
"Aku tunggu di mobil!" ujar Radit, Nissa mengangguk tanpa banyak bicara. Amira menatap dengan heran, Rayhan memilih diam. Radit dan Rayhan sebelas dua belas dalam hal sholat. Apa yang dipikirkan Radit saat ini? Pikiran yang sama ada dalam benak Rayhan.
"Kami akan di sini sampai sholat isya. Kalian berdua bisa pergi, kami akan lama!"
"Baiklah, kami akan menunggu di cafe!"
"Silahkan!" sahut Nissa ramah, lalu pergi meninggalkan Radit dan Rayhan.
Nissa menarik tangan Amira, mengajak Amira masuk ke dalam masjid. Suara azan baru saja terdengar, artinya sholat magrib akan segera dimulai. Nissa tidak ingin terlambat sholat berjamaah. Amira mengerti sikap disiplin Nissa, tapi diam dan acuh Nissa akan kepergian Radit. Sesuatu yang aneh dan tak pernah dibayangkan Amira. Biasanya Nissa selalu mengingatkan dalam kebaikan. Sekarang malah Nissa memilih diam dan acuh melihat suaminya pergi.
"Tunggu!" ujar Amira menghentikan langkah Nissa. Amira menahan tangan Nissa tepat di pintu masuk masjid. Rasa penasaran memenuhi benak Amira. Dia harus segera mendapatkan jawaban, jika tidak bisa bahaya.
"Ada apa? Kamu ingin bertanya tentang Radit!" sahut Nissa santai, Amira mengangguk sembari tersenyum. Amira merasa malu, ketika Nissa memahami pikiran dan isi hatinya.
"Kelak kamu akan mengetahuinya!"
"Kapan?" sahut Amira tak mengerti, Nissa tersenyum simpul.
"Kapan?" rengek Amira penasaran, Nissa tersenyum lagi. Menambah rasa penasaran Amira yang kini terlihat kesal.
"Kala Rayhan menjadi imam dunia akhiratmu!"
"Tidak akan pernah!" sahut Amira, lalu berjalan meninggalkan Nissa. Amira merasa kesal dengan bercandaan Nissa yang tidak lucu.
Nissa berjalan menyusul Amira, keduanya mengambil shaf yang kosong. Dua sahabat yang selalu bersama dalam urusan dunia dan akhirat. Saling mengingatkan, ketika salah satu lupa akan kewajiban sebagai seorang hamba. Rasa heran Amira tidaklah salah, tapi sikap Nissa juga tidak bisa disalahkan. Kelak akan ada waktu, Nissa bisa mengajak Radit dalam iman. Bersama melangkah menuju jannah-NYA.
"Ya Rabb, dialah yang Engkau pertemukan dengan hamba-MU ini. Dialah imam yang Engkau berikan pada hamba-MU ini. Dialah pelindung yang Engkau takdirkan untuk hamba-MU ini. Dialah penopang yang Engkau tuliskan. Dengan keyakinan akan kententuan-MU. Hamba yakin pula, kelak dia yang akan menggandeng tangan hamba masuk ke dalam rumahmu. Jika bukan hari ini, mungkin besok. Jika bukan bulan ini, mungkin bulan esok. Jika bukan tahun ini, mungkin tahun depan. Kapanpun Ya Rabb, hamba yakin Engkau mampu mengetuk hatinya. Engkau sebaik-baiknya penentu, Engkau sehebat-hebatnya penopang dan Engkau seluas-luasnya pemberi maaf. Ya Rabb, izinkan hamba menjadi makmum dunia akhiratnya!" batin Nissa dalam diam dan doanya.
__ADS_1
Selama satu jam, Nissa dan Amira berada di dalam masjid. Keduanya larut dalam sujud dan doa, khusyuk menghiba pada sang pencipta. Setelah semua harapan terucap dalam sujud. Nissa dan Amira keluar dari masjid. Biasanya Nissa dan Amira tidak akan langsung pulang. Keduanya memilih berjalan-jalan di taman kota. Masjid kota berada dekat dengan alun-alun dan kantor pemerintahan. Lokasi paling disukai Nissa dan Amira sejak jaman SMU sampai sekarang.
"Kita pergi ke alun-alun!" bisik Amira, Nissa mengangkat kedua bahunya. Nissa menoleh ke arah Amira, lalu ke arah Radit. Isyarat Amira harus bertanya pada Radit, bukan padanya. Nampak Radit dan Rayhan berdiri di dekat mobil. Amira menghela napas, raut wajah kecewa terlihat jelas di wajah Amira.
"Aku akan bertanya pada Radit. Jika dia menolak, kita bisa pergi lain hari. Saat aku sudah lebih baik!"
"Terima kasih!" ujar Amira, Nissa mengangguk pelan.
"Maaf, menunggu lama!" ujar Nissa, tepat di depan Radit. Amira tersenyum sembari menoleh ke arah Nissa. Amira seakan mengingatkan janji Nissa padanya.
"Sayang, kita makan malam. Sudah sangat larut, kamu masih belum sehat. Jangan sampai telat makan!" ujar Radit, Amira menghela napas lalu menunduk lesu. Rayhan merasa aneh dengan sikap Amira. Sikap yang dianggap labil oleh Rayhan, terkadang ramai dan terkadang pendiam.
