Senja Pengganti

Senja Pengganti
Mbok Parmi


__ADS_3

Langkah demi langkah menampaki jalan setapak desa. Suara langkah yang lemah, selemah hati sang pencinta. Kala rindu menyelimuti hati, ketika jiwa menjerit memanggil yang dirindukan. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah tulang tak lagi mampu menahan rindu. Kegalauan hati yang tak mampu ditebak, ibarat teka-teki tanpa tepi. Rumit tanpa batas, entah dimana ujung dan pangkalnya? Seperti itulah tubuh Radit kini. Langkahnya lemah, hatinya galau dan jiwanya gusar. Mencari jawaban terbaik diantara suara sumbang hatinya yang risau akan sikap tak biasa Nissa.


Sejengkal demi jengkal langkah Radit, sampailah dia di sebuah gubuk. Rumah sederhana nan kecil, tempat Nissa bersembunyi dari dunia Radit. Langkah Radit terhenti, dia menatap tak percaya. Gubuk yang luasnya sama dengan pos jaga di rumahnya. Rumah beratapkan genting lama dan berdinding bambu, beralaskan tanah merah yang padat. Radit merasa sakit, menyadari Nissa tidur nyaman di dalam rumah yang tak layak menurutnya. Mengalahkan kenyamana rumah megahnya. Keangkuhannya runtuh dan terinjak, kala menyadari Nissa menolak kemewahan darinya. Radit merasa rendah dengan pemikiran dangkalnya. Berpikir Nissa lebih memilihnya, karena kemewahan dan kekuasaannya.


"Radit, kamu baik-baik saja!" bisik Rayhan, tepat di belakang Radit. Rayhan melihat kegalauan Radit, tatapan tak percaya Radit akan rumah yang membuat Nissa nyaman.


Amira menoleh ke belakang, dia melihat kebimbangan Radit. Rasa tak percaya seorang CEO muda yang berbakat dan sukses. Rasa rendah menyadari kemewahan dan kekuasaannya tak pernah membuat Nissa silau. Amira tersenyum, melihat betapa terkejutnya Radit. Dengan kedua matanya, Radit melihat sosok lain Nissa. Wanita pelunas hutang yang kini menjadi bagian dalam dirinya. Amira menatap penuh kemenangan, ketika akhirnya dia bisa menunjukkan kesederhanaan Nissa. Pribadi yang tulus tanpa kepalsuan.


"Mbok, Nissa!" sapa Amira ramah, mbok Parmi menoleh. Dengan langkah perlahan, mbok Parmi menghampiri Amira.


Tubuhnya tak lagi sekuat dulu, nenek renta yang hidup sendiri tanpa siapapun? Hidup bergantung pada alam, bersandar pada takdir dan bertahan dengan sisa kuatnya. Wanita tua yang menjadi nenek selama beberapa tahun ke belakang. Pertemuan Nissa dan mbok Parmi, tak lebih ketentuan takdir yang menjadikan Nissa cucu angkatnya. Nenek tua yang masih terlihat cantik, meski keriput menghiasi wajahnya. Kulit putihnya menandakan mbok Parmi dulunya bunga desa yang dikagumi banyak pria. Namun kini dia hidup sendiri tanpa putra atau cucu.


"Amira, mereka siapa?" sahut mbok Parmi, mengacuhkan pertanyaan Amira. Mbok Parmi melihat sikap canggung Radit dan Rayhan. Tanah merah yang mereka injak membuat kotor sepatu mahal Radit dan Rayhan. Tanah merah alami yang tak secantik lantai marmer di kantor atau rumah mereka.

__ADS_1


"Mereka....!" ujar Amira tertahan, mbok Parmi tersenyum dengan sisa giginya.


"Salah satu dari mereka suami Nissa!" ujar Mbok Parmi, Amira mengangguk tanpa ragu. Mbok Parmi langsung memanggil Radit dan Rayhan. Sikap hangat Mbok Parmi, seketika membuat Radit dan Rayhan nyaman. Keduanya berjalan menghampiri Mbok Parmi. Seutas senyum menyapa Radit dan Rayhan.


"Silahkan duduk!" pinta Mbok Parmi, Radit dan Rayhan mengangguk. Keduanya duduk di atas balai yang ada di depan rumah Mbok Parmi. Sebuah balai yang beralaskan tikar.


"Amira, ambilkan minuman. Aku pergi ke ladang sebentar, mengambil beberapa sayuran dan buah mangga!"


"Biar Amira bantu!" pinta Amira, Mbok Parmi menolak dengan gelengan kepala.


