
Radit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalan tol yang lengang, membuat Radit meluapkan amarah dan mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan tinggi. Radit mengemudi tanpa peduli akan bahaya yang terjadi. Radit begitu kalut, dia hanya ingin bertemu dengan Nissa. Dermaga yang ada di pinggiran kota, menjadi tempat persembunyiaan Nissa. Menjauh dari keluarga yang mengacuhkannya dan kota yang terus menertawakan hidupnya.
Radit terus melaju, menembus pekat malam dan melawan sunyi malam. Radit ingin segera bertemu dengan Nissa. Kekhawatiran Radit mampu membuatnya tiada. Kenyataan yang didengar dari Amira. Membuka mata hatinya, betapa Radit tidak peka pada luka Nissa. Tiap kata yang terucap dari bibir Amira, semakin membuatnya kesal akan kebodohan dirinya. Fakta yang terus teringang di telinganya. Fakta tentang Nissa yang tersamar oleh senyum dan tegas Nissa. Radit mengingat semuanya dengan begitu jelas, pembicaraannya dengan Amira.
FLASH BACK
"Nissa tidak pernah menyalahkan om Ardi. Nissa hanya butuh waktu, itu saja yang dikatakan Nissa padaku!" ujar Amira, sesaat setelah menggelengkan kepalanya. Radit kacau memikirkan Nissa yang menghilang bak ditelan bumi.
"Papa, aku akan mencari Nissa!" ujar Radit, lalu berlari menuju pintu keluar rumah besar Ardi.
"Tuan Radit yang terhormat, carilah Nissa di tempat senja terbenam. Nissa ada di sana, menanti sang fajar menyapanya. Menatap langit yang membawa senja pergi dalam kegelapan!" teriak Amira, Radit terpaku mendengar perkataan Amira.
"Amira, dimana Nissa?" ujar Ardi, berharap Amira bisa mengatakan keberadaan Nissa.
"Dia akan menemukan Nissa dengan pelita cahaya cintanya!" ujar Amira penuh keyakinan.
"Tapi!" sahut Ardi bingung, Amira tersenyum simpul.
"Selama ini Nissa menutup hatinya yang gelap. Hanya pelita cinta Radit yang bisa membawa senyum di wajah sahabatku!" ujar Amira penuh keyakinan.
"Kemana anda akan mencarinya?" sahut Farhat, Radit menghentikan langkahnya. Radit langsung menoleh, terlihat Farhat berdiri tepat di arah jam 9. Radit menatap dengan tajam, ada amarah dan rasa cemburu menguasainya. Mengingat posisi Farhat dalam hidup Nissa. Alasan yang membuat Radit marah melihat Farhat ada diantara keluarga Nissa.
Radit menatap tajam, Farhat tersenyum sinis melihat kebingungan Radit. Rasa puas melihat rival mereka gelisah dan merasa kalah. Namun jauh di balik rasa puas, ada kekhawatiran Farhat akan kondisi Nissa. Wanita yang ada dalam hatinya, tapi namanya terhapus tatkala cintanya kalah oleh hubungan darah.
"Apa maksud perkataan anda? Dari nada bicara anda, seakan anda mengetahui keberadaan Nissa!"
"Tentu saja, saya mengetahui keberadaan Nissa. Amira dan aku, sangat mengenal Nissa. Bahkan kami merasakan air mata Nissa, walau air matanya belum menetes. Mungkin rasa diantara kami takkan menyatu, tapi persahabatan kami tidak akan hancur begitu saja!" ujar Farhat, Radit meradang. Perkataan Farhat semakin menyadarkan Radit, jika hubungan diantara Farhat dan Nissa sangatlah dekat.
"Jaga bicaramu, dia itu istriku!" ujar Radit kesal, tangannya mencengkram baju Farhat. Radit tak mampu menahan amarahnya. Amira berlari, dia menahan tangan Radit. Amira menjerit, meminta Radit melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Aku heran, kenapa Nissa bersedia menikah dengan laki-laki kasar sepertimu?" ujar Farhat, semakin memancing emosi Radit.
"Farhat, diamlah!" ujar Amira lantang, lalu menarik tangan Radit menjauh dari tubuh Farhat. Amira menarik Radit pergi, Farhat merasa tercekik. Cengkraman Radit sangat keras, menunjukkan betapa besar amarah Radit.
"Maaf, terpaksa aku menarik anda. Farhat hanya akan membuat semuanya semakin kacau. Kondisi om Ardi tidak baik-baik saja. Penyakit jantungnya bisa saja kambuh, melihat pertengkaran kalian berdua. Apalagi pembelaan Farhat, akan membuat Syakira marah pada Nissa. Kebencian yang telah ada akan semakin besar dan dalam!"
"Syakira!" sahut Radit tak mengerti, Amira mengangguk.
"Syakira, kakak sambung Nissa. Dia alasan rasa sakit dan kepahitan dalam hidup sahabatku. Di mulai saat ibu Nissa meninggal dan terpaksa tinggal bersama Syakira. Hampir tiap hari, Nissa terhina dan tersisih. Lalu saat Farhat mencintai Nissa dan rasa itu berbalas. Syakira mulai menyiksa Nissa dengan banyak tekanan. Mengatakan kebenaran status Nissa pada orang tua Farhat dan akhirnya Farhat pergi mengejar S2 di luar negeri. Sekarang, ketika om Ardi harus membayar hutang pada anda. Lagi dan lagi, Syakira mengorbankan Nissa. Membuatnya menikah, tapi seolah dipenjara. Terluka dan teracuhkan, hanya karena dia wanita pelunas hutang!" tutur Amira tegas dan lantang, Radit terpaku. Perkataan Amira bak goresan silet di sekujur tubuhnya.
