Senja Pengganti

Senja Pengganti
Perdebatan Hangat


__ADS_3

"Permisi, aku berangkat lebih dulu!" pamit Nissa, Radit mendongak. Radit meletakkan semua berkas yang sedang dipegangnya. Radit merasa heran melihat penampilan rapi Nissa. Tatapan heran yang baru dilihat Nissa setelah seminggu mereka menikah.


Nissa terdiam, melihat tatapan Radit yang penuh tanya. Seolah Radit heran, tak percaya melihat penampilan Nissa pagi ini. Bukan gamis dan hijab panjang yang dikenakannya. Nissa menggunakan rok panjang yang dipadukan dengan baju lengan panjang. Nissa terlihat modis dan terpelajar. Kacamata minus membuat Nissa semakin cantik. Radit terpana akan pesona Nissa. Namun jauh di balik kekaguman Radit. Ada satu pertanyaan yang mengganjal, rasa heran yang ingin diketahui Radit.


"Kemana?"


"Sekolah!" sahut Nissa santai, Radit mengeryitkan dahinya. Nissa memutar tubuhnya, berpura-pura tidak mengerti dengan tatapan Radit.


Nissa seolah tak peduli dengan rasa heran Radit. Satu hal yang pasti, dia akan tetap ke sekolah. Nissa merindukan suasana sekolah. Anak didik yang memanggilnya dengan penuh cinta. Tawa mereka yang selalu dirindukan Nissa. Selama seminggu, Nissa lupa cara tertawa. Nissa berusaha bahagia di dalam rumah Radit. Namun semua usahanya sia-sia, hanya bersama Zain dan mendekap tubuh mungil Zain. Satu hal yang membuat Nissa tersenyum bahagia. Bahkan senja yang selama ini menemani sunyi dalam hidupnya. Tak lagi mampu mengusir resah dan gelisah dalam hatinya. Senja Nissa tak lagi indah, meredup dan kehilangan cahayanya.


"Untuk!"


"Mengajar!" sahut Nissa santai tanpa beban. Radit berdiri menghampiri Nissa. Nampak Nissa tengah sibuk dengan perlengkapan mengajarnya. Nissa tak merasakan kehadiran Radit. Entah kenapa Nissa begitu acuh? Nissa hanya ingin pergi ke sekolah, mengajar dan bertemu dengan anak-anak yang menyayanginya dengan tulus.


"Berapa gajimu selama sebulan? Aku akan membayarnya. Asalkan kamu berhenti dari sekolah!" ujar Radit dingin, tepat di belakang Nissa.


Nissa terhenyak, suara Radit nyata mengejutkannya. Nissa bergidik ngeri, suara Radit benar-benar membuatnya takut. Nissa bergeser beberapa langkah menjauh. Radit melihat ketakutan Nissa. Ketakutan yang mengusik hati Radit. Ada rasa berbeda yang Radit sendiri tak mengetahuinya.


"Anda sudah membeli saya, haruskan anda membayar kebebasan saya? Mengajar salah satu cara saya mencari ketenangan. Bukan semata demi uang, seperti yang anda katakan!" ujar Nissa tegas, Radit diam menatap lekat wajah Nissa. Setiap kata yang terucap dari bibir Nissa, seakan belati tajam yang menusuk jantungnya.


"Jika bukan demi uang, lantas demi apa? Sekarang bukan zamannya ketulusan, semua demi imbalan semata!" ujar Radit dingin, kata-kata yang berbanding terbalik dengan suara hatinya. Nissa tersenyum sinis, perkataan Radit tak membuat hati Nissa tersakiti. Sebaliknya Nissa semakin yakin dengan penilaiannya pada Radit.


"Segala sesuatu tak bisa diukur dengan uang. Sama halnya seperti pekerjaan anda sebagai CEO muda yang mapan dan kaya. Sebagai seseorang yang sukses, saya rasa tidak perlu anda bekerja keras siang dan malam. Ketika semua ada dalam genggaman tangan anda. Namun satu hal yang ada kejar selama ini. Kepuasan saat anda memenangkan proyek besar, mengalahkan para pesaing bisnis. Kepuasan yang membuatmu selalu haus akan keberhasilan!" tutur Nissa, Radit tak bersuara. Dia menatap lekat Nissa, istri yang kini berusaha mengajarinya.


"Tuan Radit, hal yang sama berlaku untukku. Gaji guru honorer tidaklah besar. Namun kasih sayang murid-muridku sangatlah berharga. Mengajar bukan satu-satunya kebahagian dalam hidupku. Namun tawa mereka, hal paling indah dalam hidupku saat ini. Kita dua pribadi yang berbeda, tapi memiliki satu hal yang sama!" ujar Nissa, lalu mengambil tasnya dari sofa. Nissa berjalan menghampiri Radit, sekilas Nissa melirik ke arah jam di dinding. Tepat pukul 06.00 WIB, Nissa kaget melihat waktu sudah sangat siang. Nissa menepuk jidatnya pelan, dia harus segera berangkat. Jika tidak dia akan terlambat sampai ke sekolah.


"Siapa yang mengatakan itu? Aku bekerja demi uang dan uang!" sahut Radit, menutupi suara hatinya yang setuju dengan perkataan Nissa.