Mbok Parmi pergi meninggalkan kedua tamu istimewanya. Radit merasa asing di rumah Mbok Parmi. Suasana yang begitu sepi, sedikit membuat Radit dan Rayhan tidak nyaman. Entah itu tak lebih dari rasa takut? Nyatanya, baik Radit atau Rayhan tak percaya tentang semua hal. Termasuk rasa nyaman Nissa di rumah sederhana ini.


"Minumlah!"

__ADS_1


"Nissa!" ujar Radit, bersamaan dengan Amira yang menawarkan minuman. Dengan isyarat mata, Amira menunjuk ke dalam kamar. Lebih tepatnya sebuah kamar yang disekat anyaman bambu dan di tutupi oleh kain gorden tipis dan lusuh.


Radit langsung masuk ke dalam, menuju kamar yang ditunjukkan Amira. Radit menyibak kain gorden, tubuhnya kaku dan tatapannya pilu. Terlihat tubuh yang dicarinya, wajah teduh yang dirindukan. Radit menatap pilu, melihat Nissa tidur meringkuk di balik selimut kain jarik. Nissa tidur dengan pulasnya berbantalkan tangannya. Nissa tidur nyenyak di atas balai yang terbuat dari bambu. Radit semakin pilu, tatkala dia menyentu balai yang terasa begitu keras. Jauh dari empuk dan nyaman springbed di rumahnya.


"Nissa, siapa kamu sebenarnya? Kenapa begitu sulit aku mengenalimu? Sekejap kamu begitu hangat dalam sekejap pula aku merasakan dinginmu. Aku mencintaimu, tapi kini seakan cintaku menyiksamu. Kemewahan yang kuberikan, seolah penjara yang tak pernah membuatmu nyaman dan aman. Sebaliknya gubuk reyot ini, keras balai ini dan tipis selimut jarik ini. Terasa begitu nyaman dan aman bagimu. Apa salahku? Kenapa aku merasa kamu begitu membenciku? Aku mencintaimu, tapi sikap dingin dan acuhmu membuatku lelah. Langkahmu terus menjauh, sekuat aku mengejarmu. Langkahmu akan semakin tak terarah. Katana sekali saja, apa yang membuatmu resah. Sampai kamu memilih bersembunyi sejauh ini. Apa rindu tak pernah berarti untukmu? Atau cinta ini terlalu murah untukmu. Nissa, siapa dirimu? Kenapa tak mampu aku mengenalmu? Dunia kita berbeda, tapi aku percaya hati kita sama dan satu!" batin Radit, sembari menatap lekat Nissa. Suara dengkuran halus Nissa, semakin menambah pilu hati Radit.


Radit mendekat ke arah Nissa, dia mengusap lembut kening Nissa yang basah. Radit tertegun merasakan panas tubuh Nissa. Sontak Radit memeluk Nissa, rasa takut tiba-tiba menyelimuti hatinya. Radit memangku kepala Nissa, mencoba membangunkan Nissa dari tidurnya. Radit takut terjadi sesuatu pada Nissa. Dengan penuh cinta, Radit mencium kening Nissa. Mencurahkan kasih sayang yang begitu besar. Nissa membuka kedua matanya, seutas senyum di wajah Nissa menyapa Radit. Seolah Nissa merasa bahagia, melihat wajah Radit.


"Radit!" ujar Nissa, tangannya terangkat. Nissa mengusap wajah Radit dengan hangat dan penuh cinta. Dua mata sayu Nissa, menampakkan jelas Nissa belum tersadar. Nissa masih ada dalam kondisi setengah sadar. Radit menggenggam tangan Nissa yang tengah menyentuh wajahnya.


"Seandainya ini bukan mimpi, tentu aku menjadi wanita paling bahagia. Namun semua ini tak lebih dari mimpi. Aku lelah berlari darimu, kini bahkan bayanganmu mengejarku. Kenapa Radit? Kenapa kamu begitu sempurna? Kenapa aku menjadi yang kedua? Kenapa kita bertemu saat kamu sudah mencintai wanita lain? Kenapa aku mencintaimu? Kenapa Radit? Apa salahku padamu, sampai aku tak sanggup pergi darimu? Semakin aku ingin pergi, semakin besar keharusanku bersamamu. Radit, aku mencintaimu dan cinta ini membunuhku!" ujar Nissa lirih, lalu kembali tertidur dipangkuan Radit.


Cup

__ADS_1


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" bisik Radit, sesaat setelah mencium kening Nissa.


__ADS_2