Radit mendengar semua kebenaran tentang Nissa. Bukan hanya siapa Nissa? Namun seberapa besar luka yang ada di hati Nissa. Serta sedalam apa? Nissa menyiman rasa sepi dan sakitnya. Radit terdiam, suara menghilang dan bibirnya membeku. Betapa bodohnya Radit yang terus mengeluh akan sikap keras Nissa. Tanpa dia sadari, Nissa menyimpan duka yang teramat dalam. Radit mengusap wajahnya kasar, penyesalan yang membuat Radit semakin khawatir akan kondisi Nissa.
"Bodohnya aku!"
"Tuan Radit, aku tak pernah mengenal anda atau keluarga anda. Namun aku percaya, kekhawatiranmu tulus dan kecemasanmu nyata. Aku akan mengatakan, dimana Nissa sekarang? Berjanjilah, saat bertemu dengannya. Anda akan menjaganya, jangan biarkan sahabatku lemah!" ujar Amira, Radit mendongak. Anggukan kepala Radit, sebuah isyarat persetujuan.
"Nissa ada di dermaga!"
"Dia akan ada di sana sampai besok pagi!" ujar Amira lirih, Radit berlari tanpa peduli pada perkataan Amira.
"Tuan Radit, kutitipkan kebahagian sahabatku!" batin Amira menatap punggung Radit yang semakin jauh.
"Farhat, kesempatanmu telah berlalu. Kala kamu diam menerima keputusan keluargamu. Aku sahabat kalian berdua, tidak akan aku memihak diantara kalian berdua. Namun satu hal yang harus kamu ketahui, Radit mampu membahagiakan Nissa. Meski bukan dengan cinta dan ketulusan, tapi kekuasaan Radit mampu menutup mulut mereka yang terus merendahkan Nissa sahabatku!" bisik Amira dingin dan sinis.
FLASH BACK OFF
"Nissa!" gumam Radit, langkahnya terhenti. Tatapannya sendu, kala melihat tubuh Nissa berada di ujung dermaga.
Tepat pukul 22.30 WIB, Radit tiba di dermaga. Setengah jam Radit melaju dengan mobil sportnya. Disinilah Radit berdiri, dermaga terbesar di kota yang berada di pinggiran kota. Laut membentang luas, angin laut bertiup begitu kencangnya. Menerpa tubuh Radit yang melemah, tatkala kedua matanya menangkap tubuh Nissa yang mulai menggigil. Radit menutup kedua mulutnya, merasa tak percaya akan penglihatannya. Nissa duduk bertopang kedua kakinya. Menyembunyikan wajahnya di balik kedua kakinya. Menahan air mata yang mungkin tertahan. Tanpa peduli angin laut membuatnya dingin dan membeku.
__ADS_1
Tap Tap Tap
Langkah kaki Radit terdengar begitu nyaring, mengalahkan gemuruh suara ombak. Terpaan angin laut, tak lantas menyurutkan langkah Radit. Hembusan angin laut, terasa dingin menusuk tulangnya. Namun tak sedingin hatinya, melihat tubuh Nissa yang menggigil menahan angin laut.
"Sampai kapan kamu duduk disini?" bisik Radit, lalu memakaikan jaket miliknya. Radit melepas jaketnya, memakaikannya pada Nissa.
"Kamu!" ujar Nissa, menoleh pada Radit yang duduk tepat di sampingnya. Nissa merasakan hangat sebuah sentuhan, ketika Radit memakaikan jaket padanya. Nissa tersentak, saat menyadari Radit ada di sampingnya.
"Amira!" ujar Nissa dengan suara yang terbata. Bibirnya membiru, angin laut membuat tubuh Nissa mendingin.
"Aku pergi ke rumah papa, tapi kamu tidak ada disana!" ujar Radit datar, Nissa tersenyum sinis.
"Kamu sudah mendengar semuanya. Kamu sudah mengetahui kebenaran tentangku, siapa aku di depan keluargaku?" ujar Nissa dingin, Radit hanya mengangguk pelan.
"Apa yang kamu inginkan? Menertawakan diriku, wanita sok suci yang terus menolakmu. Ternyata hanya anak haram dan benalu di mata keluarganya!"
"Nissa, bukan itu maksudku!"
"Kamu menyesal menikah denganku, bukan dengan kak Syakira!" ujar Nissa lirih, Radit mengepalkan tangannya. Perkataan Nissa menyakitinya, tapi Radit sadar Nissa jauh lebih sakit.
"Pulanglah, aku kembali besok pagi. Malam ini, biarkan aku sendiri. Tenang saja, aku tidak akan bunuh diri. Aku bukan pengecut, akan kubayar lunas hutang keluargaku padamu dengan tubuhku!"
Cuuuuppp
Radit mencium lembut bibir Nissa yang membiru. Nissa terdiam, hangat ciuman Radit nyata membuat Nissa terbakar. Pipi Nissa terasa panas, saat tangan Radit menangkupnya dengan penuh cinta. Sejenak Nissa larut dalam buaian cinta Radit. Keduanya menyatu di bawah atap langit malam. Berselimutkan angin laut yang dingin, beriramakan gemuruh ombak laut. Radit dan Nissa larut dalam cinta yang tak pernah mereka sadari.
"Rasakan sentuhanku, tanyakan pada hatimu. Ini palsu atau ketulusan!" bisik Radit mesra, lalu mencium lembut telinga Nissa.
"Aku suamimu, bukan musuhmu!" bisik Radit, sembari mendekap tubuh Nissa.
__ADS_1
"Diakah pelindungku!" batin Nissa bingung.