"Anda berbohong, sebab anda telah dinobatkan menjadi pembisnis muda yang kaya!" sahut Nissa, seraya tersenyum. Seutas senyum yang entah kapan menggetarkan hati Radit?


"Aku serius!" ujar Radit, Nissa mengangguk pelan.

__ADS_1


"Baiklah saya percaya, sekarang saya harus pergi!" pamit Nissa, lalu menarik tangan Radit. Radit membeku, saat merasakan hangat sentuhan bibir Nissa di punggung tangannya.


"Tunggu, aku belum mengizinkan!" teriak Radit, saat Nissa sudah berada di luar kamar mereka. Nissa menoleh, dengan seutas senyum Nissa menyahuti perkataan Radit.


"Aku sudah meminta izin, masihkah anda tidak mengizinkan!"


"Zain, bagaimana dengan dia?" ujar Radit, Nissa mengedipkan kedua matanya. Seolah Nissa mengatakan semua baik-baik saja.


"Putraku tidak akan membiarkan ibunya bersedih. Sebab itu, dia mengizinkan aku pergi!" ujar Nissa santai, lalu berjalan menjauh dari kamar Radit. Nissa berjalan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Radit yang termenung. Radit merasa kosong, tatkala Nissa pergi.


"Tunggu!"


"Ada apa lagi?" sahut Nissa, tepat di anak tangga terakhir. Nissa kesal melihat sikap Radit yang terus menahannya. Sebaliknya Radit selalu mencari alasan menghentikan Nissa.


"Dimana sarapanku? Kamu belum menyiapkannya untukku!" teriak Radit dari lantai dua, Nissa menghela napas. Nissa menggeleng tak percaya, mendengar alasan panggilan Radit yang tidak masuk akal.


"Tuan besar, sarapan anda sudah ada di meja. Silahkan turun dan langsung menyantapnya!"


"Aku ingin kamu yang membuatnya!" ujar Radit, Nissa melotot ke arah Radit. Nissa benar-benar tak menyangka, Radit bisa bersikap aneh.


"Kenapa dia sangat ingin pergi? Aku sampai kehabisan alasan mencegahnya pergi. Dasar wanita keras kepala!" batin Radit kesal, sembari menepuk pelan pagar pembatas tangga.


"Mama!" teriak Zain, dia berlari dari arah kamarnya. Nissa menghentikan langkahnya, dia memutar tubuhnya. Nissa melihat Zain berlari dengan tubuh lemahnya. Sesekali nampak Zain terhuyung, Ifa dengan sigap menahan tubuh Zain.


"Ada apa sayang? Mama harus pergi!" ujar Nissa, saat Zain berada dalam pelukannya.


"Ikut!"


"Mama harus bekerja!" ujar Nissa hangat, Zain menggelengkan kepalanya. Zain memaksa ikut dengan Nissa. Suara rengekan Zain, membuat Nissa gusar.


"Zain di rumah, bersama mbak Ifa!"

__ADS_1


"Ikut!"


"Zain sayang, mama bekerja. Kalau Zain ikut, takutnya mama tidak bisa menjaga Zain!" ujar Nissa membujuk Zain, Nissa menghela napas.


"Barusaja aku lepas dari ayahnya, sekarang anaknya. Haruskah aku berhenti bekerja demi Zain? Aku tidak bisa meninggalkan Zain sekarang, tapi aku merindukan anak-anak!" batin Nissa galau, seraya memeluk Zain erat.


"Sayang, mama harus pergi. Mama janji, nanti setelah pulang mengajar. Mama akan bermain dengan Zain!" ujar Nissa, Zain menggeleng seraya mendekap tubuh Nissa dengan sangat erat.


"Baiklah, mama tidak akan bekerja!" ujar Nissa final, lalu menggendong Zain masuk ke dalam rumah. Zain meronta, dia memaksa turun dari gendongan Nissa. Zain berlari ke arah Radit yang baru turun dari lantai dua. Zain langsung memeluk erat kedua kaki Radit. Zain mendongak, dia menatap penuh harap ke arah Radit. Dengan mudah Radit bisa menebak alasan sikap Zain.


"Pergilah Nissa, dia ingin ikut denganmu. Ifa akan membantumu menjaga Zain!"


"Tapi!"


"Pergilah, jika tidak Zain akan menangis selama seharian!" ujar Radit, Nissa mengangguk. Zain tersenyum dan langsung berlari ke arah Nissa.


"Aku pergi!" pamit Nissa, lalu mencium punggung tangan Radit.


"Kenapa hatiku berdebar?" batin Radit, saat Nissa mencium punggung tangannya.


"Aku akan mengantarmu!"


"Tidak perlu, aku akan naik sepeda motor!"


"Aku akan mengantarmu, titik!" ujar Radit, sembari menahan tangan Nissa.


"Egois!"


"Keras kepala!" ujar Radit, Nissa mendengus kesal.


"Sampai kapan kalian berdebat? Nissa akan terlambat ke sekolah!" ujar Adi, Radit dan Nissa menoleh bersamaan. Mereka merasa bodoh, tatkala berdebat untuk sesuatu yang sepele.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu!"


"Terserah!" sahut Nissa kesal, Radit tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2