Senja Pengganti

Senja Pengganti
Tiga Saudara


__ADS_3

ZAIN POV


Dengan langkah tegap, aku melangkah masuk ke gedung tinggi milik keluargaku. Gedung yang begitu tinggi, seolah-olah tingginya ingin menggapai langit. Setinggi gedung ini, setinggi itu pula kesuksesan yang telah diraih oleh keluargaku. Gedung pencakar langit yang berjejer menampakkan betapa sukses keluargaku. Namun sukses itu tak pernah sempurna, kala bahagia itu hanya setengah yang terasa. Tak ada lengkap dalam sempurna bahagiaku dan papa. Meski ada mama Alvira yang melahirkanku, tapi tak ada sosok yang begitu aku rindukan. Seorang ibu yang aku sayangi, sampai rinduku seolah membunuhku. Ibu yang aku kagumi, karena kehangatannya yang membuatku merasa nyaman dan kuat. Kala aku lemah dan terhina dengan tatapan sebelah mata mereka.


Puluhan tahun rindu ini mengusik tenang dalam hidupku. Mencari tapi tak menemukan, alasanku mulai lelah dalam pencarian. Akhirnya aku putuskan bangkit, demi asa yang tersisa. Aku belajar dan belajar, aku bertekad menjadi sukses. Agar kelak, saat dia kembali.Tatapan bangganya yang pertama aku lihat. Namun harapanku pupus, ketika kabar gembira akan kedatangannya sampai di telingaku. Namun bukan tatapan bangga yang aku lihat, penolakan dan dingin yang aku terima. Kerinduanku tak lagi hangat, terasa semakin menyakitkan. Kala aku melihat sosoknya ada di depan mataku. Namun terasa jauh, sampai tanganku tak mampu menggapainya.


Aku hancur melihat acuhnya, tapi aku bahagia penantianku berakhir. Wajah yang sangat aku rindukan telah kembali. Aku menemukan kembali alasanku, untuk tersenyum dan menatap langit. Aku bertekad akan menemukan kembali hangatnya. Akan aku luluhkan dinginnya, agar hangatnya kembali ada dalam hidupku. Sampai akhirnya, usahaku terjawab dengan uluran tangannya. Aku berhak memanggilnya mama, ibu yang pernah memberikan hangat dalam lemah saat kecilku. Ibu yang aku sayangi, melebihi ibu kandungku sendiri.


Kebahagianku semakin lengkap, saat siang itu aku bertemu dengan seseorang yang menggetarkan hatiku. Seorang wanita anggun dengan cadar yang melekat dk wajahnya. Menyembuyikan kecantikan alami lahir dan batinnya. Wanita bercadar yang menggetarkan hatiku, mengusik jiwa kelakianku. Wanita yang tengah menatap lekat gedung tinggi milik keluargaku. Akhirnya aku mengikuti langkahnya, tanpa sedikitpun dia menyadari akan hadirku. Aku mengamatinya dari jauh, sampai akhirnya dia menemui laki-laki yang aku panggil papa. Singkat cerita, dia berselisih paham dengan papa. Aku takut tak bisa menemukannya. Aku memutar otak, mencari alasan agar dia tetap di sampingku. Aku tawarkan pekerjaan di perusahaan yang aku pimpin. Lagi dan lagi dia menolaknya, sampai akhirnya sebuah rahasia terungkap. Tenyata dia bukan wanita yang pantas aku cintai. Dia adikku yang tak pernah aku kenal. Sekejap aku merasakan cinta, dalam sekejap pula aku merasakan sakitnya patah hati. Namun sedihku tak lagi berarti, mengingat dia satu-satunya alasan aku bisa dekat dengan mama Nissa.


Setelah berhari-hari aku mencari arti rasa ini. Kini aku temukan satu cinta yang harus aku pegang teguh. Cinta tulus seorang kakak pada adiknya. Cinta yang kini memberiku hak melindungi dua adik kembarku. Rasa yang sama, tapi memiliki arti yang berbeda. Kini Zain Al Ghifarri bukan laki-laki biasa, dia kakak dari dua bidadari cantik. Adik kecil yang tak pernah aku kenal, tapi kini mereka alasanku bahagia menjadi seorang kakak.


ZAIN POV END


"Kamu adikku, rasa ini sebatas kasih sayang seorang kakak. Tidak akan pernah lebih!" Ujar Zain lirih, hampir tak terdengar. Tatapan Zain lurus ke arah Aira. Wanita yang sempat dikaguminya, tapi kini Aira hanyalah seorang adik.


"Kakak!" Teriak Hana, Aira menoleh ke arah Hana. Adik kecilnya yang cerewet dan periang. Dua pelita hati Nissa, buah cintanya dengan Radit. Cinta tulus yang kalah oleh ego keluarga besar radit.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Sahut Aira, Hana tersenyum simpul. Hana memeluk erat tubuh Aira, kakak yang begitu disayanginya. Meski terkadang sikap dingin Aira menjadi jarak nyata diantara mereka berdua. Namun sikap hangat Hana, membuat jarak itu tak pernah terasa.


