Senja Pengganti

Senja Pengganti
Irfan Putra Kusuma


__ADS_3

Semua kembali seperti semula, Nissa menjadi ibu yang baik bagi Zain. Semenjak hamil, kondisi Nissa mengalami penurunan. Terkadang dia sehat, terkadang di lemas. Radit berusaha menjadi suami yang baik. Meski terkadang perhatiannya tak terlalu berarti bagi Nissa. Namun Radit tetap berusaha membuat Nissa merasa nyaman dan tenang berada disisinya. Sudah cukup Nissa mengeluh, saatnya Nissa merasakan kesungguhan Radit.


"Mama!" teriak Zain dari dalam rumah. Langkah kecilnya terdengar berlari menghampiri Nissa.


Setelah satu minggu tidak mengajar, Nissa akhirnya kembali menyapa para muridnya. Amira bahagia melihat Nissa kembali mengajar. Meski sebenarnya, hanya tinggal beberapa hari Amira menjadi seorang guru. Tinggal menghitung mundur, Amira akan berhenti menjadi guru honorer. Perusahaan orang tuanya butuh pemimpin, suka tidak suka Amira harus menerima tanggungjawab besar itu. Ssbab itu Amira sangat bahagia, bisa menghabiskan sedikit waktu bersama Nissa.


Tepat pukul 14.00 WIB, Nissa kembali ke rumah. Seperti biasanya, Nissa langsung masuk ke dalam kamarnya. Namun langkahnya terhenti, ketika dia melihat Zain berlari menghampirinya. Zain langsung memeluk erat kaki Nissa. Kerinduan putra sambung yang tidak ingin terpisah darinya. Nissa memberikan buku yang dibawanya pada Ifa. Sedangkan Nissa menggendong Zain dengan hangat. Sekilas Nissa melirik ke arah halaman rumah. Terlihat mobil Radit dan satu mobil mewah terparkir manis. Nissa tidak terkejut, melihat Radit pulang saat siang. Radit pulang hanya untuk memeriksa dirinya. Setelah itu, dia akan kembali ke kantor. Rutinitas Radit, semenjak dia mengetahui kabar kehamilan Nissa.


"Sayang, kamu sudah pulang!" sapa Radit hangat, Nissa mengangguk pelan.


Nissa menarik tangan Radit, lalu mencium lembut punggung tangan suaminya. Radit mengulurkan tangannya ke arah Zain. Berharap Zain turun dari gendongan Nissa. Radit takut terjadi sesuatu pada kandungan Nissa. Namun uluran tangan Radit ditolak Zain, bukannya melepaskan pelukannya. Zain semakin erat mendekap tubuh Nissa. Hubungan tulus yang tak pernah pamrih.


"Zain, mama lelah!" ujar Radit membujuk Zain, tapi semua sia-sia. Zain menolak sembari meronta. Alhasil Nissa kewalahan saat menggendong Zain. Akhirnya Zain tenang, ketika Nissa mengiyakan permintaannya.


"Mbak Ifa, tolong bawa buku saya ke kamar. Letakkan saja di meja depan kamar, biar nanti saya yang memasukkan ke kamar!" pinta Nissa, Ifa mengangguk pelan. Nissa masuk ke dalam rumah, sembari menggendong Zain. Radit mengikuti langkah Nissa tepat di belakangnya.


Sesekali terlihat Radit merayu Zain, tapi usahanya sia-sia. Zain tetap ingin berada dalam pelukan Nissa. Hangat dekapan ibu yang tak pernah dirasakan oleh Zain. Jangankan dekapan, mengenal ibu kandungnya saja. Zain tidak pernah dan takkan pernah mengenalnya. Bayangan Zain, ibunya telah tiada dan tak lagi ada di dunia ini.

__ADS_1


"Zain, mama lelah. Kasihan adik bayinya, sakit tertekan kaki kak Zain!" bujuk Radit, sekilas nampak senyum di wajah Nissa. Merasa aneh dengan sikap Radit yang tenang.


"Biarkan saja, aku akan mengantar Zain masuk ke dalam kamarnya. Aku yakin di belum tidur siang!" ujar Nissa, Radit mengangkat bahunya. Isyarat Radit tidak mengetahui apapun. Nissa berjalan ke arah kamar Zain. Perlahan Nissa melewati ruang tengah, ruangan keluarga tempat keluarga besar Radit berkumpul.


"Nissa, kemarilah sebentar. Papa ingin mengenalkanmu pada kenalan papa. Kebetulan dia baru kembali dari luar negeri!" ujar Sanjaya, Nissa menoleh ke arah radit. Seakan Nissa meminta izin pada Radit. Dengan anggukan kepala, Radit mengizinkan Nissa menghampiri Sanjaya.


Nissa berjalan perlahan, Zain dia berikan pada Radit. Selangkah demi selangkah, Nissa semakin dekat ke arah Sanjaya. Nissa berdiri tak jauh dari Sanjaya dan tamunya. Nissa menunduk, dia menjaga pandangannya. Radit melihat sikap sopan Nissa pada lawan jenis. Keteduhan yang tidak mudah ditemukan pada diri wanita lain. Sekilas terlihat senyum di wajah Radit, merasa bahagia bisa memiliki istri sebaik Nissa.


