke dalam. Sebelum mereka mencarimu kemari!" ujar Nissa, Radit menghela napas dengan wajah tertunduk. Nampak raut wajah kecewa Radit, mendengar perkataan Nissa.


"Maaf!" ujar Radit lagi dan lagi, terlihat Radit berlutut di depan Nissa.


"Berdirilah, putra ayahku tidak pantas berlutut dihadapan orang lain. Dia harus berwibawa dan memiliki prinsip. Jangan biarkan putraku kecewa!"


"Aku putra ayahmu, tapi dinginmu menjauhkannya dariku!"


"Aku tidak pernah menjauhkan kalian, tapi keadaan yang membuat kalian jauh. Putraku tidak lemah, dia sekuat dan sekeras diriku. Dia mampu membagi kasih sayang ayahnya, tapi tidak cintanya!"


"Maaf, aku tidak bisa adil padamu dan putra kita. Aku egois, melupakan rasa sakitmu. Maafkan aku!" ujar Radit, Nissa menggeleng lemah.


"Masuklah ke dalam, tidak pantas tuan rumah pergi meninggalkan tamu!"


"Aku tidak akan pergi, aku akan bersamamu!"


"Pergilah!" ujar Nissa, Radit menggeleng.


"Tidak tanpamu!" ujar Radit, Nissa tersenyum.


"Aku harus ke kamar, tubuhku berkeringat!" ujar Nissa, Radit menggelengkan kepalanya pelan.


"Masuk atau aku yang keluar dari rumah!" ujar Nissa pura-pura kesal.

__ADS_1


"Aku masuk, kamu menang!" ujar Radit, sembari mencium kening Nissa.


"Terima kasih Nissa, setidaknya aku melihat marahmu. Bukti kamu masih menganggapku ada. Maaf, aku terlalu dalam melukaimu. Namun percayalah, aku sangat mencintaimu!" batin Radit sendu.


__ADS_2