"Radit, aku ingin jalan-jalan di alun-alun kota. Sudah lama, aku tidak pergi jalan-jalan!" ujar Nissa ramah, tangannya bergelayut manja di lengan Radit. Amira melotot, dia melihat sikap manis Nissa pada Radit dan semua itu demi keinginannya.
Radit terpaku, menyadari tangan Nissa sedang bergelayut manja padanya. Sesaat Radit berharap waktu berhenti, agar dia bisa tetap dekat dengan Nissa. Sejenak Radit membeku, kala tubuh Nissa bersandar padanya. Nissa menyadarkan kepalanya tepat di bahu Radit. Merasakan hangat sandaran yang selama ini diacuhkannya.
"Sayang, kamu!" ujar Radit terbata, tak percaya Nissa akan melakukan hal itu padanya.
"Sayang, kamu masih lemah!" ujar Radit, Nissa langsung melepaskan tangannya. Nampak raut wajah kecewa Nissa. Sontak Radit kebingungan, sikap hangat yang baru dirasakannya menghilang dalam sekejap.
"Rayhan, batalkan reservasi restorannya. Kita jalan-jalan saja dulu!" ujar Radit, Rayhan mengangguk mengiyakan. Amira tersenyum bahagia, dia berjalan langsung ke arah alun-alun. Rayhan menggeleng tak percaya, Amir berubah menjadi anak kecil dalam sekejap.
"Terima kasih!" ujar Nissa, lalu menggenggam tangan Radit.
Nissa berjalan bersama-sama dengan Radit. Rayhan diam tak bersuara, sesekali Rayhan melirik ke arah Amira. Nampak Amira berlari kesana dan kemari. Layaknya anak kecil yang tengah bahagia melihat halaman yang luas. Rayhan melihat sisi lain gadis menyebalkan yang ada dalam benaknya. Keceriaan Amira seketika merubah cara pandang Rayhan. Dia merasa ingin mengenal Amira lebih jauh.
"Kita duduk disini!"
__ADS_1
"Tapi kotor!" ujar Radit, Nissa tersenyum manis. Lalu menarik tangan Radit, memaksa Radit duduk di dekatnya.
Nissa duduk tanpa alas, rumput taman yang hijau menjadi alas duduknya. Radit yang semula risih, perlahan merasa nyaman. Radit duduk tepat di sisi kanan Nissa, keduanya duduk beralaskan bumi dan beratapkan langit. Bintang bertaburan, bak lampu kecil yang menyala dengan terangnya. Nissa menyadarkan tubuhnya di lengan Radit. Mendongak ke arah langit, mencari tenang dalam indah langit malam.
"Nissa!"
"Ada apa? Kamu sudah lelah!" sahut Nissa lirih, Radit menggelengkan kepalanya lemah.
"Lalu!"
"Kenapa kamu tidak mengajakku sholat?"
"Radit, kamu berkak memutuskan. Kapan kamu beriman atau tidak? Meski sesungguhnya semua itu salah, karena sholat tiang agama. Seseorang yang tidak sholat, akan menghancurkan tiang agama dan imannya. Aku diam melihatmu pergi, karena aku percaya. Kelak langkahmu akan berjalan bersamaku menuju rumah-NYA. Meniti jalan menuju jannah-NYA bersama-sama denganku!"
"Mungkinkah Nissa? Sanggupkah kamu menungguku!" ujar Radit lirih, Nissa menoleh ke arah Radit. Tangan dinginnya menangkup wajah Radit, menatap lekat wajah Radit yang mempesona.
"Aku akan menunggumu, aku yakin dan percaya padamu. Kita akan bersama, entah sekarang atau nanti? Kelak kita pasti bersama!" ujar Nissa hangat dan ramah, Radit mengedipkan kedua matanya.
"Terima kasih!" ujar Radit, lalu menarik tubuh Nissa dalam dekapannya. Radit memeluk Nissa dengan sangat erat. Nissa menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Radit. Nissa menatap langit yang indah, sembari bersandar pada hangat dekapan Radit.
"Aggghhhhmmmm, ada yang ingin kacang!" ujar Amira, Radit dan Nissa menggeleng hampir bersamaan.
"Jangan ganggu mereka!" ujar Rayhan, lalu menarik tangan Amira.
"Terima kasih sahabatku!" teriak Radit lantang, Nissa tersenyum malu. Entah kenapa malam ini Nissa ingin berada dalam dekapan Radit? Nissa merasa nyaman dalam hangat pelukan Radit. Tubuh Radit terasa begitu kuat menopang tubuh lemahnya.
"Aku percaya hari itu akan datang. Hari dimana kamu menggandeng tanganku menuju rumah-NYA. Aku yakin, kamu akan menjadi imam yang sempurna untukku. Kepercayaan dan keyakinanku tidak akan pernah melukaiku. Sebab dalam doaku, hanya ada namamu. Aku ingin menjadi bagian dalam hidupmu. Menjadi satu dalam jannah-NYA!" batin Nissa sembari menutup mata. Nissa bersandar pada dada bidang Radit, merasakan debaran jantung Radit yang keras tak berirama.
__ADS_1
Cup
"Aku mencintaimu, aku akan sabar menunggu kata maaf darimu!" ujar Radit lirih dan hangat, sesaat setelah mencium puncak kepala Nissa.