"Kamu!" sahut sang tamu, Nissa mendongak. Tatapannya lurus, hatinya berdegub begitu kencang.


Nissa terpaku, sosok yang tak pernah ada dalam bayangan. Kini ada tepat di depan kedua matanya. Orang yang tak pernah dia kenal dan mungkin tak pernah ingin mengenalnya. Dalam sedetik, tubuh Nissa kaku dan bibirnya kelu. Pertemuan yang tak pernah diharapkan oleh Nissa. Jika nyatanya pertemuan ini hanya menyisakan rasa sakit. Nissa tak ingin mengenal, jika akhirnya dia tak diharapkan.


"Kalian saling mengenal!" ujar Sanjaya, Nissa mendongak.


"Kami tidak saling mengenal!" ujar Nissa dan tamu bersamaan. Ada rasa sakit yang teramat, ketika Nissa merasa diacuhkan. Namun semua itu lebih baik, daripada dikenal hanya untuk disakiti.


"Nissa permisi!" ujar Nissa, lalu memutar tubuhnya. Namun tangan Radit menahan langkahnya. Nissa mendongak, nampak kedipan mata Radit. Seakan Radit meminta Nissa tetap berada disana. Sanjaya merasa heran, entah apa yang sedang terjadi? Seperti sebuah rahasia besar yang ingin terkuak.

__ADS_1


"Ifa, bawa Zain ke kamarnya!" teriak Radit, Ifa langsung berlari menghampiri Zain. Sedangkan Radit menuntun Nissa duduk tepat di depan Sanjaya dan tamunya.


"Maaf, jika aku lancang. Nissa istriku, tidak sepantasnya dia diperlakukan seperti ini. Mungkin kalian tidak saling mengenal, tapi alangkah lebih baik bila sekarang saling mengenal!" ujar Radit, Nissa menggelengkan kepalanya lemah. Sebaliknya Irfan tersenyum sinis, seolah meremehkan Nissa wanita pilihan Radit.


Irfan Putra Kusuma, pengusaha yang sudah tidak asing di telinga Radit. Kenalan Sanjaya sekaligus mantan kakek mertua Radit. Cucu angkatnya Alvira yang tak lain istri pertama Radit. Hubungan cinta yang merambah pada bisnis. Kekayaan dan kesuksesan Irfan Putra Kusuma. Alasan perpisahan Alvira dan Radit. Keputusan besar Alvira mejadi pembisnis, memaksa Radit melepaskan cinta sejatinya. Radit sengaja memaksa Nissa mengenal Irfan. Sudah saatnya Radit membuka rahasia masa lalunya bersama Alvira. Agar Nissa percaya akan cintanya.


"Lepas dari Alvira, kamu menemukan wanita murahan!" sindir Irfan, Sanjaya langsung menoleh. Radit mengepalkan tangannya, ada amarah mendengar hinaan Irfan. Namun amarahnya tertahan, ketika Nissa menggenggam erat tangan Radit. Gelengan kepala Nissa, isyarat Nissa tidak berharap melihat amarah Radit.


"Irfan, Nissa wanita yang baik. Zain sangat menyayanginya!"


"Wanita perayu, lahir dari wanita perayu. Aku tidak heran, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah yang pantas menggambarkan dia dan ibunya!" ujar Irfan dingin, Nissa menggeleng lemah. Hatinya terasa ngilu, tetes bening air mata jatuh di pelupuk matanya. Air mata yang jatuh tepat di atas tangan Radit. Air yang terasa begitu dingin, sampai menusuk ke tulang belulang Radit.


"Sayang!" ujar Radit lirih, Nissa menggeleng lemah. Isyarat dia tidak baik-baik saja. Radit langsung menatap tajam Irfan.


"Kenapa anda bicara sekasar itu? Dia tidak bersalah atas perpisahanku dengan Alvira!" ujar Radit geram dan emosi, Irfan tersenyum sinis.


"Kakek, Radit benar. Pernikahan mereka terlaksana, setelah aku resmi berpisah dari Radit!" sahut Alvira, Radit dan Nissa langsung menoleh. Nampak Alvira keluar dari kamar tamu rumah Radit. Nissa menoleh ke arah Radit, gelengan kepala Radit jawaban dari tatapan sendu Nissa.

__ADS_1


"Diakah Alvira, wanita yang ada dihatimu. Cucu kebanggaan tuan Irfan Putra Kusuma. Sungguh aku tak menyangka, hidupku berputar di sekitar dia. Alvira wanita yang akan ada diantara aku dan dirimu. Dia juga yang menggantikanku di keluarga besarku. Ya Rabb, hamba tidak mengeluh akan rasa sakit ini. Setidaknya, berikan aku rasa sakit satu per satu!" batin Nissa pilu, lalu berdiri meninggalkan Radit.


__ADS_2