"Aku ada rapat dengan mereka!" Ujar Hana, Aira mengangguk pelan.

__ADS_1


Aira akhirnya tetap magang di perusahaan Radit. Jika Aira menolak, maka Air harus ikhlas gagal di semester akhir. Sebab itu meski terpaksa, Aira tetap bekerja di perusahaan Radit. Sama halnya Hana, dia tidak bisa membatalkan kerjasama dengan perusahaan Radit. Kedua putri Nissa terjebak dalam rencana mereka sendiri. Keinginan untuk pergi jauh dari hidup Radit. Malah membuat mereka semakin dekat dengan Radit.


"Kalau begitu pergilah, setelah rapat baru kita bertemu. Aku harus menyelesaikan semua ini. Setelah semua selesai, kita pergi ziarah ke makam kakek dan nenek!"


"Baiklah kak, aku pergi sekarang!" Sahut Hana, Aira mengangguk pelan.


"Hana, kita pergi bersama!"


"Tuan Zain!" Sahut Hana, Aira langsung menunduk. Aira mengalihkan pandangannya, berharap Zain tak melihat ke arahnya.


"Hana, aku kakakmu bukan orang lain!" Sahut Zain, Hana mengangguk pelan.


"Butuh waktu bagiku mengakuimu!" Ujar Hana, lalu berlalu pergi. Aira menahan tangan Hana, gelengan kepala Aira. Isyarat bagi Hana, untuk tidak bersikap sekasar itu pada Zain.


"Hana, ingat perkataan mama. Kita harus belajar menghargai mereka. Bagaimanapun dia kakak kandung kita? Bersikaplah sopan, agar mama tidak disalahkan atas sikap tidak sopan kita!"


"Aira, terima kasih!" Ujar Zain, Aira menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak perlu, aku dan Hana harus bersikap baik padamu. Setidaknya, sampai hari terakhirku di negara ini!" Ujar Aira, Hana mengangguk pelan.


"Hari terakhir, apa maksud perkataanmu?" Sahut Zain, Aira diam tak menjawab. Zain merasa heran dengan sikap Aira. Terkadang hangat, tapi saat dingin bisa membekukan dalam seketika.

__ADS_1


"Hana, pergilah ke ruang rapat. Seorang pengusaha harus bisa tepat waktu. Setelah selesai, kita bertemu. Nanti malam, kita harus makan malam dengan papa!"


"Aku tidak ikut!" Sahut Hana tegas, Aira menggelengkan kepalanya.


"Kamu harus ikut, itu hanya makan malam. Mama sudah meminta kita untuk datang. Demi mama, kita harus menemui papa!" Ujar Aira, Hana tak bersuara. Sejak awal, dia yang sangat tidak ingin mengenal Radit.


"Kalau begitu, kita pulang bersama!" Sahut Zain, Hana langsung menoleh ke arah Zain.


"Pulang kemana? Rumah siapa yang akan menerimaku? Rumah yang telah membuang ibu yang melahirkanku. Rumah yang menjadi saksi bisu air mata mama. Rumah tempat ibunya menikah dengan papa. Rumah tempat mama menerima talak. Rumah yang dingin tanpa hati. Rumah yang hanya menyimpan duka. Rumah yang membuatku takut trauma. Aku masih mengingat, air mata mama saat itu. Darah segar yang keluar dari bibir mama, karena mama menggigitnya. Darah yang menggantikan tangis mama, agar aku tak mendengarnya sakit tangisnya. Aku mungkin masih sangat kecil, tapi aku mengingat jelas. Suara tawa di rumah itu, tawa yang terasa pedih di hati mama. Kak Aira beruntung tidak pernah mengalami semua itu. Tidak sepertiku, mendengar rumah itu disebut darahku mendidih. Sekarang kakak ingin aku pergi kesana, bertemu dengan wanita yang telah menyakiti mama!"


"Hana cukup!"


"Kak Aira membela mereka, dia yang menyakiti hati mama!"


"Aira, dia ibu dari kakakmu Zain. Setidaknya hargai keberadaannya, dia juga terluka dengan perpisahan kedua orang tuanya!"


"Terserah kakak!" Ujar Hana dengan emosi, lalu pergi menuju ruang rapat.


"Aira!" Ujar Zain, suaranya tertahan saat melihat Aira menghentikannya.


"Aku membelamu, bukan karena dirimu atau ingin mengenalmu. Aku tidak ingin adikku menyimpan kebencian seumur hidupnya, tidak lebih dari itu!" Ujar Aira dingin.

__ADS_1


"Seandainya kamu bukan adikku!" Batin Zain pilu.


__